Sabtu, 30 Maret 2019

Bunda Sebagai Agen Perubahan

Setelah melalui berbagai nhw, kini memasuki minggu terakhir dari nhw yang harus saya kerjakan. Dan lagi ini adalah nhw yang membuat diri saya harus dapat menjadi agen of change...

Everyone is changemaker. Mulailah pada diri sendiri, sekecil apapun perubahan itu. Khoirunnas anfauhum linnas. Kiranya itulah yang bisa menjadi panutan moto hidup saya. Karena kebahagiaan yang benar-benar bisa saya rasakan adalah bahagia yang bisa membuat kebermanfaatan untuk orang lain.

Sejak dulu memang saya sangat suka bersosialisasi tapi karena sifat minder saya dan ketidakpedean saya untuk tampil di depan maka sedikit demi sedikit tergerus arus dan akhirnya hanya bisa menjadi audience. Untuk menemukan passion dan kesukaan kembali saya harus menggali potensi diri saya.

Suka dan Bisa maka outputnya adalah passion. Dimana semua itu akan dilakukan dengan tanpa paksaan dan tanpa ada rasa lelah.

Kali ini di nhw 9 untuk menjadi changemaker maka saya akan sedikit mempetakan apa yang sudah menjadi hobi baru saya yaitu memasak.




Semoga bisa terealisasi dan bisa bermanfaat untuk sesama. aamiin...

Sabtu, 23 Maret 2019

nhw_8_Misi Hidup dan Produktivitas

Berkiblat pada nhw sebelumnya yaitu nhw 7 yang pada dasarnya apa yang saya suka dan saya bisa adalah memasak. Maka saya ingin mengupgrade diri saya melalui salah satu hobi baru saya.


Awalnya sebelum menikah saya adalah orang yang anti banget dengan namanya memasak. Masakan yang dimasak ibu walaupun itu hambar selalu saya terima dengan lapang dada. Namun setelah memulai menapaki gerbang rumah tangga dan membangun peradaban sendiri, semua berubah drastis. Dari yang terbiasa dengan masakan ala kadarnya kini harus ditantang oleh pak Su untuk peka terhadap rasa makanan dan memasak varian masakan. Selain karena kewajiban juga karena fitrahnya perempuan itu mau tidak mau harus bisa memasak.


Terlebih pak Su adalah orang yang mempunyai rasa peka terhadap indera perasa. Jadi saya harus mengimbanginya. Sebelumnya saya diancam terlebih dahulu sama pak Su bahwa kalau masakannya tidak bervariasi dan tidak enak mending makan di luar. Dalam hati "alhamdulillah"...


Qadarullah, melalui beliaulah saya diberikan jalan untuk menjajaki dunia memasak. Menjadi suatu keasyikan tersendiri ketika harus scroll masakan rumah tangga, jajan anak, kue basah bahkan sekarang sedang exciting banget dengan kue kering. Meskipun belum punya full alatnya setidaknya suatu saat ilmunya bisa saya pergunakan untuk mengembangkan hobi saya menjadi peluang usaha. :D


Nah berporos dari hobi baru saya ini maka saya mempunyai setrategi untuk mengembangkan apa yang telah menjadi ke enjoy an saya. Melalui beberapa item be do have di bawah ini:

a. BE (mental yang harus dimiliki untuk mahir memasak)
percaya diri, patah semangat, tidak gampang putus asa, tidak mudah tersinggung, tidak gampang baper, mudah menerima kritik dan saran, selalu
berinovasi dan bereksperimen menciptakan resep baru, mempunyai ingin tahu yang tinggi, dan tidak pernah puas dengan rasa yang dihasilkan tapi
bisa terstandar.

b. Do Untuk menjadi apa yang diharapkan maka saya harus melakukan hal - hal berikut:
Banyak belajar, berlatih, membaca dan mencoba resep makanan baru, membuat daftar menu makanan yang belum dibuat.

c. Have Yang dilakukan setelah memiliki apa yang dihaarapkan adalah mengadakan tasyakuran seperti membagikan makanan ke tetangga atau menyisihkan
sedikit rejeki yang didapatkan, mencari pasar untuk mendistribusikan hasil produk makanan yang dibuat, seperti menitipkan di sekolah - sekolah
atau di warung - warung. jika modal yang dimiliki sudah bisa untuk membuka usaha maka saya ingin membuka cafe atau ruko menjual kue. Membuat
usaha catering.


Tiga dimensi waktu
Dalam waktu dekat ini ada beberapa yang ingin saya capai
a. Menjadi pribadi yang lebih baik dan bijaksana dalam menghadapi suatu masalah.
b. Menciptakan kreasi makanan / masakan yang bisa dijadikan modal usaha.


Mapping 5 - 10 tahun kedepan
a. Izin dan ridho terhadap kedua orang tua.
b. Mengikuti pelatihan memasak.
c. Mencari rekan yang semisi dan visi dengan usaha kami.
d. Tetapkan visi dan misi usaha.
e. Kembangkan potensi yang ada pada diri dan sekitar.
f. Kembangkan jejaring klien yang lebih profesional dan amanah.
g. Punya sarana dan prasarana usaha sendiri.


New year resolution
a. Sudah tidak satu gubug dengan orang tua.
b. Dapat menciptakan lahan untuk berdagang.
c. Dapat memanage keuangan dengan baik dan benar.
d. Menciptakan toko online dan offline untuk makanan.

Sabtu, 16 Maret 2019

📌*Bila Kakek Nenek Terlalu Memanjakan Cucunya…* 📌

Originally created by: sakeena team 💜

_“Bunda nenek bilang boleh kok beli es krim”_

_“Yah, Kakek kok ngizinin aku buat nonton TV?”_

_“Adek seneng kalau di rumah kakek nenek karena boleh beli mainan sama main di luar.”_

Ayah Bunda, pernahkah mengalami hal di atas? Ketika anak lebih dimanjakan oleh kakek dan neneknya.

Situasi di atas pastinya pernah terjadi terlebih untuk Ayah Bunda yang masih satu rumah dengan orang tua atau mertua.

Hal tersebut terjadi karena Ayah Bunda dan Orang Tua berasal dari generasi berbeda sehingga cara pandang dalam melihat sesuatu pun akan berbeda.

Perbedaan pandangan atau cara pengasuhan tersebut akan membuat anak bingung, mana yang harus dilakukan dan juga tidak dilakukan.

Adapun solusi yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Jika Ayah Bunda terpaksa harus tinggal bersama mertua atau orang tua, mau tidak mau harus memberikan pengertian kepada orang tua tentang pengasuhan yang Ayah Bunda lakukan.

Hal tersebut harus dilakukan secara bertahap, perlahan-lahan dan juga perlu kesabaran.

Ayah dan Bunda pun harus kompak untuk memberikan pengertian tersebut agar pola pengasuhan yang ingin diterapkan bisa terwujud dengan baik.

Yakinlah, dengan memberikan pemahaman pada mereka akan berhasil. Karena orang tua kita pun akan mendukung hal tersebut bila untuk kebaikan cucunya.

2. Mulai Berencana untuk Pindah Rumah

Jika perbedaan sudah tidak bisa dikomunikasikan dan intensitasnya sudah terlalu sering. Sebaiknya rencanakan untuk pindah rumah.


Entah itu mengontrak atau memang membeli rumah. Namun, ketika akan pindah rumah bicarkaan baik-baik dengan orang tua atau mertua sehingga tidak timbul prasangka yang lain.

Niatkan memilih pindah rumah karena memang ingin mendidik anak sesuai dengan apa yang diketahui dan sesuai zaman anak-anak yang Bunda lahirkan.

Dan harus diingat, memilih pindah rumah ini bukan untuk menjauhi orang tua melainkan hanya ingin mendidiknya dengan benar dan sesuai.

Maka dari itu, jangan pernah pula untuk menghalangi kakek neneknya ketika akan menyambangi cucunya.

Karena bagaimanapun seorang Kakek Nenek pasti merindukan cucunya. Yang jelas, jangan lpa untuk memberikan engertian kepada orang tua kita tentang pengasuhan yang kita terapkan.


--

Jangan lupa penuhi “nutrisi” jiwa anak Ayah Bunda dengan memiliki buku-buku balita dari @sakeenafamily 💜

Sabtu, 02 Maret 2019

Learning How to Learn

Alhamdulillah sampai juga di nhw 5. Tugas dari kuliah kehidupan ini semakin menantang dan semakin memberikan jalannya. Di Institut Ibu Profesional ini setiap minggunya ada tugas yang diberikan supaya mahasiswa bisa menilai sejauh mana perkembangannya. Dan kali ini nice home work 5 ini mahasiswa tidak lagi sepenuhnya diberikan arahan namun harus menemukan sendiri apa yang dimaksud dari tugas tersebut.



Kali ini tugas dari nhw 5 ini adalah menentukan gaya belajar yang saya / gue / aku banget. Awalnya tidak ada gambaran sama sekali tentang tugas ini. Namun berkat bantuan fasilitator dan teman - teman kelas yang sangat aktif berdiskusi akhirnya saya pun menemukan gaya belajar saya selama ini.



Belajar bagaimana belajar adalah mendesain atau membuat gambaran / rancangan belajar. Mulai dari sumbernya, caranya, latihannya seupaya tujuan yang ingin dicapai bisa didapat.



Nah, pada kesempatan kali ini saya akan sedikit membahas tentang gaya belajar seseorang atau yang sering kita ketahui yaitu Learning Style.



Gaya belajar merupakan kecenderungan siswa atau cara bagaimana nyamannya siswa tersebut untuk mengadaptasi strategi tertentu dalam belajarnya sebagai bentuk tanggung jawabnya untuk mendapatkan satu pendekatan dan pemahaman belajar yang sesuai dengan tuntutan belajar di kelas/sekolah maupun tuntutan dari mata pelajaran.



Main Pointnya itu “ Cara ternyaman siswa dalam proses memahami materi dalam pembelajaran”.

Nah, apa saja sih macam-macam gaya belajar, let’s check it out guys.



Visual (belajar dengan cara melihat)






Gaya belajar visual (visual learner) ini adalah gaya belajar yag menitikberatkan ketajaman mata/penglihatan. Artinya, bukti-bukti konkret harus diperlihatkan terlebih dahulu agar siswa paham. Ciri-ciri siswa yang memiliki gaya belajar visual adalah kebutuhan yang tinggi untuk melihat dan juga menangkap informasi secara visual sebelum mereka memahaminya.



Apa sih kelebihan orang yang cenderung visual?



Siswa dengan gaya belajar visual lebih mudah mengingat apa yang mereka lihat, seperti bahasa tubuh/ekspresi muka gurunya ( Buat gurunya di harapkan selalu senyum,agar ilmunya cepet di tangkap,hihihi), diagram, buku pelajaran bergambar dan video, sehingga mereka bisa mengerti dengan baik mengenai posisi/lokasi, bentuk, angka, dan warna. Siswa visual cenderung rapi dan teratur dan tidak terganggu dengan keributan yang ada, tetapi mereka sulit menerima instruksi verbal.



Nah berikut adalah ciri - ciri belajar visual.

a) Ciri-ciri gaya belajarvisual :

1) Bicara agak cepat

2) Mementingkan penampilan dalam berpakaian/presentasi

3) Tidak mudah terganggu oleh keributan

4) Mengingat yang dilihat, dari pada yang didengar

5) Lebih suka membaca dari pada dibacakan

6) Pembaca cepat dan tekun

7) Seringkali mengetahui apa yang harus dikatakan, tapi tidak pandai memilih kata-kata

8) Lebih suka melakukan demonstrasi dari pada pidato

9) Lebih suka musik dari pada seni



2. Gaya belajarAuditori (belajar dengan cara mendengar)






Gaya belajar auditori mempunyai kemampuan dalam hal menyerap informasi dari telinga/pendengaran. Siswa yang mempunyai gaya belajar auditorial dapat belajar lebih cepat dengan menggunakan diskusi verbal dan mendengarkan apa yang guru katakan. Siswa auditorial memiliki kepekaan terhadap musik dan baik dalam aktivitas lisan, mereka berbicara dengan irama yang terpola, biasanya pembicara yang fasih, suka berdiskusi dan menjelaskan segala sesuatu panjang lebar. Siswa dengan tipe gaya belajar ini mudah terganggu dengan keributan dan lemah dalam aktivitas visual.



Ciri-cirinya apa saja sih?



a).Ciri-ciri gaya belajarauditori :

1) Saat bekerja suka bicaa kepada diri sendiri

2) Penampilan rapi

3) Mudah terganggu oleh keributan

4) Belajar dengan mendengarkan dan mengingat apa yang didiskusikan dari pada yang dilihat

5) Senang membaca dengan keras dan mendengarkan

6) Menggerakkan bibir mereka dan mengucapkan tulisan di buku ketika membaca

7) Biasanya ia pembicara yang fasih

8) Lebih pandai mengeja dengan keras daripada menuliskannya

9) Lebih suka gurauan lisan daripada membaca komik

10) Mempunyai masalah dengan pekerjaan-pekerjaan yang melibatkan Visual



3. Gaya belajarKinestetik (belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh)






Gaya belajar kinestetik merupakan aktivitas belajar dengan cara bergerak, bekerja dan menyentuh. Pembelajar tipe ini mempunyai keunikan dalam belajar yaitu selalu bergerak, aktivitas panca indera, dan menyentuh. Pembelajar ini sulit untuk duduk diam berjam-jam karena keinginan mereka untuk beraktifitas dan eksplorasi sangatlah kuat. Mereka merasa bisa belajar lebih baik jika prosesnya disertai kegiatan fisik. Siswa dengan tipe ini suka coba-coba dan umumnya kurang rapi serta lemah dalam aktivitas verbal.



Siip,ciri-ciri itu apa saja?

a) Ciri-ciri gaya belajarkinestetik :

1) Berbicara perlahan

2) Penampilan rapi

3) Tidak terlalu mudah terganggu dengan situasi keributan

4) Belajar melalui memanipulasi dan praktek

5) Menghafal dengan cara berjalan dan melihat



Kendala dalam gaya belajar kinestetik seperti siswa cenderung tidak bisa diam. Siswa yang dengan gaya belajar seperti ini tidak dapat belajar di sekolah-sekolah yang bergaya konvensional dimana guru menjelaskan dan siswa duduk diam. Siswa akan lebih cocok berkembang bila di sekolah dengan sistem active learning, di mana siswa banyak terlibat dalam proses belajar. Siswa yang menyukai gaya belajar kinestetik umumnya lebih suka bergerak dan tidak betah duduk lama serta sering menundukkan kepala saat mendengarkan.



4. Gaya Belajar Global






Siswa yang memiliki gaya belajar global cenderung melihat segala sesuatu secara menyeluruh, dengan gambaran yang besar, namun demikian mereka dapat melihat hubungan antara satu bagian dengan bagian yang lain. Siswa global juga dapat melihat hal-hal yang tersirat, serta menjelaskan permasalahan dengan katakatanya sendiri. Mereka dapat melihat adanya banyak pilihan dalam mengerjakan beberapa tugas sekaligus.



Siswa dengan gaya belajar global dapat bekerja sama dengan orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan fleksibel. Mereka senang bekerja keras untuk menyenangkan hati orang lain, senang memberi dan menerima pujian, bahkan siswa global cenderung melupakan lebih banyak dorongan semangat dalam memulai mengerjakan sesuatu. Mereka menerima kritikan secara pribadi. Mereka akan mengalami kesulitan bila harus menjelaskan sesuatu tahap demi tahap.



Orang gaya belajar global dominan biasanya kurang memiliki kerapian, walau sebenarnya mereka memiliki keinginan besar untuk membersihkan tempat belajarnya. Namun sering kali keinginannya kurang terlaksana, akhirnya kertas-kertas tetap berantakan. Untuk mengatasi hal ini sebaiknya orang global belajar untuk menyederhsnsksn sistemnya dengan menyediakan map-map berwarna dengan kategori tertentu untuk menyiapkan kertas-kertas yang menumpuk.



Pikiran siswa global dominan tidak pernah bisa fokus pada suatu masalah, pikirannya memikirkan banyak hal sepanjang waktu. Apabila orang global mengerjakan tugas kedua meskipun tugas pertamanya belum selesai, untuk mengatasi keadaan ini sebaiknya mereka bekerja sama dengan orang lain, dengan janji saling menolong dalam menyelesaikan tugas sebelum mengerjakan yang lain, mereka akan mudah berkonsentrasi bila ada seseorang yang bekerja bersamanya.



5. Gaya Belajar Analitik






Siswa yang memiliki gaya belajar analitik dalam memandang sesuatu cenderung lebih terperinci, spesifik dan teratur. Namun mereka kurang bisa memahami masalah secara menyeluruh.



Dalam mengerjakan tugas analitik akan mengerjakan tugasnya secara teratur, dari satu tahab ke tahab berikutnya. Mereka memiliki kecenderungan untuk mengerjakan satu tugas dalam satu waktu, dan mereka belum akan mengerjakan tugas lain sebelum tugas pertamanya selesai. Mereka membutuhkan waktu yang cukup untuk menyelesaikan tugas mereka, karena mereka tidak ingin ada satu bagian yang terlewatkan.



Siswa yang memiliki cara berfikir secara analitik seringkali memikirkan sesuatu berdasarkan logika. Selain itu mereka menikai fakta-fakta yang terjadi melebihi perasaannya. Mereka dapat menemukan fakta-fakta namun seringkali mereka tidak mengetahui gagasan utamanya. Sehingga kadang dia tidak mengerti maksud dan tujuan dia dalam mengerjakan sesuatu. Siswa yang memiliki gaya belajar analitik sangat sulit belajar karena biasanya pikirannya hanya terfokus pada satu masalah saja. Untuk mengatasi keadannya ini, sebaiknya seorang analitik belajar sendirian, baru bergabung dengan temannya untuk bersosialisasi setelah selesai belajar.



So, How About My Learning Style?






Sumber: https://agusnurhabib01.wordpress.com/2016/04/25/macam-macam-gaya-belajar-seseorang-learning-style/



Setelah mempelajari beberapa learning style, setidaknya ada sedikit gambaran di tempat mana saya berada. Hampir semua ada pada diri saya pribadi namun setelah mengetahui kelemahan - kelemahannya ada beberapa yang memang bukan "gue" banget. Salah satunya adalah auditory. Saya lemah untuk mendengarkan segala sesuatu yang disampaikan dalam jangka waktu yang panjang. Harus saya ulang lagi dan tulis kemudian. Sehingga kalau sedang berdiskusi dengan suami, suami suka gedeg sendiri dengan saya karena ada di sela - sela pembahasan yang sedang seru saya malah tidak bisa mengerti.hihi



Dan ketika membaca global learning style, inilah bisa yang "gue pakai banget". :) Kecenderungan saya dalam gaya belajar ini adalah saya lebih peka dengan orang lain. Kadang apa yang saya simpulkan mendekati benar meski ada sedikit yang meleset. Tapi saya tidak langsung menyimpulkan apa yang saya tangkap. Harus mencari fakta A dan B ketika ingin mengetahui kebenarannya. Dengan adanya teori atau fakta yang mendasari inilah nantinya akan menjadi bahan saya dalam menganalisis.



Dari cara saya belajar ini saya juga suka terlibat atau melihat langsung suatu pembelajaran. Jadi hasilnya akan lebih akurat dan gampang diingat. Semoga dengan cara belajar saya ini saya bisa mengikuti mata kuliah yang diajarkan di Institut Ibu Profesional demi tercapainya Istri, Ibu dan Perempuan yang profesional.



Selanjutnya desain pembelajaran yang akan saya paparkan untuk pembelajaran dalam kehidupan saya adalah sebagai berikut


























Harapannya setelah mendeskripsikan ini semua saya bisa mengikuti seluruh materi di IIP ini dan mempraktekannya dalam keluarga kecil saya.



Semangat ibu profesional



With love,

Ibu Ace

Bonding Berdua

 Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...