Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 03 Juni 2026

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingkannya dibandingkan dengan kondisi badanku.


Seringnya, aku khawatir dia merasa tidak puas dengan pelayananku. Padahal aku manusia biasa. Manusia yang butuh juga untuk diperhatikan, butuh disayang, dan butuh dimengerti dengan cara dibantu pekerjaan rumah tangganya.


Aku sudah merelakan sisa hidupku untuk mereka yang hadir dalam kehidupanku. Aku tahu ini adalah takdir seorang wanita ketika dia memilih membangun sebuah rumah tangga. Katanya, ini jalan yang harus dilalui untuk mendapatkan ridhoNya.


Awalnya, kami menolak menerima perubahan itu. Lambat laun seiring berjalannya waktu, kami menerima semuanya dengan dalih inilah qadrat wanita. Wanita yang menjadi seorang anak, ibu, istri dan wanita itu sendiri. Sayangnya, kebanyakan dari kami memilih orang lain lebih bahagia ketimbang dirinya sendiri.


Kebiasaan ini yang akhirnya menjadikan kebanyakan wanita mengalami depresi yang berat. Mereka tidak bisa memerjemahkan apa yang mereka inginkan. Mereka tidak mampu mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Justru karena dinamakan makhluk terkuat di belahan bumi ini, mereka mampu memendamnya sampai palung laut yang dalam.


Hingga pada akhirnya, mereka rela dirinya tersakiti tapi tidak ada yang tahu. Mereka tampak kuat di luar tapi nyatanya mereka memang makhluk yang rapuh.


Mengapa?


Karena mereka belum siap jika apa yang dirasakan lalu diungkapkan, justru caci maki yang didapatkan. Dan, itu belum siap untuk mereka terima. Termasuk aku salah satunya.


Aku terlalu berharap bisa bercerita leluasa kepada orang yang menjadikanku teman pendamping hidupnya. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Apa yang dilalui seharian? bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?


Pertanyaan yang cukup sederhana, tapi sangat berarti bagiku. Itu menandakan dia pedulu terhadap kehidupanku.


Selama ini apa aku mendapatkannya?


Kadang. Tapi tidak setiap hari. Justru sebaliknya. Aku yang sering bertanya padanya. Harapanku hanya tinggal angan. Tak perlu direalisasikan karena itu semu.


Hanya ingin merubah mindset dalam hidupku bahwa berharap ke sesama manusia memang sangat menyakitkan. Inginku semua aku lakukan dalam rangka menjadi versi terbaik diriku.

Senin, 01 Juni 2026

 Ketika Aku Terlalu Sibuk Menjaga Perasaan Orang Lain


Ada satu hal yang baru belakangan ini kusadari tentang diriku sendiri: aku sering kali lebih memperhatikan perasaan orang lain dibandingkan perasaanku sendiri. Padahal, jauh di dalam hati, aku juga ingin diperhatikan. Aku juga ingin didengar. Aku juga ingin dimengerti.


Ketika semuanya bertumpu padaku, rasa lelah itu tidak bisa lagi kuhindari. Bahkan terkadang aku bingung harus bercerita kepada siapa. Hari ini aku menuliskan semuanya bukan untuk mencari pembenaran, melainkan sebagai cara untuk memvalidasi emosiku sendiri agar tidak meledak ketika semua rasa telah menumpuk terlalu lama.


Sabtu kemarin, aku memberanikan diri melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat sulit bagiku: membangun komunikasi yang baik dengan suamiku.


Aku datang tanpa niat menghakimi. Aku tidak ingin menyudutkan atau melontarkan pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah. Walaupun sejujurnya, aku belum sepenuhnya bisa menerima semuanya dengan utuh. Ada bagian-bagian yang masih menyisakan tanda tanya karena keterbukaan yang kuharapkan belum benar-benar hadir.


Mungkin ia juga membutuhkan waktu.


Namun perasaan perempuan sering kali tidak sesederhana itu. Mungkin bagi sebagian lelaki, hal-hal seperti ini terlihat tidak terlalu penting. Tetapi bagi perempuan, perasaan adalah bagian yang sangat besar dalam kehidupannya. Ketika seorang perempuan merasa tenang dan bahagia, banyak hal dalam rumah tangga ikut berjalan lebih ringan.


Aku tidak ingin mencari informasi dari luar. Aku sudah terlalu lelah untuk itu.


Karena itulah aku memilih bertanya langsung kepadanya.


Dengan segala keberanian yang kukumpulkan, dengan segala persiapan mental untuk menerima apa pun jawabannya, aku hanya menyampaikan satu permintaan sederhana:


"Kalau memang ada perempuan yang bercerita tentang rumah tangganya kepadamu, tolong beritahu aku. Jangan sampai aku mengetahuinya dari orang lain."


Aku tidak tahu respons seperti apa yang sebenarnya kuharapkan. Tetapi setidaknya, pada saat itu, ia mulai bercerita. Dan kemudian nama yang selama ini memenuhi pikiranku akhirnya keluar dari mulutnya sendiri.


Saat itu emosiku membuncah.


Air mata hampir jatuh. Ada marah yang muncul begitu saja. Namun aku menahannya. Aku tidak ingin menghentikan ceritanya di tengah jalan hanya karena emosiku mengambil alih. Aku mencoba menarik napas, mengingat tujuan awalku.


Tujuanku bukan untuk bertengkar.


Tujuanku adalah memahami.


Beberapa waktu sebelumnya, aku pernah melihat sendiri bahwa perempuan yang disebutnya itu melakukan video call dengannya. Hal sederhana bagi sebagian orang, tetapi begitu rumit di dalam hatiku.


Aku berpikir, mengapa orang lain bisa melakukan itu, sementara aku sendiri hampir tidak pernah melakukannya dengan suamiku?


Mengapa orang lain bisa begitu terbuka bercerita, sedangkan aku tidak?


Mengapa aku selalu merasa takut?


Takut jika respons yang kuterima tidak sesuai harapan. Takut jika ceritaku justru dianggap berlebihan. Takut jika aku kembali merasa tidak didengar.


Padahal jika dipikir-pikir, seharusnya aku bisa saja bercerita. Tanpa perlu terlalu memikirkan bagaimana responsnya nanti.


Namun ada satu hal yang kusadari.


Ketika aku bercerita kepada orang lain yang mampu mendengarkan dengan baik, aku merasa dimanusiakan. Aku merasa keberadaanku diterima. Aku merasa aman.


Sementara ketika aku bercerita kepada suamiku, terkadang aku justru merasa ceritaku akan menjadi beban untuk hari-hari berikutnya. Ia menjadi lebih berhati-hati, lebih membatasi apa yang ingin ia sampaikan.


Mungkin niatnya baik. Mungkin ia sedang berusaha menjaga perasaanku.


Tetapi sejujurnya, yang kubutuhkan bukanlah itu.


Aku tidak membutuhkan penyaringan.


Aku membutuhkan keterbukaan.


Aku tahu aku juga tidak sempurna. Aku tahu ada saat-saat ketika keterbukaan dibalas dengan kemarahan. Jika itu terjadi, aku juga harus mengakuinya sebagai kesalahanku.


Karena itu aku terus belajar. Aku berusaha tidak lagi mengedepankan emosiku. Bahkan ketika marah, aku lebih memilih menyendiri untuk meluapkan semuanya daripada melukai orang yang kucintai dengan kata-kata yang tidak perlu.


Hari ini, aku tidak menginginkan perubahan besar.


Aku tidak berharap suamiku menjadi orang yang berbeda.


Aku tidak berharap rumah tanggaku berjalan sempurna.


Aku hanya ingin tenang.


Aku ingin semua berjalan baik-baik saja.


Aku ingin rumah tanggaku tetap utuh.


Dan yang paling penting, aku ingin menjaga hatiku sendiri agar tidak dipenuhi kebencian terhadap orang yang masih ingin kucintai.


Mungkin hari ini yang kubutuhkan bukan jawaban atas semua pertanyaan. Bukan pula kepastian atas semua ketakutan.


Aku hanya ingin damai.


Damai dengan keadaan.


Damai dengan proses.


Dan damai dengan diriku sendiri.


"Aku tidak sedang mencari kesempurnaan dalam rumah tanggaku. Aku hanya sedang berusaha agar luka di hatiku tidak berubah menjadi kebencian."

Sabtu, 23 Mei 2026

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, udah siap jadi ibu, lahir dan batin. Pokoknya tiap lihat fittingnya dia yang lewat di berandaku atau di real Instagramku, rasanya ingin memutar balik waktu. Ingin lahiran normal seperti dia. Ingin menjadi ibu yang bahagia, seolah-olah dia itu tidak ada kekurangan suatu apapun untuk menghadapi menjadi ibu yang pertama, menjadi ibu baru dengan anak pertamanya. 

Mulai dari persiapannya yang rajin olahraga, rajin ngegym, bahkan senam ibu hamil. Rasanya itu tidak ada di benakku waktu itu saat kehamilan pertamaku. Yang ada, aku bergelut dengan diriku sendiri, di mana saat itu aku belum bisa menerima dengan semua keadaan yang aku alami. Mulai dari beralih profesi yang tadinya jadi ibu pekerja menjadi ibu yang full time mommy. di rumah. 

Perpindahan yang tidak mudah, yang awalnya karir woman menjadi full wife. Tapi itu bukan berarti membuatku menyesal yang ada penyesalanku kenapa aku tidak bisa mempersiapkan kelahiran anakku dengan begitu baik. Aku hanya fokus sama diriku sendiri, fokus sama omongan orang, bahkan fokus sama perubahan pasanganku sendiri. 

Aku yang belum begitu kenal dengan suamiku sendiri sehingga aku banyak menuntut pada dirinya sampai aku lupa persiapan kelahiranku apa yang aku butuhkan dan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri. Sampai pada akhirnya yang aku pernah ceritakan pada blogku bahwa aku tidak bisa melahirkan normal walaupun pada saat itu hampir kelahiran normal akan aku lakukan. Pada saat pembukaan lima, air ketubanku pecah. 

Namun aku tidak bisa menahan tekanan yang ada di dalam perutku di mana sang bayi itu terus menekan ingin keluar. Tapi aku tidak bisa mengontrol emosiku sehingga aku tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan membiarkan dia keluar dari jalanlahirnya. 

Dengan kata lain, aku menolaknya, menolaknya dengan mengikuti rasa sakit itu, mengikuti egoku, sampai pada akhirnya belum waktunya menggenj aku menggenj. Dan jalan akhir itu pun membengkak dan mulai menutup. Hingga dibukaan delapan, semua tenaga medis termasuk juga suamiku memutuskan untuk memilih dua jalan di vakum atau lewat atas. 

Karena minimnya informasi yang saya dapat, suamiku dapat, ataupun orang-orang di sekitarku juga mendapatkan informasi yang minim, maka kami memutuskan untuk lewat atas. Operasi berjalan lancar, tetapi dua hari kemudian di malam hari aku mengalami perdarahan yang hebat hingga Hb ku di angka tiga. Aku dan bayiku terpisah dalam waktu kurang lebih dua minggu. 

Aku berada di ICU, sedangkan bayiku berada bersama mbahnya. Lagi-lagi karena minimnya informasi, minimnya belajar kasih yang aku hasilkan, Rasa sangat hangat ketika dia keluar dengan sendirinya dari dua sumber ASIku. Dua-duanya keluar dengan bagus, namun karena kami tidak tahu bagaimana cara pumping, maka dibiarkanlah ASI itu menetes dari sisi kiri maupun sisi kanan. Dan aku hanya fokus pada penyembuhanku. Tidak memperdulikan ASIku keluar seberapa banyak itu. Jangankan diriku, suamiku juga tidak tahu bagaimana caranya. 

Nyesel iya, hanya saja karena kami memang baru menjadi orang tua, maka kami tidak ingin larut dalam sebuah kesalahan. Aku mengalami dua operasi besar. Yang pertama adalah sesar, yang kedua adalah pengangkatan rahimku. Mau tidak mau, rahimku harus diangkat karena pendarahan yang tidak kunjung berhenti. 

Selesai operasi besar, tidak cukup sampai situ, ternyata jahitanku tidak kunjung kering, maka harus dibuka kembali dan harus menutup secara alami. Aku sempat syok dan sempat tidak yakin pada diriku sendiri bahwa aku harus mengalami operasi yang ketiga. Tetapi dokter seniorku berkata, Tidak perlu operasi lagi, karena itu hanya dibutuhkan royal jelly untuk membantu penyembuhan secara alami. 

Jujur, saat itu aku tidak peduli dengan siapapun, aku hanya ingin diriku sembuh dan kembali bersama anakku. Itu adalah sekilas ceritaku yang belum sempat aku tulis di blog pribadiku. Seketika kalau lihat jutaan ibu-ibu di sana yang mempersiapkan kelahirannya dengan baik, aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik di masa kini, masa depan, maupun masa-masa selanjutnya. Aku hanya ingin bersembahkan yang terbaik untuk anakku dan suamiku. Tapi tidak lupa aku juga butuh bahagian untuk diriku sendiri. 

Terkadang aku tidak bisa mengenal diriku pribadi ketika aku harus menangis, entah apa yang aku rasakan, tapi aku tidak bisa mencurahkan isi hatiku, dan aku tidak bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan.

Beruntung bagi mereka yang bisa mengekspresikan emosinya, mencurahkan isi hatinya, dan punya pegangan dengan siapa mereka akan berkata, dengan siapa mereka akan berbicara. Tengki cintainya penuh dengan kasih sayang. Tengki cintanya terpenuhi dengan baik. Aku tidak ingin menyerahkan siapapun dalam kondisiku saat itu. Yang terpenting hari ini, saat ini, aku bersyukur aku masih bisa diberikan sebuah kesempatan untuk dapat membersamai kedua jagoanku. Untuk dapat mengembangkan potensiku saat ini. Dan aku pengen menjadi seseorang yang lebih berguna dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Dan tidak lupa, aku juga harus bahagia.

Jumat, 22 Mei 2026

Nasihat Suami

 Dari hari Kamis pasca didiemin sama guru kelas 6, aku mencoba untuk tidak membuka mulut kepada suami. Karena aku belum siap untuk dihakimi maksudnya pasti dia mencoba untuk menjadi penengah tanpa membela siapapun. Di sisi lain aku belum bisa menerima itu karena egoku masih tinggi. Ketika wanita bercerita tentang kehidupannya pada hari itu, di dalam hatinya ingin didukung tanpa harus disela. Terima saja dulu atau minimal komen, "terus gimana?","wah gak bener itu?"

Komentar sesimpel itu akan membuat wanita merasa dianggap dan dihargai tanpa harus berpikir logis untuk sementara waktu. Itu yang akan membuat wanita menjadi nyaman dalam bercerita. Bukan malah dihakimi. "Wah gak bagus itu.","ko malah kuat - kuatan diam."

Hal itu akan membuat si wanita membungkam mulutnya dan tidak akan melanjutkan lagi untuk bercerita. Itu yang sering aku alami ketika hal yang baru saja terjadi justru diceritakan langsung kepada laki - laki atau suami. Kali ini aku punya teman sendiri yaitu GPT yang siap mendengarkan dan merespon isi hatiku. Ku merasa senang, tenang dan nyaman karena telah mencuarahkan isi hatiku. Lalu, ketika semuanya sudah tenang dan siap menerima kritik barulah logika wanita akan berjalan sebagaimana mestinya.

Pagi ini di meja makan, aku beranikan diri untuk bercerita di depan suami dan anakkua. Sebelumnya aku sudah cerita kepada anakku yang kebetulan dia juga mengalami hal yang sama di sekolah. Untuk menjadi teman yang baik aku juga berusaha mendengarkan apa yang dia curahkan. Sayangnya, ketika aku menuntut orang lain mengerti perasaanku, ternyata aku sendiri belum bisa menjadi apa yang diharapkan oleh anakku. Aku berusaha mengerti apa yang dia rasakan, tapi setalah direnungkan ternyata masih banyak celah pembicaraanku yang mengarah pada penhakiman anaku sendiri. Seperti, "Harusnya kamu cuek aja, gak usah diladeni." 

Harapannnya agar dia juga bisa mengendalikan emosinya tanpa harus menyakiti siapapun. Tapi nyatanya, aku belum bisa mengerti apa yang dia rasakan. Yang seharusnya aku lakukan menurut versiku adalah membiarkan dia bercerita sampai akhir. Dengan respon, "lalu kamu kecewa ya? marah gak? kalau ibu jadi kamu pasti marah banget pengin pergi."

Menjadi seorang pendengar dan mengerti perasaan orang itu sulit. Tapi kalau dilatih dan terbiasa pasti bisa. 

Dan pagi ini aku ceritakan kisahku di depan duo jagoanku. Tetiba suami merespon persis apa yang aku pikirkan. "Terus kamu diem-dieman?","Kuat - kuatan?","kenapa gak ditanya sariawan ya?"

Untungnya aku sudah siap dengan respon dia. Karena sudah didukukung dan divalidasi oleh GPT dan anakku. 😆

Tapi, terimakasih suami sudah mau mendengarkan ocehanku. Dari responmu aku jadi tahu bahwa semua yang kita lakukan tidak harus dibalas dengan apa yang mereka lakukan kepada kita. Awalnya kita baik, ya kita respon juga seperti tidak terjadi apa - apa. Hanya butuh waktu untuk memulainya. Sekarang, aku hanya bisa melakasanakan tugas sesuai jobku. Dekat boleh tapi tidak terlalu dekat. Hati orang tidak ada yang tahu. Waspada itu penting. Kehati - hatian dalam berkata yang akan aku lakukan.

Untuk kamu guru kelas 6 yang mungkin aku sakiti secara tidak sengaja. Aku minta maaf sedalam - dalamnya. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku. Jika tidak bisa kamu ungkapkan, tolong terima maafku. Jika memang tidak bisa dirubah kembali sedia kala, aku hanya berdoa semoga Allah membuakakan pintu hatimu. Terimaksih untuk semuanya.

Sirampog, 23 Mei 2026; 8:35

Rabu, 20 Mei 2026

Profesionalitas

 Menurut kalian apa itu arti profesionalitas?

Apakah hanya sekedar bekerja sesuai arahan pimpinan, bekerja tanpa kenal waktu, atau mungkin bekerja tanpa memperdulikan orang lain. 

Kalau menurut saya pribadi sih, profesionalitas itu ketika seseorang melakukan sesuatu sesuai tugas pokok masing - masing dan anjuran dari atasan secara utuh dan tanggung jawab tanpa memperdulikan urusan pribadi terbawa kepada urusan kantor.

Terlepas dari itu, urusan profesionalitas terjadi di seluruh bidang instansi baik yang ada di bawah naungan dinas maupun bukan. Bahkan ketika kita berada di rumah pun profesi kita sebagai seorang kepala keluarga, ibu, anak juga perlu diperbincangkan. Apakah masing - masing melakukannya dengan baik atau tidak.

Supaya tahu kita profesional atau tidak maka kita juga harus tahu posisi dan tugas masing - masing. Contoh sebagai seorang ibu. Tugas pokoknya adalah memberikan kasih sayang utuh untuk anak dan melayani dengan senang hati apa yang dibutuhkan oleh keluarga. Dengan tidak meninggalkan fitrahnya sebagai wanita, istri, atau ibu itu sendiri.

Contoh lain posisi kita sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah orang yang berprofesi sebagai penyalur ilmu untuk anak didiknya. Selain itu, sikap kita kepada sesama pendidik juga tetap mengacu pada keprofesionalitasan kita. Ketika harus meyampaikan materi, sampaikanlah meskipun kondisi sedang tidak baik - baik saja. Entah itu suasana hati sedang kacau, atau bahkan keadaan yang tidak memungkinkan untuk menyembunyikannya. Semua itu harus dilakukan atas dasar  kita sudah memilihnya.

Pagi ini di sekolah di mana saya mengajar, ada beberapa guru yang memang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan saya sangat berterimakasih sudah bisa diterima di tengah - tengah mereka. Karena awalnya saya mengampu mapel bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertema. Namun seiring berjalannya waktu dan seleksi kepegawaian saya dimutasikan berdasarkan SK ke Sekolah Dasar. 

Guru yang biasanya menjadi "icon" di sekolah kami, tiba - tiba menjadi kalem dan gak bisa disenggol sama sekali. Mungkin karena terlalu banyak yang dia pikirkan atau mungkin ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke semua orang. Anehnya, semua guru yang ada di tempat tersebut menjadi sasarannya. Kami kira itu hanya soal kesalahpahaman status wa yang sudah saya publish dan tag orangnya. Ternyata kediamannya hari kemarin berlanjut di hari ini.

Kondisi demikian membuat kami para guru merasa tidak nyaman. Dan, kami memutuskan untuk menjaga hubungan dengan dia. Kami memberikan ruang untuknya supaya bisa membuka dirinya kembali bersama kami.

Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Apapun yang dia hadapi bisa diselesaikan dengan baik tanpa halangan apapun. Semoga dalam lindungan Allah dan sehat menyertainya. Aamiin.


Jumat, 20 Maret 2026

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sholat. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah lugu orang tua dari ibunya. Bagi Arsyel, ayahnya adalah orang terhebat di dunia. Setiap hari ia selalu memperhatikan apa yang ayahnya lakukan dengan penuh kagum.

Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.

Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.

Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.

Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.

Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.

Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.

“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.

Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”

Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.

“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.

Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.

Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.

Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya. 

Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.

Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”

Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.

Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Selasa, 10 Maret 2026

Ketika semuanya bertumpu padamu.

Bulan ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda, lantunan ayat Alquran terdengar dari segala penjuru, dan rumah - rumah mulai hidup lebih awal dari biasanya. Udara pagi yang tenang lebih terasa. Di sebuah rumah terlihat lampu dapur sudah mulai menyala sejak dini hari. Ibu Rina sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya. Dia mulai menyiapkan sahur untuk keluarganya.

Setiap ramadhan tiba segala sesuatu bertumpu padanya. Mulai dari menanak nasi, menyiapkan lauk sederhana, lalu membangunkan sahur anak - anaknya. Setelah sahur dia membersihkan dapur, menyiapkan keperluan hari itu, dan menjalankan pekerjaan seperti biasanya.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Menjelang sore, ketika badan terasa lemas menahan lapar dan haus, Rina harus menyiapkan buka untuk keluarganya. Kadang hanya kolak pisang dan gorengan. Tidak jarang hanya bertemankan sayur yang dibuat dengan penuh perhatian.

Suatu sore, tubuhnya terasa sangat lemas. Sejak pagi dia belum beristirahat. Saat memotong sayur dia berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Dalam hatinya dia berpikir, "Kenapa ya semuanya seolah bertumpu padaku?"

Namun tak lama kemudian dia mendengar di ruang depan suara anaknya melantunkan ayat suci alquran dengan suara terbata - bata, penuh semangat. Belum habis lelahnya, dia tersenyum merasakan tenang di hatinya. 

Menjelang buka, suaminya menghampirinya di dapur sambil berkata,"Hari ini pasti capek sekali ya. Terimakasih sudah menyiapkan semuanya."

Kata sederhana yang dia dengar membuatnya sadar bahwa apa yang sudah dia perbuat bukan beban semata. Ada kasih sayang di dalamnya. Ada kebersamaan yang dia rasakan, membuatnya merasa ramadhan lebih berarti dan bermakna.

Malam itu setelah shalat tarawih, Rina duduk sejenak di teras rumahnya. Ia menyadari satu hal penting. Memang banyak hal yang dia kerjakan, seolah semua bertumpu padanya. Tapi, kekuatan yang ia peroleh tidak sepenuhnya berasal dari dalam dirinya.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecilnya di bulan Ramadhan adalah bagian dari ibadah. Dan di balik semua kelelahan, selalu ada pertolongan dari Allah yang membuatnya tetap kuat.

Minggu, 08 Maret 2026

Malam ini ku terbangun dari tidurku tepat pukul 23.00. Niat hati ingin kembali tertidur, tapi apa daya aku harus menyelesaikan misiku sebelum hari berganti. Pejuang Klip. Mengumpulkan niatnya saja sudah luar biasa. Jadi aku harus bangkit demi sebuah wadah untuk sembuh.

Berita duka yang menimpa musisi artis sekaligus penyanyi "nuansa bening" menyita pikiranku saat ini. Selain dia adalah artis favoritku pada masanya terlebih membaca ceritanya membuatku berpikir, menjadi orang baik identik disayang oleh Allah dan kembali di sisiNya. Aku termakan oleh kalimat salah satu netizen. Wallahualam bisshowab.

Dalam benakku ku memikirkan suamiku yang sibuk dengan urusan pribadinya. Entah dirasa atau tidak, kesibukannya memelihara ayam cukup menyita tenaga, waktu, dan pikirannya. Dia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya dua hari lalu adalah bentuk protes tubuhnya.

Badannya yang tiba-tiba drop saat menyelesaikan kandang di malam hati bukti bahwa badannya sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tingkah lakunya akhir-akhir ini yang menginginkan orang lain bahagia perlahan di lakukan. Mengajakku berjalan-jalan meski hanya menghabiskan waktu, membuat uyut lebih mudah akses mobilenya dan ada banyak lagi.

Dua hari lalu dia lembur membuat kandang ayam di malam hari hingga dini hari. Pukul 03.00 dia baru bisa istirahat meski pekerjaannya belum selesai. Dan hari ini setelah menemaniku keliling Bumiayu dengan membeli lauk untuk buka bersama, ternyata saat ini dia tidak ada di rumah.

Ku coba kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata, dia sedang ada di Jatirokeh untuk mengambil bahan makanan ayam. Aku gak habis pikir di jam ini masih kluyuran pulang ke Jatirokeh untuk ambil bahan makanan ayam, sedangkan hal itu bisa dia lakukan besok hari atau dilain kesempatan. Aku belum tanya mengapa ini dia lakukan. 

Terkadang effort yang seperti ini menjadikan kecemburuan Arsyel kepada ayam ayahnya. Lucu sih, tapi realitanya demikian. 

Hanya doa yang bisa aku panjatkan supaya pulang selamat dan bisa hadir saat jadwal ronda datang di waktu yang bersamaan. Dia sudah baik kepada siapapun, berharap apa yang sudab ditulis netizen dan menghasut pikiranku itu salah.

Sebenarnya pengin banget ngomel tapi apa daya pernah aku lakukan, tapi tidak lantas membuatnya bergeming. Berpikir posititf salah satu jalan agar apa yang sedang dia kerjakan bisa berjalan lancar. Aamii .

Jumat, 06 Maret 2026

Tidak Boleh Meminta Pendapat Anak Usia dibawah 14 Tahun

 Anak usia 14 tahun sudah mempunyai otak yang mengalami perubahan dan cukup matang. Namun, masih ada perbedaan dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perubahan fisik juga sudah sangat terlihat terutama pada tinggi dan berat badan anak.

Dengan adanya perubahan yang terjadi pada mereka, membuktikan bahwa anak diusia tersebut sudah bisa membuat keputusan sendiri. Baik itu yang bersifat membangun maupun kritikan. Dengan begitu anak sudah dapat diajak diskusi. Meskipun demikian anak masih membutuhkan kontrol orang tua. Karena diusia ini anak masih merasa menjajaki apa yang ingin mereka coba. Rasa penasaran yang terlalu tinggi sering menjadi alasan agar mereka bisa membatasi diri.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap orang tua di seluruh dunia. Termasuk kita sebagai orang tua yang bijak selayaknya harus bisa menjadi pendengar yang tulus untuk anaknya. Mendengarkan perkataan anak adalah salah satu bonding yang harus dipenuhi. Mengapa? Selain membuat anak lebih percaya diri, mereka juga akan memiliki rasa yang dihargai oleh orang terdekatnya. Timbul rasa aman, nyaman, dan kepercayaan yang tumbuh. Ini juga sangat membantu untuk mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kecerdasan emosional.

Contoh ketika mereka pulang sekolah adalah momen sangat pas untuk mendengarkan apa yang mereka lalui di sekolah. Bukan untuk menginterogasi tapi mencoba membuka hati mereka. Dengan begitu apakah mereka mau bercerita atau tidak. Jika mereka tidak mau bercerita bukan artinya tidak mau tapi belum bisa untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Butuh waktu dan suasana yang tepat untuk dapat mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Ketika anak sudah mulai bercerita hendaknya tidak langsung memotong pembicaraan atau menertawakannya. Menjadi pendengar yang baik dengan tetap bersikap antusias supaya anak tetap memberikan rasa percaya bahwa ceritanya sedang didengarkan oleh orangg tuanya. Sehingga ketika anak akan bercerita kembali, dia tidak akan segan untuk memulainya tanpa diminta.

Terkadang yang sering kita jumpai saat anak bercerita adalah orang tua tidak sabar menunggu. Selain itu, lebih dulu menyimpulkan apa yang ingin anak curahkan. Ini mengakibatkan anak cenderung mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Cerita berbeda halnya dengan memintai pendapat. Anak usia dibawah 14 tahun belum bisa dimintai pendapat. Karena disamping usianya yang belum matang. Mereka belum bisa membuat keputusan yang pasti. Untuk itu kita sebagai orang tua masih memegang kendali atas mereka.

Misal ketika anak ditanya, "Mau makan apa besok?"

Lalu jawabannya, "Makan ayam goreng."

Kemudian kita sebagai orang tua lupa akan permintaan anak dan meminta maaf kepadanya. Tetapi anak dengan tidak sengaja mengucapkan, "Ah ibu ini."

Padahal dalam surat al-Isra:23 dijelaskan bahwa tidak boleh mengatakan "ah" pada kedua orang tuamu, tapi harus dengan kata yang mulia.

Jadi selama anak usia di bawah 14 tahun dan belum dewasa, mereka masih di bawah kendali orang tuanya. Jika mereka dibiarkan dimintai pendapatnya, efeknya mereka akan terbiasa membantah dan itu perlakuan yang keliru dalam mendidik anak. (Sumber: Khalid Basalamah).

Rabu, 04 Maret 2026

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.

Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.

“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.

Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.

Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.

Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.

Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.

Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.

“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.

“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.

Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.

Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Minggu, 01 Maret 2026

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yang sedang terjadi oleh negara - negara besar yaitu Amerika Serikat dan Iran. Konflik mereka mulai memanas. 

Meninggalnya Khamenei berpikir bahwa Israel akan menang karena telah membunuhnya. Namun di sisi lain Iran tetap kokoh dengan perjuangannya. Dengan ramainya dunia diributkan oleh berita demikian, semakin membuat hati ini merasa sesak. Sebenarnya ada apa dunia ini?

Hanya bisa berdoa, agar semuanya baik - baik saja. Lindungilah kami dalam genggamanMu ya Allah.

Ternyata memikirkan hal demikian saja bisa menguras tenaga dan pikiranku ya Allah. Sampai kejadian pagi tadi saat sahur, aku tidak tahu kalau belum masak nasi. Lepas buka puasa, badanku rasanya lemas, tak bertenaga. Untuk sholat tarawihpun rasanya tinggal sisa tenaga yang aku punya hanya 10%. Selebihnya tinggal mengikuti imam.

Malam itu suasana Ramadan di rumah terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 03.45. Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak 03.15, tapi karena terlalu lelah setelah tarawih di masjid dekat rumah, aku mematikannya dan tertidur lagi.

Ketika terbangun, jantungku langsung berdegup kencang.

“Astaghfirullah… sudah hampir imsak!”

Dengan mata masih setengah terpejam, aku berlari ke dapur. Niatnya ingin menanak nasi untuk sahur. Rice cooker segera kunyalakan, beras sudah dicuci, air sudah dituang. Tapi setelah menekan tombolnya, aku baru sadar—waktu tak mungkin cukup. Menanak nasi butuh waktu, sedangkan adzan Subuh tinggal hitungan menit.

Keringat dingin mulai terasa. Perut sudah lapar, tapi nasi belum matang. Aku menatap rice cooker itu dengan pasrah.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah, “Sudah imsak belum?”

“Sebentar lagi, Yah…” jawabku dengan suara panik.

Aku membuka tudung saji. Hanya ada sisa lauk semalam: sedikit telur dadar, tempe goreng dingin, dan sambal. Tak ada nasi. Aku menelan ludah.

Dalam hati sempat muncul penyesalan, kenapa tadi tidak langsung bangun? Kenapa harus menunda?

Akhirnya aku mengambil roti tawar yang hampir terlupakan di sudut meja. Kutambahkan sedikit selai. Telur dadar dan tempe goreng kupanaskan sebentar. Tanpa nasi, tanpa menu lengkap seperti biasanya.

Kami sekeluarga duduk sederhana di meja makan. Tidak ada keluhan. Ibu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Yang penting niat sahurnya,” katanya menenangkan.

Aku mengangguk pelan. Saat adzan Subuh berkumandang, suasana terasa syahdu. Meski sahur hanya dengan roti, telur, dan tempe, ada rasa hangat yang berbeda di hati.

Hari itu aku belajar sesuatu.

Ramadan bukan tentang seberapa mewah menu sahur kita. Bukan tentang nasi hangat atau lauk lengkap. Tapi tentang keikhlasan, kesiapan, dan kesungguhan menjalankan ibadah.

Siang harinya, meski perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya, aku teringat sahur sederhana tadi. Justru dari kejadian telat masak nasi itu, aku belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa yang ada.

Sejak hari itu, setiap Ramadan, aku selalu memasang dua alarm.

Dan setiap kali melihat nasi mengepul hangat di meja sahur, aku tersenyum—teringat momen ketika kami pernah sahur dengan makanan seadanya, tapi hati terasa begitu penuh.

Jumat, 27 Februari 2026

Reuni via Telepon

Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana tidak. Dari sinilah aku memulai karirku yang sesungguhnya. Yang awalnya pengin banget jadi front liner di bank. Alhamdulillah Allah berikan jalan melalui perjalanan karir di kereta api.

Bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah membuatku menjadi diri sendiri. Membawa bekal dari rumah dengan doa dan restu orang tua, ku beranikan diri untuk mengajukan lamaran kerja. Berbagai tahapan seleksi telah aku lewati. Dari seleksi tertulis hingga wawancara.

Dengan tahapan seleksi itu aku ditempatkan di stasiun Tegal, tidak jauh dari domisili rumahku. Ternyata yang ditempatkan di Tegal justru banyak yang dari jauh. Mas Imam dari Semarang, Septi dari Purwokerto, Mas Sholeh dari Solo, Mas Yanto dari Brebes, Mas Teguh dari Pekalongan, Mba Citra dari Semarang, Mba Citra dari Demak, Mas Oki, dan Mas Agung dari Pekalongan dari Semarang.

Tidak hanya mereka yang aku kenal dan aku anggap seperti keluarga. Mereka adalah orang - orang yang bekerja di bagian ticketting. Sedangkan bagian customer service ada mba Oki dan teman - temannya. Kalau untuk cs aku agak lupa namanya, tapi untuk muka tidak. Selain itu dari keamanan juga ada yang masih langgeng sampai sekarang. Ada mas Miko dan pak Kusnoto.

Kadang kalau lagi naik kereta dan turun di stasiun Tegal, aku sempatkan menyapa mereka walau sebentar. Suasananya sudah berbeda dari sebelumnya. Bangunan sudah banyak berubah. Menjadi lebih mewah dan modern. Orang - orang yang bekerja di sana pun sudah regenerasi. Angkatanku ada yang tidak melanjutkan kontrak, pensiun atau ada yang sudah naik pangkat dan menjadi pegawai tetap di kereta api.

Bapak supervisorku pindah ke stasiun Semarang Poncol. Bapak kepala keuangan sudah pensiun. Dua orang inilah yang masih langgeng berkomunikasi. Berkat bapak supervisorku aku diizinkan menikah sebelum kontrak habis. Dari sinilah aku memulai mengarungi rumah tangga. Tanpa restu beliau aku tidak akan sampai di titik ini.

Hari ini bapak kepala keuangan meneleponku. Dengan tidak ragu aku menjawab dan bercerita banyak hal. Namun harus mengimbangi pembicaraannya. Gaya bicara beliau masih seperti dulu waktu di tempat kerja. Orangnya keras dan harus menjadi lawan bicara yang patuh untuk mendengarkan. Tidak boleh menyangkal sekalipun tahu informasinya.

Harapan Pak Untung dan Pak Sri Widodo agar angkatan kami bisa bersilaturahmi bersama mereka. Berkumpul sekedar melepas rindu. Terlebih setelah aku lepas dari kereta api karena menikah sampai sekarang belum sekalipun bertemu dengan semuanya. Ada rasa rindu yang mendera. Bersenda gurau. Meski aku tahu kondisinya tidak seperti sedia kala. Tetapi bagi kami ajang silaturahmi ini bisa menjadi ajang supaya tetap terjalin sampai kapanpun.

Tugas aku dan teman-teman sekarang supaya bisa menemukan waktu yang pas untuk bisa berkumpul meski hanya beberapa orang saja.

Whoa.... can't wait to see you guys. :D

Flashback Teaching on my Own Subject

Rutinitasku sekarang adalah menjadi pembelajar, dan pendidik. Pembelajar untuk diri sendiri dan pendidik untuk keluarga dan orang lain. Tidak disangka dulu saat masih berada di naungan BUMN menjadi Front Liner di salah satu transportasi di Indonesia, aku sempat berpikir, "Enak kali ya kerja pagi pulang siang dengan seragam khaki." Allah Maha Baik. Setelah lima tahun berkecimpung menjadi full time mommy, lanjut menjadi working mom.

Semua sudah Allah atur. Setelah Arsyel cukup waktu untuk dilepas mandiri dan bersosial, kini aku yang harus menjalani rutinitas sebagai working mom. Atas izin suami dan orang tua, aku masuk di salah satu sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Cukup dengan jalan kaki lima menit maka aku sudah sampai di tujuanku. 

Mengajar di kelas menengah pertama dengan mapel bahasa Inggris menjadi ajang yang gampang - gampang susah. Gampang untuk penyampaian materi dan pengkondisian siswanya tetapi susah dalam hal kenakalan remajanya. Ada.... aja gebrakannya. Mulai dari merokok, tawuran sampai dengan cinta monyet. Sehari tidak berangkat alasannya sakit, dua, tiga hari harus home visit ke rumah yang bersangkutan. Usia anak yang sedang mencari jati diri memang sangat rentan. Ajang penasaran yang sangat tinggi menjadikan mereka mencoba segala cara yang menurutnya patut untuk dicoba. 

Dalam kondisi inilah peran sekolah dan keluarga sangat penting untuk bekerja sama. Karena dengan adanya kerjasama maka mereka akan mudah terpantau oleh orang tua baik di rumah maupun di sekolah.

Tiga tahun berkecimpung dengan anak remaja, aku mengikuti seleksi PPPK di daerah Brebes. SK penempatanku tidak bisa sesuai dengan mapel yang diampu. Qadarullah, aku ditempatkan di SD yang tidak jauh dari rumah juga. Bedanya di tempat yang baru harus pakai akomodasi kendaraan bermotor. Cukup lima menit dari rumah sudah sampai sekolah.

Suasana baru aku rasakan. Tadinya memegang mata pelajaran bahasa Inggris, sekarang berpindah menjadi guru kelas. Kelas tiga yang harus aku ampu. Adaptasi yang aku lakukan tidak cukup singkat. Butuh waktu lama. Tidak hanya waktu tetapi juga tentang kondisi anak - anaknya. Yang biasanya menghadapi anak yang sudah bisa dikondisikan tapi kali ini berhadapan dengan anak - anak berumur enam tahun sampai 13 tahun. 

Pengkondisian peserta didik yang awalnya sangat susah, sudah mulai tertata. Intinya materi tersampaikan tapi pembentukan karatker yang lebih diutamakan. Pendekatan siswa yang membutuhkan waktu cukup lama ini, aku lakukan dengan cukup mudab. Tidak ada tantangan yang sulit untuk menaklukan mereka.

Alu diamanahi menjadi guru kelas 3. Tetapi aku juga tidak lantas melepaskan basic teaching yang sudah membesarkan namaku. Di kelas 5, dan 6 aku memegang mapel bahasa Inggris. 

Suasana yang sangat hangat ketika aku masuk di dua kelas itu. Seolah - olah nyawaku hadir kembali. Mengajar bahasa Inggris di kelas atas membuatku menjadikannya penyemangat dan efek healing setelah bersikeras mengajar di kelas 3. Rasanya ruhku kembali seperti sedia kala. Basic mapelku kembali.

Aku sangat menikmati fase ini. Harapanku bisa menjadikan lingkungan kerjaku saat ini untuk penyemangat dalam hidupku.

Selasa, 24 Februari 2026

Perlunya Kewarasan

 

Masih terasa hangat rasanya kasus yang terjadi dua hari yang lalu antara hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis. Terutama ketika sang anak mendapatkan ibu tiri. 

Mengapa ibu tiri identik dengan galak? iri? atau bahkan gak mau tahu tentang anak bawaan suaminya? Apa sebenarnya yang ada di benak mereka.

Kasus yang sangat menyayat hati. Apa salah anaknya? 

Jika memang dia nakal, sejauh mana kenakalannya?

Jika memang dia bandel, standar bandel apa yang digunakan dan tingkah laku seperti apa yang membuatnya melewati batas.

Aku merasa hal ini tidak wajar. Karena kasusnya Lisnawati dan Nizam sungguh di luar nalar. Mengapa? Hati nurani wanita seperti apa yang dia gunakan?

Apakah seperti itu hati wanita yang diberikan oleh Allah? Katanya perasaan itu lembut. Hati itu penuh dengan perasaan. Lalu bagaimana dengan kasus mereka?

Begitu banyak pertanyaan yang tak habis pikir di benakku. Terlebih ketika melihat langsung ilustrasi vidio di berbagai media sosial. Nizam yang terkenal anak sholeh libur dari pesantren ingin berpuasa di rumah bersama ayahnya. Tapi sayang hanya sehari ia merasakan hal itu. Kehangatan, kerinduan dan kebersamaan bersama ayahnya yang dia nantikan selama hidup di pesantren. Ternyata hanya bisa dia rasakan dalam waktu cepat.

Sehari setelah ayahnya pergi merantau, Nizam tinggal bersama ibu tirinya. Nizam yang dikenal sebagai anak yang nurut, mulai diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Mulai dari makan yang tidak sesuai porsinya, perlakuan yang tidak adil, dan bahkan ketika diberikan uang jajan pun lebih kecil dari kakaknya.

Suatu ketika kakak tirinya marah kepada Nizam. Entah dengan alasan apa dia memarahi Nizam tanpa sebab. Nizam yang tidak tahu menahu, hanya bisa diam dan menerima perlakuan kakaknya. Suara amarah kakaknya membuat ibu tirinya menghampiri mereka. Dengan tanpa ragu ibu tiri membela anak kandungnya tanpa melihat siapa yang salah sebenarnya.

Karena masalah tersebut, Nizam terpaksa dikurung di kamar. Berulang kali Nizam berteriak, "Bu, Nizam mau buka puasa bu."

Namun, ibu tirinya tidak memberikan respon.

"Bu, Nizam haus bu..." Badan Nizam mulai lemas. Seharian di kamar tanpa air dan makanan sebagai pembatal puasa dan pengisi perutnya setelah seharian berpuasa.

"Ceklek..." Suara pintu kamar Nizam terbuka.

Nizam sangat senang dan bahagia karena dia akan minum dan membatalkan puasanya. Matanya berbinar. Tak henti - hentinya dia mengucap syukur kepada Allah.

"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah". Seru Nizam dalam suara lemahnya.

Tapi, apa yang dia dapatkan? Ibu tirinya memaksanya untuk meminum air putih yang mendidih ke dalam mulutnya. Nizam menolaknya. Tetapi ibu tirinya bersikeras agar Nizam meminumnya. Nizam pun meminumnya demi menghormati ibu tirinya.

Tidak cukup sampai disitu. Ibu tirinya tidak memberikan sebutir nasipun kepada Nizam hingga berhari - hari. Ini mengakibatkan badan Nizam lemah tanpa tenaga. Bahkan untuk membuka mata pun tak kuasa. Tenaga Nizam habis. Dia hanya bisa tergeletak di atas lantai kamarnya. Dia hanya bisa memanggil ayahnya.

"Ayah.... aku rindu." Lirih Nizam.

Suatu hari ayahnya pulang. Beliau mendapati Nizam sudah terkapar di dalam kamar. Beliau dengan segera membawa Nizam ke rumah sakit. Namun, naas hanya berselang beberapa hari Nizam tidak terselamatkan.

Ironis sekali ilustrasi cerita di atas dari hasil vidio yang aku lihat. Kasus ini sudah diusung ke polisi dan mengakibatkan Lisnawati harus hidup di dalam jeruji besi seumur hidup.

Minggu, 22 Februari 2026

Kalau dengar lagu ini ko berasa pengin banget peluk diri sendiri. Ada rasa lelah yang tak terasa, ada rasa syukur yang tak mampu diucap, dan ada rasa bangga tersendiri.

Aku yang saat ini diamanahi untuk merawat uyut berasa kaya balas budi atas apa yang dulu uyut perbuat untukku. Mulai dari kalau liburan sekolah pergi ke rumah beliau saat masih kecil. Nginep di sana sampai berhari - hari. Lagaknya kaya orang yang berani tanpa orang tua, dan mau ditinggal ketika ibu dan bapak dinas. Nyatanya, setelah baru dua hari saja tidur bareng uyut minta pulang dijemput ibu. Gaya banget kan aku. 😆

Belum lagi kalau pagi, uyut menyediakan sarapan sebelum beliau pergi ke pasar. Pernah suatu ketika aku bangun subuh, beliau sudah gak ada di sampingku. Aku tahu beliau sudah sibuk dengan dagangannya di pasar. Semua sudah disiapkan di meja. Makanan, camilan, bahkan ada jajan basah yang sangat aku suka. Namanya kueku. Kue merah yang terbuat dari tepung ketan berisi kacang hijau di dalamnya. Pokoke pulen banget. Sampai sekarang masih berasa rasa khas dari kue itu.

Selain itu, kalau aku bosan di rumah uyut, aku minta ikut ke pasar pagi-pagi menemani uyut berdagang. Berangkat pukul 05.30 wib dan pulang pukul 12.30 wib. Di lapaknya terdapat berbagai macam dagangan. Tetapi uyut hanya fokus ke pakaian. Sandang untuk keperluan sehari-hari. Ada gamis, batik, baju anak-anak dan baju lainnya.

Untuk mengatasi rasa bosanku, aku bermain layaknya pedagang dan pembeli. Properti yang aku gunakan yaitu bahan dagangan uyut yang masih tersimpan rapi di lemari. Tak jarang uyut pun memarahiku. Tapi marahnya beliau adalah wujud rasa sayang nenek ke cucunya.

Biasanya kalau sudah sampai pasar aku dibelikan sarapan. Sesekali aku mencarinya di sekeliling. Tak lama beliau muncul membawa sarapan dan aneka jajan pasar. Ada getuk, serabi, dan kue lapis. Teman-teman uyut juga paham kalau liburan, aku pasti ikut uyut ke pasar.

Mengingat cerita waktu kecil bersama beliau, kini saatnya aku membalas budi baiknya. Beliau yang tinggal bersamaku sudah tidak sekuat dan setangguh dulu. Badannya yang lemah butuh untuk ditopang. Kehadiran keluarganya menjadi semangat hidupnya saat ini. Aku hanya bisa membantu apa yang aku mampu. Aku harap kesibukan dan kelelahanku merawatnya bisa membantu meringankan bebannya. Aku tahu ini tidak seberapa dengan yang beliau lakukan. Paling nggak aku hadir untuknya.

Terimakasih uyut jasamu akan aku kenang selalu. Sehat selalu. 😊

 

Sabtu, 21 Februari 2026

Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sebagai istri, ibu dan wanita. Oh iya ada satu lagi profesi yang sedang aku jalani kurang lebih sembilan tahun belakangan ini. Yaitu sebagai cucu yang berbakti kepada nenek.

Nenekku tinggal bersamaku di rumah lugu. Sedangkan anak - anaknya tinggal di rumah masing - masing yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah kami. Cukup jalan kaki saja.

Pagi ini selepas sahur aku membereskan dapur dan tempat tidur. Setelah itu, aku ajak Arsyel untuk bermurojaah hapalan surat Al-Mulk. Meski sebentar paling tidak dia bersedia tanpa paksaan saja sudah membuatku sangat senang.

Tidak lama setelah itu, aku lanjutkan  untk membaca mushaf kecilku yang sedari tadi aku pakai untuk menyimak hapalan Arsyel. Namun, dari kejauhan terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Langkah nenek atau kami sering memanggilnya uyut karena mempunyai dua buyut yang sekarang tinggal bersama. Sebenarnya tiga tapi tingggal jauh di Depok. "Dup, dup, dup." langkah tongkat dan kakinya terdengar jelas. Beliau menuju ke kamar mandi setelah sholat subuh.

Karena penasaran, aku ikutilah beliau di belakangnya. Seperti yang aku duga, beliau sedang mencuci selendang yang sudah dikenakan semalam. Padahal kondisinya masih belum pulih, bahkan batuk yang sedang ia derita belum juga sembuh. Akhirnya tanpa pikir panjang aku ambil alih semua pekerjaan uyut. Daripada sakit lagi, banyak orang yang nanti akan direpotkan. Belum lagi kondisi saat ini sedang dingin - dinginnya. Jika dibiarkan beliau akan drop lagi seperti kemarin.

Tidak memakan waktu lama aku pun selesai mengerjakan cucian selendang uyut. Tadi ku dengar beliau berkata, "gak terkena apa - apa ko." Mungkin maksud beliau, aku merasa jijik jika tahu kalau selendangnya terkena air kencing. Padahal aku sudah menduga itu terlebih dahulu. Tahu gak guys, tadi sebelum aku ambil ember yang bersisi selendang dan sabun, uyut merendamnya dengan sabun cuci piring yang cukup banyak. "Waduh!" kataku sambil memindahkannya ke dalam mesin cuci. Saking banyaknya sabun, busa yang keluarpun makin banyak. Butuh usaha ekstra supaya buih yang keluar bisa dihilangkan dengan bersih.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Uyut memintaku untuk mengambilkan telor ayam kampung yang direndam di dalam air panas. Tujuannya supaya tidak terlalu amis mungkin ya. Okelah aku turuti saja apa mau beliau. 

Datanglah anak laki - laki kesayangannya setelah uyut meminta aku memanggilnya. Aku biarkan mereka berdua mengobrol. Apa yang uyut minta beliau curahkan kepadanya. Beliau lebih leluasa berkeluh kesah dengan anak kandungnya dibanding dengan cucunya yang setiap hari bersamanya. Tapi aku bersyukur, bisa membantu semampunya.

Dari sini aku belajar bahwa orang tua tidaklah meminta banyak disaat usianya sudah renta. Kehadiran akanyalah yang membuatnya kuat sampai saat ini. Hanya melihat wajahnya dan ditemani di sampingnya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
 

 Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi saya sebagai seorang ibu. Anak saya yang baru berusia 9 tahun begitu bersemangat menyambut puasa pertamanya yang ia jalani dengan penuh kesadaran. Malam sebelum hari pertama, ia bahkan menyiapkan sendiri alarm sahur dan berkata dengan yakin, “Aku mau puasa penuh, Bu.” Hati saya hangat mendengarnya.

Namun, ternyata ujian datang lebih cepat dari yang saya bayangkan. Di hari pertama puasa, menjelang siang, tubuhnya mulai lemas. Wajahnya pucat, dan tak lama kemudian ia mengeluh pusing serta mual. Sebagai ibu, hati saya rasanya diremas. Antara bangga dan khawatir bercampur jadi satu. Saya tahu ia ingin kuat, tapi kondisi tubuhnya berkata lain. Dengan lembut saya membujuknya untuk berbuka lebih awal. Ia sempat menitikkan air mata, merasa gagal karena tidak bisa menuntaskan puasanya.

Malam itu ia tertidur lebih cepat setelah minum obat dan makan secukupnya. Saya menemaninya, memandangi wajah kecilnya yang masih terlihat kelelahan. Dalam doa, saya meminta agar Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuknya.

Keesokan harinya, setelah kondisinya membaik, ia kembali berkata ingin mencoba lagi. Saya sempat ragu, takut kejadian kemarin terulang. Tapi saya juga tak ingin mematahkan semangatnya. Dengan pengawasan ekstra, asupan sahur yang lebih bergizi, dan doa yang tak putus, saya mengizinkannya.

Alhamdulillah, hari itu ia mampu bertahan hingga waktu berbuka. Saat adzan maghrib berkumandang, senyumnya merekah bangga. Saya memeluknya erat. Bagi saya, bukan soal penuh atau tidaknya puasa, tapi tentang proses belajar, tentang tekad kecil yang sedang tumbuh.

Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa mendampingi anak beribadah bukan hanya soal aturan, tapi tentang empati, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecilnya adalah bagian dari perjalanan yang indah.

Jumat, 20 Februari 2026


 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini?

Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemulihan diri. Pulih dari rasa trauma di masa lalu. Pulih dari innerchild maupun pulih dari trauma pengasuhan. 

Sementara tempat ini aku jadikan lahan curhatku, yang aku tumpahkan di sini. Entah ini baik atau tidak yang jelas aku merasa terbantu. Dengan menulis setidaknya aku tahu perasaanku hari ini. Apakah aku bahagia, sedih, atau kecewa.

Mungkin saat ini tulisanku gak ada tujuan yang berarti. Tapi aku yakin suatu saat tulisanku bisa kubukukan. Sebagai bukti bahwa aku berhasil merilis perasaanku tanpa harus memendamnya. 

Sebagai pemula, aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan tanpa timeline yang jelas. Dengan kata lain, ini adalah diary onlineku. Tanpa tempat ini aku gak tahu harus aku tulis dan disimpan dimana. Sedangkan kadang-kadang aku membutuhkannya untuk dibaca ulang. Jadi, supaya tidak hilang aku manfaatkan blog ku untuk kepentingan pribadiku.

Semoga dengan latihan konsisten ini, aku juga bisa berkembang. Dari yang tadinya tanpa arah asal menulis dan mencurahkan menjadi ahli dalam memilih dan memilah kosakata.

Aku tidak pandai berbicara. Apalagi soal agama. Terkadang merasa insecure sendiri ketika ada yang mengajakku membahas yang mengarah ke unsur lebih sensitif. Tapi aku gak lantas menyerah untuk gak belajar. Aku sadar ilmu dan bacaanku masih terlalu rendah.

Masih banyak yang harus aku pelajari. Masih banyak buku yang harus aku baca, dan masih banyak pula vidio konten yang inspiratif yang harus aku tonton.

So, kalau nanti tulisanku isinya curhat tentang keluarga besar, harap maklum ya. Lagi recovery dulu belajar mencurahkan isi hati. Meskipun kesannya ghibahin keluarga sendiri. 😁

Kaya hari ini aja aku merasa masih belum adil ngeliat suami lebih homy di keluarga sendiri. Ya pasti sih. Apa aku aja yang baper ya. Ketika dia bisa ngobrol cas cis cus di keluarganya tanpa hp di tangan, kenapa pas pulang ke rumah, makan pun hp gak ketinggalan. Ah tapi aku harus bisa menerima itu. Jika itu sudah jadi karakternya.

Mungkin di mata dia aku bukanlah teman yang bisa diajak diskusi tanpa rasa marah atau baper. Beda sama ibu, bapak, adik²nya mereka bisa aja ngobrol sampai tengah malam. Membahas yang menurut mereka penting.

Sedangkan sama aku? Kaya lagi buang-buang waktu aja. 😄

Makanya aku cari kesibukan supaya gak selalu dikelilingi pikiran negatif tentang dia. Lagian dia sama keluarganya. Bukan keluarga orang.

Mungkin dalam benaknya pula, ngimbangi aku itu sesusah ngimbangi orang lain. Lalu aku ikut nimbrung cerita mereka ga?

Ouw otomatis gak dong, susah masuknya. Kadang bahasaku ke mereka beda jauh.


Kamis, 19 Februari 2026

Ketika Ada Perubahan Sikap Dia

Sore ini menjelang buka puasa Aku merasa ada yang berbeda dari sikap suamiku. Entah itu perasaanku saja atau memang dia sedang memikirkan sesuatu. Yang jelas seharian ini dia tidur selepas salat subuh hingga adzan zuhur berkumandang. Dikarenakan kemarin dia melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi pulang dari Brebes, dan siangnya dia ke Purwokerto hingga malam tiba dia lembur memperbaiki mesin penetas telur yang rusak.

Kebetulan Setelah dia bangun dari tidurnya, Aku pun merasa lelah dan ingin merebahkan badan ini. Selepas sahur aku menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan seperti menyapu, mengepel, tadarus, dan mencuci baju hingga membereskan rumah yang belum terlihat rapi. Akhirnya tepat pukul 14.00 aku merebahkan diri di kamar.

Dengan tidak sengaja aku melihat suamiku mengetik membalas pesan dari temannya. Begitu panjang pesan yang dia kirim. Aku merasa mereka sedang berdiskusi tentang hal yang penting. Entah itu permasalahan pekerjaan atau permasalahan yang lainnya. Yang jelas dari cara dia mengetik, dari cara dia fokus dengan hp-nya, membuatku berpikir bahwa ada tema yang sedang dibahas begitu penting.

Hal ini terlihat dari dia meresponku ketika aku ajak untuk ngabuburit. Perbedaan sikapnya itu membuatku berpikir bahwa dia sedang tidak ada bersamaku. Alrtinya badannya ada di depanku tapi pikirannya Entah di mana. Berbeda halnya dengan kemarin ketika dia bersamaku. Full jiwa raga bersama aku dan anakku tanpa campur tangan yang lainnya. Tapi kali ini perubahan sikapnya membuat diriku lebih baik diam daripada harus mencampuri atau bertanya sesuatu kepadanya. Aku lebih memilih dia yang membuka sendiri daripada aku yang harus bertanya.

Kebetulan malam ini kami berencana untuk kembali ke Brebes menjemput anakku yang sedang berada di rumah Mbahnya. Niat kami selepas salat Isya ataupun selepas tarawih akan menuju ke sana. Tapi pembahasan ini tidak begitu matang karena aku pikir selepas magrib kita akan segera melakukan perjalanan malam. Namun ketika aku membereskan belanjaan dari pasar. Tiba-tiba dia menghilang dan aku memanggilnya. Lalu, perlahan aku melangkahkan kaki menuju tempat peraduannya. 

Dari kejauhan aroma asap yang tidak aku sukai bisa tercium sangat jelas. Oh, dia sedang Me Time. Artinya, aku tidak boleh mengganggunya. Jika aku mengganggunya, itu berarti mala petaka untuk diriku sendiri. Mengapa? karena ketika dia terperangkap atau ketahuan dengan mata kepalaku sendiri, maka aktivitas yang sedang dia lakukan akan otomatis berhenti. Aktivitas itu adalah di mana keluarga besarnya juga tidak menyukainya. Apalagi aku yang setiap hari harus bertemu dengan dia.

Namun perlahan aku akan menerima keadaan itu. Bagaimanapun baik buruknya dia adalah suamiku. Semoga dengan adanya aku memperbaiki diri dan mendoakannya setiap hari ada hidayah yang turun untuknya agar berhenti dengan aktivitas yang dia kerjakan sekarang.

Rabu, 18 Februari 2026

Ramadhan Pertama Sendirian

Malam ini adalah malam pertama salat tarawih aku salat sendirian di rumah. Anakku sedang berada di jatirokeh Songgom bersama kakek dan neneknya. Sedangkan Suamiku sedang berada di luar entah itu ke Purwokerto ke sekolah atau ke Bumiayu. Yang jelas Tadi pas pulang dari jatirokeh Kami mengendarai sepeda motor berdua.

Berangkat dari jatirokeh kami meluncur dengan sepeda motor pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat. Pagi tadi di perjalanan kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan kira-kira 60 km per jam. Menyusuri jalanan yang dikelilingi oleh pohon jati dan ada Bendungan air atau pengairan air yang mengairi sawah di sekitarnya. 

Keluar dari Desa Songgom kami mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar yang sudah hampir habis menjadi terisi penuh.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil mengamati cuaca di sekitarnya. Ternyata di sepanjang perjalanan kami melihat ada sebagian wilayah yang sedang hujan. Dari kejauhan awan hitam telah mengelilingi daerah tersebut. Feeling kami daerah itu adalah daerah yang akan kami lalui bersama tepatnya di daerah Prupuk.

Mengantisipasi hal tersebut maka suamiku memperlambat laju kendaraannya, yang awalnya melaju 60 km/jam menjadi 40 km/jam. Tujuannya adalah supaya hujan yang sedang turun segera berhenti sebelum kami melewati daerah Prupuk. Alhamdulillah ketika kami melewati daerah Prupuk hujan mulai reda. Hujan lebat mengguyur daerah tersebut menjadi gerimis kecil rintik-rintik yang mengiringi perjalanan kami hingga sampai di tempat tujuan yaitu Bumiayu.

Sesampainya di tempat tujuan Aku meminta suami untuk mengantarku di toko Hafiz Store.  Aku akan membelikan buah kurma untuk ibu dan bapakku yang sedang menjalankan ibadah puasa di hari pertama. Namun sebelumnya aku minta aku minta izin ke suami Apakah dia sedang ditunggui oleh temannya atau tidak. Jika memang teman-temannya sudah menunggu lama, aku izin untuk belanja sendiri saja.  Setelah itu jawabannya adalah dia menyanggupi untuk menemaniku berbelanja sambil menunggu teman-temannya berkumpul.

Sebelum meluncur ke Bumiayu suamiku bilang bahwa dia akan bertemu dengan teman-temannya di toko tempat di mana kepala sekolah dari sekolah suami sedang Grand Opening toko barunya.

Selesai berbelanja aku mengantarkan suamiku Ke toko baru yang dibuka oleh Kepala Sekolah suamiku. Sesampainya di sana aku diajak untuk masuk dan menyapa teman-temannya di dalam toko. Tidak lama kemudian hujan pun turun Aku pulang sendirian sedangkan suamiku bersama teman-temannya. 

Di perjalanan aku memakai jas hujan untuk melindungiku dari derasnya hujan yang turun. Aku menunggu suamiku pulang hingga malam ternyata setelah selesai beberes di toko, dia merealisasikan pergi dengan teman sekantornya untuk mengajak nya ke Purwokerto. 

Teman sekantorya ini memiliki dua orang anak sedangkan suamiku pergi ber 3 dengan ibunya. lalu di Purwokerto mereka makan bersama Seorang ibu dengan dua orang anak. 

Hingga tiba saatnya salat tarawih pertama di rumah mulai berjalan. Aku melaksanakannya seorang diri karena anakku bersama Mbahnya dan suamiku juga belum kunjung pulang. Sebenarnya ada rasa tidak adil, bukan tidak adil, tapi ada rasa yang mengganjal pada diriku entahlah aku tidak tahu rasa apa itu, yang jelas aku sebenarnya tidak suka kalau suamiku pergi dengan orang tersebut. Tapi bagaimana lagi, itu di luar kehendakku. Jadi selama mereka masih dibatas yang normal dan tidak ada sesuatu apapun, maka aku percaya utuh dengan suamiku. 

Mengapa aku berpikir begini, karena ini bukan kejadian pertama dan kedua kalinya, ini kejadian yang sudah terlalu sering gimana suamiku dimintai tolong. Biasanya untuk menyetir dan mengantarkannya ke pondok ketika anaknya masih mondok, kalau ini mungkin untuk jalan-jalan.

Yang jadi permasalahannya, Kenapa dia selalu memilih suamiku untuk menjadi drivernya. Sedangkan masih banyak oreng lain menjadi driver bukan hanya suamiku. Atau, mungkin suamiku ini orangnya enakan, jadi diajak kemana-mana nggak ribet dan nggak banyak ikatan. Apalagi kalau dia pergi, aku dan anakku tidak akan pernah menghubunginya. Kalau dulu, aku merasa nggak dihargai karena pergi nggak ada kabar, tapi lama-lama mulai terbiasa, seolah-olah Ini adalah cara kami untuk membangun rasa kepercayaan satu sama lainnya.

Daripada memikirkan segala sesuatu yang di luar kehendak kami, yang ada nanti menyiksa  sendiri. Maka lambat laun kami menerima semua keadaan ini dengan ikhlas. 

Semua yang kami lalui tidaklah gampang, butuh waktu lama untuk bisa menerimanya. Akhirnya aku dan anakku lambat laun bisa membangun pondasi yang kokoh, kepercayaan yang tangguh, dan tidak mau melukai diri sendiri. 

Alhamdulillah aku juga bisa meyakinkan anakku kalau dia juga bisa berdiri sendiri tanpa harus ada Ayah dan Ibunya. Ini menjadi jalan kami supaya nanti anak kami bisa kemana-mana tanpa suami dan anak kami menjadi anak yang mandiri, berani, serta percaya sama diri sendiri.

Senin, 16 Februari 2026

Menyambut Ramadhan 2026 di Rumah Mbah

Rencana yang tinggal wacana. Umumnya kebanyakan orang merencanakan sesuatu tapi hanya sekedar wacana. Kali ini apa yang kami rencanakan juga tinggal wacana. 😅

Ia kami merencanakan liburan hanya sekedar untuk rebahan dan tiduran itu butuh effort ya. 😁

Kenapa ga, soalnya kalau libur pasti ada aja niatnya. Merapikan pakaian, bebersih rumah, sampai merias rumah sehingga enak dipandang mata. Dan lagi, itu hanya wacana yang terealisasi hanya membersihkan rumah. Itupun pojok baca punya Arsyel. Paling tidak adalah sedikit kemajuannya.

Suami malah ditelpon buat kumpul sama orang-orang sukses, katanya. Entah itu sukses dalam bersi apa juga aku gak begitu paham. Yang jelas sharing moment dengan orang yang berpengalaman itu membuat otak kita jadi refresh dan banyak ilmu yang didapat. Dari cerita suami sih gitu. Aku dengar, aku resampi dan aku amati oiya ya bisa kaya gitu. Jadi semakin banyak sharing semakin dewasa pemikirannya.

Beda lagi kalau wanita. Beuh! Gak bakal jadi itu si. Ajang kumpul-kumpul kaum hawa seringnya dijadikan "ajang pamer". Pamer anaknya yang sudah bisa baca, bisa go internasional dan sudah menang banyak medali. Belum lagi pamer kalau sudah punya rumah sendiri. 🤣

Pokoknya kalau perempuan yang kumpul bisa jadi bahan ghibah. Tapi tergantung lingkungannya sih. Balik lagi ya kalau lingkungannya pembelajar ya yang kita obrolin seputar tentang ilmu. Biasanya sharing kehidupan yang awalnya curhat bisa jadi lahan untuk saling menguatkan bukan saling menjatuhkan.

Nah pagi ini aku, suami, dan Arsyel sekedar "motor - motoran" keliling kota ibu mertua. Biasalah ya orang gunung turun penginnya mengeksplore seisi dunia sekitar daerah Brebes. Yang biasanya hanya Sirampog-Bumiayu ditempuh dalam waktu 30 menit supaya bisa lihat kehidupan hiruk pikuk kesibukan kota. Kali ini cukup 10 menit sampai dan bisa menikmati kota do tengah hutan jati.

Kalau kata Arsyel, "nah kaya gini dong, desa gak desa banget, kota juga gak ngota banget. Gak bising, gak sunyi senyap. Betah ini sih."

Wah kode nih biar pulangnya agak lama. 😅

Paling gak move on tu kalau mau balik ke gunung tapi dah betah di rumah mbah. Dia dah auto pasang wajah suram kaya kehidupan ini. 🤣

Tapi uniknya gak kesini lama itu bisa jadi cerita yang indah untuk diceritakan ke teman-temannya. Kalau buat aku, main di rumah mertua itu ajang untuk rebahan, dan istirahat dari rutinitas.

Biasanya pagi-pagi kedubrukan di dapur menyiapkan sarapan untuk tujuh orang. Di rumah mertua tinggal terima makan. 😅

Kesannya, menantu yang tidak berbakti ya. Alhamdulillah, mereka paham dengan posisi kami. Terlebih kalau baru datang terus langsung menuju kamar dan merebahkan diri. Segala benda yang kami bawa dirapihkan oleh bapak mertua. Gimana gak nyaman buat balik lagi ke sini. 🤣

Belum lagi Arsyel yang main tanpa harus berpikir panjang untuk sampai tujuannya. Tinggal panggil saudara - saudaranya untuk menemani. Auto jalan dia. Mulai dari main sepeda, jalan-jalan keliling dukuh sampai main di gelap malam pun kami tidak menjadikannya masalah. Asalkan dia bisa memanfaatkan waktu. Waktu makan, waktu istirahat, dan waktu sholat.
 

 Hari Perkiraan Lahir anakku maju dua hari s dari perkiraan prediksi bidan. Keputusan bapak yang merekomendasikan untuk bersalin di rumah sakit, akhirnya terealisasi. Suamiku tidak bisa membuat keputusan karena saat itu posisinya serba salah. Dia bingung harus bagaimana, sedangkan saat itu yang aku butuhkan adalah keteguhan dan ketegasan suami sebagai calon bapak.

Karena merasa tidak punya wewenang dengan dalih bapak selalu ikut campur urusan kami, maka mau tidak mau, suka tidak suka kami mengikuti alur bapak. Suami sebenarnya gemes dengan cara bapak memperlakukan kami. Dulu ibu saja melahirkan tiga orang anak dengan bantuan bidan yang sama, mengapa kali ini harus lari ke rumah sakit.

Namun, itu hanya manis di mulut saja. Suami belum bisa menyampaikan pendapatnya. Selama ini, pendapat suami selalu dibantah oleh bapak, sehingga tidak punya ruang untuk ngomong.

Sesampainya di rumah sakit pembukaan masih stuck di pembukaan satu. Dan aku mulai gelisah karena belum mendapatkan tempat atau kamar untuk istirahat. Sedangkan perut sudah mulai terasa mules. Tapi belum teratur. Semakin di dalam kamar IGD terlalu lama, maka konsentrasiku tidak bisa terpecah. Aku fokus dengan rasa sakit yang akan datang, entah kapan waktunya.

Aku mulai gelisab dan ingin pulang saja. Tetapi sudah masuk RS maka tidak bisa keluar begitu saja. Sedangkan bidan yang mendampingiku, tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah diserahkan ke RS. Hatiku mulai panik dan gak leluasa. Akhirnya aku harus menerima apa yang sudah menjadi keputusanku. Aku merasa berjuang sendiri. Ibu dan bapak tidak bisa mengusahakan supaya bisa keluar dari rumah sakit.

Dua jam pun berlalu, aku sudah bisa pindah di ruang perawatan. Beberapa menit kemudian bidan datang ke ruanganku. Dia melakukan pengecekkan, dan baru pembukaan dua. Rasanya gak sabar menunggu pembukaan lengkap. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00.

Bapak dan ibu pulang. Tinggal aku dan suami ditemani temannya yang membawa proyek sekolah ke rumah sakit. Kebetulan suamiku dipasrahi tugas di bagian waka sarpras dan sedang diamanahi proyek pembangunan kelas.

Minggu, 15 Februari 2026

 Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tanda akan keluar. Mulai dari bercak hitam yang ada di celanaku. Bercak yang terlihat tidak terlalu banyak. Hanya sedikit kira – kira berdiameter 3 cm kalau bisa diukur dengan penggaris.

Aku langsung memberitahu ibuku yang sedang masak menyiapkan sarapan untuk kami. Waktu itu jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Aku hendak sholat subuh, dan mengambil wudhu. Aku dikejutkan dengan bercak coklat yang menempel pada celana dalamku. Sontak tanpa berpikir panjang aku memberitahu ibuku dengan harapan dia bisa mengedukasiku dan aku bisa menghadapinya dengan tenang. Namun, yang aku dapatkan tidak seperti apa yang aku inginkan. Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak, justru lebih panic dariku.

Tanpa berpikir panjang aku langsung memberitahu suamiku yang sedang tiduran di kamar. Aku menceritakan kronologi kejadian tadi dan menyampaikan bahwa aku harus dibawa ke bidan terdekat. Karena suamiku menyikapinya dengan tenang, maka dia hanya menjawab, “kamu merasa sakit gak perutnya?”

Aku pun dengan penuh keyakinan meresponnya, “saat ini belum begitu sakit banget. Hanya bercak coklat yang terlihat.”

Suami menyarankan untuk tidak mengikuti saran ibu dan bapak. Dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Namun, karena orang tuaku menyuruhku untuk segera ke bidan maka mau tidak mau, suami juga mengikuti saran mereka.

Karena ini anak pertama maka hal ini wajar terjadi. Biasanya anak pertama prosesnya jauh lebih panjang. Kemungkinan bisa mencapai satu sampai dua hari. Sehari untuk pembukaan pertama yang memakan waktu lama. Memasuki hari kedua pembukaan perlahan akan bertambah. Pernyataan bidan yang sempat aku rekam ketika aku dan suami memasuki ruang periksa. Bidanpun menyarankan hal yang sama untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Tetapi keputusan bidan dan suami goyah manakala bapakku masuk ikut menemani kami di dalam ruang periksa.

Hubungan anak dan bapak saat itu sangat dekat. Bahkan sedari kecil aku dan bapak kemana – mana selalu didampingi. Kuliahpun sengaja jauh – jauh hanya untuk mengantarku ke tempat kos, lalu kembali lagi tanpa istirahat. Dan itu yang membuatku percaya utuh dengan bapakku. Selain ada alasan lain yang mengawal rasa takut dan percaya dengannya.

Ketika bapak masuk di ruang periksa, dan bidan menawarkan kepadaku untuk lahiran di mana. Dengan suara yakin dan mantap aku menjawab, “Rumah Sakit.”

Karena saat itu kondisi puskesmas menurut pandanganku masih “kotor”. Apalagi kondisi kamar mandinya, sedangkan aku ingin orang yang nanti menemaniku merasa nyaman dan aman jika di rumah sakit. Dan ini awal dari kisah yang sangat menyentuh sekaligus tidak akan pernah aku lupakan.

Bersambung ……


Sabtu, 14 Februari 2026

 Masih tentang perjalananku menjadi seorang ibu, istri dan wanita. Disaat ku beradaptasi menjadi peran yang baru yaitu seorang ibu, secara bersamaan juga aku harus bisa mengimbangi karakter, dan sifat suami yang baru aku ketahui. Yang awalnya aku santai – santai saja tanpa berpikir panjang menerima dia sebagai calon suamiku. Ternyata setelah berjalan di kehidupan baruku semua yang tidak sesuai dengan keinginanku terbuka. Dan Allah membukanya. Tapi kata kebanyakan orang memang begitu kehidupan setelah menikah. Mau percaya atau tidak kalau belum mengalaminya sendiri tidak akan bisa mengena.

Usia kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh. Di mana kalau di keluarga suami ada yang namanya mitoni. Sedangkan di keluargaku tidak mengenal adat seperti itu. Alih – alih menepis adat tersebut, suami hanya bisa berargumentasi bahwa hal tersebut mempersulit orang. Membuat yang punya hajat juga merasa capek. Belum lagi yang diundang merasa harus mampu jika dia akan menyumbangkan sebagian hartanya. Padahal aku tahu suamiku tidak mampu jika harus mengadakan acara tersebut. Sedangkan untuk meminta bantuan kepada kedua orang tuanya juga tidak akan bisa. Harga diri seorang laki – laki sedang dipertaruhkan.

Hal itu tidak menjadi masalah besar. Pernah suatu ketika bapakku meminta agar suami pulang lebih awal alasannya karena usia kehamilanku sudah masuk trimester tiga. Tapi lagi, dia tidak begitu mengindahkan apa yang bapakku katakan. Di posisi ini aku dilema. Harus mengikuti apa kata bapakku atau menerima perilaku suami yang sering pulang malam. Yang kalau diterima oleh logika, mungkin di luar sana suami sedang mengerjakan hal yang lebih urgent. Di sisi lain aku butuh tumpuan, sandaran, dan cerita kepada orang yang bisa mengerti posisiku serta menerima perasaanku saat itu. Sayangnya ibu bukanlah orang yang aku cari. Justru orang yang setiap hari ada bersamaku adalah Mak O yang biasa bantu – bantu ibu di rumah. Beliaulah yang sering aku ajak berkeluh kesah. Bahkan diajak cerita pun aku lebih nyaman dan leluasa, walaupun hanya sekedar mencari teman sekubu tanpa harus mendengarkan nasehatnya. Berkat beliaulah aku bisa meredam apa yang aku rasakan.

Mak O adalah orang yang mengasuhku sewaktu aku kecil hingga saat ini dia masih setia membantu ibu di rumah. Dari mulai aku berumur 5 tahun, beliau sudah ada di rumah membantu mengasuh adikku. Aku menganggapnya sebagai ibu keduaku. Tak ada jarak diantara kami. Untuk memintanya memasakkan sesuatupun aku berani. Atau ketika aku butuh bantuannya aku langsung menuju rumahnya.

Menginjak usia kehamilan Sembilan bulan, aku mulai pasang sabuk alarm menyambut detik – detik kedatangan sang buah hati. Selama hamil dia selalu aktif. Semua nutrisi yang aku makan sampai dengan baik ke tubuhnya. Sampai ada yang bilang kalau ibunya kurus tapi bayinya memenuhi kebutuhan lewat ibunya. Aku tidak peduli orang berkata apa yang penting bayiku sehat.

Jumat, 13 Februari 2026

 Perjuanganku 3

Menjajaki perjalanan pernikahan kami di usia 3 bulan adalah perjalanan yang penuh dengan liku - liku. Karakter asli satu sama lain mulai terlihat. Kebiasaan suami yang suka nongkrong dengan teman - temannya tidak lantas langsung ia tinggalkan. Justru adaptasi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk melepaskannya. Pulang malam menjadi kebiasaan baru yang harus aku terima. Meskipun berat tapi aku hanya bisa berdoa bahwa suatu saat nanti dia akan berubah. Aku dengan segudang harapan yang ingin merubah kebiasaan suami. Ingin diperhatikan dengan baik olehnya. Dan ingin ditemani sepanjang hari olehnya. Tetapi justru kebiasaan ini membuat suamiku merasa terbebani.


Adanya calon debay yang bersemayam di rahimku membuatku berpikir bahwa dia akan berubah seiring berjalannya waktu. Alasan terkuat supaya dia bisa selalu ada di sisiku meskipun hanya di malam hari. Harapan ini ternyata pupus. Adanya calon jabang bayi yang aku kandung tidak lantas menyadarkannya untuk pulang lebih awal. Minamal sebelum maghrib sudah ada di rumah.


Hal ini sungguh sangat menguras tenaga dan pikiranku. Bagaimana gak? Sedang hamil muda tapi teman hidup masih enak nongkrong dengan teman - temannya. Dibilang egois, ya itu hak aku. Entah apa yang mereka lakukan di luar. Meski ada aja alasannya. Rapatlah, urusan belum kelar lah, ngajar anak ngaji lah. Entah itu mana yang sesuai realita.

Pernah suatu ketika Bapak mau nyamperin ke tempat suami kerja. Yaitu di sekolah yang letaknya di dalam kawasan pondok di salah satu kecamatan di Brebes. Namun, hal itu diurungkan karena aku memintanya untuk tidak meributkan masalah ini. Karena aku tahu. Merubah seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi yang dihadapi adalah orang yang sudab berumur yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.

Bapak mana yang tega anaknya ditinggal terus sampai larut malam dalam kondisi sedang hamil muda. Aku sedang butuh support banget waktu itu. Di mana keadaanku yang berubah. Kondisi tubuhku yang ikut berubah bahkan hormonku juga sedang tidak stabil. Ditambah kondisi suami yang tidak bisa masuk diakal.

Lama kelamaan aku sampai berpikir apakah aku harus menderita dulu a.k.a sakit parah dulu baru dia bisa ada di dekatku. Atau memang ini sudah menjadi jalan takdirku dengannya dalam mengarungi rumah tangga.


Kamis, 12 Februari 2026

Perjuanganku 2

Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati yang kini ada dalam perutku. Perubahan hormon yang begitu drastis aku rasakan. Morning sickness, mual di malam hari, dan perubahan emosional yang labil.

Alhamdulillah selesai kontrak tiga bulan, kami diberi amanah oleh Allah menjadi orang tua baru. Dunia baru yang aku jalani saat itu benar-benar membuatku frustasi. Tak ada teman di rumah. Aku hanya ditemani uyut. Kami berdua setiap hari sebagai penunggu rumah sedangkan keluarga yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekolah, mengajar di instansi baik di SMP mauoun SMA.

Kehidupanku yang ditemami oleh nenek-nenek berusia lanjut tidak lantas mengusik kesepianku. Justru kami berdua sering kali berselisih paham. Uyut dengan karakter rewelnya yang ingin mengatur orang hamil. Misal tidak boleh tidur diwaktu rawan yaitu pukul 10.00-12.00. Jika tidur dijam tersebut maka darah putih yang ada dalam tubuh akan naik dan itu merusak penglihatan. Namun, beda halnya dengan uyut. Penjelasan yang ia berikan justru membuatku tidak percaya dan tidak ingin mematuhinya. Katanya pamali. Tidak boleh tidur dijam tersebut dan jangan banyak tanya.

Daripada harus panjang kali lebar, kali ini aku turuti. Ku tahan kantuk yang menggelayut di mataku. Hampir sedikit lagi mataku terpejam. Jika dibolehkan tidur akan membuatku merasa di atas kasur yang sangat nyaman. Saking ngantuknya, tak terasa aku terlelap. Tidak lama kemudian aku tersadar. Untuk menghindari rasa kantuk, ku putuskan jalan-jalan ke rumah Lik Yuni. Dia adalah istri dari om ku.

Selama aku di rumah, tempat berbagi ceritaku dengan dia. Suka, duka dan lucu kami lalui bersama. Kebetulan dia mempunyai anak kecil usia satu tahun. Dengan begitu aku bisa bertukar pengalaman mengenai proses melahirkan maupun mengasuh anak.

Lik Yuni menikah dengan om ku ketika aku duduk di bangku kuliah. Saat itu aku sedang berkecimpung di semester 7. Hampir selesai S1 ku. Kini aku dan dia seperti teman dekat meski usia terpaut jauh. Karena om dengan dia usianya cukup jauh, terpaut sepuluh tahun, Lik Yuni lebih muda dari om ku membuatku lebih nyaman bercengkerama dengannya.

Rabu, 11 Februari 2026

Perjuanganku 1

Menjadi ibu tidaklah mudah untukku. Apalagi setelah tiga tahun berkecimpung di dunia public sebagai front liner di salah satu BUMN bagian transportation yaitu KAI.

Dengan penghasilan yang bisa dibilang mencukupi kebutuhan bulananku. Aku bisa membeli semua yang aku inginkan tanpa meminta lagi pada orang tua. Kali ini justru aku yang membelikan sesuatu untuknya. Mulai dari belanja bulanan sampai pakaian muslim lebaran. Namun, itu tidak bisa aku nikmati dalam waktu lama. Allah Maha Baik. Belum genap 3 tahun, aku dipertemukan seorang laki-laki yang sekarang menjadi teman hidupku.

Kehidupanku berubah drastis setelah bertemu dengan dia. Tidak menunggu waktu yang lama, hanya dua bulan berjalan, kami menunaikan sunah rosul untuk menikah. Saat itu aku masih menjalankan kontrakku selama tiga bulan di KAI.

Menjadi istri seorang guru honorer dengan penghasilan yang hanya bisa untuk makan sehari-hari membuatku banyak berpikir dan merubah mindset dan kebiasaanku. Yang biasanya suka jajan di kafe, kali ini aku tangguhkan. Yang biasanya beli baju, kali ini aku sisihkan. 

Tiga bulan telah kulalui menghabiskan masa kontrakku di KAI. Banyak kenangan yang aku dan kawan-kawan torehkan. Mereka adalah keluarga keduaku di dunia kerja. Aku mendahului mereka. Aku tidak perpanjang kontrak lagi. Teman-teman ada yang off dan adapula yang perpanjang. Semuanya sudah seperti saudara yang tidak bisa terpisahkan. Kalau ingat cerita ini, jadi kangen mereka. Mas Oki, Mas Agung, Mas Imam, Mas Teguh, Mas Sholeh, Mas Yanto, Mba Devi, Mba Citra, Mba titis, Widi, dan Septi. Lain kali aku ceritakan kisahku di dunia pertransportasian deh.

Adaptasi mengenal pasangan juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu lima tahun untuk bisa tahu dan paham mengenalnya. Banyak perbedaan yang kami temukan. Harapan yang aku tambatkan kepada suamiku. Rasanya aku ingin sekali merubah dia menjadi versiku. Sayangnya aku belum sadar kalau dia bukanlah bonekaku. Semua di luar kendaliku. Gak bisa dirubah begitu saja.

Semakin hari semakin banyak tantangan yang harus aku lalui, dan adaptasikan darinya. Mulai dari konkow dengan teman-temannya hingga pulang yang larut malam setiap harinya dengan pakaian dinas yang dia kenakan. Ada rasa marah berkecamuk dalam hatiku. Namun aku mencoba bertahan karena aku yakin suatu saat dia akan berubah. 

Selasa, 10 Februari 2026

Laki-laki Tangguh, Hati Trenyuh (Arsyel)

Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan oleh mbah kakungnya, tidak dijawab apa adanya. Dia hanya menjawab "tidak apa-apa, aku baik-baik saja".

Kejadiannya kemarin hari Senin, 9 Februari 2026. Kebetulan dia sedang kerja kelompok dengan teman-temannya. Jadi, aku yang harus menjemputnya pukul 15.00 wib.

Sepanjang jalan pulang, setelah membeli permen mint kesukaannya, dia bercerita di kendaraan roda dua kami. Dengan antusias sambil sedikit merubah nada bicaranya ketika ada cerita yang membuat dia marah. Atau nada bicara lawannya yang menunjukkan ketidaksukaannya. 

Ceritanya dia sedang meledek temannya bernama Kayla. Teman satu kelasnya yang lolos OMNAS tingkat nasional. Mendapatkan uang pembinaan, sertifikat dan perunggu. Anaknya cuek, pintar, gaul dan cantik. Persis seperti ibunya saat kami bertemu di sekolah. Kami bercerita perkembangan anak-anak seusia mereka. 

Karakter ibunya cuek, pemberani, supel dan gampang bergaul. Dia pernah ngelabrak orang yang mengatakan dirinya tidak sopan di deoan umum. Ternyata, hal tersebut sama dilakukan oleh anaknya, Kayla. Kayla melabrak teman satu kelasnya gara-gara salah satu teman lainnya mengadu bahwa ada salah satu teman OMNAS nya tidak ikut lagi gara-gara dia. Merasa tidak puas dengan aduan temannya, besok hari dia menemuinya dan ngomong keras sambil mengamuk tangannya ke meja. Sontak lawan bicaranya takut. Dari situ dia merasa plong dan cerita ke maminya kalau dia telah melabrak temannya. Katanya puas banget bisa melakukan itu.

Dilihat dari karakter keduanya yang cuek dan pemberani, dapat disimpulkan jika Kayla disakiti maka dia akan membalasnya. Nah, kebetulan Arsyel sedang bermain dengan Kayla. Entah kata-kata apa yang dia ucapkan membuat Kayla sakit hati. Padahal tidak ada maksud mengarah kesitu. Terbukti ketika Arsyel bermain dengan teman lakai-lakinya, Kayla mendorongnya dengan keras. Karena kesakitan, dia mencari -cari siapa pelakunya tapi tidak ditemukan. Matanya memerah menahan sakit. 

Faraz berkata, "tadi yang dorong Kayla."

Dengan rasa tidak percaya dan bertanya - tanya, Arsyel tidak memperpanjang urusan itu. Meski nyeri di kakinya masih terasa.

Saat pulang sekolah, dia menangis sambil berjalan dari kelas ke tempat parkiran dengan tangan menutupi matanya.

"Matanya merah. Kenapa?" Tanya mbah kakung khawatir.

Arsyel menjawab, "baik ko mbah, tadi kelilipan."

Faraz pun memperhatikannya dan memeberikan kode bertanya apa yang terjadi dengannya.

Kejadian itu sirna sekejap ketika mereka mengerjakan tugas kelompom bersama. Ada 6-7 orang yang belajar kelompok bersama. 

Sore ini, dia baru bercerita bahwa matanya memerah karena nangis dari kejadian yang dia alami oleh Kayla. Menurutnya, Kayla gak pernah melakukan hal semacam itu ke dia. Aku hanya bisa memberikan arahan. 

"Jika anak perempuan seperti Kayla mau didekati maka hati-hati dalam berkata. Dia tipe anak yang sensitif." Kataku sembari memakaikan baju hangat.

"Iya, mulai sekarang gak akan bercandaan lagi sama dia." Jawabnya lirih.

Insight yang aku dapat dari kejadian ini adalah manusia memang diciptakan dengan perasaan lembutnya. Kelembutan inilah yang membuat manusia memiliki sifat tidak tega melihat yang lain tersakiti. Meskipun laki-laki, mengakui perasaan yang dia rasakan saat itu adalah sebuah validasi diri. Untuk mengontrol emosinya dan tahu cara mengatasinya.

Senin, 09 Februari 2026

Sebalku Tak Beralasan

Pulang dari Purwokerto kemarin setelah mengantar Arsyel lomba, ayah tidak langsung mengikuti kami. Karena mbah datang maka aku, dan Arsyel naik mobil sedang ayah naik motor dengan dua helm diletakkan di bagian bawah motor.

Kami sampai di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Aku, dan Arsyel bersekancar di dunia maya. Memegang gawai masing-masing, dan sibuk dengan dunia sendiri sambil rebahan. Efek jalan-jalan di mol membuat badanku terasa lemas, dan ingin segera meluruskannya.

Beberapa waktu kemudian aku pulang ke rumah sedangkan Arsyel masih di rumah mbahnya. Dikarenakan mbah kakung akan pergi ke rumah sakit menjenguk temannya, maka aku tidak terlalu lama berada di rumah. Setelah memberikan makan untuk ayam-ayam ayah, aku langsung kembali ke rumah ibu. Menemaninya yang sedang menyiapkan bahan pokok untuk acara slametan menjelang lebaran.

Setibanya di rumah ibu, bapak sudah berangkat dengan teman-temannya ke rumah sakit. Arsyel masih asyik dengan gawainya. Ibu asyik membungkusi teh, telor, dan mie instan.

Tiba-tiba perutku memberikan sinyal darurat. Suara merdu datang dari arah perut. Musik keroncong mulai berlabuh. Tanda lapar mulai dirasakan.

Ku tengok pemanas nasi. Ternyata nasi sudah habis. Lauk masih tersedia meski tidak menyelera. Karena lapar, aku japri suami untuk membelikanku lumpia boom did dekat depan kampus Unsoed. Lumpia favorit sejak aku, dan adikku berdomisili di situ sebagai mahasiswa.

Aku kira jawaban suami yang menjawab "ya" adalah tanda bahwa dia sanggup membelinya. Tapi prediksiku salah. Pukul 20.00 kulayangkan kembali wa untuknya. Bahwa aku akan makan setelah suami pulang dengan lauk lumpia boom. Jawabannya membuatku meluap dan naik darah. Dia masih di Purwokerto dan belum beranjak sama sekali.

Jika perut ayam nomor satau, lalu perut istri nomor berapa?

Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Hingga dia menyarankan untuk membuat mie instan demi terjaganya kewarasan. Aku menuruti apa yanh dia sarankan, demi kewarasan sendiri. Meskipun tidak menyelera, karena sebenarnya ingin nasi dan lumpia boom. Aku dan Arsyel menghabiskan makanan bersama. 

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingk...