Sabtu, 14 Februari 2026

 Masih tentang perjalananku menjadi seorang ibu, istri dan wanita. Disaat ku beradaptasi menjadi peran yang baru yaitu seorang ibu, secara bersamaan juga aku harus bisa mengimbangi karakter, dan sifat suami yang baru aku ketahui. Yang awalnya aku santai – santai saja tanpa berpikir panjang menerima dia sebagai calon suamiku. Ternyata setelah berjalan di kehidupan baruku semua yang tidak sesuai dengan keinginanku terbuka. Dan Allah membukanya. Tapi kata kebanyakan orang memang begitu kehidupan setelah menikah. Mau percaya atau tidak kalau belum mengalaminya sendiri tidak akan bisa mengena.

Usia kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh. Di mana kalau di keluarga suami ada yang namanya mitoni. Sedangkan di keluargaku tidak mengenal adat seperti itu. Alih – alih menepis adat tersebut, suami hanya bisa berargumentasi bahwa hal tersebut mempersulit orang. Membuat yang punya hajat juga merasa capek. Belum lagi yang diundang merasa harus mampu jika dia akan menyumbangkan sebagian hartanya. Padahal aku tahu suamiku tidak mampu jika harus mengadakan acara tersebut. Sedangkan untuk meminta bantuan kepada kedua orang tuanya juga tidak akan bisa. Harga diri seorang laki – laki sedang dipertaruhkan.

Hal itu tidak menjadi masalah besar. Pernah suatu ketika bapakku meminta agar suami pulang lebih awal alasannya karena usia kehamilanku sudah masuk trimester tiga. Tapi lagi, dia tidak begitu mengindahkan apa yang bapakku katakan. Di posisi ini aku dilema. Harus mengikuti apa kata bapakku atau menerima perilaku suami yang sering pulang malam. Yang kalau diterima oleh logika, mungkin di luar sana suami sedang mengerjakan hal yang lebih urgent. Di sisi lain aku butuh tumpuan, sandaran, dan cerita kepada orang yang bisa mengerti posisiku serta menerima perasaanku saat itu. Sayangnya ibu bukanlah orang yang aku cari. Justru orang yang setiap hari ada bersamaku adalah Mak O yang biasa bantu – bantu ibu di rumah. Beliaulah yang sering aku ajak berkeluh kesah. Bahkan diajak cerita pun aku lebih nyaman dan leluasa, walaupun hanya sekedar mencari teman sekubu tanpa harus mendengarkan nasehatnya. Berkat beliaulah aku bisa meredam apa yang aku rasakan.

Mak O adalah orang yang mengasuhku sewaktu aku kecil hingga saat ini dia masih setia membantu ibu di rumah. Dari mulai aku berumur 5 tahun, beliau sudah ada di rumah membantu mengasuh adikku. Aku menganggapnya sebagai ibu keduaku. Tak ada jarak diantara kami. Untuk memintanya memasakkan sesuatupun aku berani. Atau ketika aku butuh bantuannya aku langsung menuju rumahnya.

Menginjak usia kehamilan Sembilan bulan, aku mulai pasang sabuk alarm menyambut detik – detik kedatangan sang buah hati. Selama hamil dia selalu aktif. Semua nutrisi yang aku makan sampai dengan baik ke tubuhnya. Sampai ada yang bilang kalau ibunya kurus tapi bayinya memenuhi kebutuhan lewat ibunya. Aku tidak peduli orang berkata apa yang penting bayiku sehat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tan...