Wikipedia

Hasil penelusuran

Senin, 02 Februari 2026

Ko rasanya capek banget ya

Kegiatanku sebagai ibu, istri, dan wanita ternyata tidak ada berhentinya. Mulai dari pagi hingga tidur kembali menemui hari esok. Pagiku bertemu dengan anak – anak di sekolah, siangku harus bersiap mempersiapkan makan siang kalau anak dan suami pulang. Malamnya kalau lauk sudah habis, ya harus masak kembali. Belum lagi ketika cucian piring dan baju menumpuk. Rasanya pengin banget ada yang bantu tanpa harus diminta.

Malam ini pun terasa sangat melelahkan. Terlebih ketika harus menyiapkan makan malam dengan lauk ayam yang baru saja disembelih sore tadi karena salah satu kakinya cedera. Kami sekeluarga mempunyai ternak ayam kiriman dari saudara suami. Kira – kira ada 50 ekor ayam yang sedang kami pelihara. Setiap hari kami harus menyediakan pakan ayam. Sambilanku di sekolah ketika ada MBG masuk dan sisa dari makanan anak – anak, aku ambil untuk makan ayam.

Selepas pulang sekolah, aku langsung mengambil pakaian kotor yang masih bertengger di dalam keranjang samping kamar dekat tengga lantai 2 rumahku. Dari dua hari yang lalu pakaian itu masih belum terjamah. Rasanya penat melihat kondisi rumah tak kunjung rapi. Ingin berdamai dengan keadaan tapi naluriku sebagai seorang ibu tidak bisa membiarkan begitu saja. Aku tipe orang yang suka dengan kerapian dan kebersihan. Rasanya nyaman jika menghuni rumah sederhana tapi rapi dan bersih. Namun, sayang hal itu terlalu sempurna untukku lakukan sendiri. Sehingga tak jarang rasa capekku dilampiaskan ke anakku yang membutuhkan perhatianku untuk belajar.

Memasak ayam membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang cukup menguras. Terlebih setelah menggunakannya harus mencuci semua gerabahan yang kotor. Jikalau ada orang yang peka tanpa harus ku katakan untuk meminta tolong tapi dengan senang hati melakukannya, aku akan sangat bahagia. Membantu mencuci piring, mencuci baju, atau menyapu dan mengepel lantai. Dan itu hanya dilakukan oleh seorang nenek kepada cucunya ketika melihat dapur mulai berantakan. Ya, uyut melakukannya dengan suka rela. Meskipun kadang langkahnya yang sudah tidak segesit dulu membuatku merasa terbatas untuk bergerak. Tetapi kehadirannya membuatku merasa ringan dalam melakukan tugas rumah tangga. Menyapu lantai semampunya, melipat baju keluarga kecilku, dan selalu menemaniku memasak dengan mencuci piring dan lainnya.

Meskipun kegiatan uyut dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, bagiku hanya beliaulah yang tulus melakukannya tanpa harus aku minta.

Malam ini pun begitu. Ketika semuanya asyik dengan gadjetnya, aku dan uyut berada di dapur dengan menggoreng ayam. Setelah matang, barulah mereka bermunculan ke ruang makan untuk menyantapnya. Rasanya tak adil melihat mereka dengan enaknya melahap tanpa tahu prosesnya. Aku tahu ini mungkin keluhan, dan aku paham kesannnya aku tidak pandai bersyukur. Tapi ketahuilah ketika semuanya dilakukan bersama – sama tanpa merasa siapa yang paling capek, maka akan merasakan kebahagiaan bersama – sama. Rumah akan tetap hangat tanpa harus berpikir negatif melihat lawan mainnya berbicara. Hanya harapan dan doa yang bisa ku panjatkan untuk semua orang terkasihku. Semoga mereka dalam keadaan sehat walafiat, dan aku dilapangkan dadanya untuk menerima semuanya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sho...