Sabtu, 07 Februari 2026

Gak Adil

 Tiba-tiba perasaanku ko gak enak ya. Selepas dengerin cerita suami dengan antusias, kaya ada rasa ko gini si, gak adil banget.

Dulu pas aku disamperin sama Mini ke sekolah dituduh perusak keharmonisan mereka, aku merasa merasa takut. Sebelum dia ke SD ibu mertuanya yang ikut memperingatkanku dan secara tidak langsung mendukung apa yang menantunya adukan. Padahal kami sudah melalui mediasi berlima. Aku, suami, ibu mertua Mini, dan suaminya. Aku kira sudah cukup dan selesai. Tapi dia malah datang ke sekolah minta aku buat gak komunikasi sama rekan kerjaku yang posisinya adalah suami dia. Saat itu aku benar-benar lost contact. Gak berkomunikasi sama dia lagi, bahkan ketika ditanya soal pekerjaan, aku memilih diam. Sampai nama baikku tersebar kemana-mana dengan image negatif di mata orang lain.

Kali ini, justru dia yang nyamperin suamiku sendirian, di sekolah, di lab berdua!

Sekilas terlintas ko gak adil ya. Mengapa dia yang menuduhku yang jelas - jelas ada orang lain ketika kami ngobrol membahas proyek sekolah. Tapi dia? Dia berharap hanya ada dia dan suamiku tanpa ada orang lain. Malah ngajak makan bareng berempat. Buat apa coba? Adu domba?

Peristiwa ini sebenarnya tidak diperbolehkan olehnya kalau suami cerita ke aku. Nambah curiga dong. Maksudnya apa coba? Kalau iya benar terjadi mungkin aku yang akan menuduh mereka yang bukan - bukan. Tapi itu urusan mereka. Aku sudah senang hidup begini. Tenang. Tanpa ada gangguan. Bahkan ketika suami tidak bisa jemput bocilpun, tak ada sedikit kecurigaanku tentang itu.

Beruntung suami memiliki kebiasaan ahli hisab. Kebiasaan ini tidak ingin diketahui langsung olehku dan anakku. Baginya itu aib. Tapi tak kunjung berhenti. Jadi, ketika dia me time, dia dengan segala keleluasaannya tidak akan diganggu oleh aku, dan Arsyel. Karena aku juga tidak mau dekat-dekat dengannya kalau lagi me time. Arsyel, juga sudah banyak memgerti kalau ayahnya sedang me time. Nah bisa aja kan dia lagi me time terus melakukan hal yang berbau wanita. Itu sih pikiran jahat yang terlintas di kepalaku. Tapi aku percaya suamiku bisa jaga diri dan keluarga.

Eh, suami bilang kalau dia nangis di depannya sambil bercerita kehidupan rumah tangganya. Sungguh memalukan. Kalau saja aku tak memperhitungkan efek jangka panjang, dah ku samperin dia di sekolah tempat dia kerja. Lakukan apa yang pernah dia lakukan ke aku dulu. Sayangnya, aku lebih menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku. Lebih memilih diam dan upgrade diri. Banyak yang lebih penting yang harus aku pikirkan.

Ternyata aku tidak sekuat apa yang aku katakan. Wanita juga manusia yang butuh diperhatikan, dan validasi perasaannya. Pecah sudah air mata ini keluar deras. Rasa bersalah yang hinggap menggelayut di kepala dan hatiku. 

Saat di mana aku ditenangin oleh suami, kata yang terucap dari mulutku adalah bahwa aku sudah bertanggung jawab, aku sudah minta maaf dengan kejadian tiga tahun lalu. Suami merasa iba melihat istrinya menangis sesenggukan. Satu kalimat yang dia ucapkan bahwa "ayah sayang ibu". Kalimat tulus yang terucap terdengar sangat serius dari hati.

Aku peluk dia erat sambil mengangguk. Seketika itu hatiku berasa seperti disiram air dingin. Adem nyess. Suamiku masih dalam genggaman. 

Kalau dipikir agak lebay ya, karena masalah ini terulang kembali tanpa bukti yang kuat. Dia hanya ingin memperkeruh urusan dia sendiri dengan keluarganya. Sementara kami semakin diterpa angin yang kuat maka pohon tinggi itu semakin kokoh.

Aku utarakan apa yang aku pikirkan. Semuanya terasa ringan. Peristiwa ini menyita kesehatan mentalku. Anakku juga ikut khawatir dengan perubahan yang aku alami. Tapi dari kejadian ini, ada hikmah dibaliknya. Suami jadi bisa membersamai anak belajar. Arsyel juga tidak usah disuruh untuk belajar dan sholat.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Support sistemku

Kejadian kemarin benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Mulai dari memikirkan apa yang Mini katakan ke suami, menghasut suami supaya aku...