Selasa, 03 Februari 2026

To whom should I tell?

 Menjadi Manusia yang Siap Menerima

Aku sering berpikir mengapa dilahirkan menjadi orang yang mempunyai sifat tidak enakan dengan orang lain. Mengapa harus peduli dengan orang lain? Mengapa harus mendahulukan orang lain? Padahal diri sendiri saja butuh untuk dipedulikan, didahulukan dan diperhatikan. apalagi berkaitan dengan kebahagiaan. Dulu aku berpikir ketika bisa membuat orang lain bahagia maka diri ini pun akan merasakannya. Ternyata hal itu salah. Semakin mencoba mengerti perasaan orang lain, semakin banyak menaruh harapan kepada mereka.

Menjadi diri sendiri sangatlah penting. Membahagiakan diri sendiri juga yang utama. Diri sendiri dulu baru orang lain. Berbeda halnya dengan tata karma / adab. Ingin dihormati? Maka harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Soal hati, diri sendiri yang utama. Ketika hati kita bahagia maka orang lain akan merasakan apa yang kita rasakan.

Menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaikku untuk bisa mengerti dan mendengar cerita orang lain. Sehingga mereka yang bercerita merasa nyaman dan aman. Bercerita sesuka hati dari A sampai Z tanpa merasa dihakimi. Kecenderunganku ini menjadikanku sebagai orang yang senang menyimak cerita orang lain. Lambat laun aku jadi mengetahui dan memahami karakteristik orang – orang. Yang baik aku tiru, yang buruk aku jadikan bahan evaluasi untuk diriku sendiri. Tapi itu tidak mudah, ketika semuanya menumpuk jadi satu, tanpa disadari ternyata aku juga butuh tempat curhat. Tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus menyandarkan kepalaku. Tidak mudah menemukan orang yang diajak cerita dan penuh perhatian hanya untuk menjadi teman cerita tanpa ditanggapi apalagi dinasihati.

Pernah suatu ketika aku diajak bicara oleh dua orang yang paling berjasa dalam hidupku yaitu ibu dan uyut. Pertama dari ibu. Beliau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Seumur hidup aku baru pertama kali dijadikan tempat curhat oleh ibu. Ini terjadi setelah ibu purna tugas dari profesinya sebagai ASN guru di sekolah negeri di daerah Brebes.

Beliau bercerita bahwasanya Bapak sering tidak pamit ketika pulang. Bahkan komunikasi mereka tidak seterbuka dulu. Ibu berusaha mengimbangi bapak. Singkat cerita yang aku tangkap, mereka seperti kejar – kejaran. Semakin bapak lari maka ibu tidak bisa mengejarnya. Dan disitu aku hanya bisa menjadi tempat curahan tanpa memberikan solusi dan nasihat. Melihat ibu demikian, aku jadi merasa iba. Air matanya sempat akan keluar tapi beliau tahan.

Kedua, dari uyut. Disisa usia uyut yang sudah senja tidak ada seorangpun yang bisa bertahan mendengarkan ceritanya. Meskipun aku juga enggan mendengarkan, namun aku tahu suatu saat aku juga akan ada di posisi ini. Ceritanya tidak begitu penting. Tentang pengalamannya dulu ke pasar saat masih berdagang, dan sekarang yang sering bulak balik ke kamar mandi karena factor usia. Setiap 2 jam sekali di tengah malam beliau harus bulak bali ke kamar mandi. Cerita itu diceritakan hampir setiap hari.

Ibu dan uyut berani mengungkapkan ceritanya kepadaku. Aku senang dan aku terbuka menjadi bagian dari hidup mereka. Kapanpun dibutuhkan aku siap mendengarkan. Namun, ketika diri ini lemah, aku hanya bisa mengadu kepadaNya dan mencurahkan melalui tulisan ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bonding Berdua

 Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...