Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 04 Maret 2026

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.

Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.

“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.

Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.

Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.

Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.

Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.

Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.

“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.

“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.

Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.

Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Minggu, 01 Maret 2026

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yang sedang terjadi oleh negara - negara besar yaitu Amerika Serikat dan Iran. Konflik mereka mulai memanas. 

Meninggalnya Khamenei berpikir bahwa Israel akan menang karena telah membunuhnya. Namun di sisi lain Iran tetap kokoh dengan perjuangannya. Dengan ramainya dunia diributkan oleh berita demikian, semakin membuat hati ini merasa sesak. Sebenarnya ada apa dunia ini?

Hanya bisa berdoa, agar semuanya baik - baik saja. Lindungilah kami dalam genggamanMu ya Allah.

Ternyata memikirkan hal demikian saja bisa menguras tenaga dan pikiranku ya Allah. Sampai kejadian pagi tadi saat sahur, aku tidak tahu kalau belum masak nasi. Lepas buka puasa, badanku rasanya lemas, tak bertenaga. Untuk sholat tarawihpun rasanya tinggal sisa tenaga yang aku punya hanya 10%. Selebihnya tinggal mengikuti imam.

Malam itu suasana Ramadan di rumah terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 03.45. Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak 03.15, tapi karena terlalu lelah setelah tarawih di masjid dekat rumah, aku mematikannya dan tertidur lagi.

Ketika terbangun, jantungku langsung berdegup kencang.

“Astaghfirullah… sudah hampir imsak!”

Dengan mata masih setengah terpejam, aku berlari ke dapur. Niatnya ingin menanak nasi untuk sahur. Rice cooker segera kunyalakan, beras sudah dicuci, air sudah dituang. Tapi setelah menekan tombolnya, aku baru sadar—waktu tak mungkin cukup. Menanak nasi butuh waktu, sedangkan adzan Subuh tinggal hitungan menit.

Keringat dingin mulai terasa. Perut sudah lapar, tapi nasi belum matang. Aku menatap rice cooker itu dengan pasrah.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah, “Sudah imsak belum?”

“Sebentar lagi, Yah…” jawabku dengan suara panik.

Aku membuka tudung saji. Hanya ada sisa lauk semalam: sedikit telur dadar, tempe goreng dingin, dan sambal. Tak ada nasi. Aku menelan ludah.

Dalam hati sempat muncul penyesalan, kenapa tadi tidak langsung bangun? Kenapa harus menunda?

Akhirnya aku mengambil roti tawar yang hampir terlupakan di sudut meja. Kutambahkan sedikit selai. Telur dadar dan tempe goreng kupanaskan sebentar. Tanpa nasi, tanpa menu lengkap seperti biasanya.

Kami sekeluarga duduk sederhana di meja makan. Tidak ada keluhan. Ibu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Yang penting niat sahurnya,” katanya menenangkan.

Aku mengangguk pelan. Saat adzan Subuh berkumandang, suasana terasa syahdu. Meski sahur hanya dengan roti, telur, dan tempe, ada rasa hangat yang berbeda di hati.

Hari itu aku belajar sesuatu.

Ramadan bukan tentang seberapa mewah menu sahur kita. Bukan tentang nasi hangat atau lauk lengkap. Tapi tentang keikhlasan, kesiapan, dan kesungguhan menjalankan ibadah.

Siang harinya, meski perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya, aku teringat sahur sederhana tadi. Justru dari kejadian telat masak nasi itu, aku belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa yang ada.

Sejak hari itu, setiap Ramadan, aku selalu memasang dua alarm.

Dan setiap kali melihat nasi mengepul hangat di meja sahur, aku tersenyum—teringat momen ketika kami pernah sahur dengan makanan seadanya, tapi hati terasa begitu penuh.

Jumat, 27 Februari 2026

Reuni via Telepon

Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana tidak. Dari sinilah aku memulai karirku yang sesungguhnya. Yang awalnya pengin banget jadi front liner di bank. Alhamdulillah Allah berikan jalan melalui perjalanan karir di kereta api.

Bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah membuatku menjadi diri sendiri. Membawa bekal dari rumah dengan doa dan restu orang tua, ku beranikan diri untuk mengajukan lamaran kerja. Berbagai tahapan seleksi telah aku lewati. Dari seleksi tertulis hingga wawancara.

Dengan tahapan seleksi itu aku ditempatkan di stasiun Tegal, tidak jauh dari domisili rumahku. Ternyata yang ditempatkan di Tegal justru banyak yang dari jauh. Mas Imam dari Semarang, Septi dari Purwokerto, Mas Sholeh dari Solo, Mas Yanto dari Brebes, Mas Teguh dari Pekalongan, Mba Citra dari Semarang, Mba Citra dari Demak, Mas Oki, dan Mas Agung dari Pekalongan dari Semarang.

Tidak hanya mereka yang aku kenal dan aku anggap seperti keluarga. Mereka adalah orang - orang yang bekerja di bagian ticketting. Sedangkan bagian customer service ada mba Oki dan teman - temannya. Kalau untuk cs aku agak lupa namanya, tapi untuk muka tidak. Selain itu dari keamanan juga ada yang masih langgeng sampai sekarang. Ada mas Miko dan pak Kusnoto.

Kadang kalau lagi naik kereta dan turun di stasiun Tegal, aku sempatkan menyapa mereka walau sebentar. Suasananya sudah berbeda dari sebelumnya. Bangunan sudah banyak berubah. Menjadi lebih mewah dan modern. Orang - orang yang bekerja di sana pun sudah regenerasi. Angkatanku ada yang tidak melanjutkan kontrak, pensiun atau ada yang sudah naik pangkat dan menjadi pegawai tetap di kereta api.

Bapak supervisorku pindah ke stasiun Semarang Poncol. Bapak kepala keuangan sudah pensiun. Dua orang inilah yang masih langgeng berkomunikasi. Berkat bapak supervisorku aku diizinkan menikah sebelum kontrak habis. Dari sinilah aku memulai mengarungi rumah tangga. Tanpa restu beliau aku tidak akan sampai di titik ini.

Hari ini bapak kepala keuangan meneleponku. Dengan tidak ragu aku menjawab dan bercerita banyak hal. Namun harus mengimbangi pembicaraannya. Gaya bicara beliau masih seperti dulu waktu di tempat kerja. Orangnya keras dan harus menjadi lawan bicara yang patuh untuk mendengarkan. Tidak boleh menyangkal sekalipun tahu informasinya.

Harapan Pak Untung dan Pak Sri Widodo agar angkatan kami bisa bersilaturahmi bersama mereka. Berkumpul sekedar melepas rindu. Terlebih setelah aku lepas dari kereta api karena menikah sampai sekarang belum sekalipun bertemu dengan semuanya. Ada rasa rindu yang mendera. Bersenda gurau. Meski aku tahu kondisinya tidak seperti sedia kala. Tetapi bagi kami ajang silaturahmi ini bisa menjadi ajang supaya tetap terjalin sampai kapanpun.

Tugas aku dan teman-teman sekarang supaya bisa menemukan waktu yang pas untuk bisa berkumpul meski hanya beberapa orang saja.

Whoa.... can't wait to see you guys. :D

Flashback Teaching on my Own Subject

Rutinitasku sekarang adalah menjadi pembelajar, dan pendidik. Pembelajar untuk diri sendiri dan pendidik untuk keluarga dan orang lain. Tidak disangka dulu saat masih berada di naungan BUMN menjadi Front Liner di salah satu transportasi di Indonesia, aku sempat berpikir, "Enak kali ya kerja pagi pulang siang dengan seragam khaki." Allah Maha Baik. Setelah lima tahun berkecimpung menjadi full time mommy, lanjut menjadi working mom.

Semua sudah Allah atur. Setelah Arsyel cukup waktu untuk dilepas mandiri dan bersosial, kini aku yang harus menjalani rutinitas sebagai working mom. Atas izin suami dan orang tua, aku masuk di salah satu sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Cukup dengan jalan kaki lima menit maka aku sudah sampai di tujuanku. 

Mengajar di kelas menengah pertama dengan mapel bahasa Inggris menjadi ajang yang gampang - gampang susah. Gampang untuk penyampaian materi dan pengkondisian siswanya tetapi susah dalam hal kenakalan remajanya. Ada.... aja gebrakannya. Mulai dari merokok, tawuran sampai dengan cinta monyet. Sehari tidak berangkat alasannya sakit, dua, tiga hari harus home visit ke rumah yang bersangkutan. Usia anak yang sedang mencari jati diri memang sangat rentan. Ajang penasaran yang sangat tinggi menjadikan mereka mencoba segala cara yang menurutnya patut untuk dicoba. 

Dalam kondisi inilah peran sekolah dan keluarga sangat penting untuk bekerja sama. Karena dengan adanya kerjasama maka mereka akan mudah terpantau oleh orang tua baik di rumah maupun di sekolah.

Tiga tahun berkecimpung dengan anak remaja, aku mengikuti seleksi PPPK di daerah Brebes. SK penempatanku tidak bisa sesuai dengan mapel yang diampu. Qadarullah, aku ditempatkan di SD yang tidak jauh dari rumah juga. Bedanya di tempat yang baru harus pakai akomodasi kendaraan bermotor. Cukup lima menit dari rumah sudah sampai sekolah.

Suasana baru aku rasakan. Tadinya memegang mata pelajaran bahasa Inggris, sekarang berpindah menjadi guru kelas. Kelas tiga yang harus aku ampu. Adaptasi yang aku lakukan tidak cukup singkat. Butuh waktu lama. Tidak hanya waktu tetapi juga tentang kondisi anak - anaknya. Yang biasanya menghadapi anak yang sudah bisa dikondisikan tapi kali ini berhadapan dengan anak - anak berumur enam tahun sampai 13 tahun. 

Pengkondisian peserta didik yang awalnya sangat susah, sudah mulai tertata. Intinya materi tersampaikan tapi pembentukan karatker yang lebih diutamakan. Pendekatan siswa yang membutuhkan waktu cukup lama ini, aku lakukan dengan cukup mudab. Tidak ada tantangan yang sulit untuk menaklukan mereka.

Alu diamanahi menjadi guru kelas 3. Tetapi aku juga tidak lantas melepaskan basic teaching yang sudah membesarkan namaku. Di kelas 5, dan 6 aku memegang mapel bahasa Inggris. 

Suasana yang sangat hangat ketika aku masuk di dua kelas itu. Seolah - olah nyawaku hadir kembali. Mengajar bahasa Inggris di kelas atas membuatku menjadikannya penyemangat dan efek healing setelah bersikeras mengajar di kelas 3. Rasanya ruhku kembali seperti sedia kala. Basic mapelku kembali.

Aku sangat menikmati fase ini. Harapanku bisa menjadikan lingkungan kerjaku saat ini untuk penyemangat dalam hidupku.

Selasa, 24 Februari 2026

Perlunya Kewarasan

 

Masih terasa hangat rasanya kasus yang terjadi dua hari yang lalu antara hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis. Terutama ketika sang anak mendapatkan ibu tiri. 

Mengapa ibu tiri identik dengan galak? iri? atau bahkan gak mau tahu tentang anak bawaan suaminya? Apa sebenarnya yang ada di benak mereka.

Kasus yang sangat menyayat hati. Apa salah anaknya? 

Jika memang dia nakal, sejauh mana kenakalannya?

Jika memang dia bandel, standar bandel apa yang digunakan dan tingkah laku seperti apa yang membuatnya melewati batas.

Aku merasa hal ini tidak wajar. Karena kasusnya Lisnawati dan Nizam sungguh di luar nalar. Mengapa? Hati nurani wanita seperti apa yang dia gunakan?

Apakah seperti itu hati wanita yang diberikan oleh Allah? Katanya perasaan itu lembut. Hati itu penuh dengan perasaan. Lalu bagaimana dengan kasus mereka?

Begitu banyak pertanyaan yang tak habis pikir di benakku. Terlebih ketika melihat langsung ilustrasi vidio di berbagai media sosial. Nizam yang terkenal anak sholeh libur dari pesantren ingin berpuasa di rumah bersama ayahnya. Tapi sayang hanya sehari ia merasakan hal itu. Kehangatan, kerinduan dan kebersamaan bersama ayahnya yang dia nantikan selama hidup di pesantren. Ternyata hanya bisa dia rasakan dalam waktu cepat.

Sehari setelah ayahnya pergi merantau, Nizam tinggal bersama ibu tirinya. Nizam yang dikenal sebagai anak yang nurut, mulai diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Mulai dari makan yang tidak sesuai porsinya, perlakuan yang tidak adil, dan bahkan ketika diberikan uang jajan pun lebih kecil dari kakaknya.

Suatu ketika kakak tirinya marah kepada Nizam. Entah dengan alasan apa dia memarahi Nizam tanpa sebab. Nizam yang tidak tahu menahu, hanya bisa diam dan menerima perlakuan kakaknya. Suara amarah kakaknya membuat ibu tirinya menghampiri mereka. Dengan tanpa ragu ibu tiri membela anak kandungnya tanpa melihat siapa yang salah sebenarnya.

Karena masalah tersebut, Nizam terpaksa dikurung di kamar. Berulang kali Nizam berteriak, "Bu, Nizam mau buka puasa bu."

Namun, ibu tirinya tidak memberikan respon.

"Bu, Nizam haus bu..." Badan Nizam mulai lemas. Seharian di kamar tanpa air dan makanan sebagai pembatal puasa dan pengisi perutnya setelah seharian berpuasa.

"Ceklek..." Suara pintu kamar Nizam terbuka.

Nizam sangat senang dan bahagia karena dia akan minum dan membatalkan puasanya. Matanya berbinar. Tak henti - hentinya dia mengucap syukur kepada Allah.

"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah". Seru Nizam dalam suara lemahnya.

Tapi, apa yang dia dapatkan? Ibu tirinya memaksanya untuk meminum air putih yang mendidih ke dalam mulutnya. Nizam menolaknya. Tetapi ibu tirinya bersikeras agar Nizam meminumnya. Nizam pun meminumnya demi menghormati ibu tirinya.

Tidak cukup sampai disitu. Ibu tirinya tidak memberikan sebutir nasipun kepada Nizam hingga berhari - hari. Ini mengakibatkan badan Nizam lemah tanpa tenaga. Bahkan untuk membuka mata pun tak kuasa. Tenaga Nizam habis. Dia hanya bisa tergeletak di atas lantai kamarnya. Dia hanya bisa memanggil ayahnya.

"Ayah.... aku rindu." Lirih Nizam.

Suatu hari ayahnya pulang. Beliau mendapati Nizam sudah terkapar di dalam kamar. Beliau dengan segera membawa Nizam ke rumah sakit. Namun, naas hanya berselang beberapa hari Nizam tidak terselamatkan.

Ironis sekali ilustrasi cerita di atas dari hasil vidio yang aku lihat. Kasus ini sudah diusung ke polisi dan mengakibatkan Lisnawati harus hidup di dalam jeruji besi seumur hidup.

Minggu, 22 Februari 2026

Kalau dengar lagu ini ko berasa pengin banget peluk diri sendiri. Ada rasa lelah yang tak terasa, ada rasa syukur yang tak mampu diucap, dan ada rasa bangga tersendiri.

Aku yang saat ini diamanahi untuk merawat uyut berasa kaya balas budi atas apa yang dulu uyut perbuat untukku. Mulai dari kalau liburan sekolah pergi ke rumah beliau saat masih kecil. Nginep di sana sampai berhari - hari. Lagaknya kaya orang yang berani tanpa orang tua, dan mau ditinggal ketika ibu dan bapak dinas. Nyatanya, setelah baru dua hari saja tidur bareng uyut minta pulang dijemput ibu. Gaya banget kan aku. 😆

Belum lagi kalau pagi, uyut menyediakan sarapan sebelum beliau pergi ke pasar. Pernah suatu ketika aku bangun subuh, beliau sudah gak ada di sampingku. Aku tahu beliau sudah sibuk dengan dagangannya di pasar. Semua sudah disiapkan di meja. Makanan, camilan, bahkan ada jajan basah yang sangat aku suka. Namanya kueku. Kue merah yang terbuat dari tepung ketan berisi kacang hijau di dalamnya. Pokoke pulen banget. Sampai sekarang masih berasa rasa khas dari kue itu.

Selain itu, kalau aku bosan di rumah uyut, aku minta ikut ke pasar pagi-pagi menemani uyut berdagang. Berangkat pukul 05.30 wib dan pulang pukul 12.30 wib. Di lapaknya terdapat berbagai macam dagangan. Tetapi uyut hanya fokus ke pakaian. Sandang untuk keperluan sehari-hari. Ada gamis, batik, baju anak-anak dan baju lainnya.

Untuk mengatasi rasa bosanku, aku bermain layaknya pedagang dan pembeli. Properti yang aku gunakan yaitu bahan dagangan uyut yang masih tersimpan rapi di lemari. Tak jarang uyut pun memarahiku. Tapi marahnya beliau adalah wujud rasa sayang nenek ke cucunya.

Biasanya kalau sudah sampai pasar aku dibelikan sarapan. Sesekali aku mencarinya di sekeliling. Tak lama beliau muncul membawa sarapan dan aneka jajan pasar. Ada getuk, serabi, dan kue lapis. Teman-teman uyut juga paham kalau liburan, aku pasti ikut uyut ke pasar.

Mengingat cerita waktu kecil bersama beliau, kini saatnya aku membalas budi baiknya. Beliau yang tinggal bersamaku sudah tidak sekuat dan setangguh dulu. Badannya yang lemah butuh untuk ditopang. Kehadiran keluarganya menjadi semangat hidupnya saat ini. Aku hanya bisa membantu apa yang aku mampu. Aku harap kesibukan dan kelelahanku merawatnya bisa membantu meringankan bebannya. Aku tahu ini tidak seberapa dengan yang beliau lakukan. Paling nggak aku hadir untuknya.

Terimakasih uyut jasamu akan aku kenang selalu. Sehat selalu. 😊

 

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebara...