Jumat, 20 Februari 2026


 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini?

Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemulihan diri. Pulih dari rasa trauma di masa lalu. Pulih dari innerchild maupun pulih dari trauma pengasuhan. 

Sementara tempat ini aku jadikan lahan curhatku, yang aku tumpahkan di sini. Entah ini baik atau tidak yang jelas aku merasa terbantu. Dengan menulis setidaknya aku tahu perasaanku hari ini. Apakah aku bahagia, sedih, atau kecewa.

Mungkin saat ini tulisanku gak ada tujuan yang berarti. Tapi aku yakin suatu saat tulisanku bisa kubukukan. Sebagai bukti bahwa aku berhasil merilis perasaanku tanpa harus memendamnya. 

Sebagai pemula, aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan tanpa timeline yang jelas. Dengan kata lain, ini adalah diary onlineku. Tanpa tempat ini aku gak tahu harus aku tulis dan disimpan dimana. Sedangkan kadang-kadang aku membutuhkannya untuk dibaca ulang. Jadi, supaya tidak hilang aku manfaatkan blog ku untuk kepentingan pribadiku.

Semoga dengan latihan konsisten ini, aku juga bisa berkembang. Dari yang tadinya tanpa arah asal menulis dan mencurahkan menjadi ahli dalam memilih dan memilah kosakata.

Aku tidak pandai berbicara. Apalagi soal agama. Terkadang merasa insecure sendiri ketika ada yang mengajakku membahas yang mengarah ke unsur lebih sensitif. Tapi aku gak lantas menyerah untuk gak belajar. Aku sadar ilmu dan bacaanku masih terlalu rendah.

Masih banyak yang harus aku pelajari. Masih banyak buku yang harus aku baca, dan masih banyak pula vidio konten yang inspiratif yang harus aku tonton.

So, kalau nanti tulisanku isinya curhat tentang keluarga besar, harap maklum ya. Lagi recovery dulu belajar mencurahkan isi hati. Meskipun kesannya ghibahin keluarga sendiri. 😁

Kaya hari ini aja aku merasa masih belum adil ngeliat suami lebih homy di keluarga sendiri. Ya pasti sih. Apa aku aja yang baper ya. Ketika dia bisa ngobrol cas cis cus di keluarganya tanpa hp di tangan, kenapa pas pulang ke rumah, makan pun hp gak ketinggalan. Ah tapi aku harus bisa menerima itu. Jika itu sudah jadi karakternya.

Mungkin di mata dia aku bukanlah teman yang bisa diajak diskusi tanpa rasa marah atau baper. Beda sama ibu, bapak, adik²nya mereka bisa aja ngobrol sampai tengah malam. Membahas yang menurut mereka penting.

Sedangkan sama aku? Kaya lagi buang-buang waktu aja. 😄

Makanya aku cari kesibukan supaya gak selalu dikelilingi pikiran negatif tentang dia. Lagian dia sama keluarganya. Bukan keluarga orang.

Mungkin dalam benaknya pula, ngimbangi aku itu sesusah ngimbangi orang lain. Lalu aku ikut nimbrung cerita mereka ga?

Ouw otomatis gak dong, susah masuknya. Kadang bahasaku ke mereka beda jauh.


Kamis, 19 Februari 2026

Ketika Ada Perubahan Sikap Dia

Sore ini menjelang buka puasa Aku merasa ada yang berbeda dari sikap suamiku. Entah itu perasaanku saja atau memang dia sedang memikirkan sesuatu. Yang jelas seharian ini dia tidur selepas salat subuh hingga adzan zuhur berkumandang. Dikarenakan kemarin dia melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi pulang dari Brebes, dan siangnya dia ke Purwokerto hingga malam tiba dia lembur memperbaiki mesin penetas telur yang rusak.

Kebetulan Setelah dia bangun dari tidurnya, Aku pun merasa lelah dan ingin merebahkan badan ini. Selepas sahur aku menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan seperti menyapu, mengepel, tadarus, dan mencuci baju hingga membereskan rumah yang belum terlihat rapi. Akhirnya tepat pukul 14.00 aku merebahkan diri di kamar.

Dengan tidak sengaja aku melihat suamiku mengetik membalas pesan dari temannya. Begitu panjang pesan yang dia kirim. Aku merasa mereka sedang berdiskusi tentang hal yang penting. Entah itu permasalahan pekerjaan atau permasalahan yang lainnya. Yang jelas dari cara dia mengetik, dari cara dia fokus dengan hp-nya, membuatku berpikir bahwa ada tema yang sedang dibahas begitu penting.

Hal ini terlihat dari dia meresponku ketika aku ajak untuk ngabuburit. Perbedaan sikapnya itu membuatku berpikir bahwa dia sedang tidak ada bersamaku. Alrtinya badannya ada di depanku tapi pikirannya Entah di mana. Berbeda halnya dengan kemarin ketika dia bersamaku. Full jiwa raga bersama aku dan anakku tanpa campur tangan yang lainnya. Tapi kali ini perubahan sikapnya membuat diriku lebih baik diam daripada harus mencampuri atau bertanya sesuatu kepadanya. Aku lebih memilih dia yang membuka sendiri daripada aku yang harus bertanya.

Kebetulan malam ini kami berencana untuk kembali ke Brebes menjemput anakku yang sedang berada di rumah Mbahnya. Niat kami selepas salat Isya ataupun selepas tarawih akan menuju ke sana. Tapi pembahasan ini tidak begitu matang karena aku pikir selepas magrib kita akan segera melakukan perjalanan malam. Namun ketika aku membereskan belanjaan dari pasar. Tiba-tiba dia menghilang dan aku memanggilnya. Lalu, perlahan aku melangkahkan kaki menuju tempat peraduannya. 

Dari kejauhan aroma asap yang tidak aku sukai bisa tercium sangat jelas. Oh, dia sedang Me Time. Artinya, aku tidak boleh mengganggunya. Jika aku mengganggunya, itu berarti mala petaka untuk diriku sendiri. Mengapa? karena ketika dia terperangkap atau ketahuan dengan mata kepalaku sendiri, maka aktivitas yang sedang dia lakukan akan otomatis berhenti. Aktivitas itu adalah di mana keluarga besarnya juga tidak menyukainya. Apalagi aku yang setiap hari harus bertemu dengan dia.

Namun perlahan aku akan menerima keadaan itu. Bagaimanapun baik buruknya dia adalah suamiku. Semoga dengan adanya aku memperbaiki diri dan mendoakannya setiap hari ada hidayah yang turun untuknya agar berhenti dengan aktivitas yang dia kerjakan sekarang.

Rabu, 18 Februari 2026

Ramadhan Pertama Sendirian

Malam ini adalah malam pertama salat tarawih aku salat sendirian di rumah. Anakku sedang berada di jatirokeh Songgom bersama kakek dan neneknya. Sedangkan Suamiku sedang berada di luar entah itu ke Purwokerto ke sekolah atau ke Bumiayu. Yang jelas Tadi pas pulang dari jatirokeh Kami mengendarai sepeda motor berdua.

Berangkat dari jatirokeh kami meluncur dengan sepeda motor pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat. Pagi tadi di perjalanan kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan kira-kira 60 km per jam. Menyusuri jalanan yang dikelilingi oleh pohon jati dan ada Bendungan air atau pengairan air yang mengairi sawah di sekitarnya. 

Keluar dari Desa Songgom kami mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar yang sudah hampir habis menjadi terisi penuh.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil mengamati cuaca di sekitarnya. Ternyata di sepanjang perjalanan kami melihat ada sebagian wilayah yang sedang hujan. Dari kejauhan awan hitam telah mengelilingi daerah tersebut. Feeling kami daerah itu adalah daerah yang akan kami lalui bersama tepatnya di daerah Prupuk.

Mengantisipasi hal tersebut maka suamiku memperlambat laju kendaraannya, yang awalnya melaju 60 km/jam menjadi 40 km/jam. Tujuannya adalah supaya hujan yang sedang turun segera berhenti sebelum kami melewati daerah Prupuk. Alhamdulillah ketika kami melewati daerah Prupuk hujan mulai reda. Hujan lebat mengguyur daerah tersebut menjadi gerimis kecil rintik-rintik yang mengiringi perjalanan kami hingga sampai di tempat tujuan yaitu Bumiayu.

Sesampainya di tempat tujuan Aku meminta suami untuk mengantarku di toko Hafiz Store.  Aku akan membelikan buah kurma untuk ibu dan bapakku yang sedang menjalankan ibadah puasa di hari pertama. Namun sebelumnya aku minta aku minta izin ke suami Apakah dia sedang ditunggui oleh temannya atau tidak. Jika memang teman-temannya sudah menunggu lama, aku izin untuk belanja sendiri saja.  Setelah itu jawabannya adalah dia menyanggupi untuk menemaniku berbelanja sambil menunggu teman-temannya berkumpul.

Sebelum meluncur ke Bumiayu suamiku bilang bahwa dia akan bertemu dengan teman-temannya di toko tempat di mana kepala sekolah dari sekolah suami sedang Grand Opening toko barunya.

Selesai berbelanja aku mengantarkan suamiku Ke toko baru yang dibuka oleh Kepala Sekolah suamiku. Sesampainya di sana aku diajak untuk masuk dan menyapa teman-temannya di dalam toko. Tidak lama kemudian hujan pun turun Aku pulang sendirian sedangkan suamiku bersama teman-temannya. 

Di perjalanan aku memakai jas hujan untuk melindungiku dari derasnya hujan yang turun. Aku menunggu suamiku pulang hingga malam ternyata setelah selesai beberes di toko, dia merealisasikan pergi dengan teman sekantornya untuk mengajak nya ke Purwokerto. 

Teman sekantorya ini memiliki dua orang anak sedangkan suamiku pergi ber 3 dengan ibunya. lalu di Purwokerto mereka makan bersama Seorang ibu dengan dua orang anak. 

Hingga tiba saatnya salat tarawih pertama di rumah mulai berjalan. Aku melaksanakannya seorang diri karena anakku bersama Mbahnya dan suamiku juga belum kunjung pulang. Sebenarnya ada rasa tidak adil, bukan tidak adil, tapi ada rasa yang mengganjal pada diriku entahlah aku tidak tahu rasa apa itu, yang jelas aku sebenarnya tidak suka kalau suamiku pergi dengan orang tersebut. Tapi bagaimana lagi, itu di luar kehendakku. Jadi selama mereka masih dibatas yang normal dan tidak ada sesuatu apapun, maka aku percaya utuh dengan suamiku. 

Mengapa aku berpikir begini, karena ini bukan kejadian pertama dan kedua kalinya, ini kejadian yang sudah terlalu sering gimana suamiku dimintai tolong. Biasanya untuk menyetir dan mengantarkannya ke pondok ketika anaknya masih mondok, kalau ini mungkin untuk jalan-jalan.

Yang jadi permasalahannya, Kenapa dia selalu memilih suamiku untuk menjadi drivernya. Sedangkan masih banyak oreng lain menjadi driver bukan hanya suamiku. Atau, mungkin suamiku ini orangnya enakan, jadi diajak kemana-mana nggak ribet dan nggak banyak ikatan. Apalagi kalau dia pergi, aku dan anakku tidak akan pernah menghubunginya. Kalau dulu, aku merasa nggak dihargai karena pergi nggak ada kabar, tapi lama-lama mulai terbiasa, seolah-olah Ini adalah cara kami untuk membangun rasa kepercayaan satu sama lainnya.

Daripada memikirkan segala sesuatu yang di luar kehendak kami, yang ada nanti menyiksa  sendiri. Maka lambat laun kami menerima semua keadaan ini dengan ikhlas. 

Semua yang kami lalui tidaklah gampang, butuh waktu lama untuk bisa menerimanya. Akhirnya aku dan anakku lambat laun bisa membangun pondasi yang kokoh, kepercayaan yang tangguh, dan tidak mau melukai diri sendiri. 

Alhamdulillah aku juga bisa meyakinkan anakku kalau dia juga bisa berdiri sendiri tanpa harus ada Ayah dan Ibunya. Ini menjadi jalan kami supaya nanti anak kami bisa kemana-mana tanpa suami dan anak kami menjadi anak yang mandiri, berani, serta percaya sama diri sendiri.

Senin, 16 Februari 2026

Menyambut Ramadhan 2026 di Rumah Mbah

Rencana yang tinggal wacana. Umumnya kebanyakan orang merencanakan sesuatu tapi hanya sekedar wacana. Kali ini apa yang kami rencanakan juga tinggal wacana. 😅

Ia kami merencanakan liburan hanya sekedar untuk rebahan dan tiduran itu butuh effort ya. 😁

Kenapa ga, soalnya kalau libur pasti ada aja niatnya. Merapikan pakaian, bebersih rumah, sampai merias rumah sehingga enak dipandang mata. Dan lagi, itu hanya wacana yang terealisasi hanya membersihkan rumah. Itupun pojok baca punya Arsyel. Paling tidak adalah sedikit kemajuannya.

Suami malah ditelpon buat kumpul sama orang-orang sukses, katanya. Entah itu sukses dalam bersi apa juga aku gak begitu paham. Yang jelas sharing moment dengan orang yang berpengalaman itu membuat otak kita jadi refresh dan banyak ilmu yang didapat. Dari cerita suami sih gitu. Aku dengar, aku resampi dan aku amati oiya ya bisa kaya gitu. Jadi semakin banyak sharing semakin dewasa pemikirannya.

Beda lagi kalau wanita. Beuh! Gak bakal jadi itu si. Ajang kumpul-kumpul kaum hawa seringnya dijadikan "ajang pamer". Pamer anaknya yang sudah bisa baca, bisa go internasional dan sudah menang banyak medali. Belum lagi pamer kalau sudah punya rumah sendiri. 🤣

Pokoknya kalau perempuan yang kumpul bisa jadi bahan ghibah. Tapi tergantung lingkungannya sih. Balik lagi ya kalau lingkungannya pembelajar ya yang kita obrolin seputar tentang ilmu. Biasanya sharing kehidupan yang awalnya curhat bisa jadi lahan untuk saling menguatkan bukan saling menjatuhkan.

Nah pagi ini aku, suami, dan Arsyel sekedar "motor - motoran" keliling kota ibu mertua. Biasalah ya orang gunung turun penginnya mengeksplore seisi dunia sekitar daerah Brebes. Yang biasanya hanya Sirampog-Bumiayu ditempuh dalam waktu 30 menit supaya bisa lihat kehidupan hiruk pikuk kesibukan kota. Kali ini cukup 10 menit sampai dan bisa menikmati kota do tengah hutan jati.

Kalau kata Arsyel, "nah kaya gini dong, desa gak desa banget, kota juga gak ngota banget. Gak bising, gak sunyi senyap. Betah ini sih."

Wah kode nih biar pulangnya agak lama. 😅

Paling gak move on tu kalau mau balik ke gunung tapi dah betah di rumah mbah. Dia dah auto pasang wajah suram kaya kehidupan ini. 🤣

Tapi uniknya gak kesini lama itu bisa jadi cerita yang indah untuk diceritakan ke teman-temannya. Kalau buat aku, main di rumah mertua itu ajang untuk rebahan, dan istirahat dari rutinitas.

Biasanya pagi-pagi kedubrukan di dapur menyiapkan sarapan untuk tujuh orang. Di rumah mertua tinggal terima makan. 😅

Kesannya, menantu yang tidak berbakti ya. Alhamdulillah, mereka paham dengan posisi kami. Terlebih kalau baru datang terus langsung menuju kamar dan merebahkan diri. Segala benda yang kami bawa dirapihkan oleh bapak mertua. Gimana gak nyaman buat balik lagi ke sini. 🤣

Belum lagi Arsyel yang main tanpa harus berpikir panjang untuk sampai tujuannya. Tinggal panggil saudara - saudaranya untuk menemani. Auto jalan dia. Mulai dari main sepeda, jalan-jalan keliling dukuh sampai main di gelap malam pun kami tidak menjadikannya masalah. Asalkan dia bisa memanfaatkan waktu. Waktu makan, waktu istirahat, dan waktu sholat.
 

 Hari Perkiraan Lahir anakku maju dua hari s dari perkiraan prediksi bidan. Keputusan bapak yang merekomendasikan untuk bersalin di rumah sakit, akhirnya terealisasi. Suamiku tidak bisa membuat keputusan karena saat itu posisinya serba salah. Dia bingung harus bagaimana, sedangkan saat itu yang aku butuhkan adalah keteguhan dan ketegasan suami sebagai calon bapak.

Karena merasa tidak punya wewenang dengan dalih bapak selalu ikut campur urusan kami, maka mau tidak mau, suka tidak suka kami mengikuti alur bapak. Suami sebenarnya gemes dengan cara bapak memperlakukan kami. Dulu ibu saja melahirkan tiga orang anak dengan bantuan bidan yang sama, mengapa kali ini harus lari ke rumah sakit.

Namun, itu hanya manis di mulut saja. Suami belum bisa menyampaikan pendapatnya. Selama ini, pendapat suami selalu dibantah oleh bapak, sehingga tidak punya ruang untuk ngomong.

Sesampainya di rumah sakit pembukaan masih stuck di pembukaan satu. Dan aku mulai gelisah karena belum mendapatkan tempat atau kamar untuk istirahat. Sedangkan perut sudah mulai terasa mules. Tapi belum teratur. Semakin di dalam kamar IGD terlalu lama, maka konsentrasiku tidak bisa terpecah. Aku fokus dengan rasa sakit yang akan datang, entah kapan waktunya.

Aku mulai gelisab dan ingin pulang saja. Tetapi sudah masuk RS maka tidak bisa keluar begitu saja. Sedangkan bidan yang mendampingiku, tidak bisa berbuat apa-apa karena sudah diserahkan ke RS. Hatiku mulai panik dan gak leluasa. Akhirnya aku harus menerima apa yang sudah menjadi keputusanku. Aku merasa berjuang sendiri. Ibu dan bapak tidak bisa mengusahakan supaya bisa keluar dari rumah sakit.

Dua jam pun berlalu, aku sudah bisa pindah di ruang perawatan. Beberapa menit kemudian bidan datang ke ruanganku. Dia melakukan pengecekkan, dan baru pembukaan dua. Rasanya gak sabar menunggu pembukaan lengkap. Sedangkan waktu sudah menunjukkan pukul 17.00.

Bapak dan ibu pulang. Tinggal aku dan suami ditemani temannya yang membawa proyek sekolah ke rumah sakit. Kebetulan suamiku dipasrahi tugas di bagian waka sarpras dan sedang diamanahi proyek pembangunan kelas.

Minggu, 15 Februari 2026

 Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tanda akan keluar. Mulai dari bercak hitam yang ada di celanaku. Bercak yang terlihat tidak terlalu banyak. Hanya sedikit kira – kira berdiameter 3 cm kalau bisa diukur dengan penggaris.

Aku langsung memberitahu ibuku yang sedang masak menyiapkan sarapan untuk kami. Waktu itu jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Aku hendak sholat subuh, dan mengambil wudhu. Aku dikejutkan dengan bercak coklat yang menempel pada celana dalamku. Sontak tanpa berpikir panjang aku memberitahu ibuku dengan harapan dia bisa mengedukasiku dan aku bisa menghadapinya dengan tenang. Namun, yang aku dapatkan tidak seperti apa yang aku inginkan. Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak, justru lebih panic dariku.

Tanpa berpikir panjang aku langsung memberitahu suamiku yang sedang tiduran di kamar. Aku menceritakan kronologi kejadian tadi dan menyampaikan bahwa aku harus dibawa ke bidan terdekat. Karena suamiku menyikapinya dengan tenang, maka dia hanya menjawab, “kamu merasa sakit gak perutnya?”

Aku pun dengan penuh keyakinan meresponnya, “saat ini belum begitu sakit banget. Hanya bercak coklat yang terlihat.”

Suami menyarankan untuk tidak mengikuti saran ibu dan bapak. Dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Namun, karena orang tuaku menyuruhku untuk segera ke bidan maka mau tidak mau, suami juga mengikuti saran mereka.

Karena ini anak pertama maka hal ini wajar terjadi. Biasanya anak pertama prosesnya jauh lebih panjang. Kemungkinan bisa mencapai satu sampai dua hari. Sehari untuk pembukaan pertama yang memakan waktu lama. Memasuki hari kedua pembukaan perlahan akan bertambah. Pernyataan bidan yang sempat aku rekam ketika aku dan suami memasuki ruang periksa. Bidanpun menyarankan hal yang sama untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Tetapi keputusan bidan dan suami goyah manakala bapakku masuk ikut menemani kami di dalam ruang periksa.

Hubungan anak dan bapak saat itu sangat dekat. Bahkan sedari kecil aku dan bapak kemana – mana selalu didampingi. Kuliahpun sengaja jauh – jauh hanya untuk mengantarku ke tempat kos, lalu kembali lagi tanpa istirahat. Dan itu yang membuatku percaya utuh dengan bapakku. Selain ada alasan lain yang mengawal rasa takut dan percaya dengannya.

Ketika bapak masuk di ruang periksa, dan bidan menawarkan kepadaku untuk lahiran di mana. Dengan suara yakin dan mantap aku menjawab, “Rumah Sakit.”

Karena saat itu kondisi puskesmas menurut pandanganku masih “kotor”. Apalagi kondisi kamar mandinya, sedangkan aku ingin orang yang nanti menemaniku merasa nyaman dan aman jika di rumah sakit. Dan ini awal dari kisah yang sangat menyentuh sekaligus tidak akan pernah aku lupakan.

Bersambung ……


Sabtu, 14 Februari 2026

 Masih tentang perjalananku menjadi seorang ibu, istri dan wanita. Disaat ku beradaptasi menjadi peran yang baru yaitu seorang ibu, secara bersamaan juga aku harus bisa mengimbangi karakter, dan sifat suami yang baru aku ketahui. Yang awalnya aku santai – santai saja tanpa berpikir panjang menerima dia sebagai calon suamiku. Ternyata setelah berjalan di kehidupan baruku semua yang tidak sesuai dengan keinginanku terbuka. Dan Allah membukanya. Tapi kata kebanyakan orang memang begitu kehidupan setelah menikah. Mau percaya atau tidak kalau belum mengalaminya sendiri tidak akan bisa mengena.

Usia kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh. Di mana kalau di keluarga suami ada yang namanya mitoni. Sedangkan di keluargaku tidak mengenal adat seperti itu. Alih – alih menepis adat tersebut, suami hanya bisa berargumentasi bahwa hal tersebut mempersulit orang. Membuat yang punya hajat juga merasa capek. Belum lagi yang diundang merasa harus mampu jika dia akan menyumbangkan sebagian hartanya. Padahal aku tahu suamiku tidak mampu jika harus mengadakan acara tersebut. Sedangkan untuk meminta bantuan kepada kedua orang tuanya juga tidak akan bisa. Harga diri seorang laki – laki sedang dipertaruhkan.

Hal itu tidak menjadi masalah besar. Pernah suatu ketika bapakku meminta agar suami pulang lebih awal alasannya karena usia kehamilanku sudah masuk trimester tiga. Tapi lagi, dia tidak begitu mengindahkan apa yang bapakku katakan. Di posisi ini aku dilema. Harus mengikuti apa kata bapakku atau menerima perilaku suami yang sering pulang malam. Yang kalau diterima oleh logika, mungkin di luar sana suami sedang mengerjakan hal yang lebih urgent. Di sisi lain aku butuh tumpuan, sandaran, dan cerita kepada orang yang bisa mengerti posisiku serta menerima perasaanku saat itu. Sayangnya ibu bukanlah orang yang aku cari. Justru orang yang setiap hari ada bersamaku adalah Mak O yang biasa bantu – bantu ibu di rumah. Beliaulah yang sering aku ajak berkeluh kesah. Bahkan diajak cerita pun aku lebih nyaman dan leluasa, walaupun hanya sekedar mencari teman sekubu tanpa harus mendengarkan nasehatnya. Berkat beliaulah aku bisa meredam apa yang aku rasakan.

Mak O adalah orang yang mengasuhku sewaktu aku kecil hingga saat ini dia masih setia membantu ibu di rumah. Dari mulai aku berumur 5 tahun, beliau sudah ada di rumah membantu mengasuh adikku. Aku menganggapnya sebagai ibu keduaku. Tak ada jarak diantara kami. Untuk memintanya memasakkan sesuatupun aku berani. Atau ketika aku butuh bantuannya aku langsung menuju rumahnya.

Menginjak usia kehamilan Sembilan bulan, aku mulai pasang sabuk alarm menyambut detik – detik kedatangan sang buah hati. Selama hamil dia selalu aktif. Semua nutrisi yang aku makan sampai dengan baik ke tubuhnya. Sampai ada yang bilang kalau ibunya kurus tapi bayinya memenuhi kebutuhan lewat ibunya. Aku tidak peduli orang berkata apa yang penting bayiku sehat.

 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini? Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemuliha...