Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 20 Mei 2026

Profesionalitas

 Menurut kalian apa itu arti profesionalitas?

Apakah hanya sekedar bekerja sesuai arahan pimpinan, bekerja tanpa kenal waktu, atau mungkin bekerja tanpa memperdulikan orang lain. 

Kalau menurut saya pribadi sih, profesionalitas itu ketika seseorang melakukan sesuatu sesuai tugas pokok masing - masing dan anjuran dari atasan secara utuh dan tanggung jawab tanpa memperdulikan urusan pribadi terbawa kepada urusan kantor.

Terlepas dari itu, urusan profesionalitas terjadi di seluruh bidang instansi baik yang ada di bawah naungan dinas maupun bukan. Bahkan ketika kita berada di rumah pun profesi kita sebagai seorang kepala keluarga, ibu, anak juga perlu diperbincangkan. Apakah masing - masing melakukannya dengan baik atau tidak.

Supaya tahu kita profesional atau tidak maka kita juga harus tahu posisi dan tugas masing - masing. Contoh sebagai seorang ibu. Tugas pokoknya adalah memberikan kasih sayang utuh untuk anak dan melayani dengan senang hati apa yang dibutuhkan oleh keluarga. Dengan tidak meninggalkan fitrahnya sebagai wanita, istri, atau ibu itu sendiri.

Contoh lain posisi kita sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah orang yang berprofesi sebagai penyalur ilmu untuk anak didiknya. Selain itu, sikap kita kepada sesama pendidik juga tetap mengacu pada keprofesionalitasan kita. Ketika harus meyampaikan materi, sampaikanlah meskipun kondisi sedang tidak baik - baik saja. Entah itu suasana hati sedang kacau, atau bahkan keadaan yang tidak memungkinkan untuk menyembunyikannya. Semua itu harus dilakukan atas dasar  kita sudah memilihnya.

Pagi ini di sekolah di mana saya mengajar, ada beberapa guru yang memang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan saya sangat berterimakasih sudah bisa diterima di tengah - tengah mereka. Karena awalnya saya mengampu mapel bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertema. Namun seiring berjalannya waktu dan seleksi kepegawaian saya dimutasikan berdasarkan SK ke Sekolah Dasar. 

Guru yang biasanya menjadi "icon" di sekolah kami, tiba - tiba menjadi kalem dan gak bisa disenggol sama sekali. Mungkin karena terlalu banyak yang dia pikirkan atau mungkin ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke semua orang. Anehnya, semua guru yang ada di tempat tersebut menjadi sasarannya. Kami kira itu hanya soal kesalahpahaman status wa yang sudah saya publish dan tag orangnya. Ternyata kediamannya hari kemarin berlanjut di hari ini.

Kondisi demikian membuat kami para guru merasa tidak nyaman. Dan, kami memutuskan untuk menjaga hubungan dengan dia. Kami memberikan ruang untuknya supaya bisa membuka dirinya kembali bersama kami.

Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Apapun yang dia hadapi bisa diselesaikan dengan baik tanpa halangan apapun. Semoga dalam lindungan Allah dan sehat menyertainya. Aamiin.


Jumat, 20 Maret 2026

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sholat. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah lugu orang tua dari ibunya. Bagi Arsyel, ayahnya adalah orang terhebat di dunia. Setiap hari ia selalu memperhatikan apa yang ayahnya lakukan dengan penuh kagum.

Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.

Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.

Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.

Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.

Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.

Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.

“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.

Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”

Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.

“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.

Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.

Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.

Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya. 

Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.

Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”

Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.

Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Selasa, 10 Maret 2026

Ketika semuanya bertumpu padamu.

Bulan ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda, lantunan ayat Alquran terdengar dari segala penjuru, dan rumah - rumah mulai hidup lebih awal dari biasanya. Udara pagi yang tenang lebih terasa. Di sebuah rumah terlihat lampu dapur sudah mulai menyala sejak dini hari. Ibu Rina sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya. Dia mulai menyiapkan sahur untuk keluarganya.

Setiap ramadhan tiba segala sesuatu bertumpu padanya. Mulai dari menanak nasi, menyiapkan lauk sederhana, lalu membangunkan sahur anak - anaknya. Setelah sahur dia membersihkan dapur, menyiapkan keperluan hari itu, dan menjalankan pekerjaan seperti biasanya.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Menjelang sore, ketika badan terasa lemas menahan lapar dan haus, Rina harus menyiapkan buka untuk keluarganya. Kadang hanya kolak pisang dan gorengan. Tidak jarang hanya bertemankan sayur yang dibuat dengan penuh perhatian.

Suatu sore, tubuhnya terasa sangat lemas. Sejak pagi dia belum beristirahat. Saat memotong sayur dia berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Dalam hatinya dia berpikir, "Kenapa ya semuanya seolah bertumpu padaku?"

Namun tak lama kemudian dia mendengar di ruang depan suara anaknya melantunkan ayat suci alquran dengan suara terbata - bata, penuh semangat. Belum habis lelahnya, dia tersenyum merasakan tenang di hatinya. 

Menjelang buka, suaminya menghampirinya di dapur sambil berkata,"Hari ini pasti capek sekali ya. Terimakasih sudah menyiapkan semuanya."

Kata sederhana yang dia dengar membuatnya sadar bahwa apa yang sudah dia perbuat bukan beban semata. Ada kasih sayang di dalamnya. Ada kebersamaan yang dia rasakan, membuatnya merasa ramadhan lebih berarti dan bermakna.

Malam itu setelah shalat tarawih, Rina duduk sejenak di teras rumahnya. Ia menyadari satu hal penting. Memang banyak hal yang dia kerjakan, seolah semua bertumpu padanya. Tapi, kekuatan yang ia peroleh tidak sepenuhnya berasal dari dalam dirinya.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecilnya di bulan Ramadhan adalah bagian dari ibadah. Dan di balik semua kelelahan, selalu ada pertolongan dari Allah yang membuatnya tetap kuat.

Minggu, 08 Maret 2026

Malam ini ku terbangun dari tidurku tepat pukul 23.00. Niat hati ingin kembali tertidur, tapi apa daya aku harus menyelesaikan misiku sebelum hari berganti. Pejuang Klip. Mengumpulkan niatnya saja sudah luar biasa. Jadi aku harus bangkit demi sebuah wadah untuk sembuh.

Berita duka yang menimpa musisi artis sekaligus penyanyi "nuansa bening" menyita pikiranku saat ini. Selain dia adalah artis favoritku pada masanya terlebih membaca ceritanya membuatku berpikir, menjadi orang baik identik disayang oleh Allah dan kembali di sisiNya. Aku termakan oleh kalimat salah satu netizen. Wallahualam bisshowab.

Dalam benakku ku memikirkan suamiku yang sibuk dengan urusan pribadinya. Entah dirasa atau tidak, kesibukannya memelihara ayam cukup menyita tenaga, waktu, dan pikirannya. Dia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya dua hari lalu adalah bentuk protes tubuhnya.

Badannya yang tiba-tiba drop saat menyelesaikan kandang di malam hati bukti bahwa badannya sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tingkah lakunya akhir-akhir ini yang menginginkan orang lain bahagia perlahan di lakukan. Mengajakku berjalan-jalan meski hanya menghabiskan waktu, membuat uyut lebih mudah akses mobilenya dan ada banyak lagi.

Dua hari lalu dia lembur membuat kandang ayam di malam hari hingga dini hari. Pukul 03.00 dia baru bisa istirahat meski pekerjaannya belum selesai. Dan hari ini setelah menemaniku keliling Bumiayu dengan membeli lauk untuk buka bersama, ternyata saat ini dia tidak ada di rumah.

Ku coba kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata, dia sedang ada di Jatirokeh untuk mengambil bahan makanan ayam. Aku gak habis pikir di jam ini masih kluyuran pulang ke Jatirokeh untuk ambil bahan makanan ayam, sedangkan hal itu bisa dia lakukan besok hari atau dilain kesempatan. Aku belum tanya mengapa ini dia lakukan. 

Terkadang effort yang seperti ini menjadikan kecemburuan Arsyel kepada ayam ayahnya. Lucu sih, tapi realitanya demikian. 

Hanya doa yang bisa aku panjatkan supaya pulang selamat dan bisa hadir saat jadwal ronda datang di waktu yang bersamaan. Dia sudah baik kepada siapapun, berharap apa yang sudab ditulis netizen dan menghasut pikiranku itu salah.

Sebenarnya pengin banget ngomel tapi apa daya pernah aku lakukan, tapi tidak lantas membuatnya bergeming. Berpikir posititf salah satu jalan agar apa yang sedang dia kerjakan bisa berjalan lancar. Aamii .

Jumat, 06 Maret 2026

Tidak Boleh Meminta Pendapat Anak Usia dibawah 14 Tahun

 Anak usia 14 tahun sudah mempunyai otak yang mengalami perubahan dan cukup matang. Namun, masih ada perbedaan dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perubahan fisik juga sudah sangat terlihat terutama pada tinggi dan berat badan anak.

Dengan adanya perubahan yang terjadi pada mereka, membuktikan bahwa anak diusia tersebut sudah bisa membuat keputusan sendiri. Baik itu yang bersifat membangun maupun kritikan. Dengan begitu anak sudah dapat diajak diskusi. Meskipun demikian anak masih membutuhkan kontrol orang tua. Karena diusia ini anak masih merasa menjajaki apa yang ingin mereka coba. Rasa penasaran yang terlalu tinggi sering menjadi alasan agar mereka bisa membatasi diri.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap orang tua di seluruh dunia. Termasuk kita sebagai orang tua yang bijak selayaknya harus bisa menjadi pendengar yang tulus untuk anaknya. Mendengarkan perkataan anak adalah salah satu bonding yang harus dipenuhi. Mengapa? Selain membuat anak lebih percaya diri, mereka juga akan memiliki rasa yang dihargai oleh orang terdekatnya. Timbul rasa aman, nyaman, dan kepercayaan yang tumbuh. Ini juga sangat membantu untuk mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kecerdasan emosional.

Contoh ketika mereka pulang sekolah adalah momen sangat pas untuk mendengarkan apa yang mereka lalui di sekolah. Bukan untuk menginterogasi tapi mencoba membuka hati mereka. Dengan begitu apakah mereka mau bercerita atau tidak. Jika mereka tidak mau bercerita bukan artinya tidak mau tapi belum bisa untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Butuh waktu dan suasana yang tepat untuk dapat mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Ketika anak sudah mulai bercerita hendaknya tidak langsung memotong pembicaraan atau menertawakannya. Menjadi pendengar yang baik dengan tetap bersikap antusias supaya anak tetap memberikan rasa percaya bahwa ceritanya sedang didengarkan oleh orangg tuanya. Sehingga ketika anak akan bercerita kembali, dia tidak akan segan untuk memulainya tanpa diminta.

Terkadang yang sering kita jumpai saat anak bercerita adalah orang tua tidak sabar menunggu. Selain itu, lebih dulu menyimpulkan apa yang ingin anak curahkan. Ini mengakibatkan anak cenderung mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Cerita berbeda halnya dengan memintai pendapat. Anak usia dibawah 14 tahun belum bisa dimintai pendapat. Karena disamping usianya yang belum matang. Mereka belum bisa membuat keputusan yang pasti. Untuk itu kita sebagai orang tua masih memegang kendali atas mereka.

Misal ketika anak ditanya, "Mau makan apa besok?"

Lalu jawabannya, "Makan ayam goreng."

Kemudian kita sebagai orang tua lupa akan permintaan anak dan meminta maaf kepadanya. Tetapi anak dengan tidak sengaja mengucapkan, "Ah ibu ini."

Padahal dalam surat al-Isra:23 dijelaskan bahwa tidak boleh mengatakan "ah" pada kedua orang tuamu, tapi harus dengan kata yang mulia.

Jadi selama anak usia di bawah 14 tahun dan belum dewasa, mereka masih di bawah kendali orang tuanya. Jika mereka dibiarkan dimintai pendapatnya, efeknya mereka akan terbiasa membantah dan itu perlakuan yang keliru dalam mendidik anak. (Sumber: Khalid Basalamah).

Rabu, 04 Maret 2026

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.

Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.

“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.

Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.

Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.

Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.

Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.

Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.

“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.

“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.

Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.

Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Profesionalitas

 Menurut kalian apa itu arti profesionalitas? Apakah hanya sekedar bekerja sesuai arahan pimpinan, bekerja tanpa kenal waktu, atau mungkin b...