Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 27 Februari 2026

Reuni via Telepon

Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana tidak. Dari sinilah aku memulai karirku yang sesungguhnya. Yang awalnya pengin banget jadi front liner di bank. Alhamdulillah Allah berikan jalan melalui perjalanan karir di kereta api.

Bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah membuatku menjadi diri sendiri. Membawa bekal dari rumah dengan doa dan restu orang tua, ku beranikan diri untuk mengajukan lamaran kerja. Berbagai tahapan seleksi telah aku lewati. Dari seleksi tertulis hingga wawancara.

Dengan tahapan seleksi itu aku ditempatkan di stasiun Tegal, tidak jauh dari domisili rumahku. Ternyata yang ditempatkan di Tegal justru banyak yang dari jauh. Mas Imam dari Semarang, Septi dari Purwokerto, Mas Sholeh dari Solo, Mas Yanto dari Brebes, Mas Teguh dari Pekalongan, Mba Citra dari Semarang, Mba Citra dari Demak, Mas Oki, dan Mas Agung dari Pekalongan dari Semarang.

Tidak hanya mereka yang aku kenal dan aku anggap seperti keluarga. Mereka adalah orang - orang yang bekerja di bagian ticketting. Sedangkan bagian customer service ada mba Oki dan teman - temannya. Kalau untuk cs aku agak lupa namanya, tapi untuk muka tidak. Selain itu dari keamanan juga ada yang masih langgeng sampai sekarang. Ada mas Miko dan pak Kusnoto.

Kadang kalau lagi naik kereta dan turun di stasiun Tegal, aku sempatkan menyapa mereka walau sebentar. Suasananya sudah berbeda dari sebelumnya. Bangunan sudah banyak berubah. Menjadi lebih mewah dan modern. Orang - orang yang bekerja di sana pun sudah regenerasi. Angkatanku ada yang tidak melanjutkan kontrak, pensiun atau ada yang sudah naik pangkat dan menjadi pegawai tetap di kereta api.

Bapak supervisorku pindah ke stasiun Semarang Poncol. Bapak kepala keuangan sudah pensiun. Dua orang inilah yang masih langgeng berkomunikasi. Berkat bapak supervisorku aku diizinkan menikah sebelum kontrak habis. Dari sinilah aku memulai mengarungi rumah tangga. Tanpa restu beliau aku tidak akan sampai di titik ini.

Hari ini bapak kepala keuangan meneleponku. Dengan tidak ragu aku menjawab dan bercerita banyak hal. Namun harus mengimbangi pembicaraannya. Gaya bicara beliau masih seperti dulu waktu di tempat kerja. Orangnya keras dan harus menjadi lawan bicara yang patuh untuk mendengarkan. Tidak boleh menyangkal sekalipun tahu informasinya.

Harapan Pak Untung dan Pak Sri Widodo agar angkatan kami bisa bersilaturahmi bersama mereka. Berkumpul sekedar melepas rindu. Terlebih setelah aku lepas dari kereta api karena menikah sampai sekarang belum sekalipun bertemu dengan semuanya. Ada rasa rindu yang mendera. Bersenda gurau. Meski aku tahu kondisinya tidak seperti sedia kala. Tetapi bagi kami ajang silaturahmi ini bisa menjadi ajang supaya tetap terjalin sampai kapanpun.

Tugas aku dan teman-teman sekarang supaya bisa menemukan waktu yang pas untuk bisa berkumpul meski hanya beberapa orang saja.

Whoa.... can't wait to see you guys. :D

Flashback Teaching on my Own Subject

Rutinitasku sekarang adalah menjadi pembelajar, dan pendidik. Pembelajar untuk diri sendiri dan pendidik untuk keluarga dan orang lain. Tidak disangka dulu saat masih berada di naungan BUMN menjadi Front Liner di salah satu transportasi di Indonesia, aku sempat berpikir, "Enak kali ya kerja pagi pulang siang dengan seragam khaki." Allah Maha Baik. Setelah lima tahun berkecimpung menjadi full time mommy, lanjut menjadi working mom.

Semua sudah Allah atur. Setelah Arsyel cukup waktu untuk dilepas mandiri dan bersosial, kini aku yang harus menjalani rutinitas sebagai working mom. Atas izin suami dan orang tua, aku masuk di salah satu sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Cukup dengan jalan kaki lima menit maka aku sudah sampai di tujuanku. 

Mengajar di kelas menengah pertama dengan mapel bahasa Inggris menjadi ajang yang gampang - gampang susah. Gampang untuk penyampaian materi dan pengkondisian siswanya tetapi susah dalam hal kenakalan remajanya. Ada.... aja gebrakannya. Mulai dari merokok, tawuran sampai dengan cinta monyet. Sehari tidak berangkat alasannya sakit, dua, tiga hari harus home visit ke rumah yang bersangkutan. Usia anak yang sedang mencari jati diri memang sangat rentan. Ajang penasaran yang sangat tinggi menjadikan mereka mencoba segala cara yang menurutnya patut untuk dicoba. 

Dalam kondisi inilah peran sekolah dan keluarga sangat penting untuk bekerja sama. Karena dengan adanya kerjasama maka mereka akan mudah terpantau oleh orang tua baik di rumah maupun di sekolah.

Tiga tahun berkecimpung dengan anak remaja, aku mengikuti seleksi PPPK di daerah Brebes. SK penempatanku tidak bisa sesuai dengan mapel yang diampu. Qadarullah, aku ditempatkan di SD yang tidak jauh dari rumah juga. Bedanya di tempat yang baru harus pakai akomodasi kendaraan bermotor. Cukup lima menit dari rumah sudah sampai sekolah.

Suasana baru aku rasakan. Tadinya memegang mata pelajaran bahasa Inggris, sekarang berpindah menjadi guru kelas. Kelas tiga yang harus aku ampu. Adaptasi yang aku lakukan tidak cukup singkat. Butuh waktu lama. Tidak hanya waktu tetapi juga tentang kondisi anak - anaknya. Yang biasanya menghadapi anak yang sudah bisa dikondisikan tapi kali ini berhadapan dengan anak - anak berumur enam tahun sampai 13 tahun. 

Pengkondisian peserta didik yang awalnya sangat susah, sudah mulai tertata. Intinya materi tersampaikan tapi pembentukan karatker yang lebih diutamakan. Pendekatan siswa yang membutuhkan waktu cukup lama ini, aku lakukan dengan cukup mudab. Tidak ada tantangan yang sulit untuk menaklukan mereka.

Alu diamanahi menjadi guru kelas 3. Tetapi aku juga tidak lantas melepaskan basic teaching yang sudah membesarkan namaku. Di kelas 5, dan 6 aku memegang mapel bahasa Inggris. 

Suasana yang sangat hangat ketika aku masuk di dua kelas itu. Seolah - olah nyawaku hadir kembali. Mengajar bahasa Inggris di kelas atas membuatku menjadikannya penyemangat dan efek healing setelah bersikeras mengajar di kelas 3. Rasanya ruhku kembali seperti sedia kala. Basic mapelku kembali.

Aku sangat menikmati fase ini. Harapanku bisa menjadikan lingkungan kerjaku saat ini untuk penyemangat dalam hidupku.

Selasa, 24 Februari 2026

Perlunya Kewarasan

 

Masih terasa hangat rasanya kasus yang terjadi dua hari yang lalu antara hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis. Terutama ketika sang anak mendapatkan ibu tiri. 

Mengapa ibu tiri identik dengan galak? iri? atau bahkan gak mau tahu tentang anak bawaan suaminya? Apa sebenarnya yang ada di benak mereka.

Kasus yang sangat menyayat hati. Apa salah anaknya? 

Jika memang dia nakal, sejauh mana kenakalannya?

Jika memang dia bandel, standar bandel apa yang digunakan dan tingkah laku seperti apa yang membuatnya melewati batas.

Aku merasa hal ini tidak wajar. Karena kasusnya Lisnawati dan Nizam sungguh di luar nalar. Mengapa? Hati nurani wanita seperti apa yang dia gunakan?

Apakah seperti itu hati wanita yang diberikan oleh Allah? Katanya perasaan itu lembut. Hati itu penuh dengan perasaan. Lalu bagaimana dengan kasus mereka?

Begitu banyak pertanyaan yang tak habis pikir di benakku. Terlebih ketika melihat langsung ilustrasi vidio di berbagai media sosial. Nizam yang terkenal anak sholeh libur dari pesantren ingin berpuasa di rumah bersama ayahnya. Tapi sayang hanya sehari ia merasakan hal itu. Kehangatan, kerinduan dan kebersamaan bersama ayahnya yang dia nantikan selama hidup di pesantren. Ternyata hanya bisa dia rasakan dalam waktu cepat.

Sehari setelah ayahnya pergi merantau, Nizam tinggal bersama ibu tirinya. Nizam yang dikenal sebagai anak yang nurut, mulai diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Mulai dari makan yang tidak sesuai porsinya, perlakuan yang tidak adil, dan bahkan ketika diberikan uang jajan pun lebih kecil dari kakaknya.

Suatu ketika kakak tirinya marah kepada Nizam. Entah dengan alasan apa dia memarahi Nizam tanpa sebab. Nizam yang tidak tahu menahu, hanya bisa diam dan menerima perlakuan kakaknya. Suara amarah kakaknya membuat ibu tirinya menghampiri mereka. Dengan tanpa ragu ibu tiri membela anak kandungnya tanpa melihat siapa yang salah sebenarnya.

Karena masalah tersebut, Nizam terpaksa dikurung di kamar. Berulang kali Nizam berteriak, "Bu, Nizam mau buka puasa bu."

Namun, ibu tirinya tidak memberikan respon.

"Bu, Nizam haus bu..." Badan Nizam mulai lemas. Seharian di kamar tanpa air dan makanan sebagai pembatal puasa dan pengisi perutnya setelah seharian berpuasa.

"Ceklek..." Suara pintu kamar Nizam terbuka.

Nizam sangat senang dan bahagia karena dia akan minum dan membatalkan puasanya. Matanya berbinar. Tak henti - hentinya dia mengucap syukur kepada Allah.

"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah". Seru Nizam dalam suara lemahnya.

Tapi, apa yang dia dapatkan? Ibu tirinya memaksanya untuk meminum air putih yang mendidih ke dalam mulutnya. Nizam menolaknya. Tetapi ibu tirinya bersikeras agar Nizam meminumnya. Nizam pun meminumnya demi menghormati ibu tirinya.

Tidak cukup sampai disitu. Ibu tirinya tidak memberikan sebutir nasipun kepada Nizam hingga berhari - hari. Ini mengakibatkan badan Nizam lemah tanpa tenaga. Bahkan untuk membuka mata pun tak kuasa. Tenaga Nizam habis. Dia hanya bisa tergeletak di atas lantai kamarnya. Dia hanya bisa memanggil ayahnya.

"Ayah.... aku rindu." Lirih Nizam.

Suatu hari ayahnya pulang. Beliau mendapati Nizam sudah terkapar di dalam kamar. Beliau dengan segera membawa Nizam ke rumah sakit. Namun, naas hanya berselang beberapa hari Nizam tidak terselamatkan.

Ironis sekali ilustrasi cerita di atas dari hasil vidio yang aku lihat. Kasus ini sudah diusung ke polisi dan mengakibatkan Lisnawati harus hidup di dalam jeruji besi seumur hidup.

Minggu, 22 Februari 2026

Kalau dengar lagu ini ko berasa pengin banget peluk diri sendiri. Ada rasa lelah yang tak terasa, ada rasa syukur yang tak mampu diucap, dan ada rasa bangga tersendiri.

Aku yang saat ini diamanahi untuk merawat uyut berasa kaya balas budi atas apa yang dulu uyut perbuat untukku. Mulai dari kalau liburan sekolah pergi ke rumah beliau saat masih kecil. Nginep di sana sampai berhari - hari. Lagaknya kaya orang yang berani tanpa orang tua, dan mau ditinggal ketika ibu dan bapak dinas. Nyatanya, setelah baru dua hari saja tidur bareng uyut minta pulang dijemput ibu. Gaya banget kan aku. 😆

Belum lagi kalau pagi, uyut menyediakan sarapan sebelum beliau pergi ke pasar. Pernah suatu ketika aku bangun subuh, beliau sudah gak ada di sampingku. Aku tahu beliau sudah sibuk dengan dagangannya di pasar. Semua sudah disiapkan di meja. Makanan, camilan, bahkan ada jajan basah yang sangat aku suka. Namanya kueku. Kue merah yang terbuat dari tepung ketan berisi kacang hijau di dalamnya. Pokoke pulen banget. Sampai sekarang masih berasa rasa khas dari kue itu.

Selain itu, kalau aku bosan di rumah uyut, aku minta ikut ke pasar pagi-pagi menemani uyut berdagang. Berangkat pukul 05.30 wib dan pulang pukul 12.30 wib. Di lapaknya terdapat berbagai macam dagangan. Tetapi uyut hanya fokus ke pakaian. Sandang untuk keperluan sehari-hari. Ada gamis, batik, baju anak-anak dan baju lainnya.

Untuk mengatasi rasa bosanku, aku bermain layaknya pedagang dan pembeli. Properti yang aku gunakan yaitu bahan dagangan uyut yang masih tersimpan rapi di lemari. Tak jarang uyut pun memarahiku. Tapi marahnya beliau adalah wujud rasa sayang nenek ke cucunya.

Biasanya kalau sudah sampai pasar aku dibelikan sarapan. Sesekali aku mencarinya di sekeliling. Tak lama beliau muncul membawa sarapan dan aneka jajan pasar. Ada getuk, serabi, dan kue lapis. Teman-teman uyut juga paham kalau liburan, aku pasti ikut uyut ke pasar.

Mengingat cerita waktu kecil bersama beliau, kini saatnya aku membalas budi baiknya. Beliau yang tinggal bersamaku sudah tidak sekuat dan setangguh dulu. Badannya yang lemah butuh untuk ditopang. Kehadiran keluarganya menjadi semangat hidupnya saat ini. Aku hanya bisa membantu apa yang aku mampu. Aku harap kesibukan dan kelelahanku merawatnya bisa membantu meringankan bebannya. Aku tahu ini tidak seberapa dengan yang beliau lakukan. Paling nggak aku hadir untuknya.

Terimakasih uyut jasamu akan aku kenang selalu. Sehat selalu. 😊

 

Sabtu, 21 Februari 2026

Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sebagai istri, ibu dan wanita. Oh iya ada satu lagi profesi yang sedang aku jalani kurang lebih sembilan tahun belakangan ini. Yaitu sebagai cucu yang berbakti kepada nenek.

Nenekku tinggal bersamaku di rumah lugu. Sedangkan anak - anaknya tinggal di rumah masing - masing yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah kami. Cukup jalan kaki saja.

Pagi ini selepas sahur aku membereskan dapur dan tempat tidur. Setelah itu, aku ajak Arsyel untuk bermurojaah hapalan surat Al-Mulk. Meski sebentar paling tidak dia bersedia tanpa paksaan saja sudah membuatku sangat senang.

Tidak lama setelah itu, aku lanjutkan  untk membaca mushaf kecilku yang sedari tadi aku pakai untuk menyimak hapalan Arsyel. Namun, dari kejauhan terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Langkah nenek atau kami sering memanggilnya uyut karena mempunyai dua buyut yang sekarang tinggal bersama. Sebenarnya tiga tapi tingggal jauh di Depok. "Dup, dup, dup." langkah tongkat dan kakinya terdengar jelas. Beliau menuju ke kamar mandi setelah sholat subuh.

Karena penasaran, aku ikutilah beliau di belakangnya. Seperti yang aku duga, beliau sedang mencuci selendang yang sudah dikenakan semalam. Padahal kondisinya masih belum pulih, bahkan batuk yang sedang ia derita belum juga sembuh. Akhirnya tanpa pikir panjang aku ambil alih semua pekerjaan uyut. Daripada sakit lagi, banyak orang yang nanti akan direpotkan. Belum lagi kondisi saat ini sedang dingin - dinginnya. Jika dibiarkan beliau akan drop lagi seperti kemarin.

Tidak memakan waktu lama aku pun selesai mengerjakan cucian selendang uyut. Tadi ku dengar beliau berkata, "gak terkena apa - apa ko." Mungkin maksud beliau, aku merasa jijik jika tahu kalau selendangnya terkena air kencing. Padahal aku sudah menduga itu terlebih dahulu. Tahu gak guys, tadi sebelum aku ambil ember yang bersisi selendang dan sabun, uyut merendamnya dengan sabun cuci piring yang cukup banyak. "Waduh!" kataku sambil memindahkannya ke dalam mesin cuci. Saking banyaknya sabun, busa yang keluarpun makin banyak. Butuh usaha ekstra supaya buih yang keluar bisa dihilangkan dengan bersih.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Uyut memintaku untuk mengambilkan telor ayam kampung yang direndam di dalam air panas. Tujuannya supaya tidak terlalu amis mungkin ya. Okelah aku turuti saja apa mau beliau. 

Datanglah anak laki - laki kesayangannya setelah uyut meminta aku memanggilnya. Aku biarkan mereka berdua mengobrol. Apa yang uyut minta beliau curahkan kepadanya. Beliau lebih leluasa berkeluh kesah dengan anak kandungnya dibanding dengan cucunya yang setiap hari bersamanya. Tapi aku bersyukur, bisa membantu semampunya.

Dari sini aku belajar bahwa orang tua tidaklah meminta banyak disaat usianya sudah renta. Kehadiran akanyalah yang membuatnya kuat sampai saat ini. Hanya melihat wajahnya dan ditemani di sampingnya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
 

 Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi saya sebagai seorang ibu. Anak saya yang baru berusia 9 tahun begitu bersemangat menyambut puasa pertamanya yang ia jalani dengan penuh kesadaran. Malam sebelum hari pertama, ia bahkan menyiapkan sendiri alarm sahur dan berkata dengan yakin, “Aku mau puasa penuh, Bu.” Hati saya hangat mendengarnya.

Namun, ternyata ujian datang lebih cepat dari yang saya bayangkan. Di hari pertama puasa, menjelang siang, tubuhnya mulai lemas. Wajahnya pucat, dan tak lama kemudian ia mengeluh pusing serta mual. Sebagai ibu, hati saya rasanya diremas. Antara bangga dan khawatir bercampur jadi satu. Saya tahu ia ingin kuat, tapi kondisi tubuhnya berkata lain. Dengan lembut saya membujuknya untuk berbuka lebih awal. Ia sempat menitikkan air mata, merasa gagal karena tidak bisa menuntaskan puasanya.

Malam itu ia tertidur lebih cepat setelah minum obat dan makan secukupnya. Saya menemaninya, memandangi wajah kecilnya yang masih terlihat kelelahan. Dalam doa, saya meminta agar Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuknya.

Keesokan harinya, setelah kondisinya membaik, ia kembali berkata ingin mencoba lagi. Saya sempat ragu, takut kejadian kemarin terulang. Tapi saya juga tak ingin mematahkan semangatnya. Dengan pengawasan ekstra, asupan sahur yang lebih bergizi, dan doa yang tak putus, saya mengizinkannya.

Alhamdulillah, hari itu ia mampu bertahan hingga waktu berbuka. Saat adzan maghrib berkumandang, senyumnya merekah bangga. Saya memeluknya erat. Bagi saya, bukan soal penuh atau tidaknya puasa, tapi tentang proses belajar, tentang tekad kecil yang sedang tumbuh.

Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa mendampingi anak beribadah bukan hanya soal aturan, tapi tentang empati, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecilnya adalah bagian dari perjalanan yang indah.

Jumat, 20 Februari 2026


 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini?

Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemulihan diri. Pulih dari rasa trauma di masa lalu. Pulih dari innerchild maupun pulih dari trauma pengasuhan. 

Sementara tempat ini aku jadikan lahan curhatku, yang aku tumpahkan di sini. Entah ini baik atau tidak yang jelas aku merasa terbantu. Dengan menulis setidaknya aku tahu perasaanku hari ini. Apakah aku bahagia, sedih, atau kecewa.

Mungkin saat ini tulisanku gak ada tujuan yang berarti. Tapi aku yakin suatu saat tulisanku bisa kubukukan. Sebagai bukti bahwa aku berhasil merilis perasaanku tanpa harus memendamnya. 

Sebagai pemula, aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan tanpa timeline yang jelas. Dengan kata lain, ini adalah diary onlineku. Tanpa tempat ini aku gak tahu harus aku tulis dan disimpan dimana. Sedangkan kadang-kadang aku membutuhkannya untuk dibaca ulang. Jadi, supaya tidak hilang aku manfaatkan blog ku untuk kepentingan pribadiku.

Semoga dengan latihan konsisten ini, aku juga bisa berkembang. Dari yang tadinya tanpa arah asal menulis dan mencurahkan menjadi ahli dalam memilih dan memilah kosakata.

Aku tidak pandai berbicara. Apalagi soal agama. Terkadang merasa insecure sendiri ketika ada yang mengajakku membahas yang mengarah ke unsur lebih sensitif. Tapi aku gak lantas menyerah untuk gak belajar. Aku sadar ilmu dan bacaanku masih terlalu rendah.

Masih banyak yang harus aku pelajari. Masih banyak buku yang harus aku baca, dan masih banyak pula vidio konten yang inspiratif yang harus aku tonton.

So, kalau nanti tulisanku isinya curhat tentang keluarga besar, harap maklum ya. Lagi recovery dulu belajar mencurahkan isi hati. Meskipun kesannya ghibahin keluarga sendiri. 😁

Kaya hari ini aja aku merasa masih belum adil ngeliat suami lebih homy di keluarga sendiri. Ya pasti sih. Apa aku aja yang baper ya. Ketika dia bisa ngobrol cas cis cus di keluarganya tanpa hp di tangan, kenapa pas pulang ke rumah, makan pun hp gak ketinggalan. Ah tapi aku harus bisa menerima itu. Jika itu sudah jadi karakternya.

Mungkin di mata dia aku bukanlah teman yang bisa diajak diskusi tanpa rasa marah atau baper. Beda sama ibu, bapak, adik²nya mereka bisa aja ngobrol sampai tengah malam. Membahas yang menurut mereka penting.

Sedangkan sama aku? Kaya lagi buang-buang waktu aja. 😄

Makanya aku cari kesibukan supaya gak selalu dikelilingi pikiran negatif tentang dia. Lagian dia sama keluarganya. Bukan keluarga orang.

Mungkin dalam benaknya pula, ngimbangi aku itu sesusah ngimbangi orang lain. Lalu aku ikut nimbrung cerita mereka ga?

Ouw otomatis gak dong, susah masuknya. Kadang bahasaku ke mereka beda jauh.


Reuni via Telepon

Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana t...