Hai blogi…
Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karena ingin dimengerti bahkan marah tanpa alasan tiba – tiba bisa diterima oleh logiku. Aku mulai memahami bahwa apa yang aku alami kemarin hanya karena aku kecapean. Semuanya aku handle. Padahal kapasitas tenaga dan badanku memang tidak mampu untuk menampung semua. Akhirnya berujung pada perasaan yang ingin dimengerti tapi tidak tahu cara menyampaikan apa yang aku rasakan saat itu.
Mulai kemarin perlahan suami mendekatiku dengan cute nya. Pura – pura bertanya padahal dia lagi meledek bahwa aku sudah baik – baik saja. Moment hari ini puncak dari bahasan kasus kemarin.
Sore tadi kami jalan – jalan mencari udara segar dan makan malam. Tadinya kami akan pergi sebelum maghrib tapi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan yang sangat lebat mengguyur daerah kami dan sekitarnya. Mulai dari daerah pegunungan tempat kami tinggal terjadi banjir yang mengakibatkan banyak area persawahan berubah menjadi sungai deras mengalir. Air yang datang terlihat keruh berwarna coklat pekat. Karena kondisi tanah sawah maka terlihat seperti air terjun keruh berwarna coklat mengalir deras dari atas jatuh ke bawah.
Selain itu di daerah lain pun terjadi hal yang tidak jauh berbeda. Tempat yang biasanya kami kunjungi untuk mencari makan, tidak bisa dilalui. Air sungai yang membanjiri persawahan meluap hingga menutupi jalan raya. Banyak para pengendara tidak dapat melewatinya karena aliran yang deras sekaligus membawa lumpur dari area persawahan. Alhasil banyak pengendara kendaraan bermotor putar balik mencari jalan yang aman.
Ada lagi di kabupaten sebelah yang berdampingan dengan daerah ku. Tepatnya di daerah Bumi Jawa, kabupaten Tegal. Hujan lebat yang datang mengguyur area ini menyebabkan banjir di jalan raya. Arus yang dihasilkan sangat deras. Ini mengakibatkan banyak kendaraan roda empat berhenti di tengah jalan karena arus yang tidak bisa diterjang. Namun, bagi pengendara roda dua ada yang berani menerobos arus deras tersebut. Salah satu pengendara bermotor mencoba melawan arus di saat hujan masih turun dengan derasnya. Di tengah perjalanan pengendara tersebut tidak kuat menahan kuatnya arus. Akhirnya, dia dan kendaraannya terbawa arus hingga si pengendara terpisah dengan kendaraannya. Kabarnya baru kendaraannya yang ditemukan tersangkut diantara bebatuan. Untuk pemiliknya belum diketemukan. semoga saja semuanya baik – baik saja.
Balik lagi ke cerita tadi ya. Setelah mendengar berita banjir yang terjadi di berbagai daerah, kami menanggalkan niat kami untuk mencari makan malam. Tapi tepat setelah sholat maghrib, keadaan cuaca sudah tak lagi hujan. Daripada kelaparan, kami putuskan untuk mencari makan sembari belanja bulanan. Meluncurlah kami dengan sepeda motor ke Bumiayu.
Sepanjang jalan kami bercerita tentang kehidupan kami yang dimulai dari nol. Dari berdagang es gabus bersama si buah hati, membuat jajan untuk diperdagangkan hingga saat ini kami sudah bisa menikmati keuletan kami sambil mengajar di sekolah. Karena waktu yang sudah tidak bisa dikondisikan, maka kesibukan itu kami tinggalkan. Meski kadang – kadang diwaktu senggang kami mencoba mengasah kemampuan yang sempat terpendam.
Kami melakukan refleksi bersama. Ada beberapa kasus dari saudara orang tua kami. Bahwasanya mencapai kehidupan yang sekarang tidak seindah yang mereka lihat. Ada masa di mana manusia diuji coba dalam kehidupannya. Ada yang lewat anak, suami, orang tua atau bahkan lewat dirinya sendiri. Sejauh mana bisa bertahan dan kuat dalam menjalani ujian itu. Jika putus di tengah jalan maka dia belum dikatakan kuat. Mengeluh itu manusiawi. Bahkan berkata kelebihan kita kepada orang lain, bukan bentuk wujud takabur melainkan itu adalah apresiasi diri karena sudah sampai dititik ini.
Orang yang sudah melalui perjalanan hidup yang menurut versi masing – masing merangkak dari bawah. Melalui ujiannya pasti akan diberikan kesuksesan. Sukses yang seperti apa? Sukses ketika hatinya sudah bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Maka disitulah bahagia akan dirasakan. Kemampuan bersyukur tanpa harus melihat orang lain di atas kita. Kemampuan melihat apa yang sedang dan sudah dimiliki dengan penuh rasa syukur tanpa takut akan kehilangannya. Butuh waktu lama untuk bisa melakukan ini. Dan ini adalah topic dan bahasan kami selama perjalanan berangkat dan pulang dari Bumiayu.
Hanya bisa bersyukur bisa berbincang dan berdialog dengan suami. Seolah itu adalah waktu langka yang kami miliki. Hanya bisa memanfaatkan waktu di jalan meski kadang pillow talk tidak sempat kami praktekkan. Bonding yang luar biasa. Banyak hal yang sudah diajarkan olehnya untukku. Termasuk belajar menjadi orang yang bisa ikhlas menerima semua keadaan tanpa protes.