Hari itu jumat, 21 Agustus 2026. Tepat pukul 16.45 wib. Aku terbaring lemas setelah tidur dari pukul 14.00. Rasanya semua badan tidak bisa diajak bekerja sama sesuai arahan otak. Tangan yang semakin sakit. Muka semakin mengembang dan kaki yang tak kunjung menyusut dari pembengkakan. Padahal pagi tadi obat dari dokter Yopi aku minum dengan betul sesuai petunjuknya.
Obat magh yang aku minum 1 jam sebelum makan 2x1 dan harus habis sudah dikonsumsi dengan betul. Obat nyeri yang katanya bisa meredakan sakit dan demam sudah aku minum setelah makan beserta multivitaminnya. Tapi efek setelahnya justru membuat badan seperti tidak berdaya. Tidur susah, rebahan gak enak, dan ditambah lambung yang semakin menonjok ke arah ulu hati. Keluhan ini membuatku memutuskan untuk tidak melanjutkan mengonsumsi obat dokter.
Hingga suatu ketika, aku meminta tolong pada Arsyel yang sedang asyik bermain hp. "Syel, tolong rebuskan air untuk mandi ibu."
Dengan sigap, dia langsung beranjak ke dapur. Menyiapkan poci beserta isinya sesuai arahan yang aku ucapkan. Tak lama air yang direbus mendidih. Dia juga melaporkan hal serupa. "Bu airnya sudah panas." Sahutnya.
Aku dengan segala kelemahanku belum bisa langsung beranjak dari tempat tidur. Namun, arsyel menambahkan, "tapi sudah ditaruh uyut ke dalam termos."
Ada rasa sesal dan sebal dengan apa yang dilaukan uyut. Tapi apa daya bisa merebus air kembali. Aku memerintahkan hal yang sama ke Arsyel. Namun, kali ini ada yang aneh.
"Sudah direbus kenapa direbus kembali?" Suara uyut menggelegar di ruang tamu.
Lima belas menit kemudian aku bangun menuju dapur. Dan.... termos yang tadinya isi langsung kosong. Apa yang dia lakukan? Batinku bergejolak. Ternyata air di dalam termos direbus kembali dengan menuangkannya ke dalam poci. Spontan aku marah, karena dia tidak mendengarkan perintah dengan baik.
Aku menangis di atas kursi. Aku sadar aku kurang jelas dalam memberikannya perintah. Aku yang salah telah memarahinya. Aku yang berpikir tidak boleh sakit. Tidak ada yang tahu apa yang aku inginkan.
Arsyel mendekatiku yang sedang menangis. Memelukku dan meraih tubuhku sambil berkata, "Bu maafin Ace ya."
Aku hanya mengangguk menandakan aku memakluminya. Akupun meminta maaf kepadanya karena belum bisa sabar.
Malamnya suami pulang dari Jatirokeh membawakan obat apotik dari ibu mertua. Ibu tahu badanku sedang tidak baik-baik saja dari chat grup yang dikirim suami. Dengan rasa pedulinya, beliau menyiapkan obat dan bedak dingin yang harus aku konsumsi. Qadarullah atas izin Allah sekali minum obat tersebut badan langsung terasa enteng. Alhamdlah ternyata cocok. Dirasa sakit yang dirasa hilang, aku tidak meminumnya lagi. Karena efek ke lambung juga tidak mengenakkan.