Senang rasanya dapat insight positif dari suami. Di sela-sela kesibukan kami, ngobrol di meja makan adalah hal yang paling ditunggu oleh kami (aku dan arsyel). Sayangnya, sore ini Arsyel sudah pindah tempat, ikut menemani mbahnya.
Berawal dari ganti peran menjemput Arsyel yang memberikan asumsi bahwa ayah sedang ada tamu. Jadi, tidak bisa menjemput Arsyel di sekolah. Lalu, akulah yang harus turun tangan menjemputnya.
Di tengah perjalanan aku bertemu istri teman kerjaku dulu saat masih jadi guru honorer di SMP. Sebut saja Mini. Orangnya sih gak mini, cuma namanya saja yang Tumini dan dipanggil Mini.
Selama menjadi teman karir mengajar di SMP dan berjibaku di urusan kesiswaan. Kami (aku, suami Mini, Bu Baety) terlihat sepertu keluarga. Pemikiran - pemikiran kami sangat sinkron tanpa perlu dijelaskan detil. Dengan adanya kesesuaian pemikiran kami, maka atasan memilih kami memegang kubu kesiswaan. Bu Baety sebagai waka kesiswaan, pak Nurdin (suami Mini) sebagai pembina OSIS dan aku fokus di Pramuka. Kadang juga dipertemukan dalam satu wadah OSIS dan bekerjasama.
Singkat cerita kedekatan kami menjadi "horor". Di mana istri pak Nurdin memandang sebelah mata. Sehingga rumor kami menjadi panas dan negatif. Sempat menjadi perbincangan panas di sekolah. Bahkan atasanpun menerima "ocehan" Mini karena kasus ini.
Rumor itu cukup menyita waktu dan tenaga. Hanya gara-gara istri yang cemburuan dan diselimuti kecurigaan, semua warga rekan guru dan staf terkena dampaknya. Namun, Allah Maha Baik. Tidak lama rumor itu beredar aku diterima menjadi PPPK yang dimutasi ke ranah kerja baru di SD. Alhamdulillah dengan adanya SK, maka aku bisa bernafas tidak lagi diributkan dengan masalah keluarga mereka.
Tetapi tidak cukup disitu saja. Beberapa bulan setelah aku pindah tugas, Mini menghampiriku di sekolah baru. Dia bercerita panjang. Intinya aku tidak boleh berkomunikasi dengan suaminya. Padahal sejak dipindah dari SMP kami lost contact. Kecurigaan wanita ini berlebihan. Kasus sudah ditutup tapi dia ingin berlanjut. Permasalahan intern RT nya harus diberitahukan oleh orang lain termasuk aku yang sedang asyik mengajar.
Dan hari ini setelah menjelas dua tahun berlalu, Mini datang menghampiri suamiku. Dengan sangat sigap suamiku pulang dari kerjanya sebagai guru honorer di sebuah yayasan pondok. Hal yang aku pikirkan dia tidak bisa menjemput Arsyel karena ada tamu itu benar. Tapi yang membuat aku kaget, ternyata tamunya adalah rivalku saat di SMP. Lucu dan lebih ke "ko bisa?, "mau apa dia?", "mengapa cerita masalah RT nya ke suami orang?"
Dengan penuh kehati-hatian suamiku melanjutkan ceritanya. Aku paham ada beberapa kejadian yang mungkin tidak semua dia ceritakan karena menghindari emosiku yang mungkin bisa melunjak. Terbukti ketika dia bercerita, responku langsung agresif. Yang biasanya tanpa ekspresi, kali ini lebih ke ingin tahu, dan mungkin ada sedikit rasa curiga. Tapi tidak ku lakukan.
Mendengar suami bercerita panjang kali lebar membuatku lebih memberikan apresiasi standing applause atas apa yang dilakukannya. Meskipun dalam pandangan agama hal yang dilakukan itu sudah salah. Karena membiarkan berdua di sekolah tanpa seorangpun.
Dengan penuh perhatian ku lihat muka suamiku dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yang pada intinya dia datang menemui suami untuk meminta nasihat, tapi dari cerita suami, justru dia ingin kami ribut seperti apa yang terjadi di RT nya.
Ketenangan suami yang lebih memilih netral menguatkanku bahwa dia memang sudah siap akan hal yang mungkin terjadi. Manusia yang diselimuti kecurigaan hidupnya tidak akan tenang.