Minggu, 15 Februari 2026

 Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tanda akan keluar. Mulai dari bercak hitam yang ada di celanaku. Bercak yang terlihat tidak terlalu banyak. Hanya sedikit kira – kira berdiameter 3 cm kalau bisa diukur dengan penggaris.

Aku langsung memberitahu ibuku yang sedang masak menyiapkan sarapan untuk kami. Waktu itu jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Aku hendak sholat subuh, dan mengambil wudhu. Aku dikejutkan dengan bercak coklat yang menempel pada celana dalamku. Sontak tanpa berpikir panjang aku memberitahu ibuku dengan harapan dia bisa mengedukasiku dan aku bisa menghadapinya dengan tenang. Namun, yang aku dapatkan tidak seperti apa yang aku inginkan. Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak, justru lebih panic dariku.

Tanpa berpikir panjang aku langsung memberitahu suamiku yang sedang tiduran di kamar. Aku menceritakan kronologi kejadian tadi dan menyampaikan bahwa aku harus dibawa ke bidan terdekat. Karena suamiku menyikapinya dengan tenang, maka dia hanya menjawab, “kamu merasa sakit gak perutnya?”

Aku pun dengan penuh keyakinan meresponnya, “saat ini belum begitu sakit banget. Hanya bercak coklat yang terlihat.”

Suami menyarankan untuk tidak mengikuti saran ibu dan bapak. Dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Namun, karena orang tuaku menyuruhku untuk segera ke bidan maka mau tidak mau, suami juga mengikuti saran mereka.

Karena ini anak pertama maka hal ini wajar terjadi. Biasanya anak pertama prosesnya jauh lebih panjang. Kemungkinan bisa mencapai satu sampai dua hari. Sehari untuk pembukaan pertama yang memakan waktu lama. Memasuki hari kedua pembukaan perlahan akan bertambah. Pernyataan bidan yang sempat aku rekam ketika aku dan suami memasuki ruang periksa. Bidanpun menyarankan hal yang sama untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Tetapi keputusan bidan dan suami goyah manakala bapakku masuk ikut menemani kami di dalam ruang periksa.

Hubungan anak dan bapak saat itu sangat dekat. Bahkan sedari kecil aku dan bapak kemana – mana selalu didampingi. Kuliahpun sengaja jauh – jauh hanya untuk mengantarku ke tempat kos, lalu kembali lagi tanpa istirahat. Dan itu yang membuatku percaya utuh dengan bapakku. Selain ada alasan lain yang mengawal rasa takut dan percaya dengannya.

Ketika bapak masuk di ruang periksa, dan bidan menawarkan kepadaku untuk lahiran di mana. Dengan suara yakin dan mantap aku menjawab, “Rumah Sakit.”

Karena saat itu kondisi puskesmas menurut pandanganku masih “kotor”. Apalagi kondisi kamar mandinya, sedangkan aku ingin orang yang nanti menemaniku merasa nyaman dan aman jika di rumah sakit. Dan ini awal dari kisah yang sangat menyentuh sekaligus tidak akan pernah aku lupakan.

Bersambung ……


Sabtu, 14 Februari 2026

 Masih tentang perjalananku menjadi seorang ibu, istri dan wanita. Disaat ku beradaptasi menjadi peran yang baru yaitu seorang ibu, secara bersamaan juga aku harus bisa mengimbangi karakter, dan sifat suami yang baru aku ketahui. Yang awalnya aku santai – santai saja tanpa berpikir panjang menerima dia sebagai calon suamiku. Ternyata setelah berjalan di kehidupan baruku semua yang tidak sesuai dengan keinginanku terbuka. Dan Allah membukanya. Tapi kata kebanyakan orang memang begitu kehidupan setelah menikah. Mau percaya atau tidak kalau belum mengalaminya sendiri tidak akan bisa mengena.

Usia kehamilanku sudah memasuki bulan ketujuh. Di mana kalau di keluarga suami ada yang namanya mitoni. Sedangkan di keluargaku tidak mengenal adat seperti itu. Alih – alih menepis adat tersebut, suami hanya bisa berargumentasi bahwa hal tersebut mempersulit orang. Membuat yang punya hajat juga merasa capek. Belum lagi yang diundang merasa harus mampu jika dia akan menyumbangkan sebagian hartanya. Padahal aku tahu suamiku tidak mampu jika harus mengadakan acara tersebut. Sedangkan untuk meminta bantuan kepada kedua orang tuanya juga tidak akan bisa. Harga diri seorang laki – laki sedang dipertaruhkan.

Hal itu tidak menjadi masalah besar. Pernah suatu ketika bapakku meminta agar suami pulang lebih awal alasannya karena usia kehamilanku sudah masuk trimester tiga. Tapi lagi, dia tidak begitu mengindahkan apa yang bapakku katakan. Di posisi ini aku dilema. Harus mengikuti apa kata bapakku atau menerima perilaku suami yang sering pulang malam. Yang kalau diterima oleh logika, mungkin di luar sana suami sedang mengerjakan hal yang lebih urgent. Di sisi lain aku butuh tumpuan, sandaran, dan cerita kepada orang yang bisa mengerti posisiku serta menerima perasaanku saat itu. Sayangnya ibu bukanlah orang yang aku cari. Justru orang yang setiap hari ada bersamaku adalah Mak O yang biasa bantu – bantu ibu di rumah. Beliaulah yang sering aku ajak berkeluh kesah. Bahkan diajak cerita pun aku lebih nyaman dan leluasa, walaupun hanya sekedar mencari teman sekubu tanpa harus mendengarkan nasehatnya. Berkat beliaulah aku bisa meredam apa yang aku rasakan.

Mak O adalah orang yang mengasuhku sewaktu aku kecil hingga saat ini dia masih setia membantu ibu di rumah. Dari mulai aku berumur 5 tahun, beliau sudah ada di rumah membantu mengasuh adikku. Aku menganggapnya sebagai ibu keduaku. Tak ada jarak diantara kami. Untuk memintanya memasakkan sesuatupun aku berani. Atau ketika aku butuh bantuannya aku langsung menuju rumahnya.

Menginjak usia kehamilan Sembilan bulan, aku mulai pasang sabuk alarm menyambut detik – detik kedatangan sang buah hati. Selama hamil dia selalu aktif. Semua nutrisi yang aku makan sampai dengan baik ke tubuhnya. Sampai ada yang bilang kalau ibunya kurus tapi bayinya memenuhi kebutuhan lewat ibunya. Aku tidak peduli orang berkata apa yang penting bayiku sehat.

Jumat, 13 Februari 2026

 Perjuanganku 3

Menjajaki perjalanan pernikahan kami di usia 3 bulan adalah perjalanan yang penuh dengan liku - liku. Karakter asli satu sama lain mulai terlihat. Kebiasaan suami yang suka nongkrong dengan teman - temannya tidak lantas langsung ia tinggalkan. Justru adaptasi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk melepaskannya. Pulang malam menjadi kebiasaan baru yang harus aku terima. Meskipun berat tapi aku hanya bisa berdoa bahwa suatu saat nanti dia akan berubah. Aku dengan segudang harapan yang ingin merubah kebiasaan suami. Ingin diperhatikan dengan baik olehnya. Dan ingin ditemani sepanjang hari olehnya. Tetapi justru kebiasaan ini membuat suamiku merasa terbebani.


Adanya calon debay yang bersemayam di rahimku membuatku berpikir bahwa dia akan berubah seiring berjalannya waktu. Alasan terkuat supaya dia bisa selalu ada di sisiku meskipun hanya di malam hari. Harapan ini ternyata pupus. Adanya calon jabang bayi yang aku kandung tidak lantas menyadarkannya untuk pulang lebih awal. Minamal sebelum maghrib sudah ada di rumah.


Hal ini sungguh sangat menguras tenaga dan pikiranku. Bagaimana gak? Sedang hamil muda tapi teman hidup masih enak nongkrong dengan teman - temannya. Dibilang egois, ya itu hak aku. Entah apa yang mereka lakukan di luar. Meski ada aja alasannya. Rapatlah, urusan belum kelar lah, ngajar anak ngaji lah. Entah itu mana yang sesuai realita.

Pernah suatu ketika Bapak mau nyamperin ke tempat suami kerja. Yaitu di sekolah yang letaknya di dalam kawasan pondok di salah satu kecamatan di Brebes. Namun, hal itu diurungkan karena aku memintanya untuk tidak meributkan masalah ini. Karena aku tahu. Merubah seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi yang dihadapi adalah orang yang sudab berumur yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.

Bapak mana yang tega anaknya ditinggal terus sampai larut malam dalam kondisi sedang hamil muda. Aku sedang butuh support banget waktu itu. Di mana keadaanku yang berubah. Kondisi tubuhku yang ikut berubah bahkan hormonku juga sedang tidak stabil. Ditambah kondisi suami yang tidak bisa masuk diakal.

Lama kelamaan aku sampai berpikir apakah aku harus menderita dulu a.k.a sakit parah dulu baru dia bisa ada di dekatku. Atau memang ini sudah menjadi jalan takdirku dengannya dalam mengarungi rumah tangga.


Kamis, 12 Februari 2026

Perjuanganku 2

Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati yang kini ada dalam perutku. Perubahan hormon yang begitu drastis aku rasakan. Morning sickness, mual di malam hari, dan perubahan emosional yang labil.

Alhamdulillah selesai kontrak tiga bulan, kami diberi amanah oleh Allah menjadi orang tua baru. Dunia baru yang aku jalani saat itu benar-benar membuatku frustasi. Tak ada teman di rumah. Aku hanya ditemani uyut. Kami berdua setiap hari sebagai penunggu rumah sedangkan keluarga yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekolah, mengajar di instansi baik di SMP mauoun SMA.

Kehidupanku yang ditemami oleh nenek-nenek berusia lanjut tidak lantas mengusik kesepianku. Justru kami berdua sering kali berselisih paham. Uyut dengan karakter rewelnya yang ingin mengatur orang hamil. Misal tidak boleh tidur diwaktu rawan yaitu pukul 10.00-12.00. Jika tidur dijam tersebut maka darah putih yang ada dalam tubuh akan naik dan itu merusak penglihatan. Namun, beda halnya dengan uyut. Penjelasan yang ia berikan justru membuatku tidak percaya dan tidak ingin mematuhinya. Katanya pamali. Tidak boleh tidur dijam tersebut dan jangan banyak tanya.

Daripada harus panjang kali lebar, kali ini aku turuti. Ku tahan kantuk yang menggelayut di mataku. Hampir sedikit lagi mataku terpejam. Jika dibolehkan tidur akan membuatku merasa di atas kasur yang sangat nyaman. Saking ngantuknya, tak terasa aku terlelap. Tidak lama kemudian aku tersadar. Untuk menghindari rasa kantuk, ku putuskan jalan-jalan ke rumah Lik Yuni. Dia adalah istri dari om ku.

Selama aku di rumah, tempat berbagi ceritaku dengan dia. Suka, duka dan lucu kami lalui bersama. Kebetulan dia mempunyai anak kecil usia satu tahun. Dengan begitu aku bisa bertukar pengalaman mengenai proses melahirkan maupun mengasuh anak.

Lik Yuni menikah dengan om ku ketika aku duduk di bangku kuliah. Saat itu aku sedang berkecimpung di semester 7. Hampir selesai S1 ku. Kini aku dan dia seperti teman dekat meski usia terpaut jauh. Karena om dengan dia usianya cukup jauh, terpaut sepuluh tahun, Lik Yuni lebih muda dari om ku membuatku lebih nyaman bercengkerama dengannya.

Rabu, 11 Februari 2026

Perjuanganku 1

Menjadi ibu tidaklah mudah untukku. Apalagi setelah tiga tahun berkecimpung di dunia public sebagai front liner di salah satu BUMN bagian transportation yaitu KAI.

Dengan penghasilan yang bisa dibilang mencukupi kebutuhan bulananku. Aku bisa membeli semua yang aku inginkan tanpa meminta lagi pada orang tua. Kali ini justru aku yang membelikan sesuatu untuknya. Mulai dari belanja bulanan sampai pakaian muslim lebaran. Namun, itu tidak bisa aku nikmati dalam waktu lama. Allah Maha Baik. Belum genap 3 tahun, aku dipertemukan seorang laki-laki yang sekarang menjadi teman hidupku.

Kehidupanku berubah drastis setelah bertemu dengan dia. Tidak menunggu waktu yang lama, hanya dua bulan berjalan, kami menunaikan sunah rosul untuk menikah. Saat itu aku masih menjalankan kontrakku selama tiga bulan di KAI.

Menjadi istri seorang guru honorer dengan penghasilan yang hanya bisa untuk makan sehari-hari membuatku banyak berpikir dan merubah mindset dan kebiasaanku. Yang biasanya suka jajan di kafe, kali ini aku tangguhkan. Yang biasanya beli baju, kali ini aku sisihkan. 

Tiga bulan telah kulalui menghabiskan masa kontrakku di KAI. Banyak kenangan yang aku dan kawan-kawan torehkan. Mereka adalah keluarga keduaku di dunia kerja. Aku mendahului mereka. Aku tidak perpanjang kontrak lagi. Teman-teman ada yang off dan adapula yang perpanjang. Semuanya sudah seperti saudara yang tidak bisa terpisahkan. Kalau ingat cerita ini, jadi kangen mereka. Mas Oki, Mas Agung, Mas Imam, Mas Teguh, Mas Sholeh, Mas Yanto, Mba Devi, Mba Citra, Mba titis, Widi, dan Septi. Lain kali aku ceritakan kisahku di dunia pertransportasian deh.

Adaptasi mengenal pasangan juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu lima tahun untuk bisa tahu dan paham mengenalnya. Banyak perbedaan yang kami temukan. Harapan yang aku tambatkan kepada suamiku. Rasanya aku ingin sekali merubah dia menjadi versiku. Sayangnya aku belum sadar kalau dia bukanlah bonekaku. Semua di luar kendaliku. Gak bisa dirubah begitu saja.

Semakin hari semakin banyak tantangan yang harus aku lalui, dan adaptasikan darinya. Mulai dari konkow dengan teman-temannya hingga pulang yang larut malam setiap harinya dengan pakaian dinas yang dia kenakan. Ada rasa marah berkecamuk dalam hatiku. Namun aku mencoba bertahan karena aku yakin suatu saat dia akan berubah. 

Selasa, 10 Februari 2026

Laki-laki Tangguh, Hati Trenyuh (Arsyel)

Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan oleh mbah kakungnya, tidak dijawab apa adanya. Dia hanya menjawab "tidak apa-apa, aku baik-baik saja".

Kejadiannya kemarin hari Senin, 9 Februari 2026. Kebetulan dia sedang kerja kelompok dengan teman-temannya. Jadi, aku yang harus menjemputnya pukul 15.00 wib.

Sepanjang jalan pulang, setelah membeli permen mint kesukaannya, dia bercerita di kendaraan roda dua kami. Dengan antusias sambil sedikit merubah nada bicaranya ketika ada cerita yang membuat dia marah. Atau nada bicara lawannya yang menunjukkan ketidaksukaannya. 

Ceritanya dia sedang meledek temannya bernama Kayla. Teman satu kelasnya yang lolos OMNAS tingkat nasional. Mendapatkan uang pembinaan, sertifikat dan perunggu. Anaknya cuek, pintar, gaul dan cantik. Persis seperti ibunya saat kami bertemu di sekolah. Kami bercerita perkembangan anak-anak seusia mereka. 

Karakter ibunya cuek, pemberani, supel dan gampang bergaul. Dia pernah ngelabrak orang yang mengatakan dirinya tidak sopan di deoan umum. Ternyata, hal tersebut sama dilakukan oleh anaknya, Kayla. Kayla melabrak teman satu kelasnya gara-gara salah satu teman lainnya mengadu bahwa ada salah satu teman OMNAS nya tidak ikut lagi gara-gara dia. Merasa tidak puas dengan aduan temannya, besok hari dia menemuinya dan ngomong keras sambil mengamuk tangannya ke meja. Sontak lawan bicaranya takut. Dari situ dia merasa plong dan cerita ke maminya kalau dia telah melabrak temannya. Katanya puas banget bisa melakukan itu.

Dilihat dari karakter keduanya yang cuek dan pemberani, dapat disimpulkan jika Kayla disakiti maka dia akan membalasnya. Nah, kebetulan Arsyel sedang bermain dengan Kayla. Entah kata-kata apa yang dia ucapkan membuat Kayla sakit hati. Padahal tidak ada maksud mengarah kesitu. Terbukti ketika Arsyel bermain dengan teman lakai-lakinya, Kayla mendorongnya dengan keras. Karena kesakitan, dia mencari -cari siapa pelakunya tapi tidak ditemukan. Matanya memerah menahan sakit. 

Faraz berkata, "tadi yang dorong Kayla."

Dengan rasa tidak percaya dan bertanya - tanya, Arsyel tidak memperpanjang urusan itu. Meski nyeri di kakinya masih terasa.

Saat pulang sekolah, dia menangis sambil berjalan dari kelas ke tempat parkiran dengan tangan menutupi matanya.

"Matanya merah. Kenapa?" Tanya mbah kakung khawatir.

Arsyel menjawab, "baik ko mbah, tadi kelilipan."

Faraz pun memperhatikannya dan memeberikan kode bertanya apa yang terjadi dengannya.

Kejadian itu sirna sekejap ketika mereka mengerjakan tugas kelompom bersama. Ada 6-7 orang yang belajar kelompok bersama. 

Sore ini, dia baru bercerita bahwa matanya memerah karena nangis dari kejadian yang dia alami oleh Kayla. Menurutnya, Kayla gak pernah melakukan hal semacam itu ke dia. Aku hanya bisa memberikan arahan. 

"Jika anak perempuan seperti Kayla mau didekati maka hati-hati dalam berkata. Dia tipe anak yang sensitif." Kataku sembari memakaikan baju hangat.

"Iya, mulai sekarang gak akan bercandaan lagi sama dia." Jawabnya lirih.

Insight yang aku dapat dari kejadian ini adalah manusia memang diciptakan dengan perasaan lembutnya. Kelembutan inilah yang membuat manusia memiliki sifat tidak tega melihat yang lain tersakiti. Meskipun laki-laki, mengakui perasaan yang dia rasakan saat itu adalah sebuah validasi diri. Untuk mengontrol emosinya dan tahu cara mengatasinya.

Senin, 09 Februari 2026

Sebalku Tak Beralasan

Pulang dari Purwokerto kemarin setelah mengantar Arsyel lomba, ayah tidak langsung mengikuti kami. Karena mbah datang maka aku, dan Arsyel naik mobil sedang ayah naik motor dengan dua helm diletakkan di bagian bawah motor.

Kami sampai di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Aku, dan Arsyel bersekancar di dunia maya. Memegang gawai masing-masing, dan sibuk dengan dunia sendiri sambil rebahan. Efek jalan-jalan di mol membuat badanku terasa lemas, dan ingin segera meluruskannya.

Beberapa waktu kemudian aku pulang ke rumah sedangkan Arsyel masih di rumah mbahnya. Dikarenakan mbah kakung akan pergi ke rumah sakit menjenguk temannya, maka aku tidak terlalu lama berada di rumah. Setelah memberikan makan untuk ayam-ayam ayah, aku langsung kembali ke rumah ibu. Menemaninya yang sedang menyiapkan bahan pokok untuk acara slametan menjelang lebaran.

Setibanya di rumah ibu, bapak sudah berangkat dengan teman-temannya ke rumah sakit. Arsyel masih asyik dengan gawainya. Ibu asyik membungkusi teh, telor, dan mie instan.

Tiba-tiba perutku memberikan sinyal darurat. Suara merdu datang dari arah perut. Musik keroncong mulai berlabuh. Tanda lapar mulai dirasakan.

Ku tengok pemanas nasi. Ternyata nasi sudah habis. Lauk masih tersedia meski tidak menyelera. Karena lapar, aku japri suami untuk membelikanku lumpia boom did dekat depan kampus Unsoed. Lumpia favorit sejak aku, dan adikku berdomisili di situ sebagai mahasiswa.

Aku kira jawaban suami yang menjawab "ya" adalah tanda bahwa dia sanggup membelinya. Tapi prediksiku salah. Pukul 20.00 kulayangkan kembali wa untuknya. Bahwa aku akan makan setelah suami pulang dengan lauk lumpia boom. Jawabannya membuatku meluap dan naik darah. Dia masih di Purwokerto dan belum beranjak sama sekali.

Jika perut ayam nomor satau, lalu perut istri nomor berapa?

Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Hingga dia menyarankan untuk membuat mie instan demi terjaganya kewarasan. Aku menuruti apa yanh dia sarankan, demi kewarasan sendiri. Meskipun tidak menyelera, karena sebenarnya ingin nasi dan lumpia boom. Aku dan Arsyel menghabiskan makanan bersama. 

 Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tan...