Jumat, 06 Februari 2026

Pak Su yang Berani Bercerita

 Senang rasanya dapat insight positif dari suami. Di sela-sela kesibukan kami, ngobrol di meja makan adalah hal yang paling ditunggu oleh kami (aku dan arsyel). Sayangnya, sore ini Arsyel sudah pindah tempat, ikut menemani mbahnya.

Berawal dari ganti peran menjemput Arsyel yang memberikan asumsi bahwa ayah sedang ada tamu. Jadi, tidak bisa menjemput Arsyel di sekolah. Lalu, akulah yang harus turun tangan menjemputnya.

Di tengah perjalanan aku bertemu istri teman kerjaku dulu saat masih jadi guru honorer di SMP. Sebut saja Mini. Orangnya sih gak mini, cuma namanya saja yang Tumini dan dipanggil Mini.

Selama menjadi teman karir mengajar di SMP dan berjibaku di urusan kesiswaan. Kami (aku, suami Mini, Bu Baety) terlihat sepertu keluarga. Pemikiran - pemikiran kami sangat sinkron tanpa perlu dijelaskan detil. Dengan adanya kesesuaian pemikiran kami, maka atasan memilih kami memegang kubu kesiswaan. Bu Baety sebagai waka kesiswaan, pak Nurdin (suami Mini) sebagai pembina OSIS dan aku fokus di Pramuka. Kadang juga dipertemukan dalam satu wadah OSIS dan bekerjasama.

Singkat cerita kedekatan kami menjadi "horor". Di mana istri pak Nurdin memandang sebelah mata. Sehingga rumor kami menjadi panas dan negatif. Sempat menjadi perbincangan panas di sekolah. Bahkan atasanpun menerima "ocehan" Mini karena kasus ini.

Rumor itu cukup menyita waktu dan tenaga. Hanya gara-gara istri yang cemburuan dan diselimuti kecurigaan, semua warga rekan guru dan staf terkena dampaknya. Namun, Allah Maha Baik. Tidak lama rumor itu beredar aku diterima menjadi PPPK yang dimutasi ke ranah kerja baru di SD. Alhamdulillah dengan adanya SK, maka aku bisa bernafas tidak lagi diributkan dengan masalah keluarga mereka.

Tetapi tidak cukup disitu saja. Beberapa bulan setelah aku pindah tugas, Mini menghampiriku di sekolah baru. Dia bercerita panjang. Intinya aku tidak boleh berkomunikasi dengan suaminya. Padahal sejak dipindah dari SMP kami lost contact. Kecurigaan wanita ini berlebihan. Kasus sudah ditutup tapi dia ingin berlanjut. Permasalahan intern RT nya harus diberitahukan oleh orang lain termasuk aku yang sedang asyik mengajar.

Dan hari ini setelah menjelas dua tahun berlalu, Mini datang menghampiri suamiku. Dengan sangat sigap suamiku pulang dari kerjanya sebagai guru honorer di sebuah yayasan pondok. Hal yang aku pikirkan dia tidak bisa menjemput Arsyel karena ada tamu itu benar. Tapi yang membuat aku kaget, ternyata tamunya adalah rivalku saat di SMP. Lucu dan lebih ke "ko bisa?, "mau apa dia?", "mengapa cerita masalah RT nya ke suami orang?"

Dengan penuh kehati-hatian suamiku melanjutkan ceritanya. Aku paham ada beberapa kejadian yang mungkin tidak semua dia ceritakan karena menghindari emosiku yang mungkin bisa melunjak. Terbukti ketika dia bercerita, responku langsung agresif. Yang biasanya tanpa ekspresi, kali ini lebih ke ingin tahu, dan mungkin ada sedikit rasa curiga. Tapi tidak ku lakukan.

Mendengar suami bercerita panjang kali lebar membuatku lebih memberikan apresiasi standing applause atas apa yang dilakukannya. Meskipun dalam pandangan agama hal yang dilakukan itu sudah salah. Karena membiarkan berdua di sekolah tanpa seorangpun.

Dengan penuh perhatian ku lihat muka suamiku dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yang pada intinya dia datang menemui suami untuk meminta nasihat, tapi dari cerita suami, justru dia ingin kami ribut seperti apa yang terjadi di RT nya.

Ketenangan suami yang lebih memilih netral menguatkanku bahwa dia memang sudah siap akan hal yang mungkin terjadi. Manusia yang diselimuti kecurigaan hidupnya tidak akan tenang.

Kamis, 05 Februari 2026

Alam sedang Tidak Bersahabat

Hai bloggi, kita lanjut lagi ya cerita kemarin. Semalam sudah ngantuk banget jadi aku gak bisa lanjut. Pulang belanja sama suami, nemenin tidur bocil eh mau cerita ke kamu lagi malah mata sudah 5 watt aja. 😁


Soal anak yang terbawa arus di daerah Bojong kemarin sudah ditemukan lho. Ternyata pas lihat di medsos, korbannya menolong temannya yang sedang kesulitan mengatasi motornya. Dia berusaha menepi ke rumah warga. Karena derasnya arus hujan yang menutupi jalan. Dia tak mampu menahan dan membawa motor. Jadi, dia terbawa arus dan masuk ke selokan.


Pagi ini dia diketemukan di bantaran sungai dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Bahkan jasadnya tenggelam bersama sisa sampah yang terbawa arus. Ada kayu besar yang mengapit jasadnya. Semoga husnul khatimah. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran.


Kabarnya anak ini bersekolah di sekolah kejuruan di Lebaksiu kabupaten Tegal. Anak yang sedang menuntut ilmu harus berakhir tragis.


Himbauan aja sih untuk diri sendiri dan semuanya. Cuaca dan alam sedang tidak bersahabat. Kalau dirasa tidak penting - penting banget mending tunda dulu deh perginya. Atau ketika keadaan memaksa pergi, sebisa mungkin berhati - hatilah. Jika tidak memungkinkan untuk dilewati, alangkah baiknya menepi atau diam dulu sejenak di tempat sampai kondisi sudah kondusif.


Melihat kasus ini, sepertinya dia tidak sabar untuk menepi ke rumah warga. Padahal di belakangnya ada banyak kendaraan bermotor yang memilib diam daripada harus melawan arus.


Seperti yang terjadi di daerahku kemarin. Banjir yang meluap ke jalan raya. Baru - baru ini kejadian yang tidak biasanya harus dialami oleh warga sekitar. Jalan yang tertutup oleh luapan sungai, berlumur lumpur. Hal ini mengakibatkan banyak pengendara motor harus berhati - hati melewatinya. Tebal lumpur diperkirakan sekitar 5 cm. Jika tidak biasa melalui jalan seperti itu, ban motor akan slip dan keseimbangan goyah.


Hingga siang tadi lumpur yang menutupi jalan baru bisa dibersihkan.


Selain banjir, di daerahku bagian atas, pegunungan terjadi longsor. Ada beberapa akses jalan yang terputus akibat tanah yang labil. Jalan aspal yang patah membuat akses jalan sulit untuk dilewati. Alhasil pengendara bermotor harus melalui jalan pintas yang membutuhkan waktu dua kali lipat untuk sampai tujuan.

Rabu, 04 Februari 2026

Bonding Berdua

 Hai blogi…

Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karena ingin dimengerti bahkan marah tanpa alasan tiba – tiba bisa diterima oleh logiku. Aku mulai memahami bahwa apa yang aku alami kemarin hanya karena aku kecapean. Semuanya aku handle. Padahal kapasitas tenaga dan badanku memang tidak mampu untuk menampung semua. Akhirnya berujung pada perasaan yang ingin dimengerti tapi tidak tahu cara menyampaikan apa yang aku rasakan saat itu.

Mulai kemarin perlahan suami mendekatiku dengan cute nya. Pura – pura bertanya padahal dia lagi meledek bahwa aku sudah baik – baik saja. Moment hari ini puncak dari bahasan kasus kemarin.

Sore tadi kami jalan – jalan mencari udara segar dan makan malam. Tadinya kami akan pergi sebelum maghrib tapi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan yang sangat lebat mengguyur daerah kami dan sekitarnya. Mulai dari daerah pegunungan tempat kami tinggal terjadi banjir yang mengakibatkan banyak area persawahan berubah menjadi sungai deras mengalir. Air yang datang terlihat keruh berwarna coklat pekat. Karena kondisi tanah sawah maka terlihat seperti air terjun keruh berwarna coklat mengalir deras dari atas jatuh ke bawah.

Selain itu di daerah lain pun terjadi hal yang tidak jauh berbeda. Tempat yang biasanya kami kunjungi untuk mencari makan, tidak bisa dilalui. Air sungai yang membanjiri persawahan meluap hingga menutupi jalan raya. Banyak para pengendara tidak dapat melewatinya karena aliran yang deras sekaligus membawa lumpur dari area persawahan. Alhasil banyak pengendara kendaraan bermotor putar balik mencari jalan yang aman.

Ada lagi di kabupaten sebelah yang berdampingan dengan daerah ku. Tepatnya di daerah Bumi Jawa, kabupaten Tegal. Hujan lebat yang datang mengguyur area ini menyebabkan banjir di jalan raya. Arus yang dihasilkan sangat deras. Ini mengakibatkan banyak kendaraan roda empat berhenti di tengah jalan karena arus yang tidak bisa diterjang. Namun, bagi pengendara roda dua ada yang berani menerobos arus deras tersebut. Salah satu pengendara bermotor mencoba melawan arus di saat hujan masih turun dengan derasnya. Di tengah perjalanan pengendara tersebut tidak kuat menahan kuatnya arus. Akhirnya, dia dan kendaraannya terbawa arus hingga si pengendara terpisah dengan kendaraannya. Kabarnya baru kendaraannya yang ditemukan tersangkut diantara bebatuan. Untuk pemiliknya belum diketemukan. semoga saja semuanya baik – baik saja.

Balik lagi ke cerita tadi ya. Setelah mendengar berita banjir yang terjadi di berbagai daerah, kami menanggalkan niat kami untuk mencari makan malam. Tapi tepat setelah sholat maghrib, keadaan cuaca sudah tak lagi hujan. Daripada kelaparan, kami putuskan untuk mencari makan sembari belanja bulanan. Meluncurlah kami dengan sepeda motor ke Bumiayu.

Sepanjang jalan kami bercerita tentang kehidupan kami yang dimulai dari nol. Dari berdagang es gabus bersama si buah hati, membuat jajan untuk diperdagangkan hingga saat ini kami sudah bisa menikmati keuletan kami sambil mengajar di sekolah. Karena waktu yang sudah tidak bisa dikondisikan, maka kesibukan itu kami tinggalkan. Meski kadang – kadang diwaktu senggang kami mencoba mengasah kemampuan yang sempat terpendam.

Kami melakukan refleksi bersama. Ada beberapa kasus dari saudara orang tua kami. Bahwasanya mencapai kehidupan yang sekarang tidak seindah yang mereka lihat. Ada masa di mana manusia diuji coba dalam kehidupannya. Ada yang lewat anak, suami, orang tua atau bahkan lewat dirinya sendiri. Sejauh mana bisa bertahan dan kuat dalam menjalani ujian itu. Jika putus di tengah jalan maka dia belum dikatakan kuat. Mengeluh itu manusiawi. Bahkan berkata kelebihan kita kepada orang lain, bukan bentuk wujud takabur melainkan itu adalah apresiasi diri karena sudah sampai dititik ini.

Orang yang sudah melalui perjalanan hidup yang menurut versi masing – masing merangkak dari bawah. Melalui ujiannya pasti akan diberikan kesuksesan. Sukses yang seperti apa? Sukses ketika hatinya sudah bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Maka disitulah bahagia akan dirasakan. Kemampuan bersyukur tanpa harus melihat orang lain di atas kita. Kemampuan melihat apa yang sedang dan sudah dimiliki dengan penuh rasa syukur tanpa takut akan kehilangannya. Butuh waktu lama untuk bisa melakukan ini. Dan ini adalah topic dan bahasan kami selama perjalanan berangkat dan pulang dari Bumiayu.

Hanya bisa bersyukur bisa berbincang dan berdialog dengan suami. Seolah itu adalah waktu langka yang kami miliki. Hanya bisa memanfaatkan waktu di jalan meski kadang pillow talk tidak sempat kami praktekkan. Bonding yang luar biasa. Banyak hal yang sudah diajarkan olehnya untukku. Termasuk belajar menjadi orang yang bisa ikhlas menerima semua keadaan tanpa protes.

Selasa, 03 Februari 2026

To whom should I tell?

 Menjadi Manusia yang Siap Menerima

Aku sering berpikir mengapa dilahirkan menjadi orang yang mempunyai sifat tidak enakan dengan orang lain. Mengapa harus peduli dengan orang lain? Mengapa harus mendahulukan orang lain? Padahal diri sendiri saja butuh untuk dipedulikan, didahulukan dan diperhatikan. apalagi berkaitan dengan kebahagiaan. Dulu aku berpikir ketika bisa membuat orang lain bahagia maka diri ini pun akan merasakannya. Ternyata hal itu salah. Semakin mencoba mengerti perasaan orang lain, semakin banyak menaruh harapan kepada mereka.

Menjadi diri sendiri sangatlah penting. Membahagiakan diri sendiri juga yang utama. Diri sendiri dulu baru orang lain. Berbeda halnya dengan tata karma / adab. Ingin dihormati? Maka harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Soal hati, diri sendiri yang utama. Ketika hati kita bahagia maka orang lain akan merasakan apa yang kita rasakan.

Menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaikku untuk bisa mengerti dan mendengar cerita orang lain. Sehingga mereka yang bercerita merasa nyaman dan aman. Bercerita sesuka hati dari A sampai Z tanpa merasa dihakimi. Kecenderunganku ini menjadikanku sebagai orang yang senang menyimak cerita orang lain. Lambat laun aku jadi mengetahui dan memahami karakteristik orang – orang. Yang baik aku tiru, yang buruk aku jadikan bahan evaluasi untuk diriku sendiri. Tapi itu tidak mudah, ketika semuanya menumpuk jadi satu, tanpa disadari ternyata aku juga butuh tempat curhat. Tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus menyandarkan kepalaku. Tidak mudah menemukan orang yang diajak cerita dan penuh perhatian hanya untuk menjadi teman cerita tanpa ditanggapi apalagi dinasihati.

Pernah suatu ketika aku diajak bicara oleh dua orang yang paling berjasa dalam hidupku yaitu ibu dan uyut. Pertama dari ibu. Beliau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Seumur hidup aku baru pertama kali dijadikan tempat curhat oleh ibu. Ini terjadi setelah ibu purna tugas dari profesinya sebagai ASN guru di sekolah negeri di daerah Brebes.

Beliau bercerita bahwasanya Bapak sering tidak pamit ketika pulang. Bahkan komunikasi mereka tidak seterbuka dulu. Ibu berusaha mengimbangi bapak. Singkat cerita yang aku tangkap, mereka seperti kejar – kejaran. Semakin bapak lari maka ibu tidak bisa mengejarnya. Dan disitu aku hanya bisa menjadi tempat curahan tanpa memberikan solusi dan nasihat. Melihat ibu demikian, aku jadi merasa iba. Air matanya sempat akan keluar tapi beliau tahan.

Kedua, dari uyut. Disisa usia uyut yang sudah senja tidak ada seorangpun yang bisa bertahan mendengarkan ceritanya. Meskipun aku juga enggan mendengarkan, namun aku tahu suatu saat aku juga akan ada di posisi ini. Ceritanya tidak begitu penting. Tentang pengalamannya dulu ke pasar saat masih berdagang, dan sekarang yang sering bulak balik ke kamar mandi karena factor usia. Setiap 2 jam sekali di tengah malam beliau harus bulak bali ke kamar mandi. Cerita itu diceritakan hampir setiap hari.

Ibu dan uyut berani mengungkapkan ceritanya kepadaku. Aku senang dan aku terbuka menjadi bagian dari hidup mereka. Kapanpun dibutuhkan aku siap mendengarkan. Namun, ketika diri ini lemah, aku hanya bisa mengadu kepadaNya dan mencurahkan melalui tulisan ini.


Senin, 02 Februari 2026

Ko rasanya capek banget ya

Kegiatanku sebagai ibu, istri, dan wanita ternyata tidak ada berhentinya. Mulai dari pagi hingga tidur kembali menemui hari esok. Pagiku bertemu dengan anak – anak di sekolah, siangku harus bersiap mempersiapkan makan siang kalau anak dan suami pulang. Malamnya kalau lauk sudah habis, ya harus masak kembali. Belum lagi ketika cucian piring dan baju menumpuk. Rasanya pengin banget ada yang bantu tanpa harus diminta.

Malam ini pun terasa sangat melelahkan. Terlebih ketika harus menyiapkan makan malam dengan lauk ayam yang baru saja disembelih sore tadi karena salah satu kakinya cedera. Kami sekeluarga mempunyai ternak ayam kiriman dari saudara suami. Kira – kira ada 50 ekor ayam yang sedang kami pelihara. Setiap hari kami harus menyediakan pakan ayam. Sambilanku di sekolah ketika ada MBG masuk dan sisa dari makanan anak – anak, aku ambil untuk makan ayam.

Selepas pulang sekolah, aku langsung mengambil pakaian kotor yang masih bertengger di dalam keranjang samping kamar dekat tengga lantai 2 rumahku. Dari dua hari yang lalu pakaian itu masih belum terjamah. Rasanya penat melihat kondisi rumah tak kunjung rapi. Ingin berdamai dengan keadaan tapi naluriku sebagai seorang ibu tidak bisa membiarkan begitu saja. Aku tipe orang yang suka dengan kerapian dan kebersihan. Rasanya nyaman jika menghuni rumah sederhana tapi rapi dan bersih. Namun, sayang hal itu terlalu sempurna untukku lakukan sendiri. Sehingga tak jarang rasa capekku dilampiaskan ke anakku yang membutuhkan perhatianku untuk belajar.

Memasak ayam membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang cukup menguras. Terlebih setelah menggunakannya harus mencuci semua gerabahan yang kotor. Jikalau ada orang yang peka tanpa harus ku katakan untuk meminta tolong tapi dengan senang hati melakukannya, aku akan sangat bahagia. Membantu mencuci piring, mencuci baju, atau menyapu dan mengepel lantai. Dan itu hanya dilakukan oleh seorang nenek kepada cucunya ketika melihat dapur mulai berantakan. Ya, uyut melakukannya dengan suka rela. Meskipun kadang langkahnya yang sudah tidak segesit dulu membuatku merasa terbatas untuk bergerak. Tetapi kehadirannya membuatku merasa ringan dalam melakukan tugas rumah tangga. Menyapu lantai semampunya, melipat baju keluarga kecilku, dan selalu menemaniku memasak dengan mencuci piring dan lainnya.

Meskipun kegiatan uyut dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, bagiku hanya beliaulah yang tulus melakukannya tanpa harus aku minta.

Malam ini pun begitu. Ketika semuanya asyik dengan gadjetnya, aku dan uyut berada di dapur dengan menggoreng ayam. Setelah matang, barulah mereka bermunculan ke ruang makan untuk menyantapnya. Rasanya tak adil melihat mereka dengan enaknya melahap tanpa tahu prosesnya. Aku tahu ini mungkin keluhan, dan aku paham kesannnya aku tidak pandai bersyukur. Tapi ketahuilah ketika semuanya dilakukan bersama – sama tanpa merasa siapa yang paling capek, maka akan merasakan kebahagiaan bersama – sama. Rumah akan tetap hangat tanpa harus berpikir negatif melihat lawan mainnya berbicara. Hanya harapan dan doa yang bisa ku panjatkan untuk semua orang terkasihku. Semoga mereka dalam keadaan sehat walafiat, dan aku dilapangkan dadanya untuk menerima semuanya.


Minggu, 01 Februari 2026

Emosional yang Labil

Masih tentang wanita makhluk yang dikaruniai hati yang sangat lembut. Saking lembutnya dia tidak akan bisa marah dengan serius. Karena kasih sayangnya tulus. Dengan orang yang dia sayangi meski harus ngomel setiap hari, dia tetap saja mencurahkan kasih sayangnya. Tetapi ketika hatinya rapuh, dia hanya ingin mencari tempat mengadu.

Kelembutan hati seorang wanita bukanlah kelemahan melainkan anugerah terbesar yang Allah swt. berikan. Dari hati yang lembut lahir perasaan empati, kelembutan, dan mampu merasakan perasaan orang lain. Wanita sering mampu merasakan apa yang tidak terucap, menangkap kesedihan dibalik senyuman, bahkan menjadi penguat disaat orang lain merasa rapuh.

Kelembutan hati wanita tercermin dalam kesabaran dan ketulusan. Ia mampu merawan, mendidik dan mencintai tanpa banyak menuntut balasan. Dalam keluarga, kelembutan ini menjadi ketenangan. Dalam pergaulan, ia menjadi jembatan dalam kedamaian. Tak sedikit permasalahan yang ia selesaikan karena sentuhan dan kelembutan seorang wanita.

Namun, hati yang lembut juga membutuhkan penjagaan. Wanita harus mampu menyeimbangkan antara kelembutan dan ketegasan agar ia tidak mudah terluka dan dimanfaatkan. Ketika kelembutan diiringi kebijaksanaan, maka ia akan menjadi kuat. Kuat dalam kasih, sabar dalam ujian, dan tegar dalam menjalani kehidupan. 

Pernah suatu ketika, pengalaman pribadiku menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita yang dapat aku rangkum menjadi sebuah coretan dalam hidup. Bahkan kelembutan ini tidak digunakan dengan bijaksana, dan terluka.

Kebanyakan wanita yang tidak dapat memanfaatkan kelembutannya justru akan banyak berharap kepada sesama manusia. Harapan yang terlalu tinggi yang akan membuatnya lemah dan terluka hingga stress dan berakibat melukai diri sendiri ketika tidak sesuai harapannya.

Saat kata-kata tak lagi mampu mewakili perasaan yang menumpuk—lelah, kecewa, takut, atau rindu—air mata menjadi jalan keluar. Tangisan adalah mekanisme alami untuk melepaskan tekanan batin yang lama disimpan, terutama ketika peran dan tuntutan hidup mengharuskan perempuan tetap kuat di hadapan banyak orang.

Namun di balik tangisan itu, sering tersembunyi harapan sederhana: diperhatikan. Bukan untuk dikasihani, apalagi dinilai berlebihan, melainkan untuk dipahami. Seorang wanita yang menangis kerap tidak meminta solusi instan; ia hanya ingin ada yang hadir, mendengar tanpa menghakimi, dan mengakui bahwa perasaannya valid. Perhatian kecil—seperti sapaan lembut, bahu untuk bersandar, atau pertanyaan tulus “kamu baik-baik saja?”—bisa menjadi penenang yang berarti.

Sayangnya, tangisan perempuan masih sering disalahartikan sebagai drama. Padahal, ia adalah sinyal bahwa ada beban yang perlu diakui. Ketika lingkungan memberi ruang aman untuk mengekspresikan emosi, perempuan belajar bahwa kerentanan bukanlah aib. Dari sanalah kekuatan tumbuh: bukan dari menahan air mata, melainkan dari keberanian untuk jujur pada perasaan dan harapan bahwa ada yang mau memperhatikan dengan empati.

Jumat, 30 Januari 2026

Wanita dengan Segudang Perasaannya

 Mengapa wanita sering menangis sendirian?

Kalau anakku bilang sih, kalau beban yang ditanggung banyak dia akan kelelahan.

"Ibu, tahu gak kalau beban seseorang yang diterima terlalu banyak, maka dia akan kelelahan, dan stres." Ucapnya kala itu kami sedang ngobrol santai usai setor hafalah selepas sholat maghrib.

Ya memang betul sih. Karena kalau dipikir secara logika, motor yang membawa barang terlalu banyak, maka akan oleng dan hilang keseimbangan. Begitu juga manusia. Ketika badannya sudah memberikan sinyal tidak mampu, maka dia butuh istirahat. Namun, terkadang badan dengan pikiran itu tidak tersinkronisasi dengan baik. Di benaknya ingin melakukan banyak kegiatan, tapi badan sudah mulai protes. Dari situlah mulai merasa kelelahan.

Apalagi kalau dikaitkan dengan wanita yang carrier woman. Seharian menjadi kuat dan mandiri di luar dengan segala kebisingannya, tanggung jawabnya, dan tantangan yang dihadapinya. Jiwa raganya kuat. Luar biasa hingga terlihat tak ada celah kelemahannya.

Namun, jangan salah. Pulang dari dunia publik, di rumah dia justru ingin menjadi tuan putri kecil, yang serba ada ketika menginginkan sesuatu. Mulai dari makan, minum, bahkan urusan pekerjaan rumah tangga. Dari nyapu, ngepel, nyetrika, nyuci baju, dan nyuci piring semua sudah beres. 

Bahkan keinginannya untuk sekedar ditanya "capek ya, gimana seharian ini? Ada yang mau cerita?".

Tapi kebanyakan itu semua hanya diangan-angan, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga urusan di luar dan di rumah dia handle sendiri. Sampai pada puncaknya dia butuh diperhatikan merasa tidak didapatkan. Hanya karena tidak mendapatkan validasi dari orang terdekatnya. Akibatnya apa? Air yang ada di bendungan kedua ujung matanya pecah. Mengalir deras. Sesekali menjerit memanggil bahwa dia sedang capek tapi tak tahu apa yang sedang dia rasakan.

Itulah salah satu cara mereka meluapkan emosinya. Dengan menangis merupakan cara tubuh dan emosi melepas beban. 

Beberapa alasan utamanya:

1. Capek fisik + capek emosi numpuk jadi satu

Working mom bukan cuma lelah badan karena kerja dan urus rumah, tapi juga lelah mikir: anak, pekerjaan, pasangan, waktu, tanggung jawab. Saat energi habis, air mata jadi “jalan keluar” paling alami.

2. Hormon berperan besar

Wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon (estrogen, progesteron). Saat lelah, stres, atau kurang tidur, hormon ini bikin emosi lebih mudah “tumpah”.

3. Menangis = reset emosi

Secara biologis, menangis bisa menurunkan ketegangan dan hormon stres. Jadi bukan tanda lemah—justru mekanisme bertahan hidup.

4. Banyak menahan, sedikit ruang untuk diri sendiri

Working mom sering kuat di depan orang lain: di kantor profesional, di rumah jadi sandaran. Tapi jarang punya ruang untuk bilang, “Aku capek.” Saat akhirnya berhenti sebentar… keluarlah air mata.

5. Bukan karena drama, tapi karena manusia

Menangis saat capek itu tanda tubuh bilang:

“Aku perlu istirahat, didengar, dan dimengerti.”

Pak Su yang Berani Bercerita

 Senang rasanya dapat insight positif dari suami. Di sela-sela kesibukan kami, ngobrol di meja makan adalah hal yang paling ditunggu oleh ka...