Rabu, 04 Februari 2026

Bonding Berdua

 Hai blogi…

Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karena ingin dimengerti bahkan marah tanpa alasan tiba – tiba bisa diterima oleh logiku. Aku mulai memahami bahwa apa yang aku alami kemarin hanya karena aku kecapean. Semuanya aku handle. Padahal kapasitas tenaga dan badanku memang tidak mampu untuk menampung semua. Akhirnya berujung pada perasaan yang ingin dimengerti tapi tidak tahu cara menyampaikan apa yang aku rasakan saat itu.

Mulai kemarin perlahan suami mendekatiku dengan cute nya. Pura – pura bertanya padahal dia lagi meledek bahwa aku sudah baik – baik saja. Moment hari ini puncak dari bahasan kasus kemarin.

Sore tadi kami jalan – jalan mencari udara segar dan makan malam. Tadinya kami akan pergi sebelum maghrib tapi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan yang sangat lebat mengguyur daerah kami dan sekitarnya. Mulai dari daerah pegunungan tempat kami tinggal terjadi banjir yang mengakibatkan banyak area persawahan berubah menjadi sungai deras mengalir. Air yang datang terlihat keruh berwarna coklat pekat. Karena kondisi tanah sawah maka terlihat seperti air terjun keruh berwarna coklat mengalir deras dari atas jatuh ke bawah.

Selain itu di daerah lain pun terjadi hal yang tidak jauh berbeda. Tempat yang biasanya kami kunjungi untuk mencari makan, tidak bisa dilalui. Air sungai yang membanjiri persawahan meluap hingga menutupi jalan raya. Banyak para pengendara tidak dapat melewatinya karena aliran yang deras sekaligus membawa lumpur dari area persawahan. Alhasil banyak pengendara kendaraan bermotor putar balik mencari jalan yang aman.

Ada lagi di kabupaten sebelah yang berdampingan dengan daerah ku. Tepatnya di daerah Bumi Jawa, kabupaten Tegal. Hujan lebat yang datang mengguyur area ini menyebabkan banjir di jalan raya. Arus yang dihasilkan sangat deras. Ini mengakibatkan banyak kendaraan roda empat berhenti di tengah jalan karena arus yang tidak bisa diterjang. Namun, bagi pengendara roda dua ada yang berani menerobos arus deras tersebut. Salah satu pengendara bermotor mencoba melawan arus di saat hujan masih turun dengan derasnya. Di tengah perjalanan pengendara tersebut tidak kuat menahan kuatnya arus. Akhirnya, dia dan kendaraannya terbawa arus hingga si pengendara terpisah dengan kendaraannya. Kabarnya baru kendaraannya yang ditemukan tersangkut diantara bebatuan. Untuk pemiliknya belum diketemukan. semoga saja semuanya baik – baik saja.

Balik lagi ke cerita tadi ya. Setelah mendengar berita banjir yang terjadi di berbagai daerah, kami menanggalkan niat kami untuk mencari makan malam. Tapi tepat setelah sholat maghrib, keadaan cuaca sudah tak lagi hujan. Daripada kelaparan, kami putuskan untuk mencari makan sembari belanja bulanan. Meluncurlah kami dengan sepeda motor ke Bumiayu.

Sepanjang jalan kami bercerita tentang kehidupan kami yang dimulai dari nol. Dari berdagang es gabus bersama si buah hati, membuat jajan untuk diperdagangkan hingga saat ini kami sudah bisa menikmati keuletan kami sambil mengajar di sekolah. Karena waktu yang sudah tidak bisa dikondisikan, maka kesibukan itu kami tinggalkan. Meski kadang – kadang diwaktu senggang kami mencoba mengasah kemampuan yang sempat terpendam.

Kami melakukan refleksi bersama. Ada beberapa kasus dari saudara orang tua kami. Bahwasanya mencapai kehidupan yang sekarang tidak seindah yang mereka lihat. Ada masa di mana manusia diuji coba dalam kehidupannya. Ada yang lewat anak, suami, orang tua atau bahkan lewat dirinya sendiri. Sejauh mana bisa bertahan dan kuat dalam menjalani ujian itu. Jika putus di tengah jalan maka dia belum dikatakan kuat. Mengeluh itu manusiawi. Bahkan berkata kelebihan kita kepada orang lain, bukan bentuk wujud takabur melainkan itu adalah apresiasi diri karena sudah sampai dititik ini.

Orang yang sudah melalui perjalanan hidup yang menurut versi masing – masing merangkak dari bawah. Melalui ujiannya pasti akan diberikan kesuksesan. Sukses yang seperti apa? Sukses ketika hatinya sudah bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Maka disitulah bahagia akan dirasakan. Kemampuan bersyukur tanpa harus melihat orang lain di atas kita. Kemampuan melihat apa yang sedang dan sudah dimiliki dengan penuh rasa syukur tanpa takut akan kehilangannya. Butuh waktu lama untuk bisa melakukan ini. Dan ini adalah topic dan bahasan kami selama perjalanan berangkat dan pulang dari Bumiayu.

Hanya bisa bersyukur bisa berbincang dan berdialog dengan suami. Seolah itu adalah waktu langka yang kami miliki. Hanya bisa memanfaatkan waktu di jalan meski kadang pillow talk tidak sempat kami praktekkan. Bonding yang luar biasa. Banyak hal yang sudah diajarkan olehnya untukku. Termasuk belajar menjadi orang yang bisa ikhlas menerima semua keadaan tanpa protes.

Selasa, 03 Februari 2026

To whom should I tell?

 Menjadi Manusia yang Siap Menerima

Aku sering berpikir mengapa dilahirkan menjadi orang yang mempunyai sifat tidak enakan dengan orang lain. Mengapa harus peduli dengan orang lain? Mengapa harus mendahulukan orang lain? Padahal diri sendiri saja butuh untuk dipedulikan, didahulukan dan diperhatikan. apalagi berkaitan dengan kebahagiaan. Dulu aku berpikir ketika bisa membuat orang lain bahagia maka diri ini pun akan merasakannya. Ternyata hal itu salah. Semakin mencoba mengerti perasaan orang lain, semakin banyak menaruh harapan kepada mereka.

Menjadi diri sendiri sangatlah penting. Membahagiakan diri sendiri juga yang utama. Diri sendiri dulu baru orang lain. Berbeda halnya dengan tata karma / adab. Ingin dihormati? Maka harus menghormati orang lain terlebih dahulu. Soal hati, diri sendiri yang utama. Ketika hati kita bahagia maka orang lain akan merasakan apa yang kita rasakan.

Menjadi pendengar yang baik adalah cara terbaikku untuk bisa mengerti dan mendengar cerita orang lain. Sehingga mereka yang bercerita merasa nyaman dan aman. Bercerita sesuka hati dari A sampai Z tanpa merasa dihakimi. Kecenderunganku ini menjadikanku sebagai orang yang senang menyimak cerita orang lain. Lambat laun aku jadi mengetahui dan memahami karakteristik orang – orang. Yang baik aku tiru, yang buruk aku jadikan bahan evaluasi untuk diriku sendiri. Tapi itu tidak mudah, ketika semuanya menumpuk jadi satu, tanpa disadari ternyata aku juga butuh tempat curhat. Tapi aku tidak tahu kepada siapa aku harus menyandarkan kepalaku. Tidak mudah menemukan orang yang diajak cerita dan penuh perhatian hanya untuk menjadi teman cerita tanpa ditanggapi apalagi dinasihati.

Pernah suatu ketika aku diajak bicara oleh dua orang yang paling berjasa dalam hidupku yaitu ibu dan uyut. Pertama dari ibu. Beliau bercerita tentang kehidupan pribadinya. Seumur hidup aku baru pertama kali dijadikan tempat curhat oleh ibu. Ini terjadi setelah ibu purna tugas dari profesinya sebagai ASN guru di sekolah negeri di daerah Brebes.

Beliau bercerita bahwasanya Bapak sering tidak pamit ketika pulang. Bahkan komunikasi mereka tidak seterbuka dulu. Ibu berusaha mengimbangi bapak. Singkat cerita yang aku tangkap, mereka seperti kejar – kejaran. Semakin bapak lari maka ibu tidak bisa mengejarnya. Dan disitu aku hanya bisa menjadi tempat curahan tanpa memberikan solusi dan nasihat. Melihat ibu demikian, aku jadi merasa iba. Air matanya sempat akan keluar tapi beliau tahan.

Kedua, dari uyut. Disisa usia uyut yang sudah senja tidak ada seorangpun yang bisa bertahan mendengarkan ceritanya. Meskipun aku juga enggan mendengarkan, namun aku tahu suatu saat aku juga akan ada di posisi ini. Ceritanya tidak begitu penting. Tentang pengalamannya dulu ke pasar saat masih berdagang, dan sekarang yang sering bulak balik ke kamar mandi karena factor usia. Setiap 2 jam sekali di tengah malam beliau harus bulak bali ke kamar mandi. Cerita itu diceritakan hampir setiap hari.

Ibu dan uyut berani mengungkapkan ceritanya kepadaku. Aku senang dan aku terbuka menjadi bagian dari hidup mereka. Kapanpun dibutuhkan aku siap mendengarkan. Namun, ketika diri ini lemah, aku hanya bisa mengadu kepadaNya dan mencurahkan melalui tulisan ini.


Senin, 02 Februari 2026

Ko rasanya capek banget ya

Kegiatanku sebagai ibu, istri, dan wanita ternyata tidak ada berhentinya. Mulai dari pagi hingga tidur kembali menemui hari esok. Pagiku bertemu dengan anak – anak di sekolah, siangku harus bersiap mempersiapkan makan siang kalau anak dan suami pulang. Malamnya kalau lauk sudah habis, ya harus masak kembali. Belum lagi ketika cucian piring dan baju menumpuk. Rasanya pengin banget ada yang bantu tanpa harus diminta.

Malam ini pun terasa sangat melelahkan. Terlebih ketika harus menyiapkan makan malam dengan lauk ayam yang baru saja disembelih sore tadi karena salah satu kakinya cedera. Kami sekeluarga mempunyai ternak ayam kiriman dari saudara suami. Kira – kira ada 50 ekor ayam yang sedang kami pelihara. Setiap hari kami harus menyediakan pakan ayam. Sambilanku di sekolah ketika ada MBG masuk dan sisa dari makanan anak – anak, aku ambil untuk makan ayam.

Selepas pulang sekolah, aku langsung mengambil pakaian kotor yang masih bertengger di dalam keranjang samping kamar dekat tengga lantai 2 rumahku. Dari dua hari yang lalu pakaian itu masih belum terjamah. Rasanya penat melihat kondisi rumah tak kunjung rapi. Ingin berdamai dengan keadaan tapi naluriku sebagai seorang ibu tidak bisa membiarkan begitu saja. Aku tipe orang yang suka dengan kerapian dan kebersihan. Rasanya nyaman jika menghuni rumah sederhana tapi rapi dan bersih. Namun, sayang hal itu terlalu sempurna untukku lakukan sendiri. Sehingga tak jarang rasa capekku dilampiaskan ke anakku yang membutuhkan perhatianku untuk belajar.

Memasak ayam membutuhkan waktu yang lama dan tenaga yang cukup menguras. Terlebih setelah menggunakannya harus mencuci semua gerabahan yang kotor. Jikalau ada orang yang peka tanpa harus ku katakan untuk meminta tolong tapi dengan senang hati melakukannya, aku akan sangat bahagia. Membantu mencuci piring, mencuci baju, atau menyapu dan mengepel lantai. Dan itu hanya dilakukan oleh seorang nenek kepada cucunya ketika melihat dapur mulai berantakan. Ya, uyut melakukannya dengan suka rela. Meskipun kadang langkahnya yang sudah tidak segesit dulu membuatku merasa terbatas untuk bergerak. Tetapi kehadirannya membuatku merasa ringan dalam melakukan tugas rumah tangga. Menyapu lantai semampunya, melipat baju keluarga kecilku, dan selalu menemaniku memasak dengan mencuci piring dan lainnya.

Meskipun kegiatan uyut dipandang sebelah mata oleh beberapa pihak, bagiku hanya beliaulah yang tulus melakukannya tanpa harus aku minta.

Malam ini pun begitu. Ketika semuanya asyik dengan gadjetnya, aku dan uyut berada di dapur dengan menggoreng ayam. Setelah matang, barulah mereka bermunculan ke ruang makan untuk menyantapnya. Rasanya tak adil melihat mereka dengan enaknya melahap tanpa tahu prosesnya. Aku tahu ini mungkin keluhan, dan aku paham kesannnya aku tidak pandai bersyukur. Tapi ketahuilah ketika semuanya dilakukan bersama – sama tanpa merasa siapa yang paling capek, maka akan merasakan kebahagiaan bersama – sama. Rumah akan tetap hangat tanpa harus berpikir negatif melihat lawan mainnya berbicara. Hanya harapan dan doa yang bisa ku panjatkan untuk semua orang terkasihku. Semoga mereka dalam keadaan sehat walafiat, dan aku dilapangkan dadanya untuk menerima semuanya.


Minggu, 01 Februari 2026

Emosional yang Labil

Masih tentang wanita makhluk yang dikaruniai hati yang sangat lembut. Saking lembutnya dia tidak akan bisa marah dengan serius. Karena kasih sayangnya tulus. Dengan orang yang dia sayangi meski harus ngomel setiap hari, dia tetap saja mencurahkan kasih sayangnya. Tetapi ketika hatinya rapuh, dia hanya ingin mencari tempat mengadu.

Kelembutan hati seorang wanita bukanlah kelemahan melainkan anugerah terbesar yang Allah swt. berikan. Dari hati yang lembut lahir perasaan empati, kelembutan, dan mampu merasakan perasaan orang lain. Wanita sering mampu merasakan apa yang tidak terucap, menangkap kesedihan dibalik senyuman, bahkan menjadi penguat disaat orang lain merasa rapuh.

Kelembutan hati wanita tercermin dalam kesabaran dan ketulusan. Ia mampu merawan, mendidik dan mencintai tanpa banyak menuntut balasan. Dalam keluarga, kelembutan ini menjadi ketenangan. Dalam pergaulan, ia menjadi jembatan dalam kedamaian. Tak sedikit permasalahan yang ia selesaikan karena sentuhan dan kelembutan seorang wanita.

Namun, hati yang lembut juga membutuhkan penjagaan. Wanita harus mampu menyeimbangkan antara kelembutan dan ketegasan agar ia tidak mudah terluka dan dimanfaatkan. Ketika kelembutan diiringi kebijaksanaan, maka ia akan menjadi kuat. Kuat dalam kasih, sabar dalam ujian, dan tegar dalam menjalani kehidupan. 

Pernah suatu ketika, pengalaman pribadiku menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan. Cerita yang dapat aku rangkum menjadi sebuah coretan dalam hidup. Bahkan kelembutan ini tidak digunakan dengan bijaksana, dan terluka.

Kebanyakan wanita yang tidak dapat memanfaatkan kelembutannya justru akan banyak berharap kepada sesama manusia. Harapan yang terlalu tinggi yang akan membuatnya lemah dan terluka hingga stress dan berakibat melukai diri sendiri ketika tidak sesuai harapannya.

Saat kata-kata tak lagi mampu mewakili perasaan yang menumpuk—lelah, kecewa, takut, atau rindu—air mata menjadi jalan keluar. Tangisan adalah mekanisme alami untuk melepaskan tekanan batin yang lama disimpan, terutama ketika peran dan tuntutan hidup mengharuskan perempuan tetap kuat di hadapan banyak orang.

Namun di balik tangisan itu, sering tersembunyi harapan sederhana: diperhatikan. Bukan untuk dikasihani, apalagi dinilai berlebihan, melainkan untuk dipahami. Seorang wanita yang menangis kerap tidak meminta solusi instan; ia hanya ingin ada yang hadir, mendengar tanpa menghakimi, dan mengakui bahwa perasaannya valid. Perhatian kecil—seperti sapaan lembut, bahu untuk bersandar, atau pertanyaan tulus “kamu baik-baik saja?”—bisa menjadi penenang yang berarti.

Sayangnya, tangisan perempuan masih sering disalahartikan sebagai drama. Padahal, ia adalah sinyal bahwa ada beban yang perlu diakui. Ketika lingkungan memberi ruang aman untuk mengekspresikan emosi, perempuan belajar bahwa kerentanan bukanlah aib. Dari sanalah kekuatan tumbuh: bukan dari menahan air mata, melainkan dari keberanian untuk jujur pada perasaan dan harapan bahwa ada yang mau memperhatikan dengan empati.

Jumat, 30 Januari 2026

Wanita dengan Segudang Perasaannya

 Mengapa wanita sering menangis sendirian?

Kalau anakku bilang sih, kalau beban yang ditanggung banyak dia akan kelelahan.

"Ibu, tahu gak kalau beban seseorang yang diterima terlalu banyak, maka dia akan kelelahan, dan stres." Ucapnya kala itu kami sedang ngobrol santai usai setor hafalah selepas sholat maghrib.

Ya memang betul sih. Karena kalau dipikir secara logika, motor yang membawa barang terlalu banyak, maka akan oleng dan hilang keseimbangan. Begitu juga manusia. Ketika badannya sudah memberikan sinyal tidak mampu, maka dia butuh istirahat. Namun, terkadang badan dengan pikiran itu tidak tersinkronisasi dengan baik. Di benaknya ingin melakukan banyak kegiatan, tapi badan sudah mulai protes. Dari situlah mulai merasa kelelahan.

Apalagi kalau dikaitkan dengan wanita yang carrier woman. Seharian menjadi kuat dan mandiri di luar dengan segala kebisingannya, tanggung jawabnya, dan tantangan yang dihadapinya. Jiwa raganya kuat. Luar biasa hingga terlihat tak ada celah kelemahannya.

Namun, jangan salah. Pulang dari dunia publik, di rumah dia justru ingin menjadi tuan putri kecil, yang serba ada ketika menginginkan sesuatu. Mulai dari makan, minum, bahkan urusan pekerjaan rumah tangga. Dari nyapu, ngepel, nyetrika, nyuci baju, dan nyuci piring semua sudah beres. 

Bahkan keinginannya untuk sekedar ditanya "capek ya, gimana seharian ini? Ada yang mau cerita?".

Tapi kebanyakan itu semua hanya diangan-angan, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga urusan di luar dan di rumah dia handle sendiri. Sampai pada puncaknya dia butuh diperhatikan merasa tidak didapatkan. Hanya karena tidak mendapatkan validasi dari orang terdekatnya. Akibatnya apa? Air yang ada di bendungan kedua ujung matanya pecah. Mengalir deras. Sesekali menjerit memanggil bahwa dia sedang capek tapi tak tahu apa yang sedang dia rasakan.

Itulah salah satu cara mereka meluapkan emosinya. Dengan menangis merupakan cara tubuh dan emosi melepas beban. 

Beberapa alasan utamanya:

1. Capek fisik + capek emosi numpuk jadi satu

Working mom bukan cuma lelah badan karena kerja dan urus rumah, tapi juga lelah mikir: anak, pekerjaan, pasangan, waktu, tanggung jawab. Saat energi habis, air mata jadi “jalan keluar” paling alami.

2. Hormon berperan besar

Wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon (estrogen, progesteron). Saat lelah, stres, atau kurang tidur, hormon ini bikin emosi lebih mudah “tumpah”.

3. Menangis = reset emosi

Secara biologis, menangis bisa menurunkan ketegangan dan hormon stres. Jadi bukan tanda lemah—justru mekanisme bertahan hidup.

4. Banyak menahan, sedikit ruang untuk diri sendiri

Working mom sering kuat di depan orang lain: di kantor profesional, di rumah jadi sandaran. Tapi jarang punya ruang untuk bilang, “Aku capek.” Saat akhirnya berhenti sebentar… keluarlah air mata.

5. Bukan karena drama, tapi karena manusia

Menangis saat capek itu tanda tubuh bilang:

“Aku perlu istirahat, didengar, dan dimengerti.”

Aku sedang tidak.baik

 Hai bloggi,

Hari ini rasanya ko berat banget ya. Sedih, kecewa, marah tapi gak tahu ke siapa.

Dari pagi sampai siang si biasa aja hanya cuacanya yang gak mendukung. Hujan sepanjang hari. Kadang berhenti di tengah hari, tapi hujan turun lagi. Bahkan jas hujan menjadi pakaian dinas hari ini.

Hatiku juga lagi tidak baik² saja. Perasaanku membuncah ketika tahu sayur yang aku masak tadi pagi terlihat masih utuh di atas meja makan. Kecewa, dan sakit pastinya, meskioun aku tahu ada ayam yang siap menanti menyantap besok pagi.

Tapi bukan itu. Aku benar² hancur, disaat lagi seneng²nya masak, tiba² lihat sayur masih utuh saja aku merasa gak bisa menerimanya. Sepele, tapi itu mematahkanku. Bukan tidak bersyukur, tapi merasa kasihan aja, sudah bangun pagi, menyiapkan dari malam, tapi yang dilihat tidak dimakan.

Seharian di sekolah bertemu dengan anak – anak yang luar biasa aktif. Rasanya ingin sekali flashback mengajar anak usia remaja. Namun, sayangnya ada hati yang menolak itu. Kenapa? Tidak mau lagi memulai dari awal dengan adaptasi anak – anak SMP yang sangat rumit. Bagaimana tidak? Semakin besar anaknya maka semakin komplit masalahnya. Berbeda dengan anak SD hari ini ada masalah, besoknya dia menjalani hari dengan tidak terjadi apa – apa. Hanya yang kurang berkenan kebisingan suaranya. Mungkin hatiku yang sedang tidak dalam kondisi baik – baik saja.

Selepas pulang sekolah kemarin aku terima wa dari pak su harus jemput bocil. Padahal waktu sudah menunjukkan pkl 14.00 sedangkan bocil pulang pkl 13.15. Apakah dia masih bertahan di sekolah atau sudah beranjak dengan menunggu lebih dari 1 jam?

Dengan tanpa pikir panjang aku langsung bergegas mengendarai sepeda motor yang masih terparkir di depan rumah. Kondisi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan pun datang dari pagi tak kunjung berhenti. Dengan menganakan APD diselimuti jaket didalamnya, dan atasan jas hujan berwarna hijau, aku tancap gas segera menuju sekolah anakku.

Disepanjang jalan aku berharap anakku masih ada di sekolah. Hampir saja sampai tujuan, jalanan macet karena ada acara yang sedang berlangsung di halaman pondok Alhikmah. Dengan tidak sabar aku menyusuri jalan tersebut mengikuti jalannya kendaraan yang ada di depannya. Setibanya di sekolah, sudah tidak terlihat satu orangpun yang ada di dalamnya.

“Ya, semua sudah pulang. Lalu kemana Arsyel?” gumamku dalam hati.

Sebuah pesan telah aku kirimkan ke pak su, mengabarkan bahwa kondisi sekolah sudah sepi. Sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 20km/jam, ku susuri jalan sambil tengok kanan dan kiri, berharap ada jejak Arsyel.

Di depan sebuah toko, aku berhenti memarkirkan motor dan duduk. Badanku mulai oleng, tenggorokanku gatal, perutku mulai terasa sakit akibat batuk yang tak kunjung berhenti. Sebelum mual datang batuk tidak akan berhenti. Ada seitar 5 menit menerima batuk yang tiba – tiba datang.

Ku lihat hp yang ada di kantong jaketku. Ada pesan yang masuk. Pesan itu datang dari pak Su.

Keman dia? Mungkin ke tumah temannya.

Ku balas pesannya dengan singkat.

Sudah dicari, ditelpon teman – temannya, tidak ada yang melihat.

Hampir satu jam kami menyusuri jalanan Benda. Sampai aku ditanya oleh seorang pengendara jalan.

“Mba, cari siapa?”

Dengan santai ku jawab, “anak saya pak, arsyel.”

Sulanjutkan perjalananku mencari Arsyel, tetapi pak su menginginkan agar aku pulang dan dia yang menunggu di sekolah. 

Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sepatu Arsyel yang sudah rapi bertengger di dekat tempat duduk, dan tas yang diletakkan di kamar tepat di atas tempat duduk. Alhamdulillah, anaknya sudah sampai rumah dengan selamat.

Namun, hati ini tak kunjung tenang, dengan siapa dia pulang. Ku pasang status whatsapp dengan menceritakan kronologi kejadian tadi. Tidak menunggu lama, ternyata orang baik menanggapi story ku. Dia menceritakan juga bagaimana bisa bertemu dan menawarkan anakku tumpangan.

Alhamdulillah, aku bersyukur anakku dikelilingi orang baik. Tinggal bagaimana aku menyikapinya. Kepanikan ini akulah yang membuatnya.

Selasa, 25 November 2025

I mad him much

 Hari ini aku dikabari bahwa ace ada tugas kelompok dimana dia harus pulang telat. Katanya pulang pk.15.00.


Ku beritahu ayahnya agar bisa jemput dia tepat waktu, dan bisa titip lauk. Kebetulan sayur, dan lauk di rumaah habis.


Ku bertahan sampai sore karena saking laparnya sampai lupa cacing di dalam tubih berhenti berbunyi. 1 jam kemudian ayah ace beritahu bahawa ace tidak ada di tempat.


Aku cari info kesana kemari, namun tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Kemudian 1t menit ace datang bersama ayah. Batinku, susah banget ya ngasih tau kalau anaknya sudah ketemu. 


Dan, seperti dugaanku titipanku tidak ia belikan. Lagi² soalg gak ada duit. Padahal tidak lama sebelumnya dia telah melakukan banyak transaksi pembelian barang online. 


Sorenya aku hanya makan mie goreng sisa dari sekolah dengan pete. Itu peemintaan dia. Aaku kira dia akan banyak makan karena sebelum jemput dia bercerita karena laper. Mungkin aku juga yang kepedean, karena terlalu merespon keluhan itu.


Dia sudahi makan sepiring berdua, sedang aku tambahkan lagi nasinya. Laper, selaper²nya meski hanya dengan pete. Bukan soal bersyukur, aku berterimakasih sudah mau makan dengan lauk seadanya.


Tapi dari sini aku sadar adanya memetik pete, makan yang tidak habis, wa pesanan tidak direspon alih² uang tidak ada. Aku bukanlah prioritas dia.


Ternyata dia sudah makan bersama temannya di sekolah. Pete itu buah tangan untuk temannya ketika dia akan pergi setelah makan dan sholat bersama. 


Honestly, hari ini aku kecewa berat ya allah aku salah telah memberikan harapan besar ke dia. Tinggal antisipasi saja jika mau nitip pesanan, tanyakan dulu ada uang atau tidak. Atau memang aku disetting menjadi diri pribadi yang mandiri sejak kecil.


Sebagai penghibur diri. Aku sudah biasa melalui ini semua. Berdiri, bertahan, dan gak cengeng sampai sejaauh ini sudah saangat luar biasa. Terimakasih aku. Aku sayang aku. Maaf karena telah membuatmu selalu mengalah demi orang lain. 🤗


Gunung kembang, 26 November 2025, 00.14 wib

Bonding Berdua

 Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...