Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati yang kini ada dalam perutku. Perubahan hormon yang begitu drastis aku rasakan. Morning sickness, mual di malam hari, dan perubahan emosional yang labil.
Alhamdulillah selesai kontrak tiga bulan, kami diberi amanah oleh Allah menjadi orang tua baru. Dunia baru yang aku jalani saat itu benar-benar membuatku frustasi. Tak ada teman di rumah. Aku hanya ditemani uyut. Kami berdua setiap hari sebagai penunggu rumah sedangkan keluarga yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekolah, mengajar di instansi baik di SMP mauoun SMA.
Kehidupanku yang ditemami oleh nenek-nenek berusia lanjut tidak lantas mengusik kesepianku. Justru kami berdua sering kali berselisih paham. Uyut dengan karakter rewelnya yang ingin mengatur orang hamil. Misal tidak boleh tidur diwaktu rawan yaitu pukul 10.00-12.00. Jika tidur dijam tersebut maka darah putih yang ada dalam tubuh akan naik dan itu merusak penglihatan. Namun, beda halnya dengan uyut. Penjelasan yang ia berikan justru membuatku tidak percaya dan tidak ingin mematuhinya. Katanya pamali. Tidak boleh tidur dijam tersebut dan jangan banyak tanya.
Daripada harus panjang kali lebar, kali ini aku turuti. Ku tahan kantuk yang menggelayut di mataku. Hampir sedikit lagi mataku terpejam. Jika dibolehkan tidur akan membuatku merasa di atas kasur yang sangat nyaman. Saking ngantuknya, tak terasa aku terlelap. Tidak lama kemudian aku tersadar. Untuk menghindari rasa kantuk, ku putuskan jalan-jalan ke rumah Lik Yuni. Dia adalah istri dari om ku.
Selama aku di rumah, tempat berbagi ceritaku dengan dia. Suka, duka dan lucu kami lalui bersama. Kebetulan dia mempunyai anak kecil usia satu tahun. Dengan begitu aku bisa bertukar pengalaman mengenai proses melahirkan maupun mengasuh anak.
Lik Yuni menikah dengan om ku ketika aku duduk di bangku kuliah. Saat itu aku sedang berkecimpung di semester 7. Hampir selesai S1 ku. Kini aku dan dia seperti teman dekat meski usia terpaut jauh. Karena om dengan dia usianya cukup jauh, terpaut sepuluh tahun, Lik Yuni lebih muda dari om ku membuatku lebih nyaman bercengkerama dengannya.