Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 20 Maret 2026

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sholat. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah lugu orang tua dari ibunya. Bagi Arsyel, ayahnya adalah orang terhebat di dunia. Setiap hari ia selalu memperhatikan apa yang ayahnya lakukan dengan penuh kagum.

Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.

Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.

Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.

Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.

Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.

Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.

“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.

Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”

Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.

“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.

Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.

Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.

Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya. 

Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.

Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”

Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.

Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Selasa, 10 Maret 2026

Ketika semuanya bertumpu padamu.

Bulan ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda, lantunan ayat Alquran terdengar dari segala penjuru, dan rumah - rumah mulai hidup lebih awal dari biasanya. Udara pagi yang tenang lebih terasa. Di sebuah rumah terlihat lampu dapur sudah mulai menyala sejak dini hari. Ibu Rina sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya. Dia mulai menyiapkan sahur untuk keluarganya.

Setiap ramadhan tiba segala sesuatu bertumpu padanya. Mulai dari menanak nasi, menyiapkan lauk sederhana, lalu membangunkan sahur anak - anaknya. Setelah sahur dia membersihkan dapur, menyiapkan keperluan hari itu, dan menjalankan pekerjaan seperti biasanya.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Menjelang sore, ketika badan terasa lemas menahan lapar dan haus, Rina harus menyiapkan buka untuk keluarganya. Kadang hanya kolak pisang dan gorengan. Tidak jarang hanya bertemankan sayur yang dibuat dengan penuh perhatian.

Suatu sore, tubuhnya terasa sangat lemas. Sejak pagi dia belum beristirahat. Saat memotong sayur dia berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Dalam hatinya dia berpikir, "Kenapa ya semuanya seolah bertumpu padaku?"

Namun tak lama kemudian dia mendengar di ruang depan suara anaknya melantunkan ayat suci alquran dengan suara terbata - bata, penuh semangat. Belum habis lelahnya, dia tersenyum merasakan tenang di hatinya. 

Menjelang buka, suaminya menghampirinya di dapur sambil berkata,"Hari ini pasti capek sekali ya. Terimakasih sudah menyiapkan semuanya."

Kata sederhana yang dia dengar membuatnya sadar bahwa apa yang sudah dia perbuat bukan beban semata. Ada kasih sayang di dalamnya. Ada kebersamaan yang dia rasakan, membuatnya merasa ramadhan lebih berarti dan bermakna.

Malam itu setelah shalat tarawih, Rina duduk sejenak di teras rumahnya. Ia menyadari satu hal penting. Memang banyak hal yang dia kerjakan, seolah semua bertumpu padanya. Tapi, kekuatan yang ia peroleh tidak sepenuhnya berasal dari dalam dirinya.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecilnya di bulan Ramadhan adalah bagian dari ibadah. Dan di balik semua kelelahan, selalu ada pertolongan dari Allah yang membuatnya tetap kuat.

Minggu, 08 Maret 2026

Malam ini ku terbangun dari tidurku tepat pukul 23.00. Niat hati ingin kembali tertidur, tapi apa daya aku harus menyelesaikan misiku sebelum hari berganti. Pejuang Klip. Mengumpulkan niatnya saja sudah luar biasa. Jadi aku harus bangkit demi sebuah wadah untuk sembuh.

Berita duka yang menimpa musisi artis sekaligus penyanyi "nuansa bening" menyita pikiranku saat ini. Selain dia adalah artis favoritku pada masanya terlebih membaca ceritanya membuatku berpikir, menjadi orang baik identik disayang oleh Allah dan kembali di sisiNya. Aku termakan oleh kalimat salah satu netizen. Wallahualam bisshowab.

Dalam benakku ku memikirkan suamiku yang sibuk dengan urusan pribadinya. Entah dirasa atau tidak, kesibukannya memelihara ayam cukup menyita tenaga, waktu, dan pikirannya. Dia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya dua hari lalu adalah bentuk protes tubuhnya.

Badannya yang tiba-tiba drop saat menyelesaikan kandang di malam hati bukti bahwa badannya sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tingkah lakunya akhir-akhir ini yang menginginkan orang lain bahagia perlahan di lakukan. Mengajakku berjalan-jalan meski hanya menghabiskan waktu, membuat uyut lebih mudah akses mobilenya dan ada banyak lagi.

Dua hari lalu dia lembur membuat kandang ayam di malam hari hingga dini hari. Pukul 03.00 dia baru bisa istirahat meski pekerjaannya belum selesai. Dan hari ini setelah menemaniku keliling Bumiayu dengan membeli lauk untuk buka bersama, ternyata saat ini dia tidak ada di rumah.

Ku coba kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata, dia sedang ada di Jatirokeh untuk mengambil bahan makanan ayam. Aku gak habis pikir di jam ini masih kluyuran pulang ke Jatirokeh untuk ambil bahan makanan ayam, sedangkan hal itu bisa dia lakukan besok hari atau dilain kesempatan. Aku belum tanya mengapa ini dia lakukan. 

Terkadang effort yang seperti ini menjadikan kecemburuan Arsyel kepada ayam ayahnya. Lucu sih, tapi realitanya demikian. 

Hanya doa yang bisa aku panjatkan supaya pulang selamat dan bisa hadir saat jadwal ronda datang di waktu yang bersamaan. Dia sudah baik kepada siapapun, berharap apa yang sudab ditulis netizen dan menghasut pikiranku itu salah.

Sebenarnya pengin banget ngomel tapi apa daya pernah aku lakukan, tapi tidak lantas membuatnya bergeming. Berpikir posititf salah satu jalan agar apa yang sedang dia kerjakan bisa berjalan lancar. Aamii .

Jumat, 06 Maret 2026

Tidak Boleh Meminta Pendapat Anak Usia dibawah 14 Tahun

 Anak usia 14 tahun sudah mempunyai otak yang mengalami perubahan dan cukup matang. Namun, masih ada perbedaan dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perubahan fisik juga sudah sangat terlihat terutama pada tinggi dan berat badan anak.

Dengan adanya perubahan yang terjadi pada mereka, membuktikan bahwa anak diusia tersebut sudah bisa membuat keputusan sendiri. Baik itu yang bersifat membangun maupun kritikan. Dengan begitu anak sudah dapat diajak diskusi. Meskipun demikian anak masih membutuhkan kontrol orang tua. Karena diusia ini anak masih merasa menjajaki apa yang ingin mereka coba. Rasa penasaran yang terlalu tinggi sering menjadi alasan agar mereka bisa membatasi diri.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap orang tua di seluruh dunia. Termasuk kita sebagai orang tua yang bijak selayaknya harus bisa menjadi pendengar yang tulus untuk anaknya. Mendengarkan perkataan anak adalah salah satu bonding yang harus dipenuhi. Mengapa? Selain membuat anak lebih percaya diri, mereka juga akan memiliki rasa yang dihargai oleh orang terdekatnya. Timbul rasa aman, nyaman, dan kepercayaan yang tumbuh. Ini juga sangat membantu untuk mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kecerdasan emosional.

Contoh ketika mereka pulang sekolah adalah momen sangat pas untuk mendengarkan apa yang mereka lalui di sekolah. Bukan untuk menginterogasi tapi mencoba membuka hati mereka. Dengan begitu apakah mereka mau bercerita atau tidak. Jika mereka tidak mau bercerita bukan artinya tidak mau tapi belum bisa untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Butuh waktu dan suasana yang tepat untuk dapat mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Ketika anak sudah mulai bercerita hendaknya tidak langsung memotong pembicaraan atau menertawakannya. Menjadi pendengar yang baik dengan tetap bersikap antusias supaya anak tetap memberikan rasa percaya bahwa ceritanya sedang didengarkan oleh orangg tuanya. Sehingga ketika anak akan bercerita kembali, dia tidak akan segan untuk memulainya tanpa diminta.

Terkadang yang sering kita jumpai saat anak bercerita adalah orang tua tidak sabar menunggu. Selain itu, lebih dulu menyimpulkan apa yang ingin anak curahkan. Ini mengakibatkan anak cenderung mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Cerita berbeda halnya dengan memintai pendapat. Anak usia dibawah 14 tahun belum bisa dimintai pendapat. Karena disamping usianya yang belum matang. Mereka belum bisa membuat keputusan yang pasti. Untuk itu kita sebagai orang tua masih memegang kendali atas mereka.

Misal ketika anak ditanya, "Mau makan apa besok?"

Lalu jawabannya, "Makan ayam goreng."

Kemudian kita sebagai orang tua lupa akan permintaan anak dan meminta maaf kepadanya. Tetapi anak dengan tidak sengaja mengucapkan, "Ah ibu ini."

Padahal dalam surat al-Isra:23 dijelaskan bahwa tidak boleh mengatakan "ah" pada kedua orang tuamu, tapi harus dengan kata yang mulia.

Jadi selama anak usia di bawah 14 tahun dan belum dewasa, mereka masih di bawah kendali orang tuanya. Jika mereka dibiarkan dimintai pendapatnya, efeknya mereka akan terbiasa membantah dan itu perlakuan yang keliru dalam mendidik anak. (Sumber: Khalid Basalamah).

Rabu, 04 Maret 2026

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.

Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.

“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.

Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.

Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.

Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.

Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.

Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.

“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.

“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.

Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.

Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Minggu, 01 Maret 2026

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yang sedang terjadi oleh negara - negara besar yaitu Amerika Serikat dan Iran. Konflik mereka mulai memanas. 

Meninggalnya Khamenei berpikir bahwa Israel akan menang karena telah membunuhnya. Namun di sisi lain Iran tetap kokoh dengan perjuangannya. Dengan ramainya dunia diributkan oleh berita demikian, semakin membuat hati ini merasa sesak. Sebenarnya ada apa dunia ini?

Hanya bisa berdoa, agar semuanya baik - baik saja. Lindungilah kami dalam genggamanMu ya Allah.

Ternyata memikirkan hal demikian saja bisa menguras tenaga dan pikiranku ya Allah. Sampai kejadian pagi tadi saat sahur, aku tidak tahu kalau belum masak nasi. Lepas buka puasa, badanku rasanya lemas, tak bertenaga. Untuk sholat tarawihpun rasanya tinggal sisa tenaga yang aku punya hanya 10%. Selebihnya tinggal mengikuti imam.

Malam itu suasana Ramadan di rumah terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 03.45. Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak 03.15, tapi karena terlalu lelah setelah tarawih di masjid dekat rumah, aku mematikannya dan tertidur lagi.

Ketika terbangun, jantungku langsung berdegup kencang.

“Astaghfirullah… sudah hampir imsak!”

Dengan mata masih setengah terpejam, aku berlari ke dapur. Niatnya ingin menanak nasi untuk sahur. Rice cooker segera kunyalakan, beras sudah dicuci, air sudah dituang. Tapi setelah menekan tombolnya, aku baru sadar—waktu tak mungkin cukup. Menanak nasi butuh waktu, sedangkan adzan Subuh tinggal hitungan menit.

Keringat dingin mulai terasa. Perut sudah lapar, tapi nasi belum matang. Aku menatap rice cooker itu dengan pasrah.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah, “Sudah imsak belum?”

“Sebentar lagi, Yah…” jawabku dengan suara panik.

Aku membuka tudung saji. Hanya ada sisa lauk semalam: sedikit telur dadar, tempe goreng dingin, dan sambal. Tak ada nasi. Aku menelan ludah.

Dalam hati sempat muncul penyesalan, kenapa tadi tidak langsung bangun? Kenapa harus menunda?

Akhirnya aku mengambil roti tawar yang hampir terlupakan di sudut meja. Kutambahkan sedikit selai. Telur dadar dan tempe goreng kupanaskan sebentar. Tanpa nasi, tanpa menu lengkap seperti biasanya.

Kami sekeluarga duduk sederhana di meja makan. Tidak ada keluhan. Ibu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Yang penting niat sahurnya,” katanya menenangkan.

Aku mengangguk pelan. Saat adzan Subuh berkumandang, suasana terasa syahdu. Meski sahur hanya dengan roti, telur, dan tempe, ada rasa hangat yang berbeda di hati.

Hari itu aku belajar sesuatu.

Ramadan bukan tentang seberapa mewah menu sahur kita. Bukan tentang nasi hangat atau lauk lengkap. Tapi tentang keikhlasan, kesiapan, dan kesungguhan menjalankan ibadah.

Siang harinya, meski perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya, aku teringat sahur sederhana tadi. Justru dari kejadian telat masak nasi itu, aku belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa yang ada.

Sejak hari itu, setiap Ramadan, aku selalu memasang dua alarm.

Dan setiap kali melihat nasi mengepul hangat di meja sahur, aku tersenyum—teringat momen ketika kami pernah sahur dengan makanan seadanya, tapi hati terasa begitu penuh.

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sho...