Selasa, 10 Februari 2026

Laki-laki Tangguh, Hati Trenyuh (Arsyel)

Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan oleh mbah kakungnya, tidak dijawab apa adanya. Dia hanya menjawab "tidak apa-apa, aku baik-baik saja".

Kejadiannya kemarin hari Senin, 9 Februari 2026. Kebetulan dia sedang kerja kelompok dengan teman-temannya. Jadi, aku yang harus menjemputnya pukul 15.00 wib.

Sepanjang jalan pulang, setelah membeli permen mint kesukaannya, dia bercerita di kendaraan roda dua kami. Dengan antusias sambil sedikit merubah nada bicaranya ketika ada cerita yang membuat dia marah. Atau nada bicara lawannya yang menunjukkan ketidaksukaannya. 

Ceritanya dia sedang meledek temannya bernama Kayla. Teman satu kelasnya yang lolos OMNAS tingkat nasional. Mendapatkan uang pembinaan, sertifikat dan perunggu. Anaknya cuek, pintar, gaul dan cantik. Persis seperti ibunya saat kami bertemu di sekolah. Kami bercerita perkembangan anak-anak seusia mereka. 

Karakter ibunya cuek, pemberani, supel dan gampang bergaul. Dia pernah ngelabrak orang yang mengatakan dirinya tidak sopan di deoan umum. Ternyata, hal tersebut sama dilakukan oleh anaknya, Kayla. Kayla melabrak teman satu kelasnya gara-gara salah satu teman lainnya mengadu bahwa ada salah satu teman OMNAS nya tidak ikut lagi gara-gara dia. Merasa tidak puas dengan aduan temannya, besok hari dia menemuinya dan ngomong keras sambil mengamuk tangannya ke meja. Sontak lawan bicaranya takut. Dari situ dia merasa plong dan cerita ke maminya kalau dia telah melabrak temannya. Katanya puas banget bisa melakukan itu.

Dilihat dari karakter keduanya yang cuek dan pemberani, dapat disimpulkan jika Kayla disakiti maka dia akan membalasnya. Nah, kebetulan Arsyel sedang bermain dengan Kayla. Entah kata-kata apa yang dia ucapkan membuat Kayla sakit hati. Padahal tidak ada maksud mengarah kesitu. Terbukti ketika Arsyel bermain dengan teman lakai-lakinya, Kayla mendorongnya dengan keras. Karena kesakitan, dia mencari -cari siapa pelakunya tapi tidak ditemukan. Matanya memerah menahan sakit. 

Faraz berkata, "tadi yang dorong Kayla."

Dengan rasa tidak percaya dan bertanya - tanya, Arsyel tidak memperpanjang urusan itu. Meski nyeri di kakinya masih terasa.

Saat pulang sekolah, dia menangis sambil berjalan dari kelas ke tempat parkiran dengan tangan menutupi matanya.

"Matanya merah. Kenapa?" Tanya mbah kakung khawatir.

Arsyel menjawab, "baik ko mbah, tadi kelilipan."

Faraz pun memperhatikannya dan memeberikan kode bertanya apa yang terjadi dengannya.

Kejadian itu sirna sekejap ketika mereka mengerjakan tugas kelompom bersama. Ada 6-7 orang yang belajar kelompok bersama. 

Sore ini, dia baru bercerita bahwa matanya memerah karena nangis dari kejadian yang dia alami oleh Kayla. Menurutnya, Kayla gak pernah melakukan hal semacam itu ke dia. Aku hanya bisa memberikan arahan. 

"Jika anak perempuan seperti Kayla mau didekati maka hati-hati dalam berkata. Dia tipe anak yang sensitif." Kataku sembari memakaikan baju hangat.

"Iya, mulai sekarang gak akan bercandaan lagi sama dia." Jawabnya lirih.

Insight yang aku dapat dari kejadian ini adalah manusia memang diciptakan dengan perasaan lembutnya. Kelembutan inilah yang membuat manusia memiliki sifat tidak tega melihat yang lain tersakiti. Meskipun laki-laki, mengakui perasaan yang dia rasakan saat itu adalah sebuah validasi diri. Untuk mengontrol emosinya dan tahu cara mengatasinya.

Senin, 09 Februari 2026

Sebalku Tak Beralasan

Pulang dari Purwokerto kemarin setelah mengantar Arsyel lomba, ayah tidak langsung mengikuti kami. Karena mbah datang maka aku, dan Arsyel naik mobil sedang ayah naik motor dengan dua helm diletakkan di bagian bawah motor.

Kami sampai di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Aku, dan Arsyel bersekancar di dunia maya. Memegang gawai masing-masing, dan sibuk dengan dunia sendiri sambil rebahan. Efek jalan-jalan di mol membuat badanku terasa lemas, dan ingin segera meluruskannya.

Beberapa waktu kemudian aku pulang ke rumah sedangkan Arsyel masih di rumah mbahnya. Dikarenakan mbah kakung akan pergi ke rumah sakit menjenguk temannya, maka aku tidak terlalu lama berada di rumah. Setelah memberikan makan untuk ayam-ayam ayah, aku langsung kembali ke rumah ibu. Menemaninya yang sedang menyiapkan bahan pokok untuk acara slametan menjelang lebaran.

Setibanya di rumah ibu, bapak sudah berangkat dengan teman-temannya ke rumah sakit. Arsyel masih asyik dengan gawainya. Ibu asyik membungkusi teh, telor, dan mie instan.

Tiba-tiba perutku memberikan sinyal darurat. Suara merdu datang dari arah perut. Musik keroncong mulai berlabuh. Tanda lapar mulai dirasakan.

Ku tengok pemanas nasi. Ternyata nasi sudah habis. Lauk masih tersedia meski tidak menyelera. Karena lapar, aku japri suami untuk membelikanku lumpia boom did dekat depan kampus Unsoed. Lumpia favorit sejak aku, dan adikku berdomisili di situ sebagai mahasiswa.

Aku kira jawaban suami yang menjawab "ya" adalah tanda bahwa dia sanggup membelinya. Tapi prediksiku salah. Pukul 20.00 kulayangkan kembali wa untuknya. Bahwa aku akan makan setelah suami pulang dengan lauk lumpia boom. Jawabannya membuatku meluap dan naik darah. Dia masih di Purwokerto dan belum beranjak sama sekali.

Jika perut ayam nomor satau, lalu perut istri nomor berapa?

Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Hingga dia menyarankan untuk membuat mie instan demi terjaganya kewarasan. Aku menuruti apa yanh dia sarankan, demi kewarasan sendiri. Meskipun tidak menyelera, karena sebenarnya ingin nasi dan lumpia boom. Aku dan Arsyel menghabiskan makanan bersama. 

Minggu, 08 Februari 2026

Out of The Box

Pagi ini diawali dengan rasa bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memghirup udara segar dan menikmati cerahnya hari Minggu. Hari libur yang ditunggu oleh semua orang pekerja, dimana di hari ini semuanya ingin bersantai ria tanpa gangguan apapun. Bahkan sebagai working mom, aku sangat menunggu hari Minggu. Ditunggu begitu lama, tapi habisnya cepat banget dan tiba² Senin sudah di depan mata. Namun, itu semua harus dinikmati dan dijalani.

Hari ini aku, suami dan Arsyel meluncur ke kota Satria, Purwokerto. Arsyel mengikuti olimpiade sains pada acara yang diadakan oleh Intan Mutia melalui JSO (Jenius Science Olympiade). Setelah 2 minggu kemarin sempat mengikuti OMNAS tingkat provinsi di Solo Raya. Sekarang pindah ke Purwokerto pada ajang penyisihan kota. 

Kira-kira seminggu dia latihan soal. Meski tidak full berlatih, paling tidak ada bekal untuk mengerjakan soal. Tidak mulai dari nol banget. Harapannya, ada yang keluar soalnya dari yang sudah dia pelajari.

Proses yang panjang untuk bisa memulihkan semangat dia pasca omnas yang tidak lolos ke tahap nasional. Tahun lalu dia bisa maju nasional di Surabaya melalui omnas. Sempat down karena dia lebih memilih untuk sains level 1. Tetapi, kata ayah dan aku kayaknya gak etis banget mengaku kelas 2 padahal realitanya dia kelas 3. Harus ke heal dia supaya mau ikut meski naik di level 2. Trauma sebenarnya, karena omnas kemarin dia gagal di level 2.

Kami memberikan semangat bahwa proses itu tidak butuh waktu instan. Semua ada tahapannya. Yang tadinya kosong setelah ikut atau belajar maka ada isinya. Lomba itu proses pembentukan mental. Kalah menang itu biasa. Dan, usaha tidak akan menghianati hasil. Jika kalah, mungkin belum rejekinya. Jika menang itu adalah bonus dari proses yang sudah dijalani.

Sudah mau ikut berpartisipasi saja itu merupakan hal yang luar biasa. Mau menjajaki dunia di luar zona nyamannya bukanlah hal yang mudah. Melawan diri sendiri. Melawan rasa malas. Melawan hawa nafsu, dan memanage waktu. Bagaimana menempatkan hal yang prioritas dan minoritas. Melalui ikutserta lomba, dia belajar banyak hal. Pun denganku adanya event ini membuatku lebih banyak bersabar dan ikut belajar mengulang kembali materi yang sudah lama tidak dijamah.

Banyak harapan yang ia gantungkan di olimpiade ini. Semoga membuahkan hasil dan tidak mengecewakan.

Sabtu, 07 Februari 2026

Support sistemku

Kejadian kemarin benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Mulai dari memikirkan apa yang Mini katakan ke suami, menghasut suami supaya aku dibenci dan dicaci olehnya. Memberikan bukti yang menurut Mini kuat tapi aku percaya suami tidak sebodoh itu percaya padanya. Memikirkan batasan rumah tangga yang sudah dijebol oleh orang lain.

Overthinking ini membuatku gila. Semalaman ada kira-kira 30 menit aku mengurung diri di kamar. Sementara suami dan anakku sibuk dengan urusannya karena tidak berani menghampiriku yang sedang kacau. Mereka memberikanku ruang untuk menenangkan diri. Aku yang di dalam kamar meluapkan isi hati dan pikiranku. Ada rasa gagal menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka. Difitnah meski belum tentu kebenarannya. Ternyata begini ya dibully di dunia maya yang langsung ke sumbernya.

Alih-alih mengumpulkan bukti yang tidak akurat, dia ingin merusak keharmonisan rumah tangga kami. Tidak cukup sampai disitu saja, aku memberanikan diri untuk memberitahu suaminya apa yang dia lakukan sampai menghampiri suamiku. Dia tidak ingim menjadi satu-satunya korban. Dia ingin ada korban-korban lainnya.

Setelah selesai dengan kekacauanku di kamar, ku buka pintu kamarku. Mereka berdua tidak beranjak dari kamar belajar Arsyel. Keduanya menghampiriku. Memberikan pelukan hangat yang mereka bisa. Arsyel dengan ketulusannya memberikan kata - kata, "ibu Ace sedang belajar nih bu". Seolah memberikan upaya bahwa aku bisa bu membuat ibu tenang. Jangan bersedih lagi.

Sedangkan suami dengan segala upaya membuatku tersenyum. Dari ocehan recehnya, tingkahnya, dan lelucon yang membuat logikaku berjalan. 

Terimakasih tak terhingga untuk kalian berdua. Meskipun aku kacau tapi kalian selalu ada di sampingku. Sifat kekanak-kanakan dan manjaku tidak bisa dihilangkan. Tidak akan begini jadinya kalau aku bercerita selain kepada kalian. Solutif. Berusaha membuatku tertawa. Kalau hal ini diketahui oleh bapak dan ibu, mereka justru akan panik dan bisa jadi masalahnya melebar.

Kalian berdua adalah semangatku untuk hidup dan bangkit kembali. Ketulusan kalianlah yang memberikanku arti untuk kembali tertawa. Semangatku dalam menjalani hari. Kalau seorang wanita bersedih, maka rumah akan terlihat sepi. Begitu yang mereka rasakan. Bahkan untuk bertanya mengapa pun mereka tidak berani. Hanya sentuhan lembut penuh kasih sayang yang bisa mereka berikan. Big thanks to our beloved family. Sehat selalu ayah dan Arsyel. Semoga selalu diberkahi Allah dalam setiap langkah dan aktivitas yang kalian lakukan. Aamiin.

Gak Adil

 Tiba-tiba perasaanku ko gak enak ya. Selepas dengerin cerita suami dengan antusias, kaya ada rasa ko gini si, gak adil banget.

Dulu pas aku disamperin sama Mini ke sekolah dituduh perusak keharmonisan mereka, aku merasa merasa takut. Sebelum dia ke SD ibu mertuanya yang ikut memperingatkanku dan secara tidak langsung mendukung apa yang menantunya adukan. Padahal kami sudah melalui mediasi berlima. Aku, suami, ibu mertua Mini, dan suaminya. Aku kira sudah cukup dan selesai. Tapi dia malah datang ke sekolah minta aku buat gak komunikasi sama rekan kerjaku yang posisinya adalah suami dia. Saat itu aku benar-benar lost contact. Gak berkomunikasi sama dia lagi, bahkan ketika ditanya soal pekerjaan, aku memilih diam. Sampai nama baikku tersebar kemana-mana dengan image negatif di mata orang lain.

Kali ini, justru dia yang nyamperin suamiku sendirian, di sekolah, di lab berdua!

Sekilas terlintas ko gak adil ya. Mengapa dia yang menuduhku yang jelas - jelas ada orang lain ketika kami ngobrol membahas proyek sekolah. Tapi dia? Dia berharap hanya ada dia dan suamiku tanpa ada orang lain. Malah ngajak makan bareng berempat. Buat apa coba? Adu domba?

Peristiwa ini sebenarnya tidak diperbolehkan olehnya kalau suami cerita ke aku. Nambah curiga dong. Maksudnya apa coba? Kalau iya benar terjadi mungkin aku yang akan menuduh mereka yang bukan - bukan. Tapi itu urusan mereka. Aku sudah senang hidup begini. Tenang. Tanpa ada gangguan. Bahkan ketika suami tidak bisa jemput bocilpun, tak ada sedikit kecurigaanku tentang itu.

Beruntung suami memiliki kebiasaan ahli hisab. Kebiasaan ini tidak ingin diketahui langsung olehku dan anakku. Baginya itu aib. Tapi tak kunjung berhenti. Jadi, ketika dia me time, dia dengan segala keleluasaannya tidak akan diganggu oleh aku, dan Arsyel. Karena aku juga tidak mau dekat-dekat dengannya kalau lagi me time. Arsyel, juga sudah banyak memgerti kalau ayahnya sedang me time. Nah bisa aja kan dia lagi me time terus melakukan hal yang berbau wanita. Itu sih pikiran jahat yang terlintas di kepalaku. Tapi aku percaya suamiku bisa jaga diri dan keluarga.

Eh, suami bilang kalau dia nangis di depannya sambil bercerita kehidupan rumah tangganya. Sungguh memalukan. Kalau saja aku tak memperhitungkan efek jangka panjang, dah ku samperin dia di sekolah tempat dia kerja. Lakukan apa yang pernah dia lakukan ke aku dulu. Sayangnya, aku lebih menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku. Lebih memilih diam dan upgrade diri. Banyak yang lebih penting yang harus aku pikirkan.

Ternyata aku tidak sekuat apa yang aku katakan. Wanita juga manusia yang butuh diperhatikan, dan validasi perasaannya. Pecah sudah air mata ini keluar deras. Rasa bersalah yang hinggap menggelayut di kepala dan hatiku. 

Saat di mana aku ditenangin oleh suami, kata yang terucap dari mulutku adalah bahwa aku sudah bertanggung jawab, aku sudah minta maaf dengan kejadian tiga tahun lalu. Suami merasa iba melihat istrinya menangis sesenggukan. Satu kalimat yang dia ucapkan bahwa "ayah sayang ibu". Kalimat tulus yang terucap terdengar sangat serius dari hati.

Aku peluk dia erat sambil mengangguk. Seketika itu hatiku berasa seperti disiram air dingin. Adem nyess. Suamiku masih dalam genggaman. 

Kalau dipikir agak lebay ya, karena masalah ini terulang kembali tanpa bukti yang kuat. Dia hanya ingin memperkeruh urusan dia sendiri dengan keluarganya. Sementara kami semakin diterpa angin yang kuat maka pohon tinggi itu semakin kokoh.

Aku utarakan apa yang aku pikirkan. Semuanya terasa ringan. Peristiwa ini menyita kesehatan mentalku. Anakku juga ikut khawatir dengan perubahan yang aku alami. Tapi dari kejadian ini, ada hikmah dibaliknya. Suami jadi bisa membersamai anak belajar. Arsyel juga tidak usah disuruh untuk belajar dan sholat.


Jumat, 06 Februari 2026

Pak Su yang Berani Bercerita

 Senang rasanya dapat insight positif dari suami. Di sela-sela kesibukan kami, ngobrol di meja makan adalah hal yang paling ditunggu oleh kami (aku dan arsyel). Sayangnya, sore ini Arsyel sudah pindah tempat, ikut menemani mbahnya.

Berawal dari ganti peran menjemput Arsyel yang memberikan asumsi bahwa ayah sedang ada tamu. Jadi, tidak bisa menjemput Arsyel di sekolah. Lalu, akulah yang harus turun tangan menjemputnya.

Di tengah perjalanan aku bertemu istri teman kerjaku dulu saat masih jadi guru honorer di SMP. Sebut saja Mini. Orangnya sih gak mini, cuma namanya saja yang Tumini dan dipanggil Mini.

Selama menjadi teman karir mengajar di SMP dan berjibaku di urusan kesiswaan. Kami (aku, suami Mini, Bu Baety) terlihat sepertu keluarga. Pemikiran - pemikiran kami sangat sinkron tanpa perlu dijelaskan detil. Dengan adanya kesesuaian pemikiran kami, maka atasan memilih kami memegang kubu kesiswaan. Bu Baety sebagai waka kesiswaan, pak Nurdin (suami Mini) sebagai pembina OSIS dan aku fokus di Pramuka. Kadang juga dipertemukan dalam satu wadah OSIS dan bekerjasama.

Singkat cerita kedekatan kami menjadi "horor". Di mana istri pak Nurdin memandang sebelah mata. Sehingga rumor kami menjadi panas dan negatif. Sempat menjadi perbincangan panas di sekolah. Bahkan atasanpun menerima "ocehan" Mini karena kasus ini.

Rumor itu cukup menyita waktu dan tenaga. Hanya gara-gara istri yang cemburuan dan diselimuti kecurigaan, semua warga rekan guru dan staf terkena dampaknya. Namun, Allah Maha Baik. Tidak lama rumor itu beredar aku diterima menjadi PPPK yang dimutasi ke ranah kerja baru di SD. Alhamdulillah dengan adanya SK, maka aku bisa bernafas tidak lagi diributkan dengan masalah keluarga mereka.

Tetapi tidak cukup disitu saja. Beberapa bulan setelah aku pindah tugas, Mini menghampiriku di sekolah baru. Dia bercerita panjang. Intinya aku tidak boleh berkomunikasi dengan suaminya. Padahal sejak dipindah dari SMP kami lost contact. Kecurigaan wanita ini berlebihan. Kasus sudah ditutup tapi dia ingin berlanjut. Permasalahan intern RT nya harus diberitahukan oleh orang lain termasuk aku yang sedang asyik mengajar.

Dan hari ini setelah menjelas dua tahun berlalu, Mini datang menghampiri suamiku. Dengan sangat sigap suamiku pulang dari kerjanya sebagai guru honorer di sebuah yayasan pondok. Hal yang aku pikirkan dia tidak bisa menjemput Arsyel karena ada tamu itu benar. Tapi yang membuat aku kaget, ternyata tamunya adalah rivalku saat di SMP. Lucu dan lebih ke "ko bisa?, "mau apa dia?", "mengapa cerita masalah RT nya ke suami orang?"

Dengan penuh kehati-hatian suamiku melanjutkan ceritanya. Aku paham ada beberapa kejadian yang mungkin tidak semua dia ceritakan karena menghindari emosiku yang mungkin bisa melunjak. Terbukti ketika dia bercerita, responku langsung agresif. Yang biasanya tanpa ekspresi, kali ini lebih ke ingin tahu, dan mungkin ada sedikit rasa curiga. Tapi tidak ku lakukan.

Mendengar suami bercerita panjang kali lebar membuatku lebih memberikan apresiasi standing applause atas apa yang dilakukannya. Meskipun dalam pandangan agama hal yang dilakukan itu sudah salah. Karena membiarkan berdua di sekolah tanpa seorangpun.

Dengan penuh perhatian ku lihat muka suamiku dan mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Yang pada intinya dia datang menemui suami untuk meminta nasihat, tapi dari cerita suami, justru dia ingin kami ribut seperti apa yang terjadi di RT nya.

Ketenangan suami yang lebih memilih netral menguatkanku bahwa dia memang sudah siap akan hal yang mungkin terjadi. Manusia yang diselimuti kecurigaan hidupnya tidak akan tenang.

Kamis, 05 Februari 2026

Alam sedang Tidak Bersahabat

Hai bloggi, kita lanjut lagi ya cerita kemarin. Semalam sudah ngantuk banget jadi aku gak bisa lanjut. Pulang belanja sama suami, nemenin tidur bocil eh mau cerita ke kamu lagi malah mata sudah 5 watt aja. 😁


Soal anak yang terbawa arus di daerah Bojong kemarin sudah ditemukan lho. Ternyata pas lihat di medsos, korbannya menolong temannya yang sedang kesulitan mengatasi motornya. Dia berusaha menepi ke rumah warga. Karena derasnya arus hujan yang menutupi jalan. Dia tak mampu menahan dan membawa motor. Jadi, dia terbawa arus dan masuk ke selokan.


Pagi ini dia diketemukan di bantaran sungai dengan kondisi sudah tidak bernyawa. Bahkan jasadnya tenggelam bersama sisa sampah yang terbawa arus. Ada kayu besar yang mengapit jasadnya. Semoga husnul khatimah. Keluarga yang ditinggalkan diberikan kesabaran.


Kabarnya anak ini bersekolah di sekolah kejuruan di Lebaksiu kabupaten Tegal. Anak yang sedang menuntut ilmu harus berakhir tragis.


Himbauan aja sih untuk diri sendiri dan semuanya. Cuaca dan alam sedang tidak bersahabat. Kalau dirasa tidak penting - penting banget mending tunda dulu deh perginya. Atau ketika keadaan memaksa pergi, sebisa mungkin berhati - hatilah. Jika tidak memungkinkan untuk dilewati, alangkah baiknya menepi atau diam dulu sejenak di tempat sampai kondisi sudah kondusif.


Melihat kasus ini, sepertinya dia tidak sabar untuk menepi ke rumah warga. Padahal di belakangnya ada banyak kendaraan bermotor yang memilib diam daripada harus melawan arus.


Seperti yang terjadi di daerahku kemarin. Banjir yang meluap ke jalan raya. Baru - baru ini kejadian yang tidak biasanya harus dialami oleh warga sekitar. Jalan yang tertutup oleh luapan sungai, berlumur lumpur. Hal ini mengakibatkan banyak pengendara motor harus berhati - hati melewatinya. Tebal lumpur diperkirakan sekitar 5 cm. Jika tidak biasa melalui jalan seperti itu, ban motor akan slip dan keseimbangan goyah.


Hingga siang tadi lumpur yang menutupi jalan baru bisa dibersihkan.


Selain banjir, di daerahku bagian atas, pegunungan terjadi longsor. Ada beberapa akses jalan yang terputus akibat tanah yang labil. Jalan aspal yang patah membuat akses jalan sulit untuk dilewati. Alhasil pengendara bermotor harus melalui jalan pintas yang membutuhkan waktu dua kali lipat untuk sampai tujuan.

Laki-laki Tangguh, Hati Trenyuh (Arsyel)

Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan...