Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan oleh mbah kakungnya, tidak dijawab apa adanya. Dia hanya menjawab "tidak apa-apa, aku baik-baik saja".
Kejadiannya kemarin hari Senin, 9 Februari 2026. Kebetulan dia sedang kerja kelompok dengan teman-temannya. Jadi, aku yang harus menjemputnya pukul 15.00 wib.
Sepanjang jalan pulang, setelah membeli permen mint kesukaannya, dia bercerita di kendaraan roda dua kami. Dengan antusias sambil sedikit merubah nada bicaranya ketika ada cerita yang membuat dia marah. Atau nada bicara lawannya yang menunjukkan ketidaksukaannya.
Ceritanya dia sedang meledek temannya bernama Kayla. Teman satu kelasnya yang lolos OMNAS tingkat nasional. Mendapatkan uang pembinaan, sertifikat dan perunggu. Anaknya cuek, pintar, gaul dan cantik. Persis seperti ibunya saat kami bertemu di sekolah. Kami bercerita perkembangan anak-anak seusia mereka.
Karakter ibunya cuek, pemberani, supel dan gampang bergaul. Dia pernah ngelabrak orang yang mengatakan dirinya tidak sopan di deoan umum. Ternyata, hal tersebut sama dilakukan oleh anaknya, Kayla. Kayla melabrak teman satu kelasnya gara-gara salah satu teman lainnya mengadu bahwa ada salah satu teman OMNAS nya tidak ikut lagi gara-gara dia. Merasa tidak puas dengan aduan temannya, besok hari dia menemuinya dan ngomong keras sambil mengamuk tangannya ke meja. Sontak lawan bicaranya takut. Dari situ dia merasa plong dan cerita ke maminya kalau dia telah melabrak temannya. Katanya puas banget bisa melakukan itu.
Dilihat dari karakter keduanya yang cuek dan pemberani, dapat disimpulkan jika Kayla disakiti maka dia akan membalasnya. Nah, kebetulan Arsyel sedang bermain dengan Kayla. Entah kata-kata apa yang dia ucapkan membuat Kayla sakit hati. Padahal tidak ada maksud mengarah kesitu. Terbukti ketika Arsyel bermain dengan teman lakai-lakinya, Kayla mendorongnya dengan keras. Karena kesakitan, dia mencari -cari siapa pelakunya tapi tidak ditemukan. Matanya memerah menahan sakit.
Faraz berkata, "tadi yang dorong Kayla."
Dengan rasa tidak percaya dan bertanya - tanya, Arsyel tidak memperpanjang urusan itu. Meski nyeri di kakinya masih terasa.
Saat pulang sekolah, dia menangis sambil berjalan dari kelas ke tempat parkiran dengan tangan menutupi matanya.
"Matanya merah. Kenapa?" Tanya mbah kakung khawatir.
Arsyel menjawab, "baik ko mbah, tadi kelilipan."
Faraz pun memperhatikannya dan memeberikan kode bertanya apa yang terjadi dengannya.
Kejadian itu sirna sekejap ketika mereka mengerjakan tugas kelompom bersama. Ada 6-7 orang yang belajar kelompok bersama.
Sore ini, dia baru bercerita bahwa matanya memerah karena nangis dari kejadian yang dia alami oleh Kayla. Menurutnya, Kayla gak pernah melakukan hal semacam itu ke dia. Aku hanya bisa memberikan arahan.
"Jika anak perempuan seperti Kayla mau didekati maka hati-hati dalam berkata. Dia tipe anak yang sensitif." Kataku sembari memakaikan baju hangat.
"Iya, mulai sekarang gak akan bercandaan lagi sama dia." Jawabnya lirih.
Insight yang aku dapat dari kejadian ini adalah manusia memang diciptakan dengan perasaan lembutnya. Kelembutan inilah yang membuat manusia memiliki sifat tidak tega melihat yang lain tersakiti. Meskipun laki-laki, mengakui perasaan yang dia rasakan saat itu adalah sebuah validasi diri. Untuk mengontrol emosinya dan tahu cara mengatasinya.