Perjuanganku 3
Menjajaki perjalanan pernikahan kami di usia 3 bulan adalah perjalanan yang penuh dengan liku - liku. Karakter asli satu sama lain mulai terlihat. Kebiasaan suami yang suka nongkrong dengan teman - temannya tidak lantas langsung ia tinggalkan. Justru adaptasi yang membutuhkan waktu cukup lama untuk melepaskannya. Pulang malam menjadi kebiasaan baru yang harus aku terima. Meskipun berat tapi aku hanya bisa berdoa bahwa suatu saat nanti dia akan berubah. Aku dengan segudang harapan yang ingin merubah kebiasaan suami. Ingin diperhatikan dengan baik olehnya. Dan ingin ditemani sepanjang hari olehnya. Tetapi justru kebiasaan ini membuat suamiku merasa terbebani.
Adanya calon debay yang bersemayam di rahimku membuatku berpikir bahwa dia akan berubah seiring berjalannya waktu. Alasan terkuat supaya dia bisa selalu ada di sisiku meskipun hanya di malam hari. Harapan ini ternyata pupus. Adanya calon jabang bayi yang aku kandung tidak lantas menyadarkannya untuk pulang lebih awal. Minamal sebelum maghrib sudah ada di rumah.
Hal ini sungguh sangat menguras tenaga dan pikiranku. Bagaimana gak? Sedang hamil muda tapi teman hidup masih enak nongkrong dengan teman - temannya. Dibilang egois, ya itu hak aku. Entah apa yang mereka lakukan di luar. Meski ada aja alasannya. Rapatlah, urusan belum kelar lah, ngajar anak ngaji lah. Entah itu mana yang sesuai realita.
Pernah suatu ketika Bapak mau nyamperin ke tempat suami kerja. Yaitu di sekolah yang letaknya di dalam kawasan pondok di salah satu kecamatan di Brebes. Namun, hal itu diurungkan karena aku memintanya untuk tidak meributkan masalah ini. Karena aku tahu. Merubah seseorang itu tidaklah mudah. Apalagi yang dihadapi adalah orang yang sudab berumur yang sebentar lagi menjadi seorang ayah.
Bapak mana yang tega anaknya ditinggal terus sampai larut malam dalam kondisi sedang hamil muda. Aku sedang butuh support banget waktu itu. Di mana keadaanku yang berubah. Kondisi tubuhku yang ikut berubah bahkan hormonku juga sedang tidak stabil. Ditambah kondisi suami yang tidak bisa masuk diakal.
Lama kelamaan aku sampai berpikir apakah aku harus menderita dulu a.k.a sakit parah dulu baru dia bisa ada di dekatku. Atau memang ini sudah menjadi jalan takdirku dengannya dalam mengarungi rumah tangga.