Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana tidak. Dari sinilah aku memulai karirku yang sesungguhnya. Yang awalnya pengin banget jadi front liner di bank. Alhamdulillah Allah berikan jalan melalui perjalanan karir di kereta api.Bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah membuatku menjadi diri sendiri. Membawa bekal dari rumah dengan doa dan restu orang tua, ku beranikan diri untuk mengajukan lamaran kerja. Berbagai tahapan seleksi telah aku lewati. Dari seleksi tertulis hingga wawancara.
Dengan tahapan seleksi itu aku ditempatkan di stasiun Tegal, tidak jauh dari domisili rumahku. Ternyata yang ditempatkan di Tegal justru banyak yang dari jauh. Mas Imam dari Semarang, Septi dari Purwokerto, Mas Sholeh dari Solo, Mas Yanto dari Brebes, Mas Teguh dari Pekalongan, Mba Citra dari Semarang, Mba Citra dari Demak, Mas Oki, dan Mas Agung dari Pekalongan dari Semarang.
Tidak hanya mereka yang aku kenal dan aku anggap seperti keluarga. Mereka adalah orang - orang yang bekerja di bagian ticketting. Sedangkan bagian customer service ada mba Oki dan teman - temannya. Kalau untuk cs aku agak lupa namanya, tapi untuk muka tidak. Selain itu dari keamanan juga ada yang masih langgeng sampai sekarang. Ada mas Miko dan pak Kusnoto.
Kadang kalau lagi naik kereta dan turun di stasiun Tegal, aku sempatkan menyapa mereka walau sebentar. Suasananya sudah berbeda dari sebelumnya. Bangunan sudah banyak berubah. Menjadi lebih mewah dan modern. Orang - orang yang bekerja di sana pun sudah regenerasi. Angkatanku ada yang tidak melanjutkan kontrak, pensiun atau ada yang sudah naik pangkat dan menjadi pegawai tetap di kereta api.
Bapak supervisorku pindah ke stasiun Semarang Poncol. Bapak kepala keuangan sudah pensiun. Dua orang inilah yang masih langgeng berkomunikasi. Berkat bapak supervisorku aku diizinkan menikah sebelum kontrak habis. Dari sinilah aku memulai mengarungi rumah tangga. Tanpa restu beliau aku tidak akan sampai di titik ini.
Hari ini bapak kepala keuangan meneleponku. Dengan tidak ragu aku menjawab dan bercerita banyak hal. Namun harus mengimbangi pembicaraannya. Gaya bicara beliau masih seperti dulu waktu di tempat kerja. Orangnya keras dan harus menjadi lawan bicara yang patuh untuk mendengarkan. Tidak boleh menyangkal sekalipun tahu informasinya.
Harapan Pak Untung dan Pak Sri Widodo agar angkatan kami bisa bersilaturahmi bersama mereka. Berkumpul sekedar melepas rindu. Terlebih setelah aku lepas dari kereta api karena menikah sampai sekarang belum sekalipun bertemu dengan semuanya. Ada rasa rindu yang mendera. Bersenda gurau. Meski aku tahu kondisinya tidak seperti sedia kala. Tetapi bagi kami ajang silaturahmi ini bisa menjadi ajang supaya tetap terjalin sampai kapanpun.
Tugas aku dan teman-teman sekarang supaya bisa menemukan waktu yang pas untuk bisa berkumpul meski hanya beberapa orang saja.
Whoa.... can't wait to see you guys. :D

