Kamis, 12 Februari 2026

Perjuanganku 2

Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati yang kini ada dalam perutku. Perubahan hormon yang begitu drastis aku rasakan. Morning sickness, mual di malam hari, dan perubahan emosional yang labil.

Alhamdulillah selesai kontrak tiga bulan, kami diberi amanah oleh Allah menjadi orang tua baru. Dunia baru yang aku jalani saat itu benar-benar membuatku frustasi. Tak ada teman di rumah. Aku hanya ditemani uyut. Kami berdua setiap hari sebagai penunggu rumah sedangkan keluarga yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Ada yang sekolah, mengajar di instansi baik di SMP mauoun SMA.

Kehidupanku yang ditemami oleh nenek-nenek berusia lanjut tidak lantas mengusik kesepianku. Justru kami berdua sering kali berselisih paham. Uyut dengan karakter rewelnya yang ingin mengatur orang hamil. Misal tidak boleh tidur diwaktu rawan yaitu pukul 10.00-12.00. Jika tidur dijam tersebut maka darah putih yang ada dalam tubuh akan naik dan itu merusak penglihatan. Namun, beda halnya dengan uyut. Penjelasan yang ia berikan justru membuatku tidak percaya dan tidak ingin mematuhinya. Katanya pamali. Tidak boleh tidur dijam tersebut dan jangan banyak tanya.

Daripada harus panjang kali lebar, kali ini aku turuti. Ku tahan kantuk yang menggelayut di mataku. Hampir sedikit lagi mataku terpejam. Jika dibolehkan tidur akan membuatku merasa di atas kasur yang sangat nyaman. Saking ngantuknya, tak terasa aku terlelap. Tidak lama kemudian aku tersadar. Untuk menghindari rasa kantuk, ku putuskan jalan-jalan ke rumah Lik Yuni. Dia adalah istri dari om ku.

Selama aku di rumah, tempat berbagi ceritaku dengan dia. Suka, duka dan lucu kami lalui bersama. Kebetulan dia mempunyai anak kecil usia satu tahun. Dengan begitu aku bisa bertukar pengalaman mengenai proses melahirkan maupun mengasuh anak.

Lik Yuni menikah dengan om ku ketika aku duduk di bangku kuliah. Saat itu aku sedang berkecimpung di semester 7. Hampir selesai S1 ku. Kini aku dan dia seperti teman dekat meski usia terpaut jauh. Karena om dengan dia usianya cukup jauh, terpaut sepuluh tahun, Lik Yuni lebih muda dari om ku membuatku lebih nyaman bercengkerama dengannya.

Rabu, 11 Februari 2026

Perjuanganku 1

Menjadi ibu tidaklah mudah untukku. Apalagi setelah tiga tahun berkecimpung di dunia public sebagai front liner di salah satu BUMN bagian transportation yaitu KAI.

Dengan penghasilan yang bisa dibilang mencukupi kebutuhan bulananku. Aku bisa membeli semua yang aku inginkan tanpa meminta lagi pada orang tua. Kali ini justru aku yang membelikan sesuatu untuknya. Mulai dari belanja bulanan sampai pakaian muslim lebaran. Namun, itu tidak bisa aku nikmati dalam waktu lama. Allah Maha Baik. Belum genap 3 tahun, aku dipertemukan seorang laki-laki yang sekarang menjadi teman hidupku.

Kehidupanku berubah drastis setelah bertemu dengan dia. Tidak menunggu waktu yang lama, hanya dua bulan berjalan, kami menunaikan sunah rosul untuk menikah. Saat itu aku masih menjalankan kontrakku selama tiga bulan di KAI.

Menjadi istri seorang guru honorer dengan penghasilan yang hanya bisa untuk makan sehari-hari membuatku banyak berpikir dan merubah mindset dan kebiasaanku. Yang biasanya suka jajan di kafe, kali ini aku tangguhkan. Yang biasanya beli baju, kali ini aku sisihkan. 

Tiga bulan telah kulalui menghabiskan masa kontrakku di KAI. Banyak kenangan yang aku dan kawan-kawan torehkan. Mereka adalah keluarga keduaku di dunia kerja. Aku mendahului mereka. Aku tidak perpanjang kontrak lagi. Teman-teman ada yang off dan adapula yang perpanjang. Semuanya sudah seperti saudara yang tidak bisa terpisahkan. Kalau ingat cerita ini, jadi kangen mereka. Mas Oki, Mas Agung, Mas Imam, Mas Teguh, Mas Sholeh, Mas Yanto, Mba Devi, Mba Citra, Mba titis, Widi, dan Septi. Lain kali aku ceritakan kisahku di dunia pertransportasian deh.

Adaptasi mengenal pasangan juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu lima tahun untuk bisa tahu dan paham mengenalnya. Banyak perbedaan yang kami temukan. Harapan yang aku tambatkan kepada suamiku. Rasanya aku ingin sekali merubah dia menjadi versiku. Sayangnya aku belum sadar kalau dia bukanlah bonekaku. Semua di luar kendaliku. Gak bisa dirubah begitu saja.

Semakin hari semakin banyak tantangan yang harus aku lalui, dan adaptasikan darinya. Mulai dari konkow dengan teman-temannya hingga pulang yang larut malam setiap harinya dengan pakaian dinas yang dia kenakan. Ada rasa marah berkecamuk dalam hatiku. Namun aku mencoba bertahan karena aku yakin suatu saat dia akan berubah. 

Selasa, 10 Februari 2026

Laki-laki Tangguh, Hati Trenyuh (Arsyel)

Hari ini dibuat kaget oleh bocilku yang sedang duduk di kelas 3 MI. Dia bercerita tentang matanya yang memerah. Ternyata apa yang ditanyakan oleh mbah kakungnya, tidak dijawab apa adanya. Dia hanya menjawab "tidak apa-apa, aku baik-baik saja".

Kejadiannya kemarin hari Senin, 9 Februari 2026. Kebetulan dia sedang kerja kelompok dengan teman-temannya. Jadi, aku yang harus menjemputnya pukul 15.00 wib.

Sepanjang jalan pulang, setelah membeli permen mint kesukaannya, dia bercerita di kendaraan roda dua kami. Dengan antusias sambil sedikit merubah nada bicaranya ketika ada cerita yang membuat dia marah. Atau nada bicara lawannya yang menunjukkan ketidaksukaannya. 

Ceritanya dia sedang meledek temannya bernama Kayla. Teman satu kelasnya yang lolos OMNAS tingkat nasional. Mendapatkan uang pembinaan, sertifikat dan perunggu. Anaknya cuek, pintar, gaul dan cantik. Persis seperti ibunya saat kami bertemu di sekolah. Kami bercerita perkembangan anak-anak seusia mereka. 

Karakter ibunya cuek, pemberani, supel dan gampang bergaul. Dia pernah ngelabrak orang yang mengatakan dirinya tidak sopan di deoan umum. Ternyata, hal tersebut sama dilakukan oleh anaknya, Kayla. Kayla melabrak teman satu kelasnya gara-gara salah satu teman lainnya mengadu bahwa ada salah satu teman OMNAS nya tidak ikut lagi gara-gara dia. Merasa tidak puas dengan aduan temannya, besok hari dia menemuinya dan ngomong keras sambil mengamuk tangannya ke meja. Sontak lawan bicaranya takut. Dari situ dia merasa plong dan cerita ke maminya kalau dia telah melabrak temannya. Katanya puas banget bisa melakukan itu.

Dilihat dari karakter keduanya yang cuek dan pemberani, dapat disimpulkan jika Kayla disakiti maka dia akan membalasnya. Nah, kebetulan Arsyel sedang bermain dengan Kayla. Entah kata-kata apa yang dia ucapkan membuat Kayla sakit hati. Padahal tidak ada maksud mengarah kesitu. Terbukti ketika Arsyel bermain dengan teman lakai-lakinya, Kayla mendorongnya dengan keras. Karena kesakitan, dia mencari -cari siapa pelakunya tapi tidak ditemukan. Matanya memerah menahan sakit. 

Faraz berkata, "tadi yang dorong Kayla."

Dengan rasa tidak percaya dan bertanya - tanya, Arsyel tidak memperpanjang urusan itu. Meski nyeri di kakinya masih terasa.

Saat pulang sekolah, dia menangis sambil berjalan dari kelas ke tempat parkiran dengan tangan menutupi matanya.

"Matanya merah. Kenapa?" Tanya mbah kakung khawatir.

Arsyel menjawab, "baik ko mbah, tadi kelilipan."

Faraz pun memperhatikannya dan memeberikan kode bertanya apa yang terjadi dengannya.

Kejadian itu sirna sekejap ketika mereka mengerjakan tugas kelompom bersama. Ada 6-7 orang yang belajar kelompok bersama. 

Sore ini, dia baru bercerita bahwa matanya memerah karena nangis dari kejadian yang dia alami oleh Kayla. Menurutnya, Kayla gak pernah melakukan hal semacam itu ke dia. Aku hanya bisa memberikan arahan. 

"Jika anak perempuan seperti Kayla mau didekati maka hati-hati dalam berkata. Dia tipe anak yang sensitif." Kataku sembari memakaikan baju hangat.

"Iya, mulai sekarang gak akan bercandaan lagi sama dia." Jawabnya lirih.

Insight yang aku dapat dari kejadian ini adalah manusia memang diciptakan dengan perasaan lembutnya. Kelembutan inilah yang membuat manusia memiliki sifat tidak tega melihat yang lain tersakiti. Meskipun laki-laki, mengakui perasaan yang dia rasakan saat itu adalah sebuah validasi diri. Untuk mengontrol emosinya dan tahu cara mengatasinya.

Senin, 09 Februari 2026

Sebalku Tak Beralasan

Pulang dari Purwokerto kemarin setelah mengantar Arsyel lomba, ayah tidak langsung mengikuti kami. Karena mbah datang maka aku, dan Arsyel naik mobil sedang ayah naik motor dengan dua helm diletakkan di bagian bawah motor.

Kami sampai di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Aku, dan Arsyel bersekancar di dunia maya. Memegang gawai masing-masing, dan sibuk dengan dunia sendiri sambil rebahan. Efek jalan-jalan di mol membuat badanku terasa lemas, dan ingin segera meluruskannya.

Beberapa waktu kemudian aku pulang ke rumah sedangkan Arsyel masih di rumah mbahnya. Dikarenakan mbah kakung akan pergi ke rumah sakit menjenguk temannya, maka aku tidak terlalu lama berada di rumah. Setelah memberikan makan untuk ayam-ayam ayah, aku langsung kembali ke rumah ibu. Menemaninya yang sedang menyiapkan bahan pokok untuk acara slametan menjelang lebaran.

Setibanya di rumah ibu, bapak sudah berangkat dengan teman-temannya ke rumah sakit. Arsyel masih asyik dengan gawainya. Ibu asyik membungkusi teh, telor, dan mie instan.

Tiba-tiba perutku memberikan sinyal darurat. Suara merdu datang dari arah perut. Musik keroncong mulai berlabuh. Tanda lapar mulai dirasakan.

Ku tengok pemanas nasi. Ternyata nasi sudah habis. Lauk masih tersedia meski tidak menyelera. Karena lapar, aku japri suami untuk membelikanku lumpia boom did dekat depan kampus Unsoed. Lumpia favorit sejak aku, dan adikku berdomisili di situ sebagai mahasiswa.

Aku kira jawaban suami yang menjawab "ya" adalah tanda bahwa dia sanggup membelinya. Tapi prediksiku salah. Pukul 20.00 kulayangkan kembali wa untuknya. Bahwa aku akan makan setelah suami pulang dengan lauk lumpia boom. Jawabannya membuatku meluap dan naik darah. Dia masih di Purwokerto dan belum beranjak sama sekali.

Jika perut ayam nomor satau, lalu perut istri nomor berapa?

Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Hingga dia menyarankan untuk membuat mie instan demi terjaganya kewarasan. Aku menuruti apa yanh dia sarankan, demi kewarasan sendiri. Meskipun tidak menyelera, karena sebenarnya ingin nasi dan lumpia boom. Aku dan Arsyel menghabiskan makanan bersama. 

Minggu, 08 Februari 2026

Out of The Box

Pagi ini diawali dengan rasa bersyukur. Bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk memghirup udara segar dan menikmati cerahnya hari Minggu. Hari libur yang ditunggu oleh semua orang pekerja, dimana di hari ini semuanya ingin bersantai ria tanpa gangguan apapun. Bahkan sebagai working mom, aku sangat menunggu hari Minggu. Ditunggu begitu lama, tapi habisnya cepat banget dan tiba² Senin sudah di depan mata. Namun, itu semua harus dinikmati dan dijalani.

Hari ini aku, suami dan Arsyel meluncur ke kota Satria, Purwokerto. Arsyel mengikuti olimpiade sains pada acara yang diadakan oleh Intan Mutia melalui JSO (Jenius Science Olympiade). Setelah 2 minggu kemarin sempat mengikuti OMNAS tingkat provinsi di Solo Raya. Sekarang pindah ke Purwokerto pada ajang penyisihan kota. 

Kira-kira seminggu dia latihan soal. Meski tidak full berlatih, paling tidak ada bekal untuk mengerjakan soal. Tidak mulai dari nol banget. Harapannya, ada yang keluar soalnya dari yang sudah dia pelajari.

Proses yang panjang untuk bisa memulihkan semangat dia pasca omnas yang tidak lolos ke tahap nasional. Tahun lalu dia bisa maju nasional di Surabaya melalui omnas. Sempat down karena dia lebih memilih untuk sains level 1. Tetapi, kata ayah dan aku kayaknya gak etis banget mengaku kelas 2 padahal realitanya dia kelas 3. Harus ke heal dia supaya mau ikut meski naik di level 2. Trauma sebenarnya, karena omnas kemarin dia gagal di level 2.

Kami memberikan semangat bahwa proses itu tidak butuh waktu instan. Semua ada tahapannya. Yang tadinya kosong setelah ikut atau belajar maka ada isinya. Lomba itu proses pembentukan mental. Kalah menang itu biasa. Dan, usaha tidak akan menghianati hasil. Jika kalah, mungkin belum rejekinya. Jika menang itu adalah bonus dari proses yang sudah dijalani.

Sudah mau ikut berpartisipasi saja itu merupakan hal yang luar biasa. Mau menjajaki dunia di luar zona nyamannya bukanlah hal yang mudah. Melawan diri sendiri. Melawan rasa malas. Melawan hawa nafsu, dan memanage waktu. Bagaimana menempatkan hal yang prioritas dan minoritas. Melalui ikutserta lomba, dia belajar banyak hal. Pun denganku adanya event ini membuatku lebih banyak bersabar dan ikut belajar mengulang kembali materi yang sudah lama tidak dijamah.

Banyak harapan yang ia gantungkan di olimpiade ini. Semoga membuahkan hasil dan tidak mengecewakan.

Sabtu, 07 Februari 2026

Support sistemku

Kejadian kemarin benar-benar menguras tenaga dan pikiranku. Mulai dari memikirkan apa yang Mini katakan ke suami, menghasut suami supaya aku dibenci dan dicaci olehnya. Memberikan bukti yang menurut Mini kuat tapi aku percaya suami tidak sebodoh itu percaya padanya. Memikirkan batasan rumah tangga yang sudah dijebol oleh orang lain.

Overthinking ini membuatku gila. Semalaman ada kira-kira 30 menit aku mengurung diri di kamar. Sementara suami dan anakku sibuk dengan urusannya karena tidak berani menghampiriku yang sedang kacau. Mereka memberikanku ruang untuk menenangkan diri. Aku yang di dalam kamar meluapkan isi hati dan pikiranku. Ada rasa gagal menjadi istri dan ibu yang baik untuk mereka. Difitnah meski belum tentu kebenarannya. Ternyata begini ya dibully di dunia maya yang langsung ke sumbernya.

Alih-alih mengumpulkan bukti yang tidak akurat, dia ingin merusak keharmonisan rumah tangga kami. Tidak cukup sampai disitu saja, aku memberanikan diri untuk memberitahu suaminya apa yang dia lakukan sampai menghampiri suamiku. Dia tidak ingim menjadi satu-satunya korban. Dia ingin ada korban-korban lainnya.

Setelah selesai dengan kekacauanku di kamar, ku buka pintu kamarku. Mereka berdua tidak beranjak dari kamar belajar Arsyel. Keduanya menghampiriku. Memberikan pelukan hangat yang mereka bisa. Arsyel dengan ketulusannya memberikan kata - kata, "ibu Ace sedang belajar nih bu". Seolah memberikan upaya bahwa aku bisa bu membuat ibu tenang. Jangan bersedih lagi.

Sedangkan suami dengan segala upaya membuatku tersenyum. Dari ocehan recehnya, tingkahnya, dan lelucon yang membuat logikaku berjalan. 

Terimakasih tak terhingga untuk kalian berdua. Meskipun aku kacau tapi kalian selalu ada di sampingku. Sifat kekanak-kanakan dan manjaku tidak bisa dihilangkan. Tidak akan begini jadinya kalau aku bercerita selain kepada kalian. Solutif. Berusaha membuatku tertawa. Kalau hal ini diketahui oleh bapak dan ibu, mereka justru akan panik dan bisa jadi masalahnya melebar.

Kalian berdua adalah semangatku untuk hidup dan bangkit kembali. Ketulusan kalianlah yang memberikanku arti untuk kembali tertawa. Semangatku dalam menjalani hari. Kalau seorang wanita bersedih, maka rumah akan terlihat sepi. Begitu yang mereka rasakan. Bahkan untuk bertanya mengapa pun mereka tidak berani. Hanya sentuhan lembut penuh kasih sayang yang bisa mereka berikan. Big thanks to our beloved family. Sehat selalu ayah dan Arsyel. Semoga selalu diberkahi Allah dalam setiap langkah dan aktivitas yang kalian lakukan. Aamiin.

Gak Adil

 Tiba-tiba perasaanku ko gak enak ya. Selepas dengerin cerita suami dengan antusias, kaya ada rasa ko gini si, gak adil banget.

Dulu pas aku disamperin sama Mini ke sekolah dituduh perusak keharmonisan mereka, aku merasa merasa takut. Sebelum dia ke SD ibu mertuanya yang ikut memperingatkanku dan secara tidak langsung mendukung apa yang menantunya adukan. Padahal kami sudah melalui mediasi berlima. Aku, suami, ibu mertua Mini, dan suaminya. Aku kira sudah cukup dan selesai. Tapi dia malah datang ke sekolah minta aku buat gak komunikasi sama rekan kerjaku yang posisinya adalah suami dia. Saat itu aku benar-benar lost contact. Gak berkomunikasi sama dia lagi, bahkan ketika ditanya soal pekerjaan, aku memilih diam. Sampai nama baikku tersebar kemana-mana dengan image negatif di mata orang lain.

Kali ini, justru dia yang nyamperin suamiku sendirian, di sekolah, di lab berdua!

Sekilas terlintas ko gak adil ya. Mengapa dia yang menuduhku yang jelas - jelas ada orang lain ketika kami ngobrol membahas proyek sekolah. Tapi dia? Dia berharap hanya ada dia dan suamiku tanpa ada orang lain. Malah ngajak makan bareng berempat. Buat apa coba? Adu domba?

Peristiwa ini sebenarnya tidak diperbolehkan olehnya kalau suami cerita ke aku. Nambah curiga dong. Maksudnya apa coba? Kalau iya benar terjadi mungkin aku yang akan menuduh mereka yang bukan - bukan. Tapi itu urusan mereka. Aku sudah senang hidup begini. Tenang. Tanpa ada gangguan. Bahkan ketika suami tidak bisa jemput bocilpun, tak ada sedikit kecurigaanku tentang itu.

Beruntung suami memiliki kebiasaan ahli hisab. Kebiasaan ini tidak ingin diketahui langsung olehku dan anakku. Baginya itu aib. Tapi tak kunjung berhenti. Jadi, ketika dia me time, dia dengan segala keleluasaannya tidak akan diganggu oleh aku, dan Arsyel. Karena aku juga tidak mau dekat-dekat dengannya kalau lagi me time. Arsyel, juga sudah banyak memgerti kalau ayahnya sedang me time. Nah bisa aja kan dia lagi me time terus melakukan hal yang berbau wanita. Itu sih pikiran jahat yang terlintas di kepalaku. Tapi aku percaya suamiku bisa jaga diri dan keluarga.

Eh, suami bilang kalau dia nangis di depannya sambil bercerita kehidupan rumah tangganya. Sungguh memalukan. Kalau saja aku tak memperhitungkan efek jangka panjang, dah ku samperin dia di sekolah tempat dia kerja. Lakukan apa yang pernah dia lakukan ke aku dulu. Sayangnya, aku lebih menyayangi diri sendiri dan orang-orang di sekitarku. Lebih memilih diam dan upgrade diri. Banyak yang lebih penting yang harus aku pikirkan.

Ternyata aku tidak sekuat apa yang aku katakan. Wanita juga manusia yang butuh diperhatikan, dan validasi perasaannya. Pecah sudah air mata ini keluar deras. Rasa bersalah yang hinggap menggelayut di kepala dan hatiku. 

Saat di mana aku ditenangin oleh suami, kata yang terucap dari mulutku adalah bahwa aku sudah bertanggung jawab, aku sudah minta maaf dengan kejadian tiga tahun lalu. Suami merasa iba melihat istrinya menangis sesenggukan. Satu kalimat yang dia ucapkan bahwa "ayah sayang ibu". Kalimat tulus yang terucap terdengar sangat serius dari hati.

Aku peluk dia erat sambil mengangguk. Seketika itu hatiku berasa seperti disiram air dingin. Adem nyess. Suamiku masih dalam genggaman. 

Kalau dipikir agak lebay ya, karena masalah ini terulang kembali tanpa bukti yang kuat. Dia hanya ingin memperkeruh urusan dia sendiri dengan keluarganya. Sementara kami semakin diterpa angin yang kuat maka pohon tinggi itu semakin kokoh.

Aku utarakan apa yang aku pikirkan. Semuanya terasa ringan. Peristiwa ini menyita kesehatan mentalku. Anakku juga ikut khawatir dengan perubahan yang aku alami. Tapi dari kejadian ini, ada hikmah dibaliknya. Suami jadi bisa membersamai anak belajar. Arsyel juga tidak usah disuruh untuk belajar dan sholat.


Perjuanganku 2

Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati ...