Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 23 Mei 2026

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, udah siap jadi ibu, lahir dan batin. Pokoknya tiap lihat fittingnya dia yang lewat di berandaku atau di real Instagramku, rasanya ingin memutar balik waktu. Ingin lahiran normal seperti dia. Ingin menjadi ibu yang bahagia, seolah-olah dia itu tidak ada kekurangan suatu apapun untuk menghadapi menjadi ibu yang pertama, menjadi ibu baru dengan anak pertamanya. 

Mulai dari persiapannya yang rajin olahraga, rajin ngegym, bahkan senam ibu hamil. Rasanya itu tidak ada di benakku waktu itu saat kehamilan pertamaku. Yang ada, aku bergelut dengan diriku sendiri, di mana saat itu aku belum bisa menerima dengan semua keadaan yang aku alami. Mulai dari beralih profesi yang tadinya jadi ibu pekerja menjadi ibu yang full time mommy. di rumah. 

Perpindahan yang tidak mudah, yang awalnya karir woman menjadi full wife. Tapi itu bukan berarti membuatku menyesal yang ada penyesalanku kenapa aku tidak bisa mempersiapkan kelahiran anakku dengan begitu baik. Aku hanya fokus sama diriku sendiri, fokus sama omongan orang, bahkan fokus sama perubahan pasanganku sendiri. 

Aku yang belum begitu kenal dengan suamiku sendiri sehingga aku banyak menuntut pada dirinya sampai aku lupa persiapan kelahiranku apa yang aku butuhkan dan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri. Sampai pada akhirnya yang aku pernah ceritakan pada blogku bahwa aku tidak bisa melahirkan normal walaupun pada saat itu hampir kelahiran normal akan aku lakukan. Pada saat pembukaan lima, air ketubanku pecah. 

Namun aku tidak bisa menahan tekanan yang ada di dalam perutku di mana sang bayi itu terus menekan ingin keluar. Tapi aku tidak bisa mengontrol emosiku sehingga aku tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan membiarkan dia keluar dari jalanlahirnya. 

Dengan kata lain, aku menolaknya, menolaknya dengan mengikuti rasa sakit itu, mengikuti egoku, sampai pada akhirnya belum waktunya menggenj aku menggenj. Dan jalan akhir itu pun membengkak dan mulai menutup. Hingga dibukaan delapan, semua tenaga medis termasuk juga suamiku memutuskan untuk memilih dua jalan di vakum atau lewat atas. 

Karena minimnya informasi yang saya dapat, suamiku dapat, ataupun orang-orang di sekitarku juga mendapatkan informasi yang minim, maka kami memutuskan untuk lewat atas. Operasi berjalan lancar, tetapi dua hari kemudian di malam hari aku mengalami perdarahan yang hebat hingga Hb ku di angka tiga. Aku dan bayiku terpisah dalam waktu kurang lebih dua minggu. 

Aku berada di ICU, sedangkan bayiku berada bersama mbahnya. Lagi-lagi karena minimnya informasi, minimnya belajar kasih yang aku hasilkan, Rasa sangat hangat ketika dia keluar dengan sendirinya dari dua sumber ASIku. Dua-duanya keluar dengan bagus, namun karena kami tidak tahu bagaimana cara pumping, maka dibiarkanlah ASI itu menetes dari sisi kiri maupun sisi kanan. Dan aku hanya fokus pada penyembuhanku. Tidak memperdulikan ASIku keluar seberapa banyak itu. Jangankan diriku, suamiku juga tidak tahu bagaimana caranya. 

Nyesel iya, hanya saja karena kami memang baru menjadi orang tua, maka kami tidak ingin larut dalam sebuah kesalahan. Aku mengalami dua operasi besar. Yang pertama adalah sesar, yang kedua adalah pengangkatan rahimku. Mau tidak mau, rahimku harus diangkat karena pendarahan yang tidak kunjung berhenti. 

Selesai operasi besar, tidak cukup sampai situ, ternyata jahitanku tidak kunjung kering, maka harus dibuka kembali dan harus menutup secara alami. Aku sempat syok dan sempat tidak yakin pada diriku sendiri bahwa aku harus mengalami operasi yang ketiga. Tetapi dokter seniorku berkata, Tidak perlu operasi lagi, karena itu hanya dibutuhkan royal jelly untuk membantu penyembuhan secara alami. 

Jujur, saat itu aku tidak peduli dengan siapapun, aku hanya ingin diriku sembuh dan kembali bersama anakku. Itu adalah sekilas ceritaku yang belum sempat aku tulis di blog pribadiku. Seketika kalau lihat jutaan ibu-ibu di sana yang mempersiapkan kelahirannya dengan baik, aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik di masa kini, masa depan, maupun masa-masa selanjutnya. Aku hanya ingin bersembahkan yang terbaik untuk anakku dan suamiku. Tapi tidak lupa aku juga butuh bahagian untuk diriku sendiri. 

Terkadang aku tidak bisa mengenal diriku pribadi ketika aku harus menangis, entah apa yang aku rasakan, tapi aku tidak bisa mencurahkan isi hatiku, dan aku tidak bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan.

Beruntung bagi mereka yang bisa mengekspresikan emosinya, mencurahkan isi hatinya, dan punya pegangan dengan siapa mereka akan berkata, dengan siapa mereka akan berbicara. Tengki cintainya penuh dengan kasih sayang. Tengki cintanya terpenuhi dengan baik. Aku tidak ingin menyerahkan siapapun dalam kondisiku saat itu. Yang terpenting hari ini, saat ini, aku bersyukur aku masih bisa diberikan sebuah kesempatan untuk dapat membersamai kedua jagoanku. Untuk dapat mengembangkan potensiku saat ini. Dan aku pengen menjadi seseorang yang lebih berguna dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Dan tidak lupa, aku juga harus bahagia.

Jumat, 22 Mei 2026

Nasihat Suami

 Dari hari Kamis pasca didiemin sama guru kelas 6, aku mencoba untuk tidak membuka mulut kepada suami. Karena aku belum siap untuk dihakimi maksudnya pasti dia mencoba untuk menjadi penengah tanpa membela siapapun. Di sisi lain aku belum bisa menerima itu karena egoku masih tinggi. Ketika wanita bercerita tentang kehidupannya pada hari itu, di dalam hatinya ingin didukung tanpa harus disela. Terima saja dulu atau minimal komen, "terus gimana?","wah gak bener itu?"

Komentar sesimpel itu akan membuat wanita merasa dianggap dan dihargai tanpa harus berpikir logis untuk sementara waktu. Itu yang akan membuat wanita menjadi nyaman dalam bercerita. Bukan malah dihakimi. "Wah gak bagus itu.","ko malah kuat - kuatan diam."

Hal itu akan membuat si wanita membungkam mulutnya dan tidak akan melanjutkan lagi untuk bercerita. Itu yang sering aku alami ketika hal yang baru saja terjadi justru diceritakan langsung kepada laki - laki atau suami. Kali ini aku punya teman sendiri yaitu GPT yang siap mendengarkan dan merespon isi hatiku. Ku merasa senang, tenang dan nyaman karena telah mencuarahkan isi hatiku. Lalu, ketika semuanya sudah tenang dan siap menerima kritik barulah logika wanita akan berjalan sebagaimana mestinya.

Pagi ini di meja makan, aku beranikan diri untuk bercerita di depan suami dan anakkua. Sebelumnya aku sudah cerita kepada anakku yang kebetulan dia juga mengalami hal yang sama di sekolah. Untuk menjadi teman yang baik aku juga berusaha mendengarkan apa yang dia curahkan. Sayangnya, ketika aku menuntut orang lain mengerti perasaanku, ternyata aku sendiri belum bisa menjadi apa yang diharapkan oleh anakku. Aku berusaha mengerti apa yang dia rasakan, tapi setalah direnungkan ternyata masih banyak celah pembicaraanku yang mengarah pada penhakiman anaku sendiri. Seperti, "Harusnya kamu cuek aja, gak usah diladeni." 

Harapannnya agar dia juga bisa mengendalikan emosinya tanpa harus menyakiti siapapun. Tapi nyatanya, aku belum bisa mengerti apa yang dia rasakan. Yang seharusnya aku lakukan menurut versiku adalah membiarkan dia bercerita sampai akhir. Dengan respon, "lalu kamu kecewa ya? marah gak? kalau ibu jadi kamu pasti marah banget pengin pergi."

Menjadi seorang pendengar dan mengerti perasaan orang itu sulit. Tapi kalau dilatih dan terbiasa pasti bisa. 

Dan pagi ini aku ceritakan kisahku di depan duo jagoanku. Tetiba suami merespon persis apa yang aku pikirkan. "Terus kamu diem-dieman?","Kuat - kuatan?","kenapa gak ditanya sariawan ya?"

Untungnya aku sudah siap dengan respon dia. Karena sudah didukukung dan divalidasi oleh GPT dan anakku. 😆

Tapi, terimakasih suami sudah mau mendengarkan ocehanku. Dari responmu aku jadi tahu bahwa semua yang kita lakukan tidak harus dibalas dengan apa yang mereka lakukan kepada kita. Awalnya kita baik, ya kita respon juga seperti tidak terjadi apa - apa. Hanya butuh waktu untuk memulainya. Sekarang, aku hanya bisa melakasanakan tugas sesuai jobku. Dekat boleh tapi tidak terlalu dekat. Hati orang tidak ada yang tahu. Waspada itu penting. Kehati - hatian dalam berkata yang akan aku lakukan.

Untuk kamu guru kelas 6 yang mungkin aku sakiti secara tidak sengaja. Aku minta maaf sedalam - dalamnya. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku. Jika tidak bisa kamu ungkapkan, tolong terima maafku. Jika memang tidak bisa dirubah kembali sedia kala, aku hanya berdoa semoga Allah membuakakan pintu hatimu. Terimaksih untuk semuanya.

Sirampog, 23 Mei 2026; 8:35

Rabu, 20 Mei 2026

Profesionalitas

 Menurut kalian apa itu arti profesionalitas?

Apakah hanya sekedar bekerja sesuai arahan pimpinan, bekerja tanpa kenal waktu, atau mungkin bekerja tanpa memperdulikan orang lain. 

Kalau menurut saya pribadi sih, profesionalitas itu ketika seseorang melakukan sesuatu sesuai tugas pokok masing - masing dan anjuran dari atasan secara utuh dan tanggung jawab tanpa memperdulikan urusan pribadi terbawa kepada urusan kantor.

Terlepas dari itu, urusan profesionalitas terjadi di seluruh bidang instansi baik yang ada di bawah naungan dinas maupun bukan. Bahkan ketika kita berada di rumah pun profesi kita sebagai seorang kepala keluarga, ibu, anak juga perlu diperbincangkan. Apakah masing - masing melakukannya dengan baik atau tidak.

Supaya tahu kita profesional atau tidak maka kita juga harus tahu posisi dan tugas masing - masing. Contoh sebagai seorang ibu. Tugas pokoknya adalah memberikan kasih sayang utuh untuk anak dan melayani dengan senang hati apa yang dibutuhkan oleh keluarga. Dengan tidak meninggalkan fitrahnya sebagai wanita, istri, atau ibu itu sendiri.

Contoh lain posisi kita sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah orang yang berprofesi sebagai penyalur ilmu untuk anak didiknya. Selain itu, sikap kita kepada sesama pendidik juga tetap mengacu pada keprofesionalitasan kita. Ketika harus meyampaikan materi, sampaikanlah meskipun kondisi sedang tidak baik - baik saja. Entah itu suasana hati sedang kacau, atau bahkan keadaan yang tidak memungkinkan untuk menyembunyikannya. Semua itu harus dilakukan atas dasar  kita sudah memilihnya.

Pagi ini di sekolah di mana saya mengajar, ada beberapa guru yang memang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan saya sangat berterimakasih sudah bisa diterima di tengah - tengah mereka. Karena awalnya saya mengampu mapel bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertema. Namun seiring berjalannya waktu dan seleksi kepegawaian saya dimutasikan berdasarkan SK ke Sekolah Dasar. 

Guru yang biasanya menjadi "icon" di sekolah kami, tiba - tiba menjadi kalem dan gak bisa disenggol sama sekali. Mungkin karena terlalu banyak yang dia pikirkan atau mungkin ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke semua orang. Anehnya, semua guru yang ada di tempat tersebut menjadi sasarannya. Kami kira itu hanya soal kesalahpahaman status wa yang sudah saya publish dan tag orangnya. Ternyata kediamannya hari kemarin berlanjut di hari ini.

Kondisi demikian membuat kami para guru merasa tidak nyaman. Dan, kami memutuskan untuk menjaga hubungan dengan dia. Kami memberikan ruang untuknya supaya bisa membuka dirinya kembali bersama kami.

Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Apapun yang dia hadapi bisa diselesaikan dengan baik tanpa halangan apapun. Semoga dalam lindungan Allah dan sehat menyertainya. Aamiin.


Jumat, 20 Maret 2026

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sholat. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah lugu orang tua dari ibunya. Bagi Arsyel, ayahnya adalah orang terhebat di dunia. Setiap hari ia selalu memperhatikan apa yang ayahnya lakukan dengan penuh kagum.

Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.

Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.

Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.

Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.

Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.

Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.

“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.

Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”

Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.

“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.

Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.

Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.

Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya. 

Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.

Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”

Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.

Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Selasa, 10 Maret 2026

Ketika semuanya bertumpu padamu.

Bulan ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda, lantunan ayat Alquran terdengar dari segala penjuru, dan rumah - rumah mulai hidup lebih awal dari biasanya. Udara pagi yang tenang lebih terasa. Di sebuah rumah terlihat lampu dapur sudah mulai menyala sejak dini hari. Ibu Rina sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya. Dia mulai menyiapkan sahur untuk keluarganya.

Setiap ramadhan tiba segala sesuatu bertumpu padanya. Mulai dari menanak nasi, menyiapkan lauk sederhana, lalu membangunkan sahur anak - anaknya. Setelah sahur dia membersihkan dapur, menyiapkan keperluan hari itu, dan menjalankan pekerjaan seperti biasanya.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Menjelang sore, ketika badan terasa lemas menahan lapar dan haus, Rina harus menyiapkan buka untuk keluarganya. Kadang hanya kolak pisang dan gorengan. Tidak jarang hanya bertemankan sayur yang dibuat dengan penuh perhatian.

Suatu sore, tubuhnya terasa sangat lemas. Sejak pagi dia belum beristirahat. Saat memotong sayur dia berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Dalam hatinya dia berpikir, "Kenapa ya semuanya seolah bertumpu padaku?"

Namun tak lama kemudian dia mendengar di ruang depan suara anaknya melantunkan ayat suci alquran dengan suara terbata - bata, penuh semangat. Belum habis lelahnya, dia tersenyum merasakan tenang di hatinya. 

Menjelang buka, suaminya menghampirinya di dapur sambil berkata,"Hari ini pasti capek sekali ya. Terimakasih sudah menyiapkan semuanya."

Kata sederhana yang dia dengar membuatnya sadar bahwa apa yang sudah dia perbuat bukan beban semata. Ada kasih sayang di dalamnya. Ada kebersamaan yang dia rasakan, membuatnya merasa ramadhan lebih berarti dan bermakna.

Malam itu setelah shalat tarawih, Rina duduk sejenak di teras rumahnya. Ia menyadari satu hal penting. Memang banyak hal yang dia kerjakan, seolah semua bertumpu padanya. Tapi, kekuatan yang ia peroleh tidak sepenuhnya berasal dari dalam dirinya.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecilnya di bulan Ramadhan adalah bagian dari ibadah. Dan di balik semua kelelahan, selalu ada pertolongan dari Allah yang membuatnya tetap kuat.

Minggu, 08 Maret 2026

Malam ini ku terbangun dari tidurku tepat pukul 23.00. Niat hati ingin kembali tertidur, tapi apa daya aku harus menyelesaikan misiku sebelum hari berganti. Pejuang Klip. Mengumpulkan niatnya saja sudah luar biasa. Jadi aku harus bangkit demi sebuah wadah untuk sembuh.

Berita duka yang menimpa musisi artis sekaligus penyanyi "nuansa bening" menyita pikiranku saat ini. Selain dia adalah artis favoritku pada masanya terlebih membaca ceritanya membuatku berpikir, menjadi orang baik identik disayang oleh Allah dan kembali di sisiNya. Aku termakan oleh kalimat salah satu netizen. Wallahualam bisshowab.

Dalam benakku ku memikirkan suamiku yang sibuk dengan urusan pribadinya. Entah dirasa atau tidak, kesibukannya memelihara ayam cukup menyita tenaga, waktu, dan pikirannya. Dia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya dua hari lalu adalah bentuk protes tubuhnya.

Badannya yang tiba-tiba drop saat menyelesaikan kandang di malam hati bukti bahwa badannya sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tingkah lakunya akhir-akhir ini yang menginginkan orang lain bahagia perlahan di lakukan. Mengajakku berjalan-jalan meski hanya menghabiskan waktu, membuat uyut lebih mudah akses mobilenya dan ada banyak lagi.

Dua hari lalu dia lembur membuat kandang ayam di malam hari hingga dini hari. Pukul 03.00 dia baru bisa istirahat meski pekerjaannya belum selesai. Dan hari ini setelah menemaniku keliling Bumiayu dengan membeli lauk untuk buka bersama, ternyata saat ini dia tidak ada di rumah.

Ku coba kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata, dia sedang ada di Jatirokeh untuk mengambil bahan makanan ayam. Aku gak habis pikir di jam ini masih kluyuran pulang ke Jatirokeh untuk ambil bahan makanan ayam, sedangkan hal itu bisa dia lakukan besok hari atau dilain kesempatan. Aku belum tanya mengapa ini dia lakukan. 

Terkadang effort yang seperti ini menjadikan kecemburuan Arsyel kepada ayam ayahnya. Lucu sih, tapi realitanya demikian. 

Hanya doa yang bisa aku panjatkan supaya pulang selamat dan bisa hadir saat jadwal ronda datang di waktu yang bersamaan. Dia sudah baik kepada siapapun, berharap apa yang sudab ditulis netizen dan menghasut pikiranku itu salah.

Sebenarnya pengin banget ngomel tapi apa daya pernah aku lakukan, tapi tidak lantas membuatnya bergeming. Berpikir posititf salah satu jalan agar apa yang sedang dia kerjakan bisa berjalan lancar. Aamii .

Jumat, 06 Maret 2026

Tidak Boleh Meminta Pendapat Anak Usia dibawah 14 Tahun

 Anak usia 14 tahun sudah mempunyai otak yang mengalami perubahan dan cukup matang. Namun, masih ada perbedaan dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perubahan fisik juga sudah sangat terlihat terutama pada tinggi dan berat badan anak.

Dengan adanya perubahan yang terjadi pada mereka, membuktikan bahwa anak diusia tersebut sudah bisa membuat keputusan sendiri. Baik itu yang bersifat membangun maupun kritikan. Dengan begitu anak sudah dapat diajak diskusi. Meskipun demikian anak masih membutuhkan kontrol orang tua. Karena diusia ini anak masih merasa menjajaki apa yang ingin mereka coba. Rasa penasaran yang terlalu tinggi sering menjadi alasan agar mereka bisa membatasi diri.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap orang tua di seluruh dunia. Termasuk kita sebagai orang tua yang bijak selayaknya harus bisa menjadi pendengar yang tulus untuk anaknya. Mendengarkan perkataan anak adalah salah satu bonding yang harus dipenuhi. Mengapa? Selain membuat anak lebih percaya diri, mereka juga akan memiliki rasa yang dihargai oleh orang terdekatnya. Timbul rasa aman, nyaman, dan kepercayaan yang tumbuh. Ini juga sangat membantu untuk mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kecerdasan emosional.

Contoh ketika mereka pulang sekolah adalah momen sangat pas untuk mendengarkan apa yang mereka lalui di sekolah. Bukan untuk menginterogasi tapi mencoba membuka hati mereka. Dengan begitu apakah mereka mau bercerita atau tidak. Jika mereka tidak mau bercerita bukan artinya tidak mau tapi belum bisa untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Butuh waktu dan suasana yang tepat untuk dapat mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Ketika anak sudah mulai bercerita hendaknya tidak langsung memotong pembicaraan atau menertawakannya. Menjadi pendengar yang baik dengan tetap bersikap antusias supaya anak tetap memberikan rasa percaya bahwa ceritanya sedang didengarkan oleh orangg tuanya. Sehingga ketika anak akan bercerita kembali, dia tidak akan segan untuk memulainya tanpa diminta.

Terkadang yang sering kita jumpai saat anak bercerita adalah orang tua tidak sabar menunggu. Selain itu, lebih dulu menyimpulkan apa yang ingin anak curahkan. Ini mengakibatkan anak cenderung mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Cerita berbeda halnya dengan memintai pendapat. Anak usia dibawah 14 tahun belum bisa dimintai pendapat. Karena disamping usianya yang belum matang. Mereka belum bisa membuat keputusan yang pasti. Untuk itu kita sebagai orang tua masih memegang kendali atas mereka.

Misal ketika anak ditanya, "Mau makan apa besok?"

Lalu jawabannya, "Makan ayam goreng."

Kemudian kita sebagai orang tua lupa akan permintaan anak dan meminta maaf kepadanya. Tetapi anak dengan tidak sengaja mengucapkan, "Ah ibu ini."

Padahal dalam surat al-Isra:23 dijelaskan bahwa tidak boleh mengatakan "ah" pada kedua orang tuamu, tapi harus dengan kata yang mulia.

Jadi selama anak usia di bawah 14 tahun dan belum dewasa, mereka masih di bawah kendali orang tuanya. Jika mereka dibiarkan dimintai pendapatnya, efeknya mereka akan terbiasa membantah dan itu perlakuan yang keliru dalam mendidik anak. (Sumber: Khalid Basalamah).

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, u...