Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 04 Maret 2026

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebara...