Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.
Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.
“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.
“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.
Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.
Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.
“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.
Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.
Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.
Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.
“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.
“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.
Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.
Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.
Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar