Rabu, 11 Februari 2026

Perjuanganku 1

Menjadi ibu tidaklah mudah untukku. Apalagi setelah tiga tahun berkecimpung di dunia public sebagai front liner di salah satu BUMN bagian transportation yaitu KAI.

Dengan penghasilan yang bisa dibilang mencukupi kebutuhan bulananku. Aku bisa membeli semua yang aku inginkan tanpa meminta lagi pada orang tua. Kali ini justru aku yang membelikan sesuatu untuknya. Mulai dari belanja bulanan sampai pakaian muslim lebaran. Namun, itu tidak bisa aku nikmati dalam waktu lama. Allah Maha Baik. Belum genap 3 tahun, aku dipertemukan seorang laki-laki yang sekarang menjadi teman hidupku.

Kehidupanku berubah drastis setelah bertemu dengan dia. Tidak menunggu waktu yang lama, hanya dua bulan berjalan, kami menunaikan sunah rosul untuk menikah. Saat itu aku masih menjalankan kontrakku selama tiga bulan di KAI.

Menjadi istri seorang guru honorer dengan penghasilan yang hanya bisa untuk makan sehari-hari membuatku banyak berpikir dan merubah mindset dan kebiasaanku. Yang biasanya suka jajan di kafe, kali ini aku tangguhkan. Yang biasanya beli baju, kali ini aku sisihkan. 

Tiga bulan telah kulalui menghabiskan masa kontrakku di KAI. Banyak kenangan yang aku dan kawan-kawan torehkan. Mereka adalah keluarga keduaku di dunia kerja. Aku mendahului mereka. Aku tidak perpanjang kontrak lagi. Teman-teman ada yang off dan adapula yang perpanjang. Semuanya sudah seperti saudara yang tidak bisa terpisahkan. Kalau ingat cerita ini, jadi kangen mereka. Mas Oki, Mas Agung, Mas Imam, Mas Teguh, Mas Sholeh, Mas Yanto, Mba Devi, Mba Citra, Mba titis, Widi, dan Septi. Lain kali aku ceritakan kisahku di dunia pertransportasian deh.

Adaptasi mengenal pasangan juga tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat. Butuh waktu lima tahun untuk bisa tahu dan paham mengenalnya. Banyak perbedaan yang kami temukan. Harapan yang aku tambatkan kepada suamiku. Rasanya aku ingin sekali merubah dia menjadi versiku. Sayangnya aku belum sadar kalau dia bukanlah bonekaku. Semua di luar kendaliku. Gak bisa dirubah begitu saja.

Semakin hari semakin banyak tantangan yang harus aku lalui, dan adaptasikan darinya. Mulai dari konkow dengan teman-temannya hingga pulang yang larut malam setiap harinya dengan pakaian dinas yang dia kenakan. Ada rasa marah berkecamuk dalam hatiku. Namun aku mencoba bertahan karena aku yakin suatu saat dia akan berubah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Perjuanganku 2

Menyandang nyonya Syaiful Jamal adalah gelar baruku pada waktu itu. Menjelma menjadi full time mommy dengan menunggu kehadiran si buah hati ...