Pulang dari Purwokerto kemarin setelah mengantar Arsyel lomba, ayah tidak langsung mengikuti kami. Karena mbah datang maka aku, dan Arsyel naik mobil sedang ayah naik motor dengan dua helm diletakkan di bagian bawah motor.
Kami sampai di rumah tepat adzan maghrib berkumandang. Aku, dan Arsyel bersekancar di dunia maya. Memegang gawai masing-masing, dan sibuk dengan dunia sendiri sambil rebahan. Efek jalan-jalan di mol membuat badanku terasa lemas, dan ingin segera meluruskannya.
Beberapa waktu kemudian aku pulang ke rumah sedangkan Arsyel masih di rumah mbahnya. Dikarenakan mbah kakung akan pergi ke rumah sakit menjenguk temannya, maka aku tidak terlalu lama berada di rumah. Setelah memberikan makan untuk ayam-ayam ayah, aku langsung kembali ke rumah ibu. Menemaninya yang sedang menyiapkan bahan pokok untuk acara slametan menjelang lebaran.
Setibanya di rumah ibu, bapak sudah berangkat dengan teman-temannya ke rumah sakit. Arsyel masih asyik dengan gawainya. Ibu asyik membungkusi teh, telor, dan mie instan.
Tiba-tiba perutku memberikan sinyal darurat. Suara merdu datang dari arah perut. Musik keroncong mulai berlabuh. Tanda lapar mulai dirasakan.
Ku tengok pemanas nasi. Ternyata nasi sudah habis. Lauk masih tersedia meski tidak menyelera. Karena lapar, aku japri suami untuk membelikanku lumpia boom did dekat depan kampus Unsoed. Lumpia favorit sejak aku, dan adikku berdomisili di situ sebagai mahasiswa.
Aku kira jawaban suami yang menjawab "ya" adalah tanda bahwa dia sanggup membelinya. Tapi prediksiku salah. Pukul 20.00 kulayangkan kembali wa untuknya. Bahwa aku akan makan setelah suami pulang dengan lauk lumpia boom. Jawabannya membuatku meluap dan naik darah. Dia masih di Purwokerto dan belum beranjak sama sekali.
Jika perut ayam nomor satau, lalu perut istri nomor berapa?
Pertanyaan demi pertanyaan berkeliaran di kepalaku. Hingga dia menyarankan untuk membuat mie instan demi terjaganya kewarasan. Aku menuruti apa yanh dia sarankan, demi kewarasan sendiri. Meskipun tidak menyelera, karena sebenarnya ingin nasi dan lumpia boom. Aku dan Arsyel menghabiskan makanan bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar