Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.
Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.
Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.
Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.
Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.
Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.
“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.
Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”
Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.
“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.
Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.
Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.
Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya.
Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.
“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.
Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”
Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.
Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar