Masih terasa hangat rasanya kasus yang terjadi dua hari yang lalu antara hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis. Terutama ketika sang anak mendapatkan ibu tiri.
Mengapa ibu tiri identik dengan galak? iri? atau bahkan gak mau tahu tentang anak bawaan suaminya? Apa sebenarnya yang ada di benak mereka.
Kasus yang sangat menyayat hati. Apa salah anaknya?
Jika memang dia nakal, sejauh mana kenakalannya?
Jika memang dia bandel, standar bandel apa yang digunakan dan tingkah laku seperti apa yang membuatnya melewati batas.
Aku merasa hal ini tidak wajar. Karena kasusnya Lisnawati dan Nizam sungguh di luar nalar. Mengapa? Hati nurani wanita seperti apa yang dia gunakan?
Apakah seperti itu hati wanita yang diberikan oleh Allah? Katanya perasaan itu lembut. Hati itu penuh dengan perasaan. Lalu bagaimana dengan kasus mereka?
Begitu banyak pertanyaan yang tak habis pikir di benakku. Terlebih ketika melihat langsung ilustrasi vidio di berbagai media sosial. Nizam yang terkenal anak sholeh libur dari pesantren ingin berpuasa di rumah bersama ayahnya. Tapi sayang hanya sehari ia merasakan hal itu. Kehangatan, kerinduan dan kebersamaan bersama ayahnya yang dia nantikan selama hidup di pesantren. Ternyata hanya bisa dia rasakan dalam waktu cepat.
Sehari setelah ayahnya pergi merantau, Nizam tinggal bersama ibu tirinya. Nizam yang dikenal sebagai anak yang nurut, mulai diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Mulai dari makan yang tidak sesuai porsinya, perlakuan yang tidak adil, dan bahkan ketika diberikan uang jajan pun lebih kecil dari kakaknya.
Suatu ketika kakak tirinya marah kepada Nizam. Entah dengan alasan apa dia memarahi Nizam tanpa sebab. Nizam yang tidak tahu menahu, hanya bisa diam dan menerima perlakuan kakaknya. Suara amarah kakaknya membuat ibu tirinya menghampiri mereka. Dengan tanpa ragu ibu tiri membela anak kandungnya tanpa melihat siapa yang salah sebenarnya.
Karena masalah tersebut, Nizam terpaksa dikurung di kamar. Berulang kali Nizam berteriak, "Bu, Nizam mau buka puasa bu."
Namun, ibu tirinya tidak memberikan respon.
"Bu, Nizam haus bu..." Badan Nizam mulai lemas. Seharian di kamar tanpa air dan makanan sebagai pembatal puasa dan pengisi perutnya setelah seharian berpuasa.
"Ceklek..." Suara pintu kamar Nizam terbuka.
Nizam sangat senang dan bahagia karena dia akan minum dan membatalkan puasanya. Matanya berbinar. Tak henti - hentinya dia mengucap syukur kepada Allah.
"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah". Seru Nizam dalam suara lemahnya.
Tapi, apa yang dia dapatkan? Ibu tirinya memaksanya untuk meminum air putih yang mendidih ke dalam mulutnya. Nizam menolaknya. Tetapi ibu tirinya bersikeras agar Nizam meminumnya. Nizam pun meminumnya demi menghormati ibu tirinya.
Tidak cukup sampai disitu. Ibu tirinya tidak memberikan sebutir nasipun kepada Nizam hingga berhari - hari. Ini mengakibatkan badan Nizam lemah tanpa tenaga. Bahkan untuk membuka mata pun tak kuasa. Tenaga Nizam habis. Dia hanya bisa tergeletak di atas lantai kamarnya. Dia hanya bisa memanggil ayahnya.
"Ayah.... aku rindu." Lirih Nizam.
Suatu hari ayahnya pulang. Beliau mendapati Nizam sudah terkapar di dalam kamar. Beliau dengan segera membawa Nizam ke rumah sakit. Namun, naas hanya berselang beberapa hari Nizam tidak terselamatkan.
Ironis sekali ilustrasi cerita di atas dari hasil vidio yang aku lihat. Kasus ini sudah diusung ke polisi dan mengakibatkan Lisnawati harus hidup di dalam jeruji besi seumur hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar