Rabu, 18 Februari 2026

Ramadhan Pertama Sendirian

Malam ini adalah malam pertama salat tarawih aku salat sendirian di rumah. Anakku sedang berada di jatirokeh Songgom bersama kakek dan neneknya. Sedangkan Suamiku sedang berada di luar entah itu ke Purwokerto ke sekolah atau ke Bumiayu. Yang jelas Tadi pas pulang dari jatirokeh Kami mengendarai sepeda motor berdua.

Berangkat dari jatirokeh kami meluncur dengan sepeda motor pukul 08.00 Waktu Indonesia Barat. Pagi tadi di perjalanan kami mengendarai sepeda motor dengan kecepatan kira-kira 60 km per jam. Menyusuri jalanan yang dikelilingi oleh pohon jati dan ada Bendungan air atau pengairan air yang mengairi sawah di sekitarnya. 

Keluar dari Desa Songgom kami mampir ke pom bensin untuk mengisi bahan bakar yang sudah hampir habis menjadi terisi penuh.

Kami pun melanjutkan perjalanan sambil mengamati cuaca di sekitarnya. Ternyata di sepanjang perjalanan kami melihat ada sebagian wilayah yang sedang hujan. Dari kejauhan awan hitam telah mengelilingi daerah tersebut. Feeling kami daerah itu adalah daerah yang akan kami lalui bersama tepatnya di daerah Prupuk.

Mengantisipasi hal tersebut maka suamiku memperlambat laju kendaraannya, yang awalnya melaju 60 km/jam menjadi 40 km/jam. Tujuannya adalah supaya hujan yang sedang turun segera berhenti sebelum kami melewati daerah Prupuk. Alhamdulillah ketika kami melewati daerah Prupuk hujan mulai reda. Hujan lebat mengguyur daerah tersebut menjadi gerimis kecil rintik-rintik yang mengiringi perjalanan kami hingga sampai di tempat tujuan yaitu Bumiayu.

Sesampainya di tempat tujuan Aku meminta suami untuk mengantarku di toko Hafiz Store.  Aku akan membelikan buah kurma untuk ibu dan bapakku yang sedang menjalankan ibadah puasa di hari pertama. Namun sebelumnya aku minta aku minta izin ke suami Apakah dia sedang ditunggui oleh temannya atau tidak. Jika memang teman-temannya sudah menunggu lama, aku izin untuk belanja sendiri saja.  Setelah itu jawabannya adalah dia menyanggupi untuk menemaniku berbelanja sambil menunggu teman-temannya berkumpul.

Sebelum meluncur ke Bumiayu suamiku bilang bahwa dia akan bertemu dengan teman-temannya di toko tempat di mana kepala sekolah dari sekolah suami sedang Grand Opening toko barunya.

Selesai berbelanja aku mengantarkan suamiku Ke toko baru yang dibuka oleh Kepala Sekolah suamiku. Sesampainya di sana aku diajak untuk masuk dan menyapa teman-temannya di dalam toko. Tidak lama kemudian hujan pun turun Aku pulang sendirian sedangkan suamiku bersama teman-temannya. 

Di perjalanan aku memakai jas hujan untuk melindungiku dari derasnya hujan yang turun. Aku menunggu suamiku pulang hingga malam ternyata setelah selesai beberes di toko, dia merealisasikan pergi dengan teman sekantornya untuk mengajak nya ke Purwokerto. 

Teman sekantorya ini memiliki dua orang anak sedangkan suamiku pergi ber 3 dengan ibunya. lalu di Purwokerto mereka makan bersama Seorang ibu dengan dua orang anak. 

Hingga tiba saatnya salat tarawih pertama di rumah mulai berjalan. Aku melaksanakannya seorang diri karena anakku bersama Mbahnya dan suamiku juga belum kunjung pulang. Sebenarnya ada rasa tidak adil, bukan tidak adil, tapi ada rasa yang mengganjal pada diriku entahlah aku tidak tahu rasa apa itu, yang jelas aku sebenarnya tidak suka kalau suamiku pergi dengan orang tersebut. Tapi bagaimana lagi, itu di luar kehendakku. Jadi selama mereka masih dibatas yang normal dan tidak ada sesuatu apapun, maka aku percaya utuh dengan suamiku. 

Mengapa aku berpikir begini, karena ini bukan kejadian pertama dan kedua kalinya, ini kejadian yang sudah terlalu sering gimana suamiku dimintai tolong. Biasanya untuk menyetir dan mengantarkannya ke pondok ketika anaknya masih mondok, kalau ini mungkin untuk jalan-jalan.

Yang jadi permasalahannya, Kenapa dia selalu memilih suamiku untuk menjadi drivernya. Sedangkan masih banyak oreng lain menjadi driver bukan hanya suamiku. Atau, mungkin suamiku ini orangnya enakan, jadi diajak kemana-mana nggak ribet dan nggak banyak ikatan. Apalagi kalau dia pergi, aku dan anakku tidak akan pernah menghubunginya. Kalau dulu, aku merasa nggak dihargai karena pergi nggak ada kabar, tapi lama-lama mulai terbiasa, seolah-olah Ini adalah cara kami untuk membangun rasa kepercayaan satu sama lainnya.

Daripada memikirkan segala sesuatu yang di luar kehendak kami, yang ada nanti menyiksa  sendiri. Maka lambat laun kami menerima semua keadaan ini dengan ikhlas. 

Semua yang kami lalui tidaklah gampang, butuh waktu lama untuk bisa menerimanya. Akhirnya aku dan anakku lambat laun bisa membangun pondasi yang kokoh, kepercayaan yang tangguh, dan tidak mau melukai diri sendiri. 

Alhamdulillah aku juga bisa meyakinkan anakku kalau dia juga bisa berdiri sendiri tanpa harus ada Ayah dan Ibunya. Ini menjadi jalan kami supaya nanti anak kami bisa kemana-mana tanpa suami dan anak kami menjadi anak yang mandiri, berani, serta percaya sama diri sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini? Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemuliha...