Kamis, 19 Februari 2026

Ketika Ada Perubahan Sikap Dia

Sore ini menjelang buka puasa Aku merasa ada yang berbeda dari sikap suamiku. Entah itu perasaanku saja atau memang dia sedang memikirkan sesuatu. Yang jelas seharian ini dia tidur selepas salat subuh hingga adzan zuhur berkumandang. Dikarenakan kemarin dia melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi pulang dari Brebes, dan siangnya dia ke Purwokerto hingga malam tiba dia lembur memperbaiki mesin penetas telur yang rusak.

Kebetulan Setelah dia bangun dari tidurnya, Aku pun merasa lelah dan ingin merebahkan badan ini. Selepas sahur aku menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan seperti menyapu, mengepel, tadarus, dan mencuci baju hingga membereskan rumah yang belum terlihat rapi. Akhirnya tepat pukul 14.00 aku merebahkan diri di kamar.

Dengan tidak sengaja aku melihat suamiku mengetik membalas pesan dari temannya. Begitu panjang pesan yang dia kirim. Aku merasa mereka sedang berdiskusi tentang hal yang penting. Entah itu permasalahan pekerjaan atau permasalahan yang lainnya. Yang jelas dari cara dia mengetik, dari cara dia fokus dengan hp-nya, membuatku berpikir bahwa ada tema yang sedang dibahas begitu penting.

Hal ini terlihat dari dia meresponku ketika aku ajak untuk ngabuburit. Perbedaan sikapnya itu membuatku berpikir bahwa dia sedang tidak ada bersamaku. Alrtinya badannya ada di depanku tapi pikirannya Entah di mana. Berbeda halnya dengan kemarin ketika dia bersamaku. Full jiwa raga bersama aku dan anakku tanpa campur tangan yang lainnya. Tapi kali ini perubahan sikapnya membuat diriku lebih baik diam daripada harus mencampuri atau bertanya sesuatu kepadanya. Aku lebih memilih dia yang membuka sendiri daripada aku yang harus bertanya.

Kebetulan malam ini kami berencana untuk kembali ke Brebes menjemput anakku yang sedang berada di rumah Mbahnya. Niat kami selepas salat Isya ataupun selepas tarawih akan menuju ke sana. Tapi pembahasan ini tidak begitu matang karena aku pikir selepas magrib kita akan segera melakukan perjalanan malam. Namun ketika aku membereskan belanjaan dari pasar. Tiba-tiba dia menghilang dan aku memanggilnya. Lalu, perlahan aku melangkahkan kaki menuju tempat peraduannya. 

Dari kejauhan aroma asap yang tidak aku sukai bisa tercium sangat jelas. Oh, dia sedang Me Time. Artinya, aku tidak boleh mengganggunya. Jika aku mengganggunya, itu berarti mala petaka untuk diriku sendiri. Mengapa? karena ketika dia terperangkap atau ketahuan dengan mata kepalaku sendiri, maka aktivitas yang sedang dia lakukan akan otomatis berhenti. Aktivitas itu adalah di mana keluarga besarnya juga tidak menyukainya. Apalagi aku yang setiap hari harus bertemu dengan dia.

Namun perlahan aku akan menerima keadaan itu. Bagaimanapun baik buruknya dia adalah suamiku. Semoga dengan adanya aku memperbaiki diri dan mendoakannya setiap hari ada hidayah yang turun untuknya agar berhenti dengan aktivitas yang dia kerjakan sekarang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini? Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemuliha...