Ia kami merencanakan liburan hanya sekedar untuk rebahan dan tiduran itu butuh effort ya. 😁
Kenapa ga, soalnya kalau libur pasti ada aja niatnya. Merapikan pakaian, bebersih rumah, sampai merias rumah sehingga enak dipandang mata. Dan lagi, itu hanya wacana yang terealisasi hanya membersihkan rumah. Itupun pojok baca punya Arsyel. Paling tidak adalah sedikit kemajuannya.
Suami malah ditelpon buat kumpul sama orang-orang sukses, katanya. Entah itu sukses dalam bersi apa juga aku gak begitu paham. Yang jelas sharing moment dengan orang yang berpengalaman itu membuat otak kita jadi refresh dan banyak ilmu yang didapat. Dari cerita suami sih gitu. Aku dengar, aku resampi dan aku amati oiya ya bisa kaya gitu. Jadi semakin banyak sharing semakin dewasa pemikirannya.
Beda lagi kalau wanita. Beuh! Gak bakal jadi itu si. Ajang kumpul-kumpul kaum hawa seringnya dijadikan "ajang pamer". Pamer anaknya yang sudah bisa baca, bisa go internasional dan sudah menang banyak medali. Belum lagi pamer kalau sudah punya rumah sendiri. 🤣
Pokoknya kalau perempuan yang kumpul bisa jadi bahan ghibah. Tapi tergantung lingkungannya sih. Balik lagi ya kalau lingkungannya pembelajar ya yang kita obrolin seputar tentang ilmu. Biasanya sharing kehidupan yang awalnya curhat bisa jadi lahan untuk saling menguatkan bukan saling menjatuhkan.
Nah pagi ini aku, suami, dan Arsyel sekedar "motor - motoran" keliling kota ibu mertua. Biasalah ya orang gunung turun penginnya mengeksplore seisi dunia sekitar daerah Brebes. Yang biasanya hanya Sirampog-Bumiayu ditempuh dalam waktu 30 menit supaya bisa lihat kehidupan hiruk pikuk kesibukan kota. Kali ini cukup 10 menit sampai dan bisa menikmati kota do tengah hutan jati.
Kalau kata Arsyel, "nah kaya gini dong, desa gak desa banget, kota juga gak ngota banget. Gak bising, gak sunyi senyap. Betah ini sih."
Wah kode nih biar pulangnya agak lama. 😅
Paling gak move on tu kalau mau balik ke gunung tapi dah betah di rumah mbah. Dia dah auto pasang wajah suram kaya kehidupan ini. 🤣
Tapi uniknya gak kesini lama itu bisa jadi cerita yang indah untuk diceritakan ke teman-temannya. Kalau buat aku, main di rumah mertua itu ajang untuk rebahan, dan istirahat dari rutinitas.
Biasanya pagi-pagi kedubrukan di dapur menyiapkan sarapan untuk tujuh orang. Di rumah mertua tinggal terima makan. 😅
Kesannya, menantu yang tidak berbakti ya. Alhamdulillah, mereka paham dengan posisi kami. Terlebih kalau baru datang terus langsung menuju kamar dan merebahkan diri. Segala benda yang kami bawa dirapihkan oleh bapak mertua. Gimana gak nyaman buat balik lagi ke sini. 🤣
Belum lagi Arsyel yang main tanpa harus berpikir panjang untuk sampai tujuannya. Tinggal panggil saudara - saudaranya untuk menemani. Auto jalan dia. Mulai dari main sepeda, jalan-jalan keliling dukuh sampai main di gelap malam pun kami tidak menjadikannya masalah. Asalkan dia bisa memanfaatkan waktu. Waktu makan, waktu istirahat, dan waktu sholat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar