Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 21 Februari 2026

Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sebagai istri, ibu dan wanita. Oh iya ada satu lagi profesi yang sedang aku jalani kurang lebih sembilan tahun belakangan ini. Yaitu sebagai cucu yang berbakti kepada nenek.

Nenekku tinggal bersamaku di rumah lugu. Sedangkan anak - anaknya tinggal di rumah masing - masing yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah kami. Cukup jalan kaki saja.

Pagi ini selepas sahur aku membereskan dapur dan tempat tidur. Setelah itu, aku ajak Arsyel untuk bermurojaah hapalan surat Al-Mulk. Meski sebentar paling tidak dia bersedia tanpa paksaan saja sudah membuatku sangat senang.

Tidak lama setelah itu, aku lanjutkan  untk membaca mushaf kecilku yang sedari tadi aku pakai untuk menyimak hapalan Arsyel. Namun, dari kejauhan terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Langkah nenek atau kami sering memanggilnya uyut karena mempunyai dua buyut yang sekarang tinggal bersama. Sebenarnya tiga tapi tingggal jauh di Depok. "Dup, dup, dup." langkah tongkat dan kakinya terdengar jelas. Beliau menuju ke kamar mandi setelah sholat subuh.

Karena penasaran, aku ikutilah beliau di belakangnya. Seperti yang aku duga, beliau sedang mencuci selendang yang sudah dikenakan semalam. Padahal kondisinya masih belum pulih, bahkan batuk yang sedang ia derita belum juga sembuh. Akhirnya tanpa pikir panjang aku ambil alih semua pekerjaan uyut. Daripada sakit lagi, banyak orang yang nanti akan direpotkan. Belum lagi kondisi saat ini sedang dingin - dinginnya. Jika dibiarkan beliau akan drop lagi seperti kemarin.

Tidak memakan waktu lama aku pun selesai mengerjakan cucian selendang uyut. Tadi ku dengar beliau berkata, "gak terkena apa - apa ko." Mungkin maksud beliau, aku merasa jijik jika tahu kalau selendangnya terkena air kencing. Padahal aku sudah menduga itu terlebih dahulu. Tahu gak guys, tadi sebelum aku ambil ember yang bersisi selendang dan sabun, uyut merendamnya dengan sabun cuci piring yang cukup banyak. "Waduh!" kataku sambil memindahkannya ke dalam mesin cuci. Saking banyaknya sabun, busa yang keluarpun makin banyak. Butuh usaha ekstra supaya buih yang keluar bisa dihilangkan dengan bersih.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Uyut memintaku untuk mengambilkan telor ayam kampung yang direndam di dalam air panas. Tujuannya supaya tidak terlalu amis mungkin ya. Okelah aku turuti saja apa mau beliau. 

Datanglah anak laki - laki kesayangannya setelah uyut meminta aku memanggilnya. Aku biarkan mereka berdua mengobrol. Apa yang uyut minta beliau curahkan kepadanya. Beliau lebih leluasa berkeluh kesah dengan anak kandungnya dibanding dengan cucunya yang setiap hari bersamanya. Tapi aku bersyukur, bisa membantu semampunya.

Dari sini aku belajar bahwa orang tua tidaklah meminta banyak disaat usianya sudah renta. Kehadiran akanyalah yang membuatnya kuat sampai saat ini. Hanya melihat wajahnya dan ditemani di sampingnya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sebagai istri, ibu dan wanita. Oh iya ada satu lagi profesi yang sedang aku jalani kurang lebih semb...