Tiba saatnya ketika HPL itu datang. Bayi dalam kandunganku sudah tidak sabar melihat dunia. Dia dua hari lebih awal menunjukkan tanda – tanda akan keluar. Mulai dari bercak hitam yang ada di celanaku. Bercak yang terlihat tidak terlalu banyak. Hanya sedikit kira – kira berdiameter 3 cm kalau bisa diukur dengan penggaris.
Aku langsung memberitahu ibuku yang sedang masak menyiapkan sarapan untuk kami. Waktu itu jam menunjukkan pukul 05.00 wib. Aku hendak sholat subuh, dan mengambil wudhu. Aku dikejutkan dengan bercak coklat yang menempel pada celana dalamku. Sontak tanpa berpikir panjang aku memberitahu ibuku dengan harapan dia bisa mengedukasiku dan aku bisa menghadapinya dengan tenang. Namun, yang aku dapatkan tidak seperti apa yang aku inginkan. Ibu yang sudah melahirkan tiga orang anak, justru lebih panic dariku.
Tanpa berpikir panjang aku langsung memberitahu suamiku yang sedang tiduran di kamar. Aku menceritakan kronologi kejadian tadi dan menyampaikan bahwa aku harus dibawa ke bidan terdekat. Karena suamiku menyikapinya dengan tenang, maka dia hanya menjawab, “kamu merasa sakit gak perutnya?”
Aku pun dengan penuh keyakinan meresponnya, “saat ini belum begitu sakit banget. Hanya bercak coklat yang terlihat.”
Suami menyarankan untuk tidak mengikuti saran ibu dan bapak. Dia hanya memintaku untuk tetap tenang dan beraktivitas seperti biasa. Namun, karena orang tuaku menyuruhku untuk segera ke bidan maka mau tidak mau, suami juga mengikuti saran mereka.
Karena ini anak pertama maka hal ini wajar terjadi. Biasanya anak pertama prosesnya jauh lebih panjang. Kemungkinan bisa mencapai satu sampai dua hari. Sehari untuk pembukaan pertama yang memakan waktu lama. Memasuki hari kedua pembukaan perlahan akan bertambah. Pernyataan bidan yang sempat aku rekam ketika aku dan suami memasuki ruang periksa. Bidanpun menyarankan hal yang sama untuk tetap beraktivitas seperti biasa. Tetapi keputusan bidan dan suami goyah manakala bapakku masuk ikut menemani kami di dalam ruang periksa.
Hubungan anak dan bapak saat itu sangat dekat. Bahkan sedari kecil aku dan bapak kemana – mana selalu didampingi. Kuliahpun sengaja jauh – jauh hanya untuk mengantarku ke tempat kos, lalu kembali lagi tanpa istirahat. Dan itu yang membuatku percaya utuh dengan bapakku. Selain ada alasan lain yang mengawal rasa takut dan percaya dengannya.
Ketika bapak masuk di ruang periksa, dan bidan menawarkan kepadaku untuk lahiran di mana. Dengan suara yakin dan mantap aku menjawab, “Rumah Sakit.”
Karena saat itu kondisi puskesmas menurut pandanganku masih “kotor”. Apalagi kondisi kamar mandinya, sedangkan aku ingin orang yang nanti menemaniku merasa nyaman dan aman jika di rumah sakit. Dan ini awal dari kisah yang sangat menyentuh sekaligus tidak akan pernah aku lupakan.
Bersambung ……
Tidak ada komentar:
Posting Komentar