Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 23 Mei 2026

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, udah siap jadi ibu, lahir dan batin. Pokoknya tiap lihat fittingnya dia yang lewat di berandaku atau di real Instagramku, rasanya ingin memutar balik waktu. Ingin lahiran normal seperti dia. Ingin menjadi ibu yang bahagia, seolah-olah dia itu tidak ada kekurangan suatu apapun untuk menghadapi menjadi ibu yang pertama, menjadi ibu baru dengan anak pertamanya. 

Mulai dari persiapannya yang rajin olahraga, rajin ngegym, bahkan senam ibu hamil. Rasanya itu tidak ada di benakku waktu itu saat kehamilan pertamaku. Yang ada, aku bergelut dengan diriku sendiri, di mana saat itu aku belum bisa menerima dengan semua keadaan yang aku alami. Mulai dari beralih profesi yang tadinya jadi ibu pekerja menjadi ibu yang full time mommy. di rumah. 

Perpindahan yang tidak mudah, yang awalnya karir woman menjadi full wife. Tapi itu bukan berarti membuatku menyesal yang ada penyesalanku kenapa aku tidak bisa mempersiapkan kelahiran anakku dengan begitu baik. Aku hanya fokus sama diriku sendiri, fokus sama omongan orang, bahkan fokus sama perubahan pasanganku sendiri. 

Aku yang belum begitu kenal dengan suamiku sendiri sehingga aku banyak menuntut pada dirinya sampai aku lupa persiapan kelahiranku apa yang aku butuhkan dan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri. Sampai pada akhirnya yang aku pernah ceritakan pada blogku bahwa aku tidak bisa melahirkan normal walaupun pada saat itu hampir kelahiran normal akan aku lakukan. Pada saat pembukaan lima, air ketubanku pecah. 

Namun aku tidak bisa menahan tekanan yang ada di dalam perutku di mana sang bayi itu terus menekan ingin keluar. Tapi aku tidak bisa mengontrol emosiku sehingga aku tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan membiarkan dia keluar dari jalanlahirnya. 

Dengan kata lain, aku menolaknya, menolaknya dengan mengikuti rasa sakit itu, mengikuti egoku, sampai pada akhirnya belum waktunya menggenj aku menggenj. Dan jalan akhir itu pun membengkak dan mulai menutup. Hingga dibukaan delapan, semua tenaga medis termasuk juga suamiku memutuskan untuk memilih dua jalan di vakum atau lewat atas. 

Karena minimnya informasi yang saya dapat, suamiku dapat, ataupun orang-orang di sekitarku juga mendapatkan informasi yang minim, maka kami memutuskan untuk lewat atas. Operasi berjalan lancar, tetapi dua hari kemudian di malam hari aku mengalami perdarahan yang hebat hingga Hb ku di angka tiga. Aku dan bayiku terpisah dalam waktu kurang lebih dua minggu. 

Aku berada di ICU, sedangkan bayiku berada bersama mbahnya. Lagi-lagi karena minimnya informasi, minimnya belajar kasih yang aku hasilkan, Rasa sangat hangat ketika dia keluar dengan sendirinya dari dua sumber ASIku. Dua-duanya keluar dengan bagus, namun karena kami tidak tahu bagaimana cara pumping, maka dibiarkanlah ASI itu menetes dari sisi kiri maupun sisi kanan. Dan aku hanya fokus pada penyembuhanku. Tidak memperdulikan ASIku keluar seberapa banyak itu. Jangankan diriku, suamiku juga tidak tahu bagaimana caranya. 

Nyesel iya, hanya saja karena kami memang baru menjadi orang tua, maka kami tidak ingin larut dalam sebuah kesalahan. Aku mengalami dua operasi besar. Yang pertama adalah sesar, yang kedua adalah pengangkatan rahimku. Mau tidak mau, rahimku harus diangkat karena pendarahan yang tidak kunjung berhenti. 

Selesai operasi besar, tidak cukup sampai situ, ternyata jahitanku tidak kunjung kering, maka harus dibuka kembali dan harus menutup secara alami. Aku sempat syok dan sempat tidak yakin pada diriku sendiri bahwa aku harus mengalami operasi yang ketiga. Tetapi dokter seniorku berkata, Tidak perlu operasi lagi, karena itu hanya dibutuhkan royal jelly untuk membantu penyembuhan secara alami. 

Jujur, saat itu aku tidak peduli dengan siapapun, aku hanya ingin diriku sembuh dan kembali bersama anakku. Itu adalah sekilas ceritaku yang belum sempat aku tulis di blog pribadiku. Seketika kalau lihat jutaan ibu-ibu di sana yang mempersiapkan kelahirannya dengan baik, aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik di masa kini, masa depan, maupun masa-masa selanjutnya. Aku hanya ingin bersembahkan yang terbaik untuk anakku dan suamiku. Tapi tidak lupa aku juga butuh bahagian untuk diriku sendiri. 

Terkadang aku tidak bisa mengenal diriku pribadi ketika aku harus menangis, entah apa yang aku rasakan, tapi aku tidak bisa mencurahkan isi hatiku, dan aku tidak bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan.

Beruntung bagi mereka yang bisa mengekspresikan emosinya, mencurahkan isi hatinya, dan punya pegangan dengan siapa mereka akan berkata, dengan siapa mereka akan berbicara. Tengki cintainya penuh dengan kasih sayang. Tengki cintanya terpenuhi dengan baik. Aku tidak ingin menyerahkan siapapun dalam kondisiku saat itu. Yang terpenting hari ini, saat ini, aku bersyukur aku masih bisa diberikan sebuah kesempatan untuk dapat membersamai kedua jagoanku. Untuk dapat mengembangkan potensiku saat ini. Dan aku pengen menjadi seseorang yang lebih berguna dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Dan tidak lupa, aku juga harus bahagia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, u...