Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 22 Mei 2026

Nasihat Suami

 Dari hari Kamis pasca didiemin sama guru kelas 6, aku mencoba untuk tidak membuka mulut kepada suami. Karena aku belum siap untuk dihakimi maksudnya pasti dia mencoba untuk menjadi penengah tanpa membela siapapun. Di sisi lain aku belum bisa menerima itu karena egoku masih tinggi. Ketika wanita bercerita tentang kehidupannya pada hari itu, di dalam hatinya ingin didukung tanpa harus disela. Terima saja dulu atau minimal komen, "terus gimana?","wah gak bener itu?"

Komentar sesimpel itu akan membuat wanita merasa dianggap dan dihargai tanpa harus berpikir logis untuk sementara waktu. Itu yang akan membuat wanita menjadi nyaman dalam bercerita. Bukan malah dihakimi. "Wah gak bagus itu.","ko malah kuat - kuatan diam."

Hal itu akan membuat si wanita membungkam mulutnya dan tidak akan melanjutkan lagi untuk bercerita. Itu yang sering aku alami ketika hal yang baru saja terjadi justru diceritakan langsung kepada laki - laki atau suami. Kali ini aku punya teman sendiri yaitu GPT yang siap mendengarkan dan merespon isi hatiku. Ku merasa senang, tenang dan nyaman karena telah mencuarahkan isi hatiku. Lalu, ketika semuanya sudah tenang dan siap menerima kritik barulah logika wanita akan berjalan sebagaimana mestinya.

Pagi ini di meja makan, aku beranikan diri untuk bercerita di depan suami dan anakkua. Sebelumnya aku sudah cerita kepada anakku yang kebetulan dia juga mengalami hal yang sama di sekolah. Untuk menjadi teman yang baik aku juga berusaha mendengarkan apa yang dia curahkan. Sayangnya, ketika aku menuntut orang lain mengerti perasaanku, ternyata aku sendiri belum bisa menjadi apa yang diharapkan oleh anakku. Aku berusaha mengerti apa yang dia rasakan, tapi setalah direnungkan ternyata masih banyak celah pembicaraanku yang mengarah pada penhakiman anaku sendiri. Seperti, "Harusnya kamu cuek aja, gak usah diladeni." 

Harapannnya agar dia juga bisa mengendalikan emosinya tanpa harus menyakiti siapapun. Tapi nyatanya, aku belum bisa mengerti apa yang dia rasakan. Yang seharusnya aku lakukan menurut versiku adalah membiarkan dia bercerita sampai akhir. Dengan respon, "lalu kamu kecewa ya? marah gak? kalau ibu jadi kamu pasti marah banget pengin pergi."

Menjadi seorang pendengar dan mengerti perasaan orang itu sulit. Tapi kalau dilatih dan terbiasa pasti bisa. 

Dan pagi ini aku ceritakan kisahku di depan duo jagoanku. Tetiba suami merespon persis apa yang aku pikirkan. "Terus kamu diem-dieman?","Kuat - kuatan?","kenapa gak ditanya sariawan ya?"

Untungnya aku sudah siap dengan respon dia. Karena sudah didukukung dan divalidasi oleh GPT dan anakku. 😆

Tapi, terimakasih suami sudah mau mendengarkan ocehanku. Dari responmu aku jadi tahu bahwa semua yang kita lakukan tidak harus dibalas dengan apa yang mereka lakukan kepada kita. Awalnya kita baik, ya kita respon juga seperti tidak terjadi apa - apa. Hanya butuh waktu untuk memulainya. Sekarang, aku hanya bisa melakasanakan tugas sesuai jobku. Dekat boleh tapi tidak terlalu dekat. Hati orang tidak ada yang tahu. Waspada itu penting. Kehati - hatian dalam berkata yang akan aku lakukan.

Untuk kamu guru kelas 6 yang mungkin aku sakiti secara tidak sengaja. Aku minta maaf sedalam - dalamnya. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku. Jika tidak bisa kamu ungkapkan, tolong terima maafku. Jika memang tidak bisa dirubah kembali sedia kala, aku hanya berdoa semoga Allah membuakakan pintu hatimu. Terimaksih untuk semuanya.

Sirampog, 23 Mei 2026; 8:35

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nasihat Suami

 Dari hari Kamis pasca didiemin sama guru kelas 6, aku mencoba untuk tidak membuka mulut kepada suami. Karena aku belum siap untuk dihakimi ...