Kamis, 26 December 2024. 05.30 a.m
Pagi ini aku merasa belum baikan. Kerongkonganku masih sesak. Aku sakit gess, hatiku yang terluka dari kemarin belum kunjung sembuh. Keadaanku cukup tragis kalau boleh dikata. Dari pulang latihan hadroh sampai pulang ketemu suami pun aku masih dalam keadaan yang sama. Di rumah depan ada hal yang ingin aku sampaikan ke bapak terkait suami beli motor baru, rasanya kelu. Semua tertahan di leher. Kalaupun mau diungkapkan rasanya bendungan ini jebol. Daripada harus tumpah di sana, kuputuskan untuk pulang dengan harapan bisa dikeluarkan dan sembuh, plong.
Sesampainya di rumah, di sudut pintu kamar, kuluapkan semua yang tadi menyumbat di leher. Dengan suara sesenggukan yang bisa didengar semua orang. Ada rasa sesal dan takut yang aku rasakan di sana. Sesal karena tidak bisa ngobrol dengan orang tua secara leluasa. Takut karena bayang – bayang masa kecil keluar semua dalam pikiranku. Tumpah ruah di kamar sendirian. Bantal dan selimut tak henti – hentinya aku remas dan aku gigit, hanya untuk meredam suara tangis memecah suara hujan.
Aku bingung dengan keadaanku saat ini. Rasanya ingin menangis sepanjang malam. Tapi kalau dipikir kasihan diri ini, badan mungilku akan semakin mungil dengan mengikuti perasaan dan pikiran yang berkecamuk. Ada apa denganku?
Tak lama suami pun pulang. Kusiapkan semua yang ia butuhkan dan makan bersama dengan mata sembab. Aku tahu dia bingung juga menghiburku. Tipe yang jaim tidak bisa memecah suasana dengan kelembutan. Sampai makan malam selesai, kami kembali di dalam kamar. Tak sadar ucapan sindiran suamiku memecahkan bongkahan hati yang sudah sudah aku tata rapi meski tidak seperti sedia kala. Ucapan yang membahas tentang “diganggu oleh pikiran – pikiran yang membuang2 waktu”. Memang benar ucapannya, tapi saat ini bukan itu yang aku butuhkan, justru semakin dia menyindir, dan mengungkapkan hal kasar, semakin aku tolak dan berontak. Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai mengekspresikan sesuatu. Namun, sekalinya keluar maka akan fatal jika logikaku tidak jalan. Maka saat itu juga aku berpikir untuk apa aku ceritakan kisahku pada orang lain yang tidak peduli denganku. Yang tahu dan bisa mengendalikanku hanyalah diriku sendiri. Saat ini hanya ini yang bisa aku lakukan, mencurahkan semuanya ke kamu. Tempat berkeluh kesah. Tempat sampah terbaikku. Tanpa peduli dihujat, dimarahi maupun dikritik.
Terimakasih aku yang sudah bertahan sejauh ini. Yang peduli dengan keadaan orang lain meki kamu tidak dalam keadaan baik – baik saja. Seandainya ada yang memelukku dari belakang, mungkin aku bisa mengeluarkan semuanya lagi sampai banjir. Hanya sebagai sandaran tidak butuh yang lain. Walaupun pada akhirnya, aku harus malu pada diriku sendiri dengan keadaanku. Aku bangga pada diriku.
Rabu, 25 Desember 2024
Selasa, 24 Desember 2024
Karena Dia, Satu Kata Darimu Buatku Meledak
Rabu, 25 Desember 2024. 11.06 a.m
Hai ayah, aku hanya ingin bercerita denganmu selepas kamu pergi dari rumah setelah kita bercinta.
Dear aku yang sedang menata hati supaya bisa menulis curahan hati ini dengan runut dan terbuka, sehingga semuanya keluar seperti apa yang tadi aku curahan lewat air mataku di kamar afi. Aku yang tak henti – hentinya menata emosi. Menjadi stabil tidaklah mudah. Bahkan di depan orang lain aku bisa terlihat baik – baik saja, padahal sebenarnya tidak. Apalagi pagi ini dikagetkan dengan notif minion yang stalker media sosialku dengan caption yang membuatku jengkel. Dan secara bersamaan suasana hatiku berubah. Kuceritakan itu ke kamu dan adikku dengan rasa yang biasa saja. Sejatinya aku terguncang bahkan ingin memakinya. Rasanya kalau itu terjadi akan sia – sia waktu, tenaga, dan pikiranku.
Aku sudah merasa baik ketika semua akses yang terhubung ke dia aku putuskan. Nyatanya dia masih saja ingin tahu kehidupanku lebih jauh. Ada rasa takut yang besar. Bukan berarti aku takut karena melakukan hal yang salah. Tapi aku takut tidak ada lagi orang yang percaya kepadaku. Tidak ada lagi orang yang sayang padaku. Bahkan untuk menunjukkan rasa simpati kepadaku pun tidak. Itu yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.
Hingga akhirnya kau ucapkan kata yang membuatku menjadi memuncak. “ayah jangan lupa pakaian yang di atas”. Seruku di tempat cuci baju. “apa sih…. Bu”. Jawabmu dengan suara yang tak biasanya. Karena suasana hatiku sedang tidak bisa diajak kompromi akupun ikut mengambil arti dari ucapanmu. Juga denganmu, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat itu. Entah timingku yang tidak pas atau memang kamu yang tidak suka dengan kerewelanku ketika melihatmu santai sedikit di rumah. Aku sangat berterimakasih karena kamu sudah banyak membantu urusan rumah untukku. Jikalau aku bisa dan memilih aku lebih suka focus di rumah dibandingkan harus disambi menjadi ibu berkarir. Tapi aku sudah terjun dan terlanjur basah. Jadi aku harus bisa mengendalikan semua. Sesuai apa yang kamu ajarkan “semuanya senyampainya.” Dan aku mengartikan itu dengan jalani semuanya dengan kerelaan hati dan banyak bersyukur karena masih banyak orang yang tidak seberuntung aku.
Terkadang kalau perasaan lagi mendominasi ingin sekali mengungkapkan semuanya di depanmu. Sayangnya aku tidak bisa merangkai kata, hanya bisa mengalirkan lewat teriakan di tempat yang sepi, sendirian, mengamuk dan memukul apa yang ada di depan sambil membayangkan aku bisa dipeluk dan ditenangkan olehmu. Tapi sayang itu tidak mungkin terjadi, karena aku tahu, kamu tipe orang yang tidak tahan melihat hal demikian, bahkan bingung harus bersikap bagaimana. Biarkan aku saja yang membayangkan itu supaya aku juga bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku masih punya Allah yang senantiasa mendengarkan semua tingkah lakuku saat itu. Setelah aku keluarkan semua termasuk dengan ucapan “brengsek. Ngger ora pengin dikongkon ora sah ngepe pakaian ning duwur. Ora ngarti apa nek bulak balik manjat sikil kumat. Diladeni uwis, terimakasih ora. Jaluk tulung malah ngresula”.
Aku tahu mungkin itu semua bukan yang kamu maksudkan, tapi itulah isi hatiku. Sempat terpikir juga kenapa istri tidak boleh berkata seenaknya sendiri di depan suaminya, apalagi menjawab perkataan suaminya ketika tidak sesuai dengan dirinya. Dan ini pertanyaan yang tidak usah kamu jawab. Karena aku tahu jawabannya dan contohnya sudah ada. Ini hany selintas iklan yang lewat di kepalaku.
Dengan tangis yang masih menghiasi pikiranku sampai sesenggukan. Akupun merasa kasihan dengan diriku sendiri sambil ngomong dengan bantal. “aku tidak minta banyak ke kamu, bahkan untuk motorpun aku tidak begitu prioritas. Hanya saja aku terima semua hadiah yang akan kamu berikan sebagai wujud kasih sayangmu ke aku, maafkan aku kalau kamu berpikir aku tidak begitu antusias dalam merespon.”
Kalau boleh memilih. Hal urgent saat ini untukku memperbaiki dapur yang kurang dengan penerangan, memasang jek listrik di dapur, membersihkan kamar mandi bersama supaya tidak licin, kita nyaman uyut aman, dan mengecet kamar tidur yang sudah lama aku minta luangkan waktumu untuk itu. Hal receh tapi aku suka dan bahagia. Tapi balik lagi aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa ngomong lagi hal itu ke kamu supaya gak terkesan begitu rewel.
Aku adalah tipe wanita yang suka dengan soft spoken tapi mendapati partner yang berkebalikan karakternya dengan apa yang aku harapkan. Aku pikir aku yang harus memulai duluan. Oke aku akan belajar meski itu tidak mudah. Ada harapan ketika aku memulainya akan mendapatkan perlindungan dari kalian dan ucapan terima kasih dari kalian semua. Terutama dari Arsyel yang kan selalu melindungi ibunya kelak. Mudah-mudahan diijabah.
Aku sih berharap setelah kamu baca tulisan recehku ini yang tidak ada artinya tidak lagi menjadikanmu menggagalkan apa yang sudah kamu rencanakan. Eh tapi aku yang terlalu sibuk peduli dengan perasaanmu aja kali ya. Itu uangmu terserah mau kamu apakan. Untuk jalan – jalan ke jogja akupun tidak menuntuk banyak mau terealisasi atau tidak, tapi yang jelas Arsyel pengin ke sana. Kalaupun cancel juga tidak masalah. Tinggal nanti gimana ngmong ke anaknya dan tidak kecewa. Aku juga memikirkan budget ke sana karna di tabunganku hanya ada 2 juta untuk bisa main ke jogja.
Aku minta maaf yah sudah begitu banyak merepotkanmu. Terlebih ketika hati ini goyah. Aku yang kurang mendekatkan diri sama Allah kali ya jadi emosinya tidak stabil tidak seperti kamu yang sudah level dewa. Asli, gegara notif ig dan komenan dia, suasana hatiku berubah. Tapi terimakasih untuk semuanya, kamulah tumpuanku, tanpamu apalah artinya aku. Thanks for all. Sayang ayah…. Love you <3 <3 <3
Hai ayah, aku hanya ingin bercerita denganmu selepas kamu pergi dari rumah setelah kita bercinta.
Dear aku yang sedang menata hati supaya bisa menulis curahan hati ini dengan runut dan terbuka, sehingga semuanya keluar seperti apa yang tadi aku curahan lewat air mataku di kamar afi. Aku yang tak henti – hentinya menata emosi. Menjadi stabil tidaklah mudah. Bahkan di depan orang lain aku bisa terlihat baik – baik saja, padahal sebenarnya tidak. Apalagi pagi ini dikagetkan dengan notif minion yang stalker media sosialku dengan caption yang membuatku jengkel. Dan secara bersamaan suasana hatiku berubah. Kuceritakan itu ke kamu dan adikku dengan rasa yang biasa saja. Sejatinya aku terguncang bahkan ingin memakinya. Rasanya kalau itu terjadi akan sia – sia waktu, tenaga, dan pikiranku.
Aku sudah merasa baik ketika semua akses yang terhubung ke dia aku putuskan. Nyatanya dia masih saja ingin tahu kehidupanku lebih jauh. Ada rasa takut yang besar. Bukan berarti aku takut karena melakukan hal yang salah. Tapi aku takut tidak ada lagi orang yang percaya kepadaku. Tidak ada lagi orang yang sayang padaku. Bahkan untuk menunjukkan rasa simpati kepadaku pun tidak. Itu yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.
Hingga akhirnya kau ucapkan kata yang membuatku menjadi memuncak. “ayah jangan lupa pakaian yang di atas”. Seruku di tempat cuci baju. “apa sih…. Bu”. Jawabmu dengan suara yang tak biasanya. Karena suasana hatiku sedang tidak bisa diajak kompromi akupun ikut mengambil arti dari ucapanmu. Juga denganmu, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat itu. Entah timingku yang tidak pas atau memang kamu yang tidak suka dengan kerewelanku ketika melihatmu santai sedikit di rumah. Aku sangat berterimakasih karena kamu sudah banyak membantu urusan rumah untukku. Jikalau aku bisa dan memilih aku lebih suka focus di rumah dibandingkan harus disambi menjadi ibu berkarir. Tapi aku sudah terjun dan terlanjur basah. Jadi aku harus bisa mengendalikan semua. Sesuai apa yang kamu ajarkan “semuanya senyampainya.” Dan aku mengartikan itu dengan jalani semuanya dengan kerelaan hati dan banyak bersyukur karena masih banyak orang yang tidak seberuntung aku.
Terkadang kalau perasaan lagi mendominasi ingin sekali mengungkapkan semuanya di depanmu. Sayangnya aku tidak bisa merangkai kata, hanya bisa mengalirkan lewat teriakan di tempat yang sepi, sendirian, mengamuk dan memukul apa yang ada di depan sambil membayangkan aku bisa dipeluk dan ditenangkan olehmu. Tapi sayang itu tidak mungkin terjadi, karena aku tahu, kamu tipe orang yang tidak tahan melihat hal demikian, bahkan bingung harus bersikap bagaimana. Biarkan aku saja yang membayangkan itu supaya aku juga bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku masih punya Allah yang senantiasa mendengarkan semua tingkah lakuku saat itu. Setelah aku keluarkan semua termasuk dengan ucapan “brengsek. Ngger ora pengin dikongkon ora sah ngepe pakaian ning duwur. Ora ngarti apa nek bulak balik manjat sikil kumat. Diladeni uwis, terimakasih ora. Jaluk tulung malah ngresula”.
Aku tahu mungkin itu semua bukan yang kamu maksudkan, tapi itulah isi hatiku. Sempat terpikir juga kenapa istri tidak boleh berkata seenaknya sendiri di depan suaminya, apalagi menjawab perkataan suaminya ketika tidak sesuai dengan dirinya. Dan ini pertanyaan yang tidak usah kamu jawab. Karena aku tahu jawabannya dan contohnya sudah ada. Ini hany selintas iklan yang lewat di kepalaku.
Dengan tangis yang masih menghiasi pikiranku sampai sesenggukan. Akupun merasa kasihan dengan diriku sendiri sambil ngomong dengan bantal. “aku tidak minta banyak ke kamu, bahkan untuk motorpun aku tidak begitu prioritas. Hanya saja aku terima semua hadiah yang akan kamu berikan sebagai wujud kasih sayangmu ke aku, maafkan aku kalau kamu berpikir aku tidak begitu antusias dalam merespon.”
Kalau boleh memilih. Hal urgent saat ini untukku memperbaiki dapur yang kurang dengan penerangan, memasang jek listrik di dapur, membersihkan kamar mandi bersama supaya tidak licin, kita nyaman uyut aman, dan mengecet kamar tidur yang sudah lama aku minta luangkan waktumu untuk itu. Hal receh tapi aku suka dan bahagia. Tapi balik lagi aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa ngomong lagi hal itu ke kamu supaya gak terkesan begitu rewel.
Aku adalah tipe wanita yang suka dengan soft spoken tapi mendapati partner yang berkebalikan karakternya dengan apa yang aku harapkan. Aku pikir aku yang harus memulai duluan. Oke aku akan belajar meski itu tidak mudah. Ada harapan ketika aku memulainya akan mendapatkan perlindungan dari kalian dan ucapan terima kasih dari kalian semua. Terutama dari Arsyel yang kan selalu melindungi ibunya kelak. Mudah-mudahan diijabah.
Aku sih berharap setelah kamu baca tulisan recehku ini yang tidak ada artinya tidak lagi menjadikanmu menggagalkan apa yang sudah kamu rencanakan. Eh tapi aku yang terlalu sibuk peduli dengan perasaanmu aja kali ya. Itu uangmu terserah mau kamu apakan. Untuk jalan – jalan ke jogja akupun tidak menuntuk banyak mau terealisasi atau tidak, tapi yang jelas Arsyel pengin ke sana. Kalaupun cancel juga tidak masalah. Tinggal nanti gimana ngmong ke anaknya dan tidak kecewa. Aku juga memikirkan budget ke sana karna di tabunganku hanya ada 2 juta untuk bisa main ke jogja.
Aku minta maaf yah sudah begitu banyak merepotkanmu. Terlebih ketika hati ini goyah. Aku yang kurang mendekatkan diri sama Allah kali ya jadi emosinya tidak stabil tidak seperti kamu yang sudah level dewa. Asli, gegara notif ig dan komenan dia, suasana hatiku berubah. Tapi terimakasih untuk semuanya, kamulah tumpuanku, tanpamu apalah artinya aku. Thanks for all. Sayang ayah…. Love you <3 <3 <3
Langganan:
Komentar (Atom)
Bonding Berdua
Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...
-
Pertama kali diutus menggantikan ibu KS sebagai bagian dari panitia hbh pgri 2025. Sesampainya di ruangan, aku gak tau apa² tapi hanya duduk...
-
Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definis...
-
Alhamdulillah sampai juga di nhw 5. Tugas dari kuliah kehidupan ini semakin menantang dan semakin memberikan jalannya. Di Institut Ibu Profe...