Aku hanya bingung menghadapi situasi ini. Di sisi lain sebagai anak aku ingin menenangkannya. Tapi di lubuk hati terdalam ada hal yang menolak rasa itu. Rasanya gak bebas aja. Pikiranku carut marut menghadapinya. Belum lagi tiba - tiba di pagi hari ditelpon oleh sanak saudara yang mengharuskanku menjawab semua pertanyaan mereka dengan wajah yang sumringah. Padahal di dalam pikiran dan kepalaku ini sangat mengganggu.
Meski aku tahu bapak sangat membutuhkan dukungan dan doa dari mereka. Tapi apakah harus memakai cara ini? yang pada dasarnya kami anak - anak ingin menjalaninya dengan tenang, tanpa orang lain tahu di awal. Tiba - tiba aja tahu pulang - pulang sudah ditindak.
Ini buatku spaneng. Tidak bisa berpikir jernih. Bahkan mendengar orang lain berbicara pun itu membuatku mual.
Dan pengin ngomong, "dah si diem gitu".
Arrgh ini hanya inginku.
Mereka semua tidak ada urusannya denganku. Saat ini yang bisa aku kendalikan adalah diriku sendiri. Mauku apa supaya bisa tenang, dan lengang.
Aku memtuskan untuk kabur dari rutinitas kerjaku lebih gasik. Pergi ke kafe yang aku anggap lebih lengang dan tidak akan ada yang kenal denganku.
Awalnya oke. Tapi lama kelamaan banyak yang datang. Apalagi dengan adanya kaum hawa yang baru seumur jagung membangun rumah tangga. Rasanya cerita mereka itu milik dunia mereka. UGh bikin brisik aja. wkwkwk ada apa dengan aku coba.
Oke.
Untuk besok dan lusa, take it easy. All is well.
Samasta Coffee,
Selasa, 16 September 2025
2.31 p.m