Wikipedia

Hasil penelusuran

Minggu, 01 Maret 2026

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yang sedang terjadi oleh negara - negara besar yaitu Amerika Serikat dan Iran. Konflik mereka mulai memanas. 

Meninggalnya Khamenei berpikir bahwa Israel akan menang karena telah membunuhnya. Namun di sisi lain Iran tetap kokoh dengan perjuangannya. Dengan ramainya dunia diributkan oleh berita demikian, semakin membuat hati ini merasa sesak. Sebenarnya ada apa dunia ini?

Hanya bisa berdoa, agar semuanya baik - baik saja. Lindungilah kami dalam genggamanMu ya Allah.

Ternyata memikirkan hal demikian saja bisa menguras tenaga dan pikiranku ya Allah. Sampai kejadian pagi tadi saat sahur, aku tidak tahu kalau belum masak nasi. Lepas buka puasa, badanku rasanya lemas, tak bertenaga. Untuk sholat tarawihpun rasanya tinggal sisa tenaga yang aku punya hanya 10%. Selebihnya tinggal mengikuti imam.

Malam itu suasana Ramadan di rumah terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 03.45. Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak 03.15, tapi karena terlalu lelah setelah tarawih di masjid dekat rumah, aku mematikannya dan tertidur lagi.

Ketika terbangun, jantungku langsung berdegup kencang.

“Astaghfirullah… sudah hampir imsak!”

Dengan mata masih setengah terpejam, aku berlari ke dapur. Niatnya ingin menanak nasi untuk sahur. Rice cooker segera kunyalakan, beras sudah dicuci, air sudah dituang. Tapi setelah menekan tombolnya, aku baru sadar—waktu tak mungkin cukup. Menanak nasi butuh waktu, sedangkan adzan Subuh tinggal hitungan menit.

Keringat dingin mulai terasa. Perut sudah lapar, tapi nasi belum matang. Aku menatap rice cooker itu dengan pasrah.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah, “Sudah imsak belum?”

“Sebentar lagi, Yah…” jawabku dengan suara panik.

Aku membuka tudung saji. Hanya ada sisa lauk semalam: sedikit telur dadar, tempe goreng dingin, dan sambal. Tak ada nasi. Aku menelan ludah.

Dalam hati sempat muncul penyesalan, kenapa tadi tidak langsung bangun? Kenapa harus menunda?

Akhirnya aku mengambil roti tawar yang hampir terlupakan di sudut meja. Kutambahkan sedikit selai. Telur dadar dan tempe goreng kupanaskan sebentar. Tanpa nasi, tanpa menu lengkap seperti biasanya.

Kami sekeluarga duduk sederhana di meja makan. Tidak ada keluhan. Ibu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Yang penting niat sahurnya,” katanya menenangkan.

Aku mengangguk pelan. Saat adzan Subuh berkumandang, suasana terasa syahdu. Meski sahur hanya dengan roti, telur, dan tempe, ada rasa hangat yang berbeda di hati.

Hari itu aku belajar sesuatu.

Ramadan bukan tentang seberapa mewah menu sahur kita. Bukan tentang nasi hangat atau lauk lengkap. Tapi tentang keikhlasan, kesiapan, dan kesungguhan menjalankan ibadah.

Siang harinya, meski perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya, aku teringat sahur sederhana tadi. Justru dari kejadian telat masak nasi itu, aku belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa yang ada.

Sejak hari itu, setiap Ramadan, aku selalu memasang dua alarm.

Dan setiap kali melihat nasi mengepul hangat di meja sahur, aku tersenyum—teringat momen ketika kami pernah sahur dengan makanan seadanya, tapi hati terasa begitu penuh.

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yan...