Selasa, 25 November 2025

I mad him much

 Hari ini aku dikabari bahwa ace ada tugas kelompok dimana dia harus pulang telat. Katanya pulang pk.15.00.


Ku beritahu ayahnya agar bisa jemput dia tepat waktu, dan bisa titip lauk. Kebetulan sayur, dan lauk di rumaah habis.


Ku bertahan sampai sore karena saking laparnya sampai lupa cacing di dalam tubih berhenti berbunyi. 1 jam kemudian ayah ace beritahu bahawa ace tidak ada di tempat.


Aku cari info kesana kemari, namun tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Kemudian 1t menit ace datang bersama ayah. Batinku, susah banget ya ngasih tau kalau anaknya sudah ketemu. 


Dan, seperti dugaanku titipanku tidak ia belikan. Lagi² soalg gak ada duit. Padahal tidak lama sebelumnya dia telah melakukan banyak transaksi pembelian barang online. 


Sorenya aku hanya makan mie goreng sisa dari sekolah dengan pete. Itu peemintaan dia. Aaku kira dia akan banyak makan karena sebelum jemput dia bercerita karena laper. Mungkin aku juga yang kepedean, karena terlalu merespon keluhan itu.


Dia sudahi makan sepiring berdua, sedang aku tambahkan lagi nasinya. Laper, selaper²nya meski hanya dengan pete. Bukan soal bersyukur, aku berterimakasih sudah mau makan dengan lauk seadanya.


Tapi dari sini aku sadar adanya memetik pete, makan yang tidak habis, wa pesanan tidak direspon alih² uang tidak ada. Aku bukanlah prioritas dia.


Ternyata dia sudah makan bersama temannya di sekolah. Pete itu buah tangan untuk temannya ketika dia akan pergi setelah makan dan sholat bersama. 


Honestly, hari ini aku kecewa berat ya allah aku salah telah memberikan harapan besar ke dia. Tinggal antisipasi saja jika mau nitip pesanan, tanyakan dulu ada uang atau tidak. Atau memang aku disetting menjadi diri pribadi yang mandiri sejak kecil.


Sebagai penghibur diri. Aku sudah biasa melalui ini semua. Berdiri, bertahan, dan gak cengeng sampai sejaauh ini sudah saangat luar biasa. Terimakasih aku. Aku sayang aku. Maaf karena telah membuatmu selalu mengalah demi orang lain. 🤗


Gunung kembang, 26 November 2025, 00.14 wib

Selasa, 16 September 2025

Saat kepala ini isinya rumit.

Memasuki hari di mana besok adalah hari bapakku akan menghadapi jarum suntik, infus, dan kawan - kawannya. Karena akan melakukan tindakan op di organ tubuhnya yaitu ginjal. Ada kista kristal yang bersarang di luarnya yang harus diambil. Kata dokter melalui ibu bercerita bahwa cairan itu bisa disedot dan mereda sesaat. Tetapi jika kistanya atau tempat gelembung itu tidak diambil maka suatu saat rasa sakit itu akan kambuh. Dan itu yang membuat bapak selalu merasa paling sakit se Indonesia Raya. 

 Aku hanya bingung menghadapi situasi ini. Di sisi lain sebagai anak aku ingin menenangkannya. Tapi di lubuk hati terdalam ada hal yang menolak rasa itu. Rasanya gak bebas aja. Pikiranku carut marut menghadapinya. Belum lagi tiba - tiba di pagi hari ditelpon oleh sanak saudara yang mengharuskanku menjawab semua pertanyaan mereka dengan wajah yang sumringah. Padahal di dalam pikiran dan kepalaku ini sangat mengganggu. 

Meski aku tahu bapak sangat membutuhkan dukungan dan doa dari mereka. Tapi apakah harus memakai cara ini? yang pada dasarnya kami anak - anak ingin menjalaninya dengan tenang, tanpa orang lain tahu di awal. Tiba - tiba aja tahu pulang - pulang sudah ditindak. Ini buatku spaneng. Tidak bisa berpikir jernih. Bahkan mendengar orang lain berbicara pun itu membuatku mual. 

Dan pengin ngomong, "dah si diem gitu". Arrgh ini hanya inginku. 

Mereka semua tidak ada urusannya denganku. Saat ini yang bisa aku kendalikan adalah diriku sendiri. Mauku apa supaya bisa tenang, dan lengang. Aku memtuskan untuk kabur dari rutinitas kerjaku lebih gasik. Pergi ke kafe yang aku anggap lebih lengang dan tidak akan ada yang kenal denganku. 

Awalnya oke. Tapi lama kelamaan banyak yang datang. Apalagi dengan adanya kaum hawa yang baru seumur jagung membangun rumah tangga. Rasanya cerita mereka itu milik dunia mereka. UGh bikin brisik aja. wkwkwk ada apa dengan aku coba. Oke. 

Untuk besok dan lusa, take it easy. All is well.

Samasta Coffee, 
Selasa, 16 September 2025
2.31 p.m

Rabu, 23 Juli 2025

Ku hanya ingin melihatmu ada di depan mataku

Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definisi rumah itu ada kami (aku dan arsyel) dalam pikiranmu? Ini bukan masalah pasti ada jawabannya, tapi panggilan hatimu. Setidaknya ketika kamu di luar sana adakah keinginanmu untuk pulang bertemu dengan kami?

Mungkin menurutmu ini adalah pikiran kecil yang tidak ada artinya. Apa sih cuma masalah sepele. Lagian kalau pulang juga akan ditinggal tidur atau disuruh - suruh mulu. Ya itu memang benar realitanya. Tapi ketahuilah kami membutuhkan hadirmu jiwa dan raga. Ku tak ingin seperti mereka yang ada tapi merasa tidak ada. Atau mereka yang mungkin akan lebih hangat jika hanya bermodal vcall sesama pasangan dengan jarak yang memisahkan.

Perasaan dan naluriku tidak bisa dibohongi. Ketika pikiranmu tidak di rumah, bisa aku rasakan. Sebaliknya jika kamu utuh ada untuk kami pun bisa dirasakan. Ketahuilah boosterku itu kamu. Bisa berkeluh kesah saat kamu di rumah hal yang sangat aku rindukan. Bisa dikatakan aku mandiri dengan kondisiku sekarang tapi itu hanya di jam kerja. Selebihnya ketika kamu pulang aku berubah menjadi yang butuh bermanja dan bersandar. Bahkan untuk menangis sesenggukan tanpa menahan aku pun mau. Layaknya anak kepada orang tuanya, atau adik pada kakaknya atau mungkin kepada teman yang ia percayai.

Banyak kecemburuan yang dipendam karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Mereka yang punya banyak waktu ngobrol dan bertemu denganmu adalah orang yang beruntung. Mereka yang bisa membuatmu nyaman dan menjadi dirimu sendiri tanpa memiliki sekat, termasuk orang yang sangat berharga. Ku ingin memiliki waktu itu. Namun ku sadar itu cara mu memperlakukanku dengan versimu. Bahkan waktu lima menit untuk makan pun sangat ditunggu oleh kami ketika kamu ada di rumah.

Aku tahu kau juga sibuk di luar sana. Ku hargai itu. Aku juga wanita tulen yang butuh sosok itu. Bukan yang suka sendiri melajang dengan segala kesibukannya. Aku hanya ingin memanfaatkanmu sebagai suamiku. Itupun kalau kamu masih bisa menerimaku. Tapi tak apalah itu semua di luar kendaliku. Ku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku tulis ini bisa kamu baca. Baca saja aku sudah menjadi mereka yang beruntung di waktu detik bacaan ini. Ini harapanku. Harapan yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi ku percaya bahwa suatu saat nanti akan bisa diwujudkan. Terimakasih untuk 9 tahun ini. Menjadikanku manusia yang kuat dengan segala kelemahan dan kerapuhanku. Terimakasih dengan segala perhatian dan treatment mu yang sudah bisa merubahku di titik ini. Menjadi diriku yang sekarang dengan menerima semuanya tidaklah mudah. Terlebih melawan diri dengan segala kekurangan. Tapi aku bisa berdiri dan duduk tegak karenamu. Berada di sampingmu suatu kebahagiaan tersendiri.

Love You lasting forever.

Hanya ingin kau tahu tanpa harus tahu tanggapanmu.

Jumat, 11 Juli 2025

Teringat masa yang sangat menyedihkan

Hai kamu... sudah sampai di waktu ini sudah sangat luar biasa. Kamu adalah orang terkuat. Kamu hebat bisa melewati itu semua. Jatuh bangun sudah dilalui meski harus melawan sendiri. Tetaplah menjadi dirimu yang penuh suka, ceria dengan segudang bakat yang kamu miliki. Malam ini ku melihat tayangan orang dengan persiapan persalinannya. Rasanya terharu, bahagia, dan iri. Terharu karena mereka akan mempunyai keturunan, bahagia ikut merasakan kedekatan/bonding yang luar biasa dengan pasangan. Iri karena dulu aku tidak sematang itu mempersiapkan kehamilan dan persalinanku. Iri kenapa suamiku tidak seperti itu dulu. Aku yang terbiasa sendiri, menghadapi semuanya seorang diri, bahkan tidak sekalipun cerita (curhat) dengan orang tua dari hati ke hati. Bertemu dengan pasangan yang sangat cuek, dan tidak bisa mengayomi pada saat itu. Saat itu aku berharap aku bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya sebagai harapan yang tidak pernah aku salurkan. Harapan itu adalah aku merasa nyaman bersamanya, dan bisa menceritakan semua isi hatiku kepadanya. Namun, pernikahan baru saja berjalan 1 tahun dengan latar belakang yang tidak bisa disatukan dengan hitungan menit. Dan kami belum saling mengenal satu sama lain. Perkenalan yang berjalan dengan hitungan bulan, membuatku harus berkorban perasaan, jiwa, dan raga. Terbersit menjadi orang lain (mantannya) yang multi talent untuk bisa mencuri perhatiannya. Namun, itu adalah kebodohan besar yang pernah aku lakukan. Aku tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kesalahan fatal yang pernah aku harapkan. Bahkan aku pernah menceritakan kepadanya apakah aku harus menjadi dia untuk bisa mencuri perhatianmu? Tapi itu semua sudah berlalu. Hari ini Jum'at, 11 Juli 2025 hari di mana aku merasakan hal yang sangat ingin aku keluarkan. Ku mengingat semua perjuanganku. Membangun rumah tangga, melahirkan, mengasuh bahkan melawan diriku sendiri. Tangisku pecah sejadi - jadinya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku hanya bisa menutupi kesedihanku di depan semuanya. Aku bisa menyelesaikan masalahku. Bahkan untuk mengeluarkan tangisku, aku pun harus mencari tempat ternyaman tanpa orang lain tahu. Ya Allah terimakasih telah memberikanku kelebihan ini. Semoga dengan ini aku bisa menjadi diri yang lebih kuat dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan. Tegurlah diriku jika itu bisa membuatku kembali padaMu. Jatirokeh, Jum'at, 11 Juli 2025, 20.37

Selasa, 15 April 2025

Rapat Pembubaran Panitia HBH PGRI

Pertama kali diutus menggantikan ibu KS sebagai bagian dari panitia hbh pgri 2025. Sesampainya di ruangan, aku gak tau apa² tapi hanya duduk menyaksikan mereka memaparkan laporan pertanggungjawaban masing². Ada rasa plonga plongo disitu, karna pengurus bukan, panitia juga bukan, tapi ada sedikit rasa pede karna tau mereka. Tapi ya benar² kaya orang ilang. Hanya duduk terpaku, terima komisi panitia, dan habis itu selesai. Eh setelah beberapa waktu kemudian. Ketua PGRI mendekatiku dan memintaku untuk meninggalkan tempat itu karena akan diadakan rapat intern. Duh malunya aku, tahu gitu tadi langsung pulang aja ye kan. Tapi yo bodo amatlah. Mereka juga gak bakalan mikir jauh sampai situ. Yo yang buat mikir lagi cm pembubaran ngapain harus datang sih bu, kan bisa komisinya dititipkan saja. hufth. Bikin insecure kalau ada acara apa² lagi terus ditunjuk kaya gak mau aja deh, mending yang lain aja. hikz.

Kamis, 20 Februari 2025

Dikerjain Anak

Hai Beb, lama ya tak jumpa. Ternyata kangen juga gak curhat. Bingung mau nulis dimana, yang aman sama kamu ajalah. Hari ini Arsyel les sains untuk persiapan lomba omnasnya di bulan November. Pulang ngantar, aku jenguk anak² spensasi yang lagi latihan untuk lomba LKBB besok pagi di Brebes. Karena keenakan sampai jemput Arsyel pun telat. Tapi aku tahu kalau di sekolah gak ada berarti di ruman Nafis, Alan, atau Amma. Sudab ku kunjungi semua rumah teman²nya, dan Arsyel gak ada di sana. Tadinya gak mau panik dong as my husband said "poran". Tapi naluri wanita itu diselubungi pikiran yang memghawatirkan. Gimana lagi coba soalnya gak ada info, baik di grup, wali kelas atau teman²nya. Ku tanya dong ke rumah Amma, dan kata mama Amma dia ada di rumah Dipta yang rumahnya di Bulakwungu. Jauh banget itu. Kupikir ke sana naik apa ya, apa diboncengin mamanya. Nah ku samperin rumahnya, sampai salah rumah juga 2X. 🤣. Eh pas ketemu rumahnya, gak ada lagi dong Arsyelnya. Gimana gak menjerit hati emak yang belum jelas batang hidung anaknya. Pas cek hp..... Lha mama nafis telpon gak kejawab. Ayah wa ada di rumah Nafis. Mama Nafis wa katanya mereka hujan²an bertiga. Alhamdulillah lega si, cuma ko nyesek ya. Yang tadinya kata mama Nafis Arsyel gak ada. Ternyata tasnya ada di rumah Nafis. Beb, beb, aku nangis sesenggukan di jalan. Tapi kusempatkan wa ayah biar dia aja yang jemput. Aku gak bisa kuasai emosiku. Aku gak tau kenapa aku nangis. Tapi yang jelas itu nyesek banget. Aku keluarin semuanya. Dsripada aku merusak suasana anakku yang sedang menikmati kesenangannya, mending aku pulang. Mau marah² juga percuma. Aku aja yang terlalu khawatir. Padahal sudah ditenangin sama suami biarin. Hati kecilku juga ngomong dia kan baik² aja. Yah gitu lah harus berbaik sangka biar anak juga baik² aja. Lagi² aku yang harus diperbaiki. Poinnya balik lagi ke aku.

Bonding Berdua

 Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...