Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definisi rumah itu ada kami (aku dan arsyel) dalam pikiranmu? Ini bukan masalah pasti ada jawabannya, tapi panggilan hatimu. Setidaknya ketika kamu di luar sana adakah keinginanmu untuk pulang bertemu dengan kami?
Mungkin menurutmu ini adalah pikiran kecil yang tidak ada artinya. Apa sih cuma masalah sepele. Lagian kalau pulang juga akan ditinggal tidur atau disuruh - suruh mulu. Ya itu memang benar realitanya. Tapi ketahuilah kami membutuhkan hadirmu jiwa dan raga. Ku tak ingin seperti mereka yang ada tapi merasa tidak ada. Atau mereka yang mungkin akan lebih hangat jika hanya bermodal vcall sesama pasangan dengan jarak yang memisahkan.
Perasaan dan naluriku tidak bisa dibohongi. Ketika pikiranmu tidak di rumah, bisa aku rasakan. Sebaliknya jika kamu utuh ada untuk kami pun bisa dirasakan. Ketahuilah boosterku itu kamu. Bisa berkeluh kesah saat kamu di rumah hal yang sangat aku rindukan. Bisa dikatakan aku mandiri dengan kondisiku sekarang tapi itu hanya di jam kerja. Selebihnya ketika kamu pulang aku berubah menjadi yang butuh bermanja dan bersandar. Bahkan untuk menangis sesenggukan tanpa menahan aku pun mau. Layaknya anak kepada orang tuanya, atau adik pada kakaknya atau mungkin kepada teman yang ia percayai.
Banyak kecemburuan yang dipendam karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Mereka yang punya banyak waktu ngobrol dan bertemu denganmu adalah orang yang beruntung. Mereka yang bisa membuatmu nyaman dan menjadi dirimu sendiri tanpa memiliki sekat, termasuk orang yang sangat berharga. Ku ingin memiliki waktu itu. Namun ku sadar itu cara mu memperlakukanku dengan versimu. Bahkan waktu lima menit untuk makan pun sangat ditunggu oleh kami ketika kamu ada di rumah.
Aku tahu kau juga sibuk di luar sana. Ku hargai itu. Aku juga wanita tulen yang butuh sosok itu. Bukan yang suka sendiri melajang dengan segala kesibukannya. Aku hanya ingin memanfaatkanmu sebagai suamiku. Itupun kalau kamu masih bisa menerimaku.
Tapi tak apalah itu semua di luar kendaliku. Ku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku tulis ini bisa kamu baca. Baca saja aku sudah menjadi mereka yang beruntung di waktu detik bacaan ini. Ini harapanku. Harapan yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi ku percaya bahwa suatu saat nanti akan bisa diwujudkan. Terimakasih untuk 9 tahun ini. Menjadikanku manusia yang kuat dengan segala kelemahan dan kerapuhanku. Terimakasih dengan segala perhatian dan treatment mu yang sudah bisa merubahku di titik ini. Menjadi diriku yang sekarang dengan menerima semuanya tidaklah mudah. Terlebih melawan diri dengan segala kekurangan. Tapi aku bisa berdiri dan duduk tegak karenamu. Berada di sampingmu suatu kebahagiaan tersendiri.
Love You lasting forever.
Hanya ingin kau tahu tanpa harus tahu tanggapanmu.
Rabu, 23 Juli 2025
Jumat, 11 Juli 2025
Teringat masa yang sangat menyedihkan
Hai kamu... sudah sampai di waktu ini sudah sangat luar biasa. Kamu adalah orang terkuat. Kamu hebat bisa melewati itu semua. Jatuh bangun sudah dilalui meski harus melawan sendiri. Tetaplah menjadi dirimu yang penuh suka, ceria dengan segudang bakat yang kamu miliki.
Malam ini ku melihat tayangan orang dengan persiapan persalinannya. Rasanya terharu, bahagia, dan iri. Terharu karena mereka akan mempunyai keturunan, bahagia ikut merasakan kedekatan/bonding yang luar biasa dengan pasangan. Iri karena dulu aku tidak sematang itu mempersiapkan kehamilan dan persalinanku. Iri kenapa suamiku tidak seperti itu dulu.
Aku yang terbiasa sendiri, menghadapi semuanya seorang diri, bahkan tidak sekalipun cerita (curhat) dengan orang tua dari hati ke hati. Bertemu dengan pasangan yang sangat cuek, dan tidak bisa mengayomi pada saat itu. Saat itu aku berharap aku bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya sebagai harapan yang tidak pernah aku salurkan. Harapan itu adalah aku merasa nyaman bersamanya, dan bisa menceritakan semua isi hatiku kepadanya. Namun, pernikahan baru saja berjalan 1 tahun dengan latar belakang yang tidak bisa disatukan dengan hitungan menit. Dan kami belum saling mengenal satu sama lain.
Perkenalan yang berjalan dengan hitungan bulan, membuatku harus berkorban perasaan, jiwa, dan raga. Terbersit menjadi orang lain (mantannya) yang multi talent untuk bisa mencuri perhatiannya. Namun, itu adalah kebodohan besar yang pernah aku lakukan. Aku tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kesalahan fatal yang pernah aku harapkan. Bahkan aku pernah menceritakan kepadanya apakah aku harus menjadi dia untuk bisa mencuri perhatianmu?
Tapi itu semua sudah berlalu. Hari ini Jum'at, 11 Juli 2025 hari di mana aku merasakan hal yang sangat ingin aku keluarkan. Ku mengingat semua perjuanganku. Membangun rumah tangga, melahirkan, mengasuh bahkan melawan diriku sendiri. Tangisku pecah sejadi - jadinya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku hanya bisa menutupi kesedihanku di depan semuanya. Aku bisa menyelesaikan masalahku. Bahkan untuk mengeluarkan tangisku, aku pun harus mencari tempat ternyaman tanpa orang lain tahu. Ya Allah terimakasih telah memberikanku kelebihan ini. Semoga dengan ini aku bisa menjadi diri yang lebih kuat dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan. Tegurlah diriku jika itu bisa membuatku kembali padaMu.
Jatirokeh, Jum'at, 11 Juli 2025, 20.37
Langganan:
Komentar (Atom)
Bonding Berdua
Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...
-
Pertama kali diutus menggantikan ibu KS sebagai bagian dari panitia hbh pgri 2025. Sesampainya di ruangan, aku gak tau apa² tapi hanya duduk...
-
Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definis...
-
Alhamdulillah sampai juga di nhw 5. Tugas dari kuliah kehidupan ini semakin menantang dan semakin memberikan jalannya. Di Institut Ibu Profe...