Jumat, 30 Januari 2026

Wanita dengan Segudang Perasaannya

 Mengapa wanita sering menangis sendirian?

Kalau anakku bilang sih, kalau beban yang ditanggung banyak dia akan kelelahan.

"Ibu, tahu gak kalau beban seseorang yang diterima terlalu banyak, maka dia akan kelelahan, dan stres." Ucapnya kala itu kami sedang ngobrol santai usai setor hafalah selepas sholat maghrib.

Ya memang betul sih. Karena kalau dipikir secara logika, motor yang membawa barang terlalu banyak, maka akan oleng dan hilang keseimbangan. Begitu juga manusia. Ketika badannya sudah memberikan sinyal tidak mampu, maka dia butuh istirahat. Namun, terkadang badan dengan pikiran itu tidak tersinkronisasi dengan baik. Di benaknya ingin melakukan banyak kegiatan, tapi badan sudah mulai protes. Dari situlah mulai merasa kelelahan.

Apalagi kalau dikaitkan dengan wanita yang carrier woman. Seharian menjadi kuat dan mandiri di luar dengan segala kebisingannya, tanggung jawabnya, dan tantangan yang dihadapinya. Jiwa raganya kuat. Luar biasa hingga terlihat tak ada celah kelemahannya.

Namun, jangan salah. Pulang dari dunia publik, di rumah dia justru ingin menjadi tuan putri kecil, yang serba ada ketika menginginkan sesuatu. Mulai dari makan, minum, bahkan urusan pekerjaan rumah tangga. Dari nyapu, ngepel, nyetrika, nyuci baju, dan nyuci piring semua sudah beres. 

Bahkan keinginannya untuk sekedar ditanya "capek ya, gimana seharian ini? Ada yang mau cerita?".

Tapi kebanyakan itu semua hanya diangan-angan, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga urusan di luar dan di rumah dia handle sendiri. Sampai pada puncaknya dia butuh diperhatikan merasa tidak didapatkan. Hanya karena tidak mendapatkan validasi dari orang terdekatnya. Akibatnya apa? Air yang ada di bendungan kedua ujung matanya pecah. Mengalir deras. Sesekali menjerit memanggil bahwa dia sedang capek tapi tak tahu apa yang sedang dia rasakan.

Itulah salah satu cara mereka meluapkan emosinya. Dengan menangis merupakan cara tubuh dan emosi melepas beban. 

Beberapa alasan utamanya:

1. Capek fisik + capek emosi numpuk jadi satu

Working mom bukan cuma lelah badan karena kerja dan urus rumah, tapi juga lelah mikir: anak, pekerjaan, pasangan, waktu, tanggung jawab. Saat energi habis, air mata jadi “jalan keluar” paling alami.

2. Hormon berperan besar

Wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon (estrogen, progesteron). Saat lelah, stres, atau kurang tidur, hormon ini bikin emosi lebih mudah “tumpah”.

3. Menangis = reset emosi

Secara biologis, menangis bisa menurunkan ketegangan dan hormon stres. Jadi bukan tanda lemah—justru mekanisme bertahan hidup.

4. Banyak menahan, sedikit ruang untuk diri sendiri

Working mom sering kuat di depan orang lain: di kantor profesional, di rumah jadi sandaran. Tapi jarang punya ruang untuk bilang, “Aku capek.” Saat akhirnya berhenti sebentar… keluarlah air mata.

5. Bukan karena drama, tapi karena manusia

Menangis saat capek itu tanda tubuh bilang:

“Aku perlu istirahat, didengar, dan dimengerti.”

Aku sedang tidak.baik

 Hai bloggi,

Hari ini rasanya ko berat banget ya. Sedih, kecewa, marah tapi gak tahu ke siapa.

Dari pagi sampai siang si biasa aja hanya cuacanya yang gak mendukung. Hujan sepanjang hari. Kadang berhenti di tengah hari, tapi hujan turun lagi. Bahkan jas hujan menjadi pakaian dinas hari ini.

Hatiku juga lagi tidak baik² saja. Perasaanku membuncah ketika tahu sayur yang aku masak tadi pagi terlihat masih utuh di atas meja makan. Kecewa, dan sakit pastinya, meskioun aku tahu ada ayam yang siap menanti menyantap besok pagi.

Tapi bukan itu. Aku benar² hancur, disaat lagi seneng²nya masak, tiba² lihat sayur masih utuh saja aku merasa gak bisa menerimanya. Sepele, tapi itu mematahkanku. Bukan tidak bersyukur, tapi merasa kasihan aja, sudah bangun pagi, menyiapkan dari malam, tapi yang dilihat tidak dimakan.

Seharian di sekolah bertemu dengan anak – anak yang luar biasa aktif. Rasanya ingin sekali flashback mengajar anak usia remaja. Namun, sayangnya ada hati yang menolak itu. Kenapa? Tidak mau lagi memulai dari awal dengan adaptasi anak – anak SMP yang sangat rumit. Bagaimana tidak? Semakin besar anaknya maka semakin komplit masalahnya. Berbeda dengan anak SD hari ini ada masalah, besoknya dia menjalani hari dengan tidak terjadi apa – apa. Hanya yang kurang berkenan kebisingan suaranya. Mungkin hatiku yang sedang tidak dalam kondisi baik – baik saja.

Selepas pulang sekolah kemarin aku terima wa dari pak su harus jemput bocil. Padahal waktu sudah menunjukkan pkl 14.00 sedangkan bocil pulang pkl 13.15. Apakah dia masih bertahan di sekolah atau sudah beranjak dengan menunggu lebih dari 1 jam?

Dengan tanpa pikir panjang aku langsung bergegas mengendarai sepeda motor yang masih terparkir di depan rumah. Kondisi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan pun datang dari pagi tak kunjung berhenti. Dengan menganakan APD diselimuti jaket didalamnya, dan atasan jas hujan berwarna hijau, aku tancap gas segera menuju sekolah anakku.

Disepanjang jalan aku berharap anakku masih ada di sekolah. Hampir saja sampai tujuan, jalanan macet karena ada acara yang sedang berlangsung di halaman pondok Alhikmah. Dengan tidak sabar aku menyusuri jalan tersebut mengikuti jalannya kendaraan yang ada di depannya. Setibanya di sekolah, sudah tidak terlihat satu orangpun yang ada di dalamnya.

“Ya, semua sudah pulang. Lalu kemana Arsyel?” gumamku dalam hati.

Sebuah pesan telah aku kirimkan ke pak su, mengabarkan bahwa kondisi sekolah sudah sepi. Sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 20km/jam, ku susuri jalan sambil tengok kanan dan kiri, berharap ada jejak Arsyel.

Di depan sebuah toko, aku berhenti memarkirkan motor dan duduk. Badanku mulai oleng, tenggorokanku gatal, perutku mulai terasa sakit akibat batuk yang tak kunjung berhenti. Sebelum mual datang batuk tidak akan berhenti. Ada seitar 5 menit menerima batuk yang tiba – tiba datang.

Ku lihat hp yang ada di kantong jaketku. Ada pesan yang masuk. Pesan itu datang dari pak Su.

Keman dia? Mungkin ke tumah temannya.

Ku balas pesannya dengan singkat.

Sudah dicari, ditelpon teman – temannya, tidak ada yang melihat.

Hampir satu jam kami menyusuri jalanan Benda. Sampai aku ditanya oleh seorang pengendara jalan.

“Mba, cari siapa?”

Dengan santai ku jawab, “anak saya pak, arsyel.”

Sulanjutkan perjalananku mencari Arsyel, tetapi pak su menginginkan agar aku pulang dan dia yang menunggu di sekolah. 

Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sepatu Arsyel yang sudah rapi bertengger di dekat tempat duduk, dan tas yang diletakkan di kamar tepat di atas tempat duduk. Alhamdulillah, anaknya sudah sampai rumah dengan selamat.

Namun, hati ini tak kunjung tenang, dengan siapa dia pulang. Ku pasang status whatsapp dengan menceritakan kronologi kejadian tadi. Tidak menunggu lama, ternyata orang baik menanggapi story ku. Dia menceritakan juga bagaimana bisa bertemu dan menawarkan anakku tumpangan.

Alhamdulillah, aku bersyukur anakku dikelilingi orang baik. Tinggal bagaimana aku menyikapinya. Kepanikan ini akulah yang membuatnya.

Bonding Berdua

 Hai blogi… Hari ini aku merasa sangat bahagia karena kau merasa plong. Kisahku kemarin yang tiba – tiba ngambek tanpa sebab, tantrum karen...