Mengapa wanita sering menangis sendirian?
Kalau anakku bilang sih, kalau beban yang ditanggung banyak dia akan kelelahan.
"Ibu, tahu gak kalau beban seseorang yang diterima terlalu banyak, maka dia akan kelelahan, dan stres." Ucapnya kala itu kami sedang ngobrol santai usai setor hafalah selepas sholat maghrib.
Ya memang betul sih. Karena kalau dipikir secara logika, motor yang membawa barang terlalu banyak, maka akan oleng dan hilang keseimbangan. Begitu juga manusia. Ketika badannya sudah memberikan sinyal tidak mampu, maka dia butuh istirahat. Namun, terkadang badan dengan pikiran itu tidak tersinkronisasi dengan baik. Di benaknya ingin melakukan banyak kegiatan, tapi badan sudah mulai protes. Dari situlah mulai merasa kelelahan.
Apalagi kalau dikaitkan dengan wanita yang carrier woman. Seharian menjadi kuat dan mandiri di luar dengan segala kebisingannya, tanggung jawabnya, dan tantangan yang dihadapinya. Jiwa raganya kuat. Luar biasa hingga terlihat tak ada celah kelemahannya.
Namun, jangan salah. Pulang dari dunia publik, di rumah dia justru ingin menjadi tuan putri kecil, yang serba ada ketika menginginkan sesuatu. Mulai dari makan, minum, bahkan urusan pekerjaan rumah tangga. Dari nyapu, ngepel, nyetrika, nyuci baju, dan nyuci piring semua sudah beres.
Bahkan keinginannya untuk sekedar ditanya "capek ya, gimana seharian ini? Ada yang mau cerita?".
Tapi kebanyakan itu semua hanya diangan-angan, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga urusan di luar dan di rumah dia handle sendiri. Sampai pada puncaknya dia butuh diperhatikan merasa tidak didapatkan. Hanya karena tidak mendapatkan validasi dari orang terdekatnya. Akibatnya apa? Air yang ada di bendungan kedua ujung matanya pecah. Mengalir deras. Sesekali menjerit memanggil bahwa dia sedang capek tapi tak tahu apa yang sedang dia rasakan.
Itulah salah satu cara mereka meluapkan emosinya. Dengan menangis merupakan cara tubuh dan emosi melepas beban.
Beberapa alasan utamanya:
1. Capek fisik + capek emosi numpuk jadi satu
Working mom bukan cuma lelah badan karena kerja dan urus rumah, tapi juga lelah mikir: anak, pekerjaan, pasangan, waktu, tanggung jawab. Saat energi habis, air mata jadi “jalan keluar” paling alami.
2. Hormon berperan besar
Wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon (estrogen, progesteron). Saat lelah, stres, atau kurang tidur, hormon ini bikin emosi lebih mudah “tumpah”.
3. Menangis = reset emosi
Secara biologis, menangis bisa menurunkan ketegangan dan hormon stres. Jadi bukan tanda lemah—justru mekanisme bertahan hidup.
4. Banyak menahan, sedikit ruang untuk diri sendiri
Working mom sering kuat di depan orang lain: di kantor profesional, di rumah jadi sandaran. Tapi jarang punya ruang untuk bilang, “Aku capek.” Saat akhirnya berhenti sebentar… keluarlah air mata.
5. Bukan karena drama, tapi karena manusia
Menangis saat capek itu tanda tubuh bilang:
“Aku perlu istirahat, didengar, dan dimengerti.”