Hai bloggi,
Hari ini rasanya ko berat banget ya. Sedih, kecewa, marah tapi gak tahu ke siapa.
Dari pagi sampai siang si biasa aja hanya cuacanya yang gak mendukung. Hujan sepanjang hari. Kadang berhenti di tengah hari, tapi hujan turun lagi. Bahkan jas hujan menjadi pakaian dinas hari ini.
Hatiku juga lagi tidak baik² saja. Perasaanku membuncah ketika tahu sayur yang aku masak tadi pagi terlihat masih utuh di atas meja makan. Kecewa, dan sakit pastinya, meskioun aku tahu ada ayam yang siap menanti menyantap besok pagi.
Tapi bukan itu. Aku benar² hancur, disaat lagi seneng²nya masak, tiba² lihat sayur masih utuh saja aku merasa gak bisa menerimanya. Sepele, tapi itu mematahkanku. Bukan tidak bersyukur, tapi merasa kasihan aja, sudah bangun pagi, menyiapkan dari malam, tapi yang dilihat tidak dimakan.
Seharian di sekolah bertemu dengan anak – anak yang luar
biasa aktif. Rasanya ingin sekali flashback mengajar anak usia remaja. Namun,
sayangnya ada hati yang menolak itu. Kenapa? Tidak mau lagi memulai dari awal
dengan adaptasi anak – anak SMP yang sangat rumit. Bagaimana tidak? Semakin
besar anaknya maka semakin komplit masalahnya. Berbeda dengan anak SD hari ini
ada masalah, besoknya dia menjalani hari dengan tidak terjadi apa – apa. Hanya
yang kurang berkenan kebisingan suaranya. Mungkin hatiku yang sedang tidak
dalam kondisi baik – baik saja.
Selepas pulang sekolah kemarin aku terima wa dari pak su
harus jemput bocil. Padahal waktu sudah menunjukkan pkl 14.00 sedangkan bocil
pulang pkl 13.15. Apakah dia masih bertahan di sekolah atau sudah beranjak
dengan menunggu lebih dari 1 jam?
Dengan tanpa pikir panjang aku langsung bergegas mengendarai
sepeda motor yang masih terparkir di depan rumah. Kondisi cuaca sedang tidak
mendukung. Hujan pun datang dari pagi tak kunjung berhenti. Dengan menganakan
APD diselimuti jaket didalamnya, dan atasan jas hujan berwarna hijau, aku
tancap gas segera menuju sekolah anakku.
Disepanjang jalan aku berharap anakku masih ada di sekolah.
Hampir saja sampai tujuan, jalanan macet karena ada acara yang sedang
berlangsung di halaman pondok Alhikmah. Dengan tidak sabar aku menyusuri jalan
tersebut mengikuti jalannya kendaraan yang ada di depannya. Setibanya di
sekolah, sudah tidak terlihat satu orangpun yang ada di dalamnya.
“Ya, semua sudah pulang. Lalu kemana Arsyel?” gumamku dalam
hati.
Sebuah pesan telah aku kirimkan ke pak su, mengabarkan bahwa
kondisi sekolah sudah sepi. Sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan
20km/jam, ku susuri jalan sambil tengok kanan dan kiri, berharap ada jejak
Arsyel.
Di depan sebuah toko, aku berhenti memarkirkan motor dan
duduk. Badanku mulai oleng, tenggorokanku gatal, perutku mulai terasa sakit
akibat batuk yang tak kunjung berhenti. Sebelum mual datang batuk tidak akan
berhenti. Ada seitar 5 menit menerima batuk yang tiba – tiba datang.
Ku lihat hp yang ada di kantong jaketku. Ada pesan yang
masuk. Pesan itu datang dari pak Su.
Keman dia? Mungkin ke
tumah temannya.
Ku balas pesannya dengan singkat.
Sudah dicari, ditelpon
teman – temannya, tidak ada yang melihat.
Hampir satu jam kami menyusuri jalanan Benda. Sampai aku
ditanya oleh seorang pengendara jalan.
“Mba, cari siapa?”
Dengan santai ku jawab, “anak saya pak, arsyel.”
Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sepatu Arsyel yang sudah rapi bertengger di dekat tempat duduk, dan tas yang diletakkan di kamar tepat di atas tempat duduk. Alhamdulillah, anaknya sudah sampai rumah dengan selamat.
Namun, hati ini tak kunjung tenang, dengan siapa dia pulang. Ku pasang status whatsapp dengan menceritakan kronologi kejadian tadi. Tidak menunggu lama, ternyata orang baik menanggapi story ku. Dia menceritakan juga bagaimana bisa bertemu dan menawarkan anakku tumpangan.
Alhamdulillah, aku bersyukur anakku dikelilingi orang baik. Tinggal bagaimana aku menyikapinya. Kepanikan ini akulah yang membuatnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar