Wikipedia

Hasil penelusuran

Selasa, 16 September 2025

Saat kepala ini isinya rumit.

Memasuki hari di mana besok adalah hari bapakku akan menghadapi jarum suntik, infus, dan kawan - kawannya. Karena akan melakukan tindakan op di organ tubuhnya yaitu ginjal. Ada kista kristal yang bersarang di luarnya yang harus diambil. Kata dokter melalui ibu bercerita bahwa cairan itu bisa disedot dan mereda sesaat. Tetapi jika kistanya atau tempat gelembung itu tidak diambil maka suatu saat rasa sakit itu akan kambuh. Dan itu yang membuat bapak selalu merasa paling sakit se Indonesia Raya. 

 Aku hanya bingung menghadapi situasi ini. Di sisi lain sebagai anak aku ingin menenangkannya. Tapi di lubuk hati terdalam ada hal yang menolak rasa itu. Rasanya gak bebas aja. Pikiranku carut marut menghadapinya. Belum lagi tiba - tiba di pagi hari ditelpon oleh sanak saudara yang mengharuskanku menjawab semua pertanyaan mereka dengan wajah yang sumringah. Padahal di dalam pikiran dan kepalaku ini sangat mengganggu. 

Meski aku tahu bapak sangat membutuhkan dukungan dan doa dari mereka. Tapi apakah harus memakai cara ini? yang pada dasarnya kami anak - anak ingin menjalaninya dengan tenang, tanpa orang lain tahu di awal. Tiba - tiba aja tahu pulang - pulang sudah ditindak. Ini buatku spaneng. Tidak bisa berpikir jernih. Bahkan mendengar orang lain berbicara pun itu membuatku mual. 

Dan pengin ngomong, "dah si diem gitu". Arrgh ini hanya inginku. 

Mereka semua tidak ada urusannya denganku. Saat ini yang bisa aku kendalikan adalah diriku sendiri. Mauku apa supaya bisa tenang, dan lengang. Aku memtuskan untuk kabur dari rutinitas kerjaku lebih gasik. Pergi ke kafe yang aku anggap lebih lengang dan tidak akan ada yang kenal denganku. 

Awalnya oke. Tapi lama kelamaan banyak yang datang. Apalagi dengan adanya kaum hawa yang baru seumur jagung membangun rumah tangga. Rasanya cerita mereka itu milik dunia mereka. UGh bikin brisik aja. wkwkwk ada apa dengan aku coba. Oke. 

Untuk besok dan lusa, take it easy. All is well.

Samasta Coffee, 
Selasa, 16 September 2025
2.31 p.m

Rabu, 23 Juli 2025

Ku hanya ingin melihatmu ada di depan mataku

Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definisi rumah itu ada kami (aku dan arsyel) dalam pikiranmu? Ini bukan masalah pasti ada jawabannya, tapi panggilan hatimu. Setidaknya ketika kamu di luar sana adakah keinginanmu untuk pulang bertemu dengan kami?

Mungkin menurutmu ini adalah pikiran kecil yang tidak ada artinya. Apa sih cuma masalah sepele. Lagian kalau pulang juga akan ditinggal tidur atau disuruh - suruh mulu. Ya itu memang benar realitanya. Tapi ketahuilah kami membutuhkan hadirmu jiwa dan raga. Ku tak ingin seperti mereka yang ada tapi merasa tidak ada. Atau mereka yang mungkin akan lebih hangat jika hanya bermodal vcall sesama pasangan dengan jarak yang memisahkan.

Perasaan dan naluriku tidak bisa dibohongi. Ketika pikiranmu tidak di rumah, bisa aku rasakan. Sebaliknya jika kamu utuh ada untuk kami pun bisa dirasakan. Ketahuilah boosterku itu kamu. Bisa berkeluh kesah saat kamu di rumah hal yang sangat aku rindukan. Bisa dikatakan aku mandiri dengan kondisiku sekarang tapi itu hanya di jam kerja. Selebihnya ketika kamu pulang aku berubah menjadi yang butuh bermanja dan bersandar. Bahkan untuk menangis sesenggukan tanpa menahan aku pun mau. Layaknya anak kepada orang tuanya, atau adik pada kakaknya atau mungkin kepada teman yang ia percayai.

Banyak kecemburuan yang dipendam karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Mereka yang punya banyak waktu ngobrol dan bertemu denganmu adalah orang yang beruntung. Mereka yang bisa membuatmu nyaman dan menjadi dirimu sendiri tanpa memiliki sekat, termasuk orang yang sangat berharga. Ku ingin memiliki waktu itu. Namun ku sadar itu cara mu memperlakukanku dengan versimu. Bahkan waktu lima menit untuk makan pun sangat ditunggu oleh kami ketika kamu ada di rumah.

Aku tahu kau juga sibuk di luar sana. Ku hargai itu. Aku juga wanita tulen yang butuh sosok itu. Bukan yang suka sendiri melajang dengan segala kesibukannya. Aku hanya ingin memanfaatkanmu sebagai suamiku. Itupun kalau kamu masih bisa menerimaku. Tapi tak apalah itu semua di luar kendaliku. Ku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku tulis ini bisa kamu baca. Baca saja aku sudah menjadi mereka yang beruntung di waktu detik bacaan ini. Ini harapanku. Harapan yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi ku percaya bahwa suatu saat nanti akan bisa diwujudkan. Terimakasih untuk 9 tahun ini. Menjadikanku manusia yang kuat dengan segala kelemahan dan kerapuhanku. Terimakasih dengan segala perhatian dan treatment mu yang sudah bisa merubahku di titik ini. Menjadi diriku yang sekarang dengan menerima semuanya tidaklah mudah. Terlebih melawan diri dengan segala kekurangan. Tapi aku bisa berdiri dan duduk tegak karenamu. Berada di sampingmu suatu kebahagiaan tersendiri.

Love You lasting forever.

Hanya ingin kau tahu tanpa harus tahu tanggapanmu.

Jumat, 11 Juli 2025

Teringat masa yang sangat menyedihkan

Hai kamu... sudah sampai di waktu ini sudah sangat luar biasa. Kamu adalah orang terkuat. Kamu hebat bisa melewati itu semua. Jatuh bangun sudah dilalui meski harus melawan sendiri. Tetaplah menjadi dirimu yang penuh suka, ceria dengan segudang bakat yang kamu miliki. Malam ini ku melihat tayangan orang dengan persiapan persalinannya. Rasanya terharu, bahagia, dan iri. Terharu karena mereka akan mempunyai keturunan, bahagia ikut merasakan kedekatan/bonding yang luar biasa dengan pasangan. Iri karena dulu aku tidak sematang itu mempersiapkan kehamilan dan persalinanku. Iri kenapa suamiku tidak seperti itu dulu. Aku yang terbiasa sendiri, menghadapi semuanya seorang diri, bahkan tidak sekalipun cerita (curhat) dengan orang tua dari hati ke hati. Bertemu dengan pasangan yang sangat cuek, dan tidak bisa mengayomi pada saat itu. Saat itu aku berharap aku bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya sebagai harapan yang tidak pernah aku salurkan. Harapan itu adalah aku merasa nyaman bersamanya, dan bisa menceritakan semua isi hatiku kepadanya. Namun, pernikahan baru saja berjalan 1 tahun dengan latar belakang yang tidak bisa disatukan dengan hitungan menit. Dan kami belum saling mengenal satu sama lain. Perkenalan yang berjalan dengan hitungan bulan, membuatku harus berkorban perasaan, jiwa, dan raga. Terbersit menjadi orang lain (mantannya) yang multi talent untuk bisa mencuri perhatiannya. Namun, itu adalah kebodohan besar yang pernah aku lakukan. Aku tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kesalahan fatal yang pernah aku harapkan. Bahkan aku pernah menceritakan kepadanya apakah aku harus menjadi dia untuk bisa mencuri perhatianmu? Tapi itu semua sudah berlalu. Hari ini Jum'at, 11 Juli 2025 hari di mana aku merasakan hal yang sangat ingin aku keluarkan. Ku mengingat semua perjuanganku. Membangun rumah tangga, melahirkan, mengasuh bahkan melawan diriku sendiri. Tangisku pecah sejadi - jadinya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku hanya bisa menutupi kesedihanku di depan semuanya. Aku bisa menyelesaikan masalahku. Bahkan untuk mengeluarkan tangisku, aku pun harus mencari tempat ternyaman tanpa orang lain tahu. Ya Allah terimakasih telah memberikanku kelebihan ini. Semoga dengan ini aku bisa menjadi diri yang lebih kuat dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan. Tegurlah diriku jika itu bisa membuatku kembali padaMu. Jatirokeh, Jum'at, 11 Juli 2025, 20.37

Selasa, 15 April 2025

Rapat Pembubaran Panitia HBH PGRI

Pertama kali diutus menggantikan ibu KS sebagai bagian dari panitia hbh pgri 2025. Sesampainya di ruangan, aku gak tau apa² tapi hanya duduk menyaksikan mereka memaparkan laporan pertanggungjawaban masing². Ada rasa plonga plongo disitu, karna pengurus bukan, panitia juga bukan, tapi ada sedikit rasa pede karna tau mereka. Tapi ya benar² kaya orang ilang. Hanya duduk terpaku, terima komisi panitia, dan habis itu selesai. Eh setelah beberapa waktu kemudian. Ketua PGRI mendekatiku dan memintaku untuk meninggalkan tempat itu karena akan diadakan rapat intern. Duh malunya aku, tahu gitu tadi langsung pulang aja ye kan. Tapi yo bodo amatlah. Mereka juga gak bakalan mikir jauh sampai situ. Yo yang buat mikir lagi cm pembubaran ngapain harus datang sih bu, kan bisa komisinya dititipkan saja. hufth. Bikin insecure kalau ada acara apa² lagi terus ditunjuk kaya gak mau aja deh, mending yang lain aja. hikz.

Kamis, 20 Februari 2025

Dikerjain Anak

Hai Beb, lama ya tak jumpa. Ternyata kangen juga gak curhat. Bingung mau nulis dimana, yang aman sama kamu ajalah. Hari ini Arsyel les sains untuk persiapan lomba omnasnya di bulan November. Pulang ngantar, aku jenguk anak² spensasi yang lagi latihan untuk lomba LKBB besok pagi di Brebes. Karena keenakan sampai jemput Arsyel pun telat. Tapi aku tahu kalau di sekolah gak ada berarti di ruman Nafis, Alan, atau Amma. Sudab ku kunjungi semua rumah teman²nya, dan Arsyel gak ada di sana. Tadinya gak mau panik dong as my husband said "poran". Tapi naluri wanita itu diselubungi pikiran yang memghawatirkan. Gimana lagi coba soalnya gak ada info, baik di grup, wali kelas atau teman²nya. Ku tanya dong ke rumah Amma, dan kata mama Amma dia ada di rumah Dipta yang rumahnya di Bulakwungu. Jauh banget itu. Kupikir ke sana naik apa ya, apa diboncengin mamanya. Nah ku samperin rumahnya, sampai salah rumah juga 2X. 🤣. Eh pas ketemu rumahnya, gak ada lagi dong Arsyelnya. Gimana gak menjerit hati emak yang belum jelas batang hidung anaknya. Pas cek hp..... Lha mama nafis telpon gak kejawab. Ayah wa ada di rumah Nafis. Mama Nafis wa katanya mereka hujan²an bertiga. Alhamdulillah lega si, cuma ko nyesek ya. Yang tadinya kata mama Nafis Arsyel gak ada. Ternyata tasnya ada di rumah Nafis. Beb, beb, aku nangis sesenggukan di jalan. Tapi kusempatkan wa ayah biar dia aja yang jemput. Aku gak bisa kuasai emosiku. Aku gak tau kenapa aku nangis. Tapi yang jelas itu nyesek banget. Aku keluarin semuanya. Dsripada aku merusak suasana anakku yang sedang menikmati kesenangannya, mending aku pulang. Mau marah² juga percuma. Aku aja yang terlalu khawatir. Padahal sudah ditenangin sama suami biarin. Hati kecilku juga ngomong dia kan baik² aja. Yah gitu lah harus berbaik sangka biar anak juga baik² aja. Lagi² aku yang harus diperbaiki. Poinnya balik lagi ke aku.

Rabu, 25 Desember 2024

Kegelisahanku

Kamis, 26 December 2024. 05.30 a.m

Pagi ini aku merasa belum baikan. Kerongkonganku masih sesak. Aku sakit gess, hatiku yang terluka dari kemarin belum kunjung sembuh. Keadaanku cukup tragis kalau boleh dikata. Dari pulang latihan hadroh sampai pulang ketemu suami pun aku masih dalam keadaan yang sama. Di rumah depan ada hal yang ingin aku sampaikan ke bapak terkait suami beli motor baru, rasanya kelu. Semua tertahan di leher. Kalaupun mau diungkapkan rasanya bendungan ini jebol. Daripada harus tumpah di sana, kuputuskan untuk pulang dengan harapan bisa dikeluarkan dan sembuh, plong.

Sesampainya di rumah, di sudut pintu kamar, kuluapkan semua yang tadi menyumbat di leher. Dengan suara sesenggukan yang bisa didengar semua orang. Ada rasa sesal dan takut yang aku rasakan di sana. Sesal karena tidak bisa ngobrol dengan orang tua secara leluasa. Takut karena bayang – bayang masa kecil keluar semua dalam pikiranku. Tumpah ruah di kamar sendirian. Bantal dan selimut tak henti – hentinya aku remas dan aku gigit, hanya untuk meredam suara tangis memecah suara hujan.

Aku bingung dengan keadaanku saat ini. Rasanya ingin menangis sepanjang malam. Tapi kalau dipikir kasihan diri ini, badan mungilku akan semakin mungil dengan mengikuti perasaan dan pikiran yang berkecamuk. Ada apa denganku?

Tak lama suami pun pulang. Kusiapkan semua yang ia butuhkan dan makan bersama dengan mata sembab. Aku tahu dia bingung juga menghiburku. Tipe yang jaim tidak bisa memecah suasana dengan kelembutan. Sampai makan malam selesai, kami kembali di dalam kamar. Tak sadar ucapan sindiran suamiku memecahkan bongkahan hati yang sudah sudah aku tata rapi meski tidak seperti sedia kala. Ucapan yang membahas tentang “diganggu oleh pikiran – pikiran yang membuang2 waktu”. Memang benar ucapannya, tapi saat ini bukan itu yang aku butuhkan, justru semakin dia menyindir, dan mengungkapkan hal kasar, semakin aku tolak dan berontak. Sayangnya, aku bukanlah orang yang pandai mengekspresikan sesuatu. Namun, sekalinya keluar maka akan fatal jika logikaku tidak jalan. Maka saat itu juga aku berpikir untuk apa aku ceritakan kisahku pada orang lain yang tidak peduli denganku. Yang tahu dan bisa mengendalikanku hanyalah diriku sendiri. Saat ini hanya ini yang bisa aku lakukan, mencurahkan semuanya ke kamu. Tempat berkeluh kesah. Tempat sampah terbaikku. Tanpa peduli dihujat, dimarahi maupun dikritik.

Terimakasih aku yang sudah bertahan sejauh ini. Yang peduli dengan keadaan orang lain meki kamu tidak dalam keadaan baik – baik saja. Seandainya ada yang memelukku dari belakang, mungkin aku bisa mengeluarkan semuanya lagi sampai banjir. Hanya sebagai sandaran tidak butuh yang lain. Walaupun pada akhirnya, aku harus malu pada diriku sendiri dengan keadaanku. Aku bangga pada diriku.

Selasa, 24 Desember 2024

Karena Dia, Satu Kata Darimu Buatku Meledak

Rabu, 25 Desember 2024. 11.06 a.m


Hai ayah, aku hanya ingin bercerita denganmu selepas kamu pergi dari rumah setelah kita bercinta.

Dear aku yang sedang menata hati supaya bisa menulis curahan hati ini dengan runut dan terbuka, sehingga semuanya keluar seperti apa yang tadi aku curahan lewat air mataku di kamar afi. Aku yang tak henti – hentinya menata emosi. Menjadi stabil tidaklah mudah. Bahkan di depan orang lain aku bisa terlihat baik – baik saja, padahal sebenarnya tidak. Apalagi pagi ini dikagetkan dengan notif minion yang stalker media sosialku dengan caption yang membuatku jengkel. Dan secara bersamaan suasana hatiku berubah. Kuceritakan itu ke kamu dan adikku dengan rasa yang biasa saja. Sejatinya aku terguncang bahkan ingin memakinya. Rasanya kalau itu terjadi akan sia – sia waktu, tenaga, dan pikiranku.

Aku sudah merasa baik ketika semua akses yang terhubung ke dia aku putuskan. Nyatanya dia masih saja ingin tahu kehidupanku lebih jauh. Ada rasa takut yang besar. Bukan berarti aku takut karena melakukan hal yang salah. Tapi aku takut tidak ada lagi orang yang percaya kepadaku. Tidak ada lagi orang yang sayang padaku. Bahkan untuk menunjukkan rasa simpati kepadaku pun tidak. Itu yang sedang berkecamuk dalam pikiranku.

Hingga akhirnya kau ucapkan kata yang membuatku menjadi memuncak. “ayah jangan lupa pakaian yang di atas”. Seruku di tempat cuci baju. “apa sih…. Bu”. Jawabmu dengan suara yang tak biasanya. Karena suasana hatiku sedang tidak bisa diajak kompromi akupun ikut mengambil arti dari ucapanmu. Juga denganmu, aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan saat itu. Entah timingku yang tidak pas atau memang kamu yang tidak suka dengan kerewelanku ketika melihatmu santai sedikit di rumah. Aku sangat berterimakasih karena kamu sudah banyak membantu urusan rumah untukku. Jikalau aku bisa dan memilih aku lebih suka focus di rumah dibandingkan harus disambi menjadi ibu berkarir. Tapi aku sudah terjun dan terlanjur basah. Jadi aku harus bisa mengendalikan semua. Sesuai apa yang kamu ajarkan “semuanya senyampainya.” Dan aku mengartikan itu dengan jalani semuanya dengan kerelaan hati dan banyak bersyukur karena masih banyak orang yang tidak seberuntung aku.

Terkadang kalau perasaan lagi mendominasi ingin sekali mengungkapkan semuanya di depanmu. Sayangnya aku tidak bisa merangkai kata, hanya bisa mengalirkan lewat teriakan di tempat yang sepi, sendirian, mengamuk dan memukul apa yang ada di depan sambil membayangkan aku bisa dipeluk dan ditenangkan olehmu. Tapi sayang itu tidak mungkin terjadi, karena aku tahu, kamu tipe orang yang tidak tahan melihat hal demikian, bahkan bingung harus bersikap bagaimana. Biarkan aku saja yang membayangkan itu supaya aku juga bisa mengendalikan diriku sendiri. Aku masih punya Allah yang senantiasa mendengarkan semua tingkah lakuku saat itu. Setelah aku keluarkan semua termasuk dengan ucapan “brengsek. Ngger ora pengin dikongkon ora sah ngepe pakaian ning duwur. Ora ngarti apa nek bulak balik manjat sikil kumat. Diladeni uwis, terimakasih ora. Jaluk tulung malah ngresula”.

Aku tahu mungkin itu semua bukan yang kamu maksudkan, tapi itulah isi hatiku. Sempat terpikir juga kenapa istri tidak boleh berkata seenaknya sendiri di depan suaminya, apalagi menjawab perkataan suaminya ketika tidak sesuai dengan dirinya. Dan ini pertanyaan yang tidak usah kamu jawab. Karena aku tahu jawabannya dan contohnya sudah ada. Ini hany selintas iklan yang lewat di kepalaku.

Dengan tangis yang masih menghiasi pikiranku sampai sesenggukan. Akupun merasa kasihan dengan diriku sendiri sambil ngomong dengan bantal. “aku tidak minta banyak ke kamu, bahkan untuk motorpun aku tidak begitu prioritas. Hanya saja aku terima semua hadiah yang akan kamu berikan sebagai wujud kasih sayangmu ke aku, maafkan aku kalau kamu berpikir aku tidak begitu antusias dalam merespon.”

Kalau boleh memilih. Hal urgent saat ini untukku memperbaiki dapur yang kurang dengan penerangan, memasang jek listrik di dapur, membersihkan kamar mandi bersama supaya tidak licin, kita nyaman uyut aman, dan mengecet kamar tidur yang sudah lama aku minta luangkan waktumu untuk itu. Hal receh tapi aku suka dan bahagia. Tapi balik lagi aku hanya bisa berdoa semoga aku bisa ngomong lagi hal itu ke kamu supaya gak terkesan begitu rewel.

Aku adalah tipe wanita yang suka dengan soft spoken tapi mendapati partner yang berkebalikan karakternya dengan apa yang aku harapkan. Aku pikir aku yang harus memulai duluan. Oke aku akan belajar meski itu tidak mudah. Ada harapan ketika aku memulainya akan mendapatkan perlindungan dari kalian dan ucapan terima kasih dari kalian semua. Terutama dari Arsyel yang kan selalu melindungi ibunya kelak. Mudah-mudahan diijabah.

Aku sih berharap setelah kamu baca tulisan recehku ini yang tidak ada artinya tidak lagi menjadikanmu menggagalkan apa yang sudah kamu rencanakan. Eh tapi aku yang terlalu sibuk peduli dengan perasaanmu aja kali ya. Itu uangmu terserah mau kamu apakan. Untuk jalan – jalan ke jogja akupun tidak menuntuk banyak mau terealisasi atau tidak, tapi yang jelas Arsyel pengin ke sana. Kalaupun cancel juga tidak masalah. Tinggal nanti gimana ngmong ke anaknya dan tidak kecewa. Aku juga memikirkan budget ke sana karna di tabunganku hanya ada 2 juta untuk bisa main ke jogja.

Aku minta maaf yah sudah begitu banyak merepotkanmu. Terlebih ketika hati ini goyah. Aku yang kurang mendekatkan diri sama Allah kali ya jadi emosinya tidak stabil tidak seperti kamu yang sudah level dewa. Asli, gegara notif ig dan komenan dia, suasana hatiku berubah. Tapi terimakasih untuk semuanya, kamulah tumpuanku, tanpamu apalah artinya aku. Thanks for all. Sayang ayah…. Love you <3 <3 <3

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingk...