Wikipedia

Hasil penelusuran

Jumat, 30 Januari 2026

Wanita dengan Segudang Perasaannya

 Mengapa wanita sering menangis sendirian?

Kalau anakku bilang sih, kalau beban yang ditanggung banyak dia akan kelelahan.

"Ibu, tahu gak kalau beban seseorang yang diterima terlalu banyak, maka dia akan kelelahan, dan stres." Ucapnya kala itu kami sedang ngobrol santai usai setor hafalah selepas sholat maghrib.

Ya memang betul sih. Karena kalau dipikir secara logika, motor yang membawa barang terlalu banyak, maka akan oleng dan hilang keseimbangan. Begitu juga manusia. Ketika badannya sudah memberikan sinyal tidak mampu, maka dia butuh istirahat. Namun, terkadang badan dengan pikiran itu tidak tersinkronisasi dengan baik. Di benaknya ingin melakukan banyak kegiatan, tapi badan sudah mulai protes. Dari situlah mulai merasa kelelahan.

Apalagi kalau dikaitkan dengan wanita yang carrier woman. Seharian menjadi kuat dan mandiri di luar dengan segala kebisingannya, tanggung jawabnya, dan tantangan yang dihadapinya. Jiwa raganya kuat. Luar biasa hingga terlihat tak ada celah kelemahannya.

Namun, jangan salah. Pulang dari dunia publik, di rumah dia justru ingin menjadi tuan putri kecil, yang serba ada ketika menginginkan sesuatu. Mulai dari makan, minum, bahkan urusan pekerjaan rumah tangga. Dari nyapu, ngepel, nyetrika, nyuci baju, dan nyuci piring semua sudah beres. 

Bahkan keinginannya untuk sekedar ditanya "capek ya, gimana seharian ini? Ada yang mau cerita?".

Tapi kebanyakan itu semua hanya diangan-angan, tidak sesuai dengan ekspektasinya. Sehingga urusan di luar dan di rumah dia handle sendiri. Sampai pada puncaknya dia butuh diperhatikan merasa tidak didapatkan. Hanya karena tidak mendapatkan validasi dari orang terdekatnya. Akibatnya apa? Air yang ada di bendungan kedua ujung matanya pecah. Mengalir deras. Sesekali menjerit memanggil bahwa dia sedang capek tapi tak tahu apa yang sedang dia rasakan.

Itulah salah satu cara mereka meluapkan emosinya. Dengan menangis merupakan cara tubuh dan emosi melepas beban. 

Beberapa alasan utamanya:

1. Capek fisik + capek emosi numpuk jadi satu

Working mom bukan cuma lelah badan karena kerja dan urus rumah, tapi juga lelah mikir: anak, pekerjaan, pasangan, waktu, tanggung jawab. Saat energi habis, air mata jadi “jalan keluar” paling alami.

2. Hormon berperan besar

Wanita lebih sensitif terhadap perubahan hormon (estrogen, progesteron). Saat lelah, stres, atau kurang tidur, hormon ini bikin emosi lebih mudah “tumpah”.

3. Menangis = reset emosi

Secara biologis, menangis bisa menurunkan ketegangan dan hormon stres. Jadi bukan tanda lemah—justru mekanisme bertahan hidup.

4. Banyak menahan, sedikit ruang untuk diri sendiri

Working mom sering kuat di depan orang lain: di kantor profesional, di rumah jadi sandaran. Tapi jarang punya ruang untuk bilang, “Aku capek.” Saat akhirnya berhenti sebentar… keluarlah air mata.

5. Bukan karena drama, tapi karena manusia

Menangis saat capek itu tanda tubuh bilang:

“Aku perlu istirahat, didengar, dan dimengerti.”

Aku sedang tidak.baik

 Hai bloggi,

Hari ini rasanya ko berat banget ya. Sedih, kecewa, marah tapi gak tahu ke siapa.

Dari pagi sampai siang si biasa aja hanya cuacanya yang gak mendukung. Hujan sepanjang hari. Kadang berhenti di tengah hari, tapi hujan turun lagi. Bahkan jas hujan menjadi pakaian dinas hari ini.

Hatiku juga lagi tidak baik² saja. Perasaanku membuncah ketika tahu sayur yang aku masak tadi pagi terlihat masih utuh di atas meja makan. Kecewa, dan sakit pastinya, meskioun aku tahu ada ayam yang siap menanti menyantap besok pagi.

Tapi bukan itu. Aku benar² hancur, disaat lagi seneng²nya masak, tiba² lihat sayur masih utuh saja aku merasa gak bisa menerimanya. Sepele, tapi itu mematahkanku. Bukan tidak bersyukur, tapi merasa kasihan aja, sudah bangun pagi, menyiapkan dari malam, tapi yang dilihat tidak dimakan.

Seharian di sekolah bertemu dengan anak – anak yang luar biasa aktif. Rasanya ingin sekali flashback mengajar anak usia remaja. Namun, sayangnya ada hati yang menolak itu. Kenapa? Tidak mau lagi memulai dari awal dengan adaptasi anak – anak SMP yang sangat rumit. Bagaimana tidak? Semakin besar anaknya maka semakin komplit masalahnya. Berbeda dengan anak SD hari ini ada masalah, besoknya dia menjalani hari dengan tidak terjadi apa – apa. Hanya yang kurang berkenan kebisingan suaranya. Mungkin hatiku yang sedang tidak dalam kondisi baik – baik saja.

Selepas pulang sekolah kemarin aku terima wa dari pak su harus jemput bocil. Padahal waktu sudah menunjukkan pkl 14.00 sedangkan bocil pulang pkl 13.15. Apakah dia masih bertahan di sekolah atau sudah beranjak dengan menunggu lebih dari 1 jam?

Dengan tanpa pikir panjang aku langsung bergegas mengendarai sepeda motor yang masih terparkir di depan rumah. Kondisi cuaca sedang tidak mendukung. Hujan pun datang dari pagi tak kunjung berhenti. Dengan menganakan APD diselimuti jaket didalamnya, dan atasan jas hujan berwarna hijau, aku tancap gas segera menuju sekolah anakku.

Disepanjang jalan aku berharap anakku masih ada di sekolah. Hampir saja sampai tujuan, jalanan macet karena ada acara yang sedang berlangsung di halaman pondok Alhikmah. Dengan tidak sabar aku menyusuri jalan tersebut mengikuti jalannya kendaraan yang ada di depannya. Setibanya di sekolah, sudah tidak terlihat satu orangpun yang ada di dalamnya.

“Ya, semua sudah pulang. Lalu kemana Arsyel?” gumamku dalam hati.

Sebuah pesan telah aku kirimkan ke pak su, mengabarkan bahwa kondisi sekolah sudah sepi. Sambil mengendarai sepeda motor dengan kecepatan 20km/jam, ku susuri jalan sambil tengok kanan dan kiri, berharap ada jejak Arsyel.

Di depan sebuah toko, aku berhenti memarkirkan motor dan duduk. Badanku mulai oleng, tenggorokanku gatal, perutku mulai terasa sakit akibat batuk yang tak kunjung berhenti. Sebelum mual datang batuk tidak akan berhenti. Ada seitar 5 menit menerima batuk yang tiba – tiba datang.

Ku lihat hp yang ada di kantong jaketku. Ada pesan yang masuk. Pesan itu datang dari pak Su.

Keman dia? Mungkin ke tumah temannya.

Ku balas pesannya dengan singkat.

Sudah dicari, ditelpon teman – temannya, tidak ada yang melihat.

Hampir satu jam kami menyusuri jalanan Benda. Sampai aku ditanya oleh seorang pengendara jalan.

“Mba, cari siapa?”

Dengan santai ku jawab, “anak saya pak, arsyel.”

Sulanjutkan perjalananku mencari Arsyel, tetapi pak su menginginkan agar aku pulang dan dia yang menunggu di sekolah. 

Sesampainya di rumah, aku dikejutkan dengan sepatu Arsyel yang sudah rapi bertengger di dekat tempat duduk, dan tas yang diletakkan di kamar tepat di atas tempat duduk. Alhamdulillah, anaknya sudah sampai rumah dengan selamat.

Namun, hati ini tak kunjung tenang, dengan siapa dia pulang. Ku pasang status whatsapp dengan menceritakan kronologi kejadian tadi. Tidak menunggu lama, ternyata orang baik menanggapi story ku. Dia menceritakan juga bagaimana bisa bertemu dan menawarkan anakku tumpangan.

Alhamdulillah, aku bersyukur anakku dikelilingi orang baik. Tinggal bagaimana aku menyikapinya. Kepanikan ini akulah yang membuatnya.

Selasa, 25 November 2025

I mad him much

 Hari ini aku dikabari bahwa ace ada tugas kelompok dimana dia harus pulang telat. Katanya pulang pk.15.00.


Ku beritahu ayahnya agar bisa jemput dia tepat waktu, dan bisa titip lauk. Kebetulan sayur, dan lauk di rumaah habis.


Ku bertahan sampai sore karena saking laparnya sampai lupa cacing di dalam tubih berhenti berbunyi. 1 jam kemudian ayah ace beritahu bahawa ace tidak ada di tempat.


Aku cari info kesana kemari, namun tidak ada yang tahu dimana keberadaannya. Kemudian 1t menit ace datang bersama ayah. Batinku, susah banget ya ngasih tau kalau anaknya sudah ketemu. 


Dan, seperti dugaanku titipanku tidak ia belikan. Lagi² soalg gak ada duit. Padahal tidak lama sebelumnya dia telah melakukan banyak transaksi pembelian barang online. 


Sorenya aku hanya makan mie goreng sisa dari sekolah dengan pete. Itu peemintaan dia. Aaku kira dia akan banyak makan karena sebelum jemput dia bercerita karena laper. Mungkin aku juga yang kepedean, karena terlalu merespon keluhan itu.


Dia sudahi makan sepiring berdua, sedang aku tambahkan lagi nasinya. Laper, selaper²nya meski hanya dengan pete. Bukan soal bersyukur, aku berterimakasih sudah mau makan dengan lauk seadanya.


Tapi dari sini aku sadar adanya memetik pete, makan yang tidak habis, wa pesanan tidak direspon alih² uang tidak ada. Aku bukanlah prioritas dia.


Ternyata dia sudah makan bersama temannya di sekolah. Pete itu buah tangan untuk temannya ketika dia akan pergi setelah makan dan sholat bersama. 


Honestly, hari ini aku kecewa berat ya allah aku salah telah memberikan harapan besar ke dia. Tinggal antisipasi saja jika mau nitip pesanan, tanyakan dulu ada uang atau tidak. Atau memang aku disetting menjadi diri pribadi yang mandiri sejak kecil.


Sebagai penghibur diri. Aku sudah biasa melalui ini semua. Berdiri, bertahan, dan gak cengeng sampai sejaauh ini sudah saangat luar biasa. Terimakasih aku. Aku sayang aku. Maaf karena telah membuatmu selalu mengalah demi orang lain. 🤗


Gunung kembang, 26 November 2025, 00.14 wib

Selasa, 16 September 2025

Saat kepala ini isinya rumit.

Memasuki hari di mana besok adalah hari bapakku akan menghadapi jarum suntik, infus, dan kawan - kawannya. Karena akan melakukan tindakan op di organ tubuhnya yaitu ginjal. Ada kista kristal yang bersarang di luarnya yang harus diambil. Kata dokter melalui ibu bercerita bahwa cairan itu bisa disedot dan mereda sesaat. Tetapi jika kistanya atau tempat gelembung itu tidak diambil maka suatu saat rasa sakit itu akan kambuh. Dan itu yang membuat bapak selalu merasa paling sakit se Indonesia Raya. 

 Aku hanya bingung menghadapi situasi ini. Di sisi lain sebagai anak aku ingin menenangkannya. Tapi di lubuk hati terdalam ada hal yang menolak rasa itu. Rasanya gak bebas aja. Pikiranku carut marut menghadapinya. Belum lagi tiba - tiba di pagi hari ditelpon oleh sanak saudara yang mengharuskanku menjawab semua pertanyaan mereka dengan wajah yang sumringah. Padahal di dalam pikiran dan kepalaku ini sangat mengganggu. 

Meski aku tahu bapak sangat membutuhkan dukungan dan doa dari mereka. Tapi apakah harus memakai cara ini? yang pada dasarnya kami anak - anak ingin menjalaninya dengan tenang, tanpa orang lain tahu di awal. Tiba - tiba aja tahu pulang - pulang sudah ditindak. Ini buatku spaneng. Tidak bisa berpikir jernih. Bahkan mendengar orang lain berbicara pun itu membuatku mual. 

Dan pengin ngomong, "dah si diem gitu". Arrgh ini hanya inginku. 

Mereka semua tidak ada urusannya denganku. Saat ini yang bisa aku kendalikan adalah diriku sendiri. Mauku apa supaya bisa tenang, dan lengang. Aku memtuskan untuk kabur dari rutinitas kerjaku lebih gasik. Pergi ke kafe yang aku anggap lebih lengang dan tidak akan ada yang kenal denganku. 

Awalnya oke. Tapi lama kelamaan banyak yang datang. Apalagi dengan adanya kaum hawa yang baru seumur jagung membangun rumah tangga. Rasanya cerita mereka itu milik dunia mereka. UGh bikin brisik aja. wkwkwk ada apa dengan aku coba. Oke. 

Untuk besok dan lusa, take it easy. All is well.

Samasta Coffee, 
Selasa, 16 September 2025
2.31 p.m

Rabu, 23 Juli 2025

Ku hanya ingin melihatmu ada di depan mataku

Sering ku bergelut dengan pikiran dan badanku atas pertanyaan yang terlintas. Apakah sebenarnya arti rumah untkmu? Adakah sedetikpun definisi rumah itu ada kami (aku dan arsyel) dalam pikiranmu? Ini bukan masalah pasti ada jawabannya, tapi panggilan hatimu. Setidaknya ketika kamu di luar sana adakah keinginanmu untuk pulang bertemu dengan kami?

Mungkin menurutmu ini adalah pikiran kecil yang tidak ada artinya. Apa sih cuma masalah sepele. Lagian kalau pulang juga akan ditinggal tidur atau disuruh - suruh mulu. Ya itu memang benar realitanya. Tapi ketahuilah kami membutuhkan hadirmu jiwa dan raga. Ku tak ingin seperti mereka yang ada tapi merasa tidak ada. Atau mereka yang mungkin akan lebih hangat jika hanya bermodal vcall sesama pasangan dengan jarak yang memisahkan.

Perasaan dan naluriku tidak bisa dibohongi. Ketika pikiranmu tidak di rumah, bisa aku rasakan. Sebaliknya jika kamu utuh ada untuk kami pun bisa dirasakan. Ketahuilah boosterku itu kamu. Bisa berkeluh kesah saat kamu di rumah hal yang sangat aku rindukan. Bisa dikatakan aku mandiri dengan kondisiku sekarang tapi itu hanya di jam kerja. Selebihnya ketika kamu pulang aku berubah menjadi yang butuh bermanja dan bersandar. Bahkan untuk menangis sesenggukan tanpa menahan aku pun mau. Layaknya anak kepada orang tuanya, atau adik pada kakaknya atau mungkin kepada teman yang ia percayai.

Banyak kecemburuan yang dipendam karena tidak ingin menambah beban pikiranmu. Mereka yang punya banyak waktu ngobrol dan bertemu denganmu adalah orang yang beruntung. Mereka yang bisa membuatmu nyaman dan menjadi dirimu sendiri tanpa memiliki sekat, termasuk orang yang sangat berharga. Ku ingin memiliki waktu itu. Namun ku sadar itu cara mu memperlakukanku dengan versimu. Bahkan waktu lima menit untuk makan pun sangat ditunggu oleh kami ketika kamu ada di rumah.

Aku tahu kau juga sibuk di luar sana. Ku hargai itu. Aku juga wanita tulen yang butuh sosok itu. Bukan yang suka sendiri melajang dengan segala kesibukannya. Aku hanya ingin memanfaatkanmu sebagai suamiku. Itupun kalau kamu masih bisa menerimaku. Tapi tak apalah itu semua di luar kendaliku. Ku hanya bisa berdoa semoga apa yang aku tulis ini bisa kamu baca. Baca saja aku sudah menjadi mereka yang beruntung di waktu detik bacaan ini. Ini harapanku. Harapan yang entah kapan bisa diwujudkan. Tapi ku percaya bahwa suatu saat nanti akan bisa diwujudkan. Terimakasih untuk 9 tahun ini. Menjadikanku manusia yang kuat dengan segala kelemahan dan kerapuhanku. Terimakasih dengan segala perhatian dan treatment mu yang sudah bisa merubahku di titik ini. Menjadi diriku yang sekarang dengan menerima semuanya tidaklah mudah. Terlebih melawan diri dengan segala kekurangan. Tapi aku bisa berdiri dan duduk tegak karenamu. Berada di sampingmu suatu kebahagiaan tersendiri.

Love You lasting forever.

Hanya ingin kau tahu tanpa harus tahu tanggapanmu.

Jumat, 11 Juli 2025

Teringat masa yang sangat menyedihkan

Hai kamu... sudah sampai di waktu ini sudah sangat luar biasa. Kamu adalah orang terkuat. Kamu hebat bisa melewati itu semua. Jatuh bangun sudah dilalui meski harus melawan sendiri. Tetaplah menjadi dirimu yang penuh suka, ceria dengan segudang bakat yang kamu miliki. Malam ini ku melihat tayangan orang dengan persiapan persalinannya. Rasanya terharu, bahagia, dan iri. Terharu karena mereka akan mempunyai keturunan, bahagia ikut merasakan kedekatan/bonding yang luar biasa dengan pasangan. Iri karena dulu aku tidak sematang itu mempersiapkan kehamilan dan persalinanku. Iri kenapa suamiku tidak seperti itu dulu. Aku yang terbiasa sendiri, menghadapi semuanya seorang diri, bahkan tidak sekalipun cerita (curhat) dengan orang tua dari hati ke hati. Bertemu dengan pasangan yang sangat cuek, dan tidak bisa mengayomi pada saat itu. Saat itu aku berharap aku bisa menyandarkan kepalaku di pundaknya sebagai harapan yang tidak pernah aku salurkan. Harapan itu adalah aku merasa nyaman bersamanya, dan bisa menceritakan semua isi hatiku kepadanya. Namun, pernikahan baru saja berjalan 1 tahun dengan latar belakang yang tidak bisa disatukan dengan hitungan menit. Dan kami belum saling mengenal satu sama lain. Perkenalan yang berjalan dengan hitungan bulan, membuatku harus berkorban perasaan, jiwa, dan raga. Terbersit menjadi orang lain (mantannya) yang multi talent untuk bisa mencuri perhatiannya. Namun, itu adalah kebodohan besar yang pernah aku lakukan. Aku tidak menyadari bahwa hal tersebut adalah kesalahan fatal yang pernah aku harapkan. Bahkan aku pernah menceritakan kepadanya apakah aku harus menjadi dia untuk bisa mencuri perhatianmu? Tapi itu semua sudah berlalu. Hari ini Jum'at, 11 Juli 2025 hari di mana aku merasakan hal yang sangat ingin aku keluarkan. Ku mengingat semua perjuanganku. Membangun rumah tangga, melahirkan, mengasuh bahkan melawan diriku sendiri. Tangisku pecah sejadi - jadinya. Tidak ada yang tahu apa yang sedang aku rasakan. Aku hanya bisa menutupi kesedihanku di depan semuanya. Aku bisa menyelesaikan masalahku. Bahkan untuk mengeluarkan tangisku, aku pun harus mencari tempat ternyaman tanpa orang lain tahu. Ya Allah terimakasih telah memberikanku kelebihan ini. Semoga dengan ini aku bisa menjadi diri yang lebih kuat dan selalu bersyukur atas segala nikmat yang Kau berikan. Tegurlah diriku jika itu bisa membuatku kembali padaMu. Jatirokeh, Jum'at, 11 Juli 2025, 20.37

Selasa, 15 April 2025

Rapat Pembubaran Panitia HBH PGRI

Pertama kali diutus menggantikan ibu KS sebagai bagian dari panitia hbh pgri 2025. Sesampainya di ruangan, aku gak tau apa² tapi hanya duduk menyaksikan mereka memaparkan laporan pertanggungjawaban masing². Ada rasa plonga plongo disitu, karna pengurus bukan, panitia juga bukan, tapi ada sedikit rasa pede karna tau mereka. Tapi ya benar² kaya orang ilang. Hanya duduk terpaku, terima komisi panitia, dan habis itu selesai. Eh setelah beberapa waktu kemudian. Ketua PGRI mendekatiku dan memintaku untuk meninggalkan tempat itu karena akan diadakan rapat intern. Duh malunya aku, tahu gitu tadi langsung pulang aja ye kan. Tapi yo bodo amatlah. Mereka juga gak bakalan mikir jauh sampai situ. Yo yang buat mikir lagi cm pembubaran ngapain harus datang sih bu, kan bisa komisinya dititipkan saja. hufth. Bikin insecure kalau ada acara apa² lagi terus ditunjuk kaya gak mau aja deh, mending yang lain aja. hikz.

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingk...