Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 03 Juni 2026

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingkannya dibandingkan dengan kondisi badanku.


Seringnya, aku khawatir dia merasa tidak puas dengan pelayananku. Padahal aku manusia biasa. Manusia yang butuh juga untuk diperhatikan, butuh disayang, dan butuh dimengerti dengan cara dibantu pekerjaan rumah tangganya.


Aku sudah merelakan sisa hidupku untuk mereka yang hadir dalam kehidupanku. Aku tahu ini adalah takdir seorang wanita ketika dia memilih membangun sebuah rumah tangga. Katanya, ini jalan yang harus dilalui untuk mendapatkan ridhoNya.


Awalnya, kami menolak menerima perubahan itu. Lambat laun seiring berjalannya waktu, kami menerima semuanya dengan dalih inilah qadrat wanita. Wanita yang menjadi seorang anak, ibu, istri dan wanita itu sendiri. Sayangnya, kebanyakan dari kami memilih orang lain lebih bahagia ketimbang dirinya sendiri.


Kebiasaan ini yang akhirnya menjadikan kebanyakan wanita mengalami depresi yang berat. Mereka tidak bisa memerjemahkan apa yang mereka inginkan. Mereka tidak mampu mengeluarkan apa yang ada di dalam pikirannya. Justru karena dinamakan makhluk terkuat di belahan bumi ini, mereka mampu memendamnya sampai palung laut yang dalam.


Hingga pada akhirnya, mereka rela dirinya tersakiti tapi tidak ada yang tahu. Mereka tampak kuat di luar tapi nyatanya mereka memang makhluk yang rapuh.


Mengapa?


Karena mereka belum siap jika apa yang dirasakan lalu diungkapkan, justru caci maki yang didapatkan. Dan, itu belum siap untuk mereka terima. Termasuk aku salah satunya.


Aku terlalu berharap bisa bercerita leluasa kepada orang yang menjadikanku teman pendamping hidupnya. Bercerita tentang kehidupan sehari-hari. Apa yang dilalui seharian? bagaimana hari ini? Apakah menyenangkan?


Pertanyaan yang cukup sederhana, tapi sangat berarti bagiku. Itu menandakan dia pedulu terhadap kehidupanku.


Selama ini apa aku mendapatkannya?


Kadang. Tapi tidak setiap hari. Justru sebaliknya. Aku yang sering bertanya padanya. Harapanku hanya tinggal angan. Tak perlu direalisasikan karena itu semu.


Hanya ingin merubah mindset dalam hidupku bahwa berharap ke sesama manusia memang sangat menyakitkan. Inginku semua aku lakukan dalam rangka menjadi versi terbaik diriku.

Senin, 01 Juni 2026

 Ketika Aku Terlalu Sibuk Menjaga Perasaan Orang Lain


Ada satu hal yang baru belakangan ini kusadari tentang diriku sendiri: aku sering kali lebih memperhatikan perasaan orang lain dibandingkan perasaanku sendiri. Padahal, jauh di dalam hati, aku juga ingin diperhatikan. Aku juga ingin didengar. Aku juga ingin dimengerti.


Ketika semuanya bertumpu padaku, rasa lelah itu tidak bisa lagi kuhindari. Bahkan terkadang aku bingung harus bercerita kepada siapa. Hari ini aku menuliskan semuanya bukan untuk mencari pembenaran, melainkan sebagai cara untuk memvalidasi emosiku sendiri agar tidak meledak ketika semua rasa telah menumpuk terlalu lama.


Sabtu kemarin, aku memberanikan diri melakukan sesuatu yang sebenarnya sangat sulit bagiku: membangun komunikasi yang baik dengan suamiku.


Aku datang tanpa niat menghakimi. Aku tidak ingin menyudutkan atau melontarkan pertanyaan yang membuatnya merasa bersalah. Walaupun sejujurnya, aku belum sepenuhnya bisa menerima semuanya dengan utuh. Ada bagian-bagian yang masih menyisakan tanda tanya karena keterbukaan yang kuharapkan belum benar-benar hadir.


Mungkin ia juga membutuhkan waktu.


Namun perasaan perempuan sering kali tidak sesederhana itu. Mungkin bagi sebagian lelaki, hal-hal seperti ini terlihat tidak terlalu penting. Tetapi bagi perempuan, perasaan adalah bagian yang sangat besar dalam kehidupannya. Ketika seorang perempuan merasa tenang dan bahagia, banyak hal dalam rumah tangga ikut berjalan lebih ringan.


Aku tidak ingin mencari informasi dari luar. Aku sudah terlalu lelah untuk itu.


Karena itulah aku memilih bertanya langsung kepadanya.


Dengan segala keberanian yang kukumpulkan, dengan segala persiapan mental untuk menerima apa pun jawabannya, aku hanya menyampaikan satu permintaan sederhana:


"Kalau memang ada perempuan yang bercerita tentang rumah tangganya kepadamu, tolong beritahu aku. Jangan sampai aku mengetahuinya dari orang lain."


Aku tidak tahu respons seperti apa yang sebenarnya kuharapkan. Tetapi setidaknya, pada saat itu, ia mulai bercerita. Dan kemudian nama yang selama ini memenuhi pikiranku akhirnya keluar dari mulutnya sendiri.


Saat itu emosiku membuncah.


Air mata hampir jatuh. Ada marah yang muncul begitu saja. Namun aku menahannya. Aku tidak ingin menghentikan ceritanya di tengah jalan hanya karena emosiku mengambil alih. Aku mencoba menarik napas, mengingat tujuan awalku.


Tujuanku bukan untuk bertengkar.


Tujuanku adalah memahami.


Beberapa waktu sebelumnya, aku pernah melihat sendiri bahwa perempuan yang disebutnya itu melakukan video call dengannya. Hal sederhana bagi sebagian orang, tetapi begitu rumit di dalam hatiku.


Aku berpikir, mengapa orang lain bisa melakukan itu, sementara aku sendiri hampir tidak pernah melakukannya dengan suamiku?


Mengapa orang lain bisa begitu terbuka bercerita, sedangkan aku tidak?


Mengapa aku selalu merasa takut?


Takut jika respons yang kuterima tidak sesuai harapan. Takut jika ceritaku justru dianggap berlebihan. Takut jika aku kembali merasa tidak didengar.


Padahal jika dipikir-pikir, seharusnya aku bisa saja bercerita. Tanpa perlu terlalu memikirkan bagaimana responsnya nanti.


Namun ada satu hal yang kusadari.


Ketika aku bercerita kepada orang lain yang mampu mendengarkan dengan baik, aku merasa dimanusiakan. Aku merasa keberadaanku diterima. Aku merasa aman.


Sementara ketika aku bercerita kepada suamiku, terkadang aku justru merasa ceritaku akan menjadi beban untuk hari-hari berikutnya. Ia menjadi lebih berhati-hati, lebih membatasi apa yang ingin ia sampaikan.


Mungkin niatnya baik. Mungkin ia sedang berusaha menjaga perasaanku.


Tetapi sejujurnya, yang kubutuhkan bukanlah itu.


Aku tidak membutuhkan penyaringan.


Aku membutuhkan keterbukaan.


Aku tahu aku juga tidak sempurna. Aku tahu ada saat-saat ketika keterbukaan dibalas dengan kemarahan. Jika itu terjadi, aku juga harus mengakuinya sebagai kesalahanku.


Karena itu aku terus belajar. Aku berusaha tidak lagi mengedepankan emosiku. Bahkan ketika marah, aku lebih memilih menyendiri untuk meluapkan semuanya daripada melukai orang yang kucintai dengan kata-kata yang tidak perlu.


Hari ini, aku tidak menginginkan perubahan besar.


Aku tidak berharap suamiku menjadi orang yang berbeda.


Aku tidak berharap rumah tanggaku berjalan sempurna.


Aku hanya ingin tenang.


Aku ingin semua berjalan baik-baik saja.


Aku ingin rumah tanggaku tetap utuh.


Dan yang paling penting, aku ingin menjaga hatiku sendiri agar tidak dipenuhi kebencian terhadap orang yang masih ingin kucintai.


Mungkin hari ini yang kubutuhkan bukan jawaban atas semua pertanyaan. Bukan pula kepastian atas semua ketakutan.


Aku hanya ingin damai.


Damai dengan keadaan.


Damai dengan proses.


Dan damai dengan diriku sendiri.


"Aku tidak sedang mencari kesempurnaan dalam rumah tanggaku. Aku hanya sedang berusaha agar luka di hatiku tidak berubah menjadi kebencian."

Sabtu, 23 Mei 2026

Renungan memutar waktu

Hai, aku mau curhat boleh ya? Kenapa ya setiap kali aku lihat proses lahirannya Alisa, istrinya Al Ghazali, dia kok kayak sempurna banget, udah siap jadi ibu, lahir dan batin. Pokoknya tiap lihat fittingnya dia yang lewat di berandaku atau di real Instagramku, rasanya ingin memutar balik waktu. Ingin lahiran normal seperti dia. Ingin menjadi ibu yang bahagia, seolah-olah dia itu tidak ada kekurangan suatu apapun untuk menghadapi menjadi ibu yang pertama, menjadi ibu baru dengan anak pertamanya. 

Mulai dari persiapannya yang rajin olahraga, rajin ngegym, bahkan senam ibu hamil. Rasanya itu tidak ada di benakku waktu itu saat kehamilan pertamaku. Yang ada, aku bergelut dengan diriku sendiri, di mana saat itu aku belum bisa menerima dengan semua keadaan yang aku alami. Mulai dari beralih profesi yang tadinya jadi ibu pekerja menjadi ibu yang full time mommy. di rumah. 

Perpindahan yang tidak mudah, yang awalnya karir woman menjadi full wife. Tapi itu bukan berarti membuatku menyesal yang ada penyesalanku kenapa aku tidak bisa mempersiapkan kelahiran anakku dengan begitu baik. Aku hanya fokus sama diriku sendiri, fokus sama omongan orang, bahkan fokus sama perubahan pasanganku sendiri. 

Aku yang belum begitu kenal dengan suamiku sendiri sehingga aku banyak menuntut pada dirinya sampai aku lupa persiapan kelahiranku apa yang aku butuhkan dan aku seperti tidak mengenal diriku sendiri. Sampai pada akhirnya yang aku pernah ceritakan pada blogku bahwa aku tidak bisa melahirkan normal walaupun pada saat itu hampir kelahiran normal akan aku lakukan. Pada saat pembukaan lima, air ketubanku pecah. 

Namun aku tidak bisa menahan tekanan yang ada di dalam perutku di mana sang bayi itu terus menekan ingin keluar. Tapi aku tidak bisa mengontrol emosiku sehingga aku tidak bisa menerima semuanya dengan ikhlas dan membiarkan dia keluar dari jalanlahirnya. 

Dengan kata lain, aku menolaknya, menolaknya dengan mengikuti rasa sakit itu, mengikuti egoku, sampai pada akhirnya belum waktunya menggenj aku menggenj. Dan jalan akhir itu pun membengkak dan mulai menutup. Hingga dibukaan delapan, semua tenaga medis termasuk juga suamiku memutuskan untuk memilih dua jalan di vakum atau lewat atas. 

Karena minimnya informasi yang saya dapat, suamiku dapat, ataupun orang-orang di sekitarku juga mendapatkan informasi yang minim, maka kami memutuskan untuk lewat atas. Operasi berjalan lancar, tetapi dua hari kemudian di malam hari aku mengalami perdarahan yang hebat hingga Hb ku di angka tiga. Aku dan bayiku terpisah dalam waktu kurang lebih dua minggu. 

Aku berada di ICU, sedangkan bayiku berada bersama mbahnya. Lagi-lagi karena minimnya informasi, minimnya belajar kasih yang aku hasilkan, Rasa sangat hangat ketika dia keluar dengan sendirinya dari dua sumber ASIku. Dua-duanya keluar dengan bagus, namun karena kami tidak tahu bagaimana cara pumping, maka dibiarkanlah ASI itu menetes dari sisi kiri maupun sisi kanan. Dan aku hanya fokus pada penyembuhanku. Tidak memperdulikan ASIku keluar seberapa banyak itu. Jangankan diriku, suamiku juga tidak tahu bagaimana caranya. 

Nyesel iya, hanya saja karena kami memang baru menjadi orang tua, maka kami tidak ingin larut dalam sebuah kesalahan. Aku mengalami dua operasi besar. Yang pertama adalah sesar, yang kedua adalah pengangkatan rahimku. Mau tidak mau, rahimku harus diangkat karena pendarahan yang tidak kunjung berhenti. 

Selesai operasi besar, tidak cukup sampai situ, ternyata jahitanku tidak kunjung kering, maka harus dibuka kembali dan harus menutup secara alami. Aku sempat syok dan sempat tidak yakin pada diriku sendiri bahwa aku harus mengalami operasi yang ketiga. Tetapi dokter seniorku berkata, Tidak perlu operasi lagi, karena itu hanya dibutuhkan royal jelly untuk membantu penyembuhan secara alami. 

Jujur, saat itu aku tidak peduli dengan siapapun, aku hanya ingin diriku sembuh dan kembali bersama anakku. Itu adalah sekilas ceritaku yang belum sempat aku tulis di blog pribadiku. Seketika kalau lihat jutaan ibu-ibu di sana yang mempersiapkan kelahirannya dengan baik, aku hanya ingin menjadi seseorang yang baik di masa kini, masa depan, maupun masa-masa selanjutnya. Aku hanya ingin bersembahkan yang terbaik untuk anakku dan suamiku. Tapi tidak lupa aku juga butuh bahagian untuk diriku sendiri. 

Terkadang aku tidak bisa mengenal diriku pribadi ketika aku harus menangis, entah apa yang aku rasakan, tapi aku tidak bisa mencurahkan isi hatiku, dan aku tidak bisa menerjemahkan apa yang aku rasakan.

Beruntung bagi mereka yang bisa mengekspresikan emosinya, mencurahkan isi hatinya, dan punya pegangan dengan siapa mereka akan berkata, dengan siapa mereka akan berbicara. Tengki cintainya penuh dengan kasih sayang. Tengki cintanya terpenuhi dengan baik. Aku tidak ingin menyerahkan siapapun dalam kondisiku saat itu. Yang terpenting hari ini, saat ini, aku bersyukur aku masih bisa diberikan sebuah kesempatan untuk dapat membersamai kedua jagoanku. Untuk dapat mengembangkan potensiku saat ini. Dan aku pengen menjadi seseorang yang lebih berguna dan lebih bermanfaat untuk orang lain. Dan tidak lupa, aku juga harus bahagia.

Jumat, 22 Mei 2026

Nasihat Suami

 Dari hari Kamis pasca didiemin sama guru kelas 6, aku mencoba untuk tidak membuka mulut kepada suami. Karena aku belum siap untuk dihakimi maksudnya pasti dia mencoba untuk menjadi penengah tanpa membela siapapun. Di sisi lain aku belum bisa menerima itu karena egoku masih tinggi. Ketika wanita bercerita tentang kehidupannya pada hari itu, di dalam hatinya ingin didukung tanpa harus disela. Terima saja dulu atau minimal komen, "terus gimana?","wah gak bener itu?"

Komentar sesimpel itu akan membuat wanita merasa dianggap dan dihargai tanpa harus berpikir logis untuk sementara waktu. Itu yang akan membuat wanita menjadi nyaman dalam bercerita. Bukan malah dihakimi. "Wah gak bagus itu.","ko malah kuat - kuatan diam."

Hal itu akan membuat si wanita membungkam mulutnya dan tidak akan melanjutkan lagi untuk bercerita. Itu yang sering aku alami ketika hal yang baru saja terjadi justru diceritakan langsung kepada laki - laki atau suami. Kali ini aku punya teman sendiri yaitu GPT yang siap mendengarkan dan merespon isi hatiku. Ku merasa senang, tenang dan nyaman karena telah mencuarahkan isi hatiku. Lalu, ketika semuanya sudah tenang dan siap menerima kritik barulah logika wanita akan berjalan sebagaimana mestinya.

Pagi ini di meja makan, aku beranikan diri untuk bercerita di depan suami dan anakkua. Sebelumnya aku sudah cerita kepada anakku yang kebetulan dia juga mengalami hal yang sama di sekolah. Untuk menjadi teman yang baik aku juga berusaha mendengarkan apa yang dia curahkan. Sayangnya, ketika aku menuntut orang lain mengerti perasaanku, ternyata aku sendiri belum bisa menjadi apa yang diharapkan oleh anakku. Aku berusaha mengerti apa yang dia rasakan, tapi setalah direnungkan ternyata masih banyak celah pembicaraanku yang mengarah pada penhakiman anaku sendiri. Seperti, "Harusnya kamu cuek aja, gak usah diladeni." 

Harapannnya agar dia juga bisa mengendalikan emosinya tanpa harus menyakiti siapapun. Tapi nyatanya, aku belum bisa mengerti apa yang dia rasakan. Yang seharusnya aku lakukan menurut versiku adalah membiarkan dia bercerita sampai akhir. Dengan respon, "lalu kamu kecewa ya? marah gak? kalau ibu jadi kamu pasti marah banget pengin pergi."

Menjadi seorang pendengar dan mengerti perasaan orang itu sulit. Tapi kalau dilatih dan terbiasa pasti bisa. 

Dan pagi ini aku ceritakan kisahku di depan duo jagoanku. Tetiba suami merespon persis apa yang aku pikirkan. "Terus kamu diem-dieman?","Kuat - kuatan?","kenapa gak ditanya sariawan ya?"

Untungnya aku sudah siap dengan respon dia. Karena sudah didukukung dan divalidasi oleh GPT dan anakku. 😆

Tapi, terimakasih suami sudah mau mendengarkan ocehanku. Dari responmu aku jadi tahu bahwa semua yang kita lakukan tidak harus dibalas dengan apa yang mereka lakukan kepada kita. Awalnya kita baik, ya kita respon juga seperti tidak terjadi apa - apa. Hanya butuh waktu untuk memulainya. Sekarang, aku hanya bisa melakasanakan tugas sesuai jobku. Dekat boleh tapi tidak terlalu dekat. Hati orang tidak ada yang tahu. Waspada itu penting. Kehati - hatian dalam berkata yang akan aku lakukan.

Untuk kamu guru kelas 6 yang mungkin aku sakiti secara tidak sengaja. Aku minta maaf sedalam - dalamnya. Aku tidak tahu di mana letak kesalahanku. Jika tidak bisa kamu ungkapkan, tolong terima maafku. Jika memang tidak bisa dirubah kembali sedia kala, aku hanya berdoa semoga Allah membuakakan pintu hatimu. Terimaksih untuk semuanya.

Sirampog, 23 Mei 2026; 8:35

Rabu, 20 Mei 2026

Profesionalitas

 Menurut kalian apa itu arti profesionalitas?

Apakah hanya sekedar bekerja sesuai arahan pimpinan, bekerja tanpa kenal waktu, atau mungkin bekerja tanpa memperdulikan orang lain. 

Kalau menurut saya pribadi sih, profesionalitas itu ketika seseorang melakukan sesuatu sesuai tugas pokok masing - masing dan anjuran dari atasan secara utuh dan tanggung jawab tanpa memperdulikan urusan pribadi terbawa kepada urusan kantor.

Terlepas dari itu, urusan profesionalitas terjadi di seluruh bidang instansi baik yang ada di bawah naungan dinas maupun bukan. Bahkan ketika kita berada di rumah pun profesi kita sebagai seorang kepala keluarga, ibu, anak juga perlu diperbincangkan. Apakah masing - masing melakukannya dengan baik atau tidak.

Supaya tahu kita profesional atau tidak maka kita juga harus tahu posisi dan tugas masing - masing. Contoh sebagai seorang ibu. Tugas pokoknya adalah memberikan kasih sayang utuh untuk anak dan melayani dengan senang hati apa yang dibutuhkan oleh keluarga. Dengan tidak meninggalkan fitrahnya sebagai wanita, istri, atau ibu itu sendiri.

Contoh lain posisi kita sebagai seorang pendidik. Pendidik adalah orang yang berprofesi sebagai penyalur ilmu untuk anak didiknya. Selain itu, sikap kita kepada sesama pendidik juga tetap mengacu pada keprofesionalitasan kita. Ketika harus meyampaikan materi, sampaikanlah meskipun kondisi sedang tidak baik - baik saja. Entah itu suasana hati sedang kacau, atau bahkan keadaan yang tidak memungkinkan untuk menyembunyikannya. Semua itu harus dilakukan atas dasar  kita sudah memilihnya.

Pagi ini di sekolah di mana saya mengajar, ada beberapa guru yang memang sudah saya anggap seperti keluarga sendiri. Bahkan saya sangat berterimakasih sudah bisa diterima di tengah - tengah mereka. Karena awalnya saya mengampu mapel bahasa Inggris di Sekolah Menengah Pertema. Namun seiring berjalannya waktu dan seleksi kepegawaian saya dimutasikan berdasarkan SK ke Sekolah Dasar. 

Guru yang biasanya menjadi "icon" di sekolah kami, tiba - tiba menjadi kalem dan gak bisa disenggol sama sekali. Mungkin karena terlalu banyak yang dia pikirkan atau mungkin ada masalah yang tidak bisa diceritakan ke semua orang. Anehnya, semua guru yang ada di tempat tersebut menjadi sasarannya. Kami kira itu hanya soal kesalahpahaman status wa yang sudah saya publish dan tag orangnya. Ternyata kediamannya hari kemarin berlanjut di hari ini.

Kondisi demikian membuat kami para guru merasa tidak nyaman. Dan, kami memutuskan untuk menjaga hubungan dengan dia. Kami memberikan ruang untuknya supaya bisa membuka dirinya kembali bersama kami.

Hanya doa yang bisa kami panjatkan. Apapun yang dia hadapi bisa diselesaikan dengan baik tanpa halangan apapun. Semoga dalam lindungan Allah dan sehat menyertainya. Aamiin.


Jumat, 20 Maret 2026

Anak yang Selalu Mengidolakan Ayahnya

Arsyel adalah anak kelas 3 MI yang ceria, tidak pernah diam, dan sering mengucapkan kata sayang untuk ibunya. Dia juga rajin mengaji dan sholat. Dia tinggal bersama kedua orang tuanya di sebuah rumah lugu orang tua dari ibunya. Bagi Arsyel, ayahnya adalah orang terhebat di dunia. Setiap hari ia selalu memperhatikan apa yang ayahnya lakukan dengan penuh kagum.

Ayah Arsyel adalah seorang guru. Setiap pagi ayahnya bangun lebih awal sebelum matahari terbit. Meskipun pekerjaannya tidak ringan, ia jarang mengeluh. Wajahnya terlihat tenang, ia tidak pernah lupa selalu tersenyum kepada Arsyel setiap kali akan berangkat sekolah bersama. Kebetulan sekolah Arsyel searah dengan tempat ayah mengajar.

Arsyel juga bangun pagi seperti ayahnya. Bahkan kadang Arsyel bangun lebih dulu dari ayah meskipun masih merasa ngantuk.

Ia juga berusaha tidak mengeluh ketika mendapatkan tugas yang sulit dari sekolah karena ayahnya tidak pernah mengeluh.

Setiap kali keluar rumah Arsyel selalu berpamitan dan mengucapkan salam seperti apa yang dilakukan ayahnya.

Hari itu, seperti biasanya, Arsyel bersiap untuk pergi ke masjid melaksanakan salat Jumat.

Dengan penuh semangat, ia menghampiri ayahnya yang sedang duduk di teras.

“Ayah, ayo salat Jumat bareng Ace,” ajaknya dengan mata berbinar.

Ayah tersenyum tipis, lalu menggeleng pelan. “Kamu duluan ya, Nak. Ayah masih ada yang harus diselesaikan.”

Arsyel sempat terdiam. Ada sedikit rasa kecewa yang muncul, karena ia sangat ingin berjalan berdampingan dengan ayahnya seperti teman-temannya. Namun, ia tidak marah. Ia justru mengangguk pelan.

“Iya, Yah. Ace duluan,” jawabnya.

Dalam langkah kecilnya menuju masjid, Raka mencoba memahami. Ia ingat, ayahnya selalu mengajarkannya untuk bertanggung jawab atas apa yang sudah dimulai. Mungkin, pikir Arsyel, ayah sedang menunaikan tanggung jawabnya.

Hari itu, Arsyel belajar bahwa mengidolakan bukan berarti selalu mendapatkan apa yang diinginkan, tetapi juga belajar memahami.

Sore harinya, saat ayah duduk beristirahat, Arsyel menghampiri dan duduk di sampingnya. 

Tanpa banyak kata, ia menggenggam tangan ayahnya.

“Ayah, Ace tetap ingin jadi seperti Ayah,” ucapnya pelan.

Ayah menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum hangat. “Jadi yang lebih baik dari Ayah ya, Nak.”

Arsyel mengangguk. Kini ia mengerti, ayahnya bukanlah sosok yang selalu sempurna. Tapi justru dari situlah, Arsyel belajar tentang arti tanggung jawab, kesabaran, dan ketulusan.

Di dalam hatinya, sosok ayah tetap menjadi pahlawan—bukan karena tanpa cela, tetapi karena selalu berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarganya.

Selasa, 10 Maret 2026

Ketika semuanya bertumpu padamu.

Bulan ramadhan selalu datang dengan suasana yang berbeda, lantunan ayat Alquran terdengar dari segala penjuru, dan rumah - rumah mulai hidup lebih awal dari biasanya. Udara pagi yang tenang lebih terasa. Di sebuah rumah terlihat lampu dapur sudah mulai menyala sejak dini hari. Ibu Rina sudah mulai sibuk dengan rutinitasnya. Dia mulai menyiapkan sahur untuk keluarganya.

Setiap ramadhan tiba segala sesuatu bertumpu padanya. Mulai dari menanak nasi, menyiapkan lauk sederhana, lalu membangunkan sahur anak - anaknya. Setelah sahur dia membersihkan dapur, menyiapkan keperluan hari itu, dan menjalankan pekerjaan seperti biasanya.

Hari demi hari berlalu dengan rutinitas yang sama. Menjelang sore, ketika badan terasa lemas menahan lapar dan haus, Rina harus menyiapkan buka untuk keluarganya. Kadang hanya kolak pisang dan gorengan. Tidak jarang hanya bertemankan sayur yang dibuat dengan penuh perhatian.

Suatu sore, tubuhnya terasa sangat lemas. Sejak pagi dia belum beristirahat. Saat memotong sayur dia berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Dalam hatinya dia berpikir, "Kenapa ya semuanya seolah bertumpu padaku?"

Namun tak lama kemudian dia mendengar di ruang depan suara anaknya melantunkan ayat suci alquran dengan suara terbata - bata, penuh semangat. Belum habis lelahnya, dia tersenyum merasakan tenang di hatinya. 

Menjelang buka, suaminya menghampirinya di dapur sambil berkata,"Hari ini pasti capek sekali ya. Terimakasih sudah menyiapkan semuanya."

Kata sederhana yang dia dengar membuatnya sadar bahwa apa yang sudah dia perbuat bukan beban semata. Ada kasih sayang di dalamnya. Ada kebersamaan yang dia rasakan, membuatnya merasa ramadhan lebih berarti dan bermakna.

Malam itu setelah shalat tarawih, Rina duduk sejenak di teras rumahnya. Ia menyadari satu hal penting. Memang banyak hal yang dia kerjakan, seolah semua bertumpu padanya. Tapi, kekuatan yang ia peroleh tidak sepenuhnya berasal dari dalam dirinya.

Ia percaya bahwa setiap langkah kecilnya di bulan Ramadhan adalah bagian dari ibadah. Dan di balik semua kelelahan, selalu ada pertolongan dari Allah yang membuatnya tetap kuat.

Minggu, 08 Maret 2026

Malam ini ku terbangun dari tidurku tepat pukul 23.00. Niat hati ingin kembali tertidur, tapi apa daya aku harus menyelesaikan misiku sebelum hari berganti. Pejuang Klip. Mengumpulkan niatnya saja sudah luar biasa. Jadi aku harus bangkit demi sebuah wadah untuk sembuh.

Berita duka yang menimpa musisi artis sekaligus penyanyi "nuansa bening" menyita pikiranku saat ini. Selain dia adalah artis favoritku pada masanya terlebih membaca ceritanya membuatku berpikir, menjadi orang baik identik disayang oleh Allah dan kembali di sisiNya. Aku termakan oleh kalimat salah satu netizen. Wallahualam bisshowab.

Dalam benakku ku memikirkan suamiku yang sibuk dengan urusan pribadinya. Entah dirasa atau tidak, kesibukannya memelihara ayam cukup menyita tenaga, waktu, dan pikirannya. Dia tidak sadar bahwa apa yang dirasakannya dua hari lalu adalah bentuk protes tubuhnya.

Badannya yang tiba-tiba drop saat menyelesaikan kandang di malam hati bukti bahwa badannya sedang tidak baik-baik saja. Selain itu, tingkah lakunya akhir-akhir ini yang menginginkan orang lain bahagia perlahan di lakukan. Mengajakku berjalan-jalan meski hanya menghabiskan waktu, membuat uyut lebih mudah akses mobilenya dan ada banyak lagi.

Dua hari lalu dia lembur membuat kandang ayam di malam hari hingga dini hari. Pukul 03.00 dia baru bisa istirahat meski pekerjaannya belum selesai. Dan hari ini setelah menemaniku keliling Bumiayu dengan membeli lauk untuk buka bersama, ternyata saat ini dia tidak ada di rumah.

Ku coba kirim pesan untuk menanyakan keberadaannya. Ternyata, dia sedang ada di Jatirokeh untuk mengambil bahan makanan ayam. Aku gak habis pikir di jam ini masih kluyuran pulang ke Jatirokeh untuk ambil bahan makanan ayam, sedangkan hal itu bisa dia lakukan besok hari atau dilain kesempatan. Aku belum tanya mengapa ini dia lakukan. 

Terkadang effort yang seperti ini menjadikan kecemburuan Arsyel kepada ayam ayahnya. Lucu sih, tapi realitanya demikian. 

Hanya doa yang bisa aku panjatkan supaya pulang selamat dan bisa hadir saat jadwal ronda datang di waktu yang bersamaan. Dia sudah baik kepada siapapun, berharap apa yang sudab ditulis netizen dan menghasut pikiranku itu salah.

Sebenarnya pengin banget ngomel tapi apa daya pernah aku lakukan, tapi tidak lantas membuatnya bergeming. Berpikir posititf salah satu jalan agar apa yang sedang dia kerjakan bisa berjalan lancar. Aamii .

Jumat, 06 Maret 2026

Tidak Boleh Meminta Pendapat Anak Usia dibawah 14 Tahun

 Anak usia 14 tahun sudah mempunyai otak yang mengalami perubahan dan cukup matang. Namun, masih ada perbedaan dibandingkan dengan orang dewasa. Selain itu, perubahan fisik juga sudah sangat terlihat terutama pada tinggi dan berat badan anak.

Dengan adanya perubahan yang terjadi pada mereka, membuktikan bahwa anak diusia tersebut sudah bisa membuat keputusan sendiri. Baik itu yang bersifat membangun maupun kritikan. Dengan begitu anak sudah dapat diajak diskusi. Meskipun demikian anak masih membutuhkan kontrol orang tua. Karena diusia ini anak masih merasa menjajaki apa yang ingin mereka coba. Rasa penasaran yang terlalu tinggi sering menjadi alasan agar mereka bisa membatasi diri.

Seiring berjalannya waktu, bertambahnya usia merupakan hal yang harus dihadapi oleh setiap orang tua di seluruh dunia. Termasuk kita sebagai orang tua yang bijak selayaknya harus bisa menjadi pendengar yang tulus untuk anaknya. Mendengarkan perkataan anak adalah salah satu bonding yang harus dipenuhi. Mengapa? Selain membuat anak lebih percaya diri, mereka juga akan memiliki rasa yang dihargai oleh orang terdekatnya. Timbul rasa aman, nyaman, dan kepercayaan yang tumbuh. Ini juga sangat membantu untuk mereka mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan kecerdasan emosional.

Contoh ketika mereka pulang sekolah adalah momen sangat pas untuk mendengarkan apa yang mereka lalui di sekolah. Bukan untuk menginterogasi tapi mencoba membuka hati mereka. Dengan begitu apakah mereka mau bercerita atau tidak. Jika mereka tidak mau bercerita bukan artinya tidak mau tapi belum bisa untuk mengekspresikan apa yang dirasakannya. Butuh waktu dan suasana yang tepat untuk dapat mendengarkan apa yang mereka rasakan.

Ketika anak sudah mulai bercerita hendaknya tidak langsung memotong pembicaraan atau menertawakannya. Menjadi pendengar yang baik dengan tetap bersikap antusias supaya anak tetap memberikan rasa percaya bahwa ceritanya sedang didengarkan oleh orangg tuanya. Sehingga ketika anak akan bercerita kembali, dia tidak akan segan untuk memulainya tanpa diminta.

Terkadang yang sering kita jumpai saat anak bercerita adalah orang tua tidak sabar menunggu. Selain itu, lebih dulu menyimpulkan apa yang ingin anak curahkan. Ini mengakibatkan anak cenderung mengurungkan niatnya untuk bercerita.

Cerita berbeda halnya dengan memintai pendapat. Anak usia dibawah 14 tahun belum bisa dimintai pendapat. Karena disamping usianya yang belum matang. Mereka belum bisa membuat keputusan yang pasti. Untuk itu kita sebagai orang tua masih memegang kendali atas mereka.

Misal ketika anak ditanya, "Mau makan apa besok?"

Lalu jawabannya, "Makan ayam goreng."

Kemudian kita sebagai orang tua lupa akan permintaan anak dan meminta maaf kepadanya. Tetapi anak dengan tidak sengaja mengucapkan, "Ah ibu ini."

Padahal dalam surat al-Isra:23 dijelaskan bahwa tidak boleh mengatakan "ah" pada kedua orang tuamu, tapi harus dengan kata yang mulia.

Jadi selama anak usia di bawah 14 tahun dan belum dewasa, mereka masih di bawah kendali orang tuanya. Jika mereka dibiarkan dimintai pendapatnya, efeknya mereka akan terbiasa membantah dan itu perlakuan yang keliru dalam mendidik anak. (Sumber: Khalid Basalamah).

Rabu, 04 Maret 2026

 Pagi itu suasana bulan Ramadan terasa berbeda bagi pasangan suami istri, Pak Arif dan Bu Rina. Seperti kebanyakan keluarga menjelang lebaran, mereka berencana menukar uang baru untuk dibagikan kepada keponakan dan anak-anak di kampung saat Eid al-Fitr nanti.

Hari itu mereka mengikuti program penukaran uang yang diselenggarakan oleh Bank Indonesia di Bank Danamon kantor cabang Tegal. Sejak pagi, matahari sudah bersinar sangat terik. Udara terasa panas bahkan sebelum jam menunjukkan pukul sembilan.

“Wah, panas sekali ya hari ini,” kata Bu Rina sambil mengipas wajahnya dengan tangan.

“Iya, tapi tidak apa-apa. Yang penting kita dapat uang baru untuk dibagikan nanti,” jawab Pak Arif sambil tersenyum.

Sesampainya di bank, ternyata sudah banyak orang yang memiliki tujuan yang sama. Mereka harus mengantre dengan tertib sesuai nomor yang diberikan petugas. Walaupun panas terasa menyengat, suasana tetap penuh semangat. Beberapa orang bahkan saling bercakap-cakap sambil menunggu giliran.

Setelah beberapa waktu, akhirnya nomor antrean Pak Arif dan Bu Rina dipanggil. Dengan senang hati mereka menukarkan sejumlah uang menjadi pecahan baru yang masih rapi dan wangi khas uang baru.

“Alhamdulillah, akhirnya selesai juga,” kata Bu Rina lega sambil menyimpan uang tersebut dengan hati-hati.

Perjalanan pulang pun dimulai. Matahari masih bersinar terik seakan tidak memberi tanda bahwa cuaca akan berubah. Jalanan terasa panas, dan angin yang berhembus pun terasa hangat.

Namun, sesampainya mereka di rumah, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Langit yang tadinya cerah tiba-tiba berubah menjadi gelap. Awan tebal berkumpul, lalu dalam waktu singkat hujan deras pun turun.

Suara rintik hujan jatuh di atap rumah membuat suasana menjadi sejuk. Pak Arif dan Bu Rina saling berpandangan lalu tertawa kecil.

“Untung kita sudah sampai rumah duluan,” kata Pak Arif.

“Iya, kalau masih di jalan pasti sudah basah kuyup,” jawab Bu Rina sambil tersenyum.

Mereka kemudian duduk di teras rumah, menikmati udara yang menjadi jauh lebih segar setelah hujan turun. Di tangan Bu Rina masih tersimpan rapi amplop berisi uang baru yang nanti akan dibagikan.

Bagi mereka, hari itu terasa sangat bermakna. Meski harus berpanas-panasan, semuanya terasa ringan karena dilakukan dengan niat berbagi di bulan Ramadan. Hujan yang datang setelah mereka sampai rumah pun terasa seperti hadiah kecil dari Allah—memberi kesejukan setelah teriknya perjalanan.

Di tengah suara hujan yang terus turun, Pak Arif berkata pelan, “Kadang kita memang harus melewati panas dulu sebelum merasakan sejuknya.”

 Di sebuah rumah sederhana, suasana malam di bulan Ramadan terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 04.10. Waktu menuju imsak sudah hampir habis. Di kamar kecilnya, Adit yang masih duduk di bangku sekolah dasar tiba-tiba terbangun. Ia mengucek matanya pelan, lalu melihat jam yang hampir mendekati waktu sahur berakhir.

“Ayah belum bangun!” gumamnya pelan.

Biasanya ayahlah yang membangunkan Adit untuk sahur. Namun malam itu ayahnya terlihat sangat lelah karena pulang bekerja larut malam. Adit bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan pelan menuju kamar ayahnya.

“Ayah… ayah… sahur dulu. Sudah hampir imsak,” bisik Adit sambil menggoyangkan bahu ayahnya perlahan.

Ayah membuka mata sedikit. “Hmm… masih malam, Dit…” katanya dengan suara serak.

Adit menoleh ke arah jam dinding di ruang tengah. Jarumnya terus berjalan tanpa menunggu siapa pun.

“Ayah, ayo bangun. Kata Bu Guru, sahur itu penting supaya kuat puasa,” kata Adit lagi dengan suara yang lebih jelas.

Mendengar itu, ayah tersenyum tipis lalu akhirnya duduk di tempat tidur. “Adit yang bangunin ayah ya? Terima kasih, Nak.”

Adit mengangguk senang. Ia kemudian membantu menyalakan lampu dapur. Di atas meja sudah ada nasi hangat, telur dadar, dan segelas air yang disiapkan ibu sebelum tidur.

Mereka duduk bersama di meja makan. Meskipun sederhana, suasana sahur terasa hangat. Ayah memandang Adit dengan penuh rasa bangga.

“Kalau Adit tidak membangunkan ayah, mungkin ayah sudah kelewatan sahur,” kata ayah sambil tersenyum.

Adit tersipu. “Tidak apa-apa, Yah. Sekarang Adit yang gantian bangunin ayah.”

Tak lama kemudian terdengar suara pengingat waktu imsak dari masjid dekat rumah. Ayah dan Adit segera menyelesaikan sahur mereka.

Setelah itu mereka duduk sebentar sambil berdoa bersama. Ayah mengusap kepala Adit dengan lembut.

“Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus,” kata ayah pelan. “Tapi juga tentang saling peduli dan berbuat baik.”

Adit mengangguk memahami. Pagi itu ia merasa sangat bahagia. Ternyata, hal kecil seperti membangunkan ayah untuk sahur bisa menjadi kebaikan yang berarti.

Dan di bulan Ramadan yang penuh berkah itu, Adit belajar bahwa kebaikan bisa dimulai dari rumah, bahkan dari hal yang sangat sederhana.

Minggu, 01 Maret 2026

Memasuki hari ke tigabelas bulan ramadhan rasanya semangat menjalani tiba - tiba melemah. Terlebih ketika mendengar adanya perang nuklir yang sedang terjadi oleh negara - negara besar yaitu Amerika Serikat dan Iran. Konflik mereka mulai memanas. 

Meninggalnya Khamenei berpikir bahwa Israel akan menang karena telah membunuhnya. Namun di sisi lain Iran tetap kokoh dengan perjuangannya. Dengan ramainya dunia diributkan oleh berita demikian, semakin membuat hati ini merasa sesak. Sebenarnya ada apa dunia ini?

Hanya bisa berdoa, agar semuanya baik - baik saja. Lindungilah kami dalam genggamanMu ya Allah.

Ternyata memikirkan hal demikian saja bisa menguras tenaga dan pikiranku ya Allah. Sampai kejadian pagi tadi saat sahur, aku tidak tahu kalau belum masak nasi. Lepas buka puasa, badanku rasanya lemas, tak bertenaga. Untuk sholat tarawihpun rasanya tinggal sisa tenaga yang aku punya hanya 10%. Selebihnya tinggal mengikuti imam.

Malam itu suasana Ramadan di rumah terasa begitu tenang. Jam dinding menunjukkan pukul 03.45. Alarm sebenarnya sudah berbunyi sejak 03.15, tapi karena terlalu lelah setelah tarawih di masjid dekat rumah, aku mematikannya dan tertidur lagi.

Ketika terbangun, jantungku langsung berdegup kencang.

“Astaghfirullah… sudah hampir imsak!”

Dengan mata masih setengah terpejam, aku berlari ke dapur. Niatnya ingin menanak nasi untuk sahur. Rice cooker segera kunyalakan, beras sudah dicuci, air sudah dituang. Tapi setelah menekan tombolnya, aku baru sadar—waktu tak mungkin cukup. Menanak nasi butuh waktu, sedangkan adzan Subuh tinggal hitungan menit.

Keringat dingin mulai terasa. Perut sudah lapar, tapi nasi belum matang. Aku menatap rice cooker itu dengan pasrah.

Dari ruang tengah terdengar suara ayah, “Sudah imsak belum?”

“Sebentar lagi, Yah…” jawabku dengan suara panik.

Aku membuka tudung saji. Hanya ada sisa lauk semalam: sedikit telur dadar, tempe goreng dingin, dan sambal. Tak ada nasi. Aku menelan ludah.

Dalam hati sempat muncul penyesalan, kenapa tadi tidak langsung bangun? Kenapa harus menunda?

Akhirnya aku mengambil roti tawar yang hampir terlupakan di sudut meja. Kutambahkan sedikit selai. Telur dadar dan tempe goreng kupanaskan sebentar. Tanpa nasi, tanpa menu lengkap seperti biasanya.

Kami sekeluarga duduk sederhana di meja makan. Tidak ada keluhan. Ibu tersenyum lembut.

“Tidak apa-apa. Yang penting niat sahurnya,” katanya menenangkan.

Aku mengangguk pelan. Saat adzan Subuh berkumandang, suasana terasa syahdu. Meski sahur hanya dengan roti, telur, dan tempe, ada rasa hangat yang berbeda di hati.

Hari itu aku belajar sesuatu.

Ramadan bukan tentang seberapa mewah menu sahur kita. Bukan tentang nasi hangat atau lauk lengkap. Tapi tentang keikhlasan, kesiapan, dan kesungguhan menjalankan ibadah.

Siang harinya, meski perut terasa lebih cepat lapar dari biasanya, aku teringat sahur sederhana tadi. Justru dari kejadian telat masak nasi itu, aku belajar menghargai waktu dan mensyukuri apa yang ada.

Sejak hari itu, setiap Ramadan, aku selalu memasang dua alarm.

Dan setiap kali melihat nasi mengepul hangat di meja sahur, aku tersenyum—teringat momen ketika kami pernah sahur dengan makanan seadanya, tapi hati terasa begitu penuh.

Jumat, 27 Februari 2026

Reuni via Telepon

Tiga tahun bekerja di BUMN tepatnya di PT. Kereta Api Indonesia membuatku merasa mempunyai keluarga kedua setelah rumah sendiri. Bagaimana tidak. Dari sinilah aku memulai karirku yang sesungguhnya. Yang awalnya pengin banget jadi front liner di bank. Alhamdulillah Allah berikan jalan melalui perjalanan karir di kereta api.

Bertemu dengan berbagai orang dari berbagai daerah membuatku menjadi diri sendiri. Membawa bekal dari rumah dengan doa dan restu orang tua, ku beranikan diri untuk mengajukan lamaran kerja. Berbagai tahapan seleksi telah aku lewati. Dari seleksi tertulis hingga wawancara.

Dengan tahapan seleksi itu aku ditempatkan di stasiun Tegal, tidak jauh dari domisili rumahku. Ternyata yang ditempatkan di Tegal justru banyak yang dari jauh. Mas Imam dari Semarang, Septi dari Purwokerto, Mas Sholeh dari Solo, Mas Yanto dari Brebes, Mas Teguh dari Pekalongan, Mba Citra dari Semarang, Mba Citra dari Demak, Mas Oki, dan Mas Agung dari Pekalongan dari Semarang.

Tidak hanya mereka yang aku kenal dan aku anggap seperti keluarga. Mereka adalah orang - orang yang bekerja di bagian ticketting. Sedangkan bagian customer service ada mba Oki dan teman - temannya. Kalau untuk cs aku agak lupa namanya, tapi untuk muka tidak. Selain itu dari keamanan juga ada yang masih langgeng sampai sekarang. Ada mas Miko dan pak Kusnoto.

Kadang kalau lagi naik kereta dan turun di stasiun Tegal, aku sempatkan menyapa mereka walau sebentar. Suasananya sudah berbeda dari sebelumnya. Bangunan sudah banyak berubah. Menjadi lebih mewah dan modern. Orang - orang yang bekerja di sana pun sudah regenerasi. Angkatanku ada yang tidak melanjutkan kontrak, pensiun atau ada yang sudah naik pangkat dan menjadi pegawai tetap di kereta api.

Bapak supervisorku pindah ke stasiun Semarang Poncol. Bapak kepala keuangan sudah pensiun. Dua orang inilah yang masih langgeng berkomunikasi. Berkat bapak supervisorku aku diizinkan menikah sebelum kontrak habis. Dari sinilah aku memulai mengarungi rumah tangga. Tanpa restu beliau aku tidak akan sampai di titik ini.

Hari ini bapak kepala keuangan meneleponku. Dengan tidak ragu aku menjawab dan bercerita banyak hal. Namun harus mengimbangi pembicaraannya. Gaya bicara beliau masih seperti dulu waktu di tempat kerja. Orangnya keras dan harus menjadi lawan bicara yang patuh untuk mendengarkan. Tidak boleh menyangkal sekalipun tahu informasinya.

Harapan Pak Untung dan Pak Sri Widodo agar angkatan kami bisa bersilaturahmi bersama mereka. Berkumpul sekedar melepas rindu. Terlebih setelah aku lepas dari kereta api karena menikah sampai sekarang belum sekalipun bertemu dengan semuanya. Ada rasa rindu yang mendera. Bersenda gurau. Meski aku tahu kondisinya tidak seperti sedia kala. Tetapi bagi kami ajang silaturahmi ini bisa menjadi ajang supaya tetap terjalin sampai kapanpun.

Tugas aku dan teman-teman sekarang supaya bisa menemukan waktu yang pas untuk bisa berkumpul meski hanya beberapa orang saja.

Whoa.... can't wait to see you guys. :D

Flashback Teaching on my Own Subject

Rutinitasku sekarang adalah menjadi pembelajar, dan pendidik. Pembelajar untuk diri sendiri dan pendidik untuk keluarga dan orang lain. Tidak disangka dulu saat masih berada di naungan BUMN menjadi Front Liner di salah satu transportasi di Indonesia, aku sempat berpikir, "Enak kali ya kerja pagi pulang siang dengan seragam khaki." Allah Maha Baik. Setelah lima tahun berkecimpung menjadi full time mommy, lanjut menjadi working mom.

Semua sudah Allah atur. Setelah Arsyel cukup waktu untuk dilepas mandiri dan bersosial, kini aku yang harus menjalani rutinitas sebagai working mom. Atas izin suami dan orang tua, aku masuk di salah satu sekolah yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Cukup dengan jalan kaki lima menit maka aku sudah sampai di tujuanku. 

Mengajar di kelas menengah pertama dengan mapel bahasa Inggris menjadi ajang yang gampang - gampang susah. Gampang untuk penyampaian materi dan pengkondisian siswanya tetapi susah dalam hal kenakalan remajanya. Ada.... aja gebrakannya. Mulai dari merokok, tawuran sampai dengan cinta monyet. Sehari tidak berangkat alasannya sakit, dua, tiga hari harus home visit ke rumah yang bersangkutan. Usia anak yang sedang mencari jati diri memang sangat rentan. Ajang penasaran yang sangat tinggi menjadikan mereka mencoba segala cara yang menurutnya patut untuk dicoba. 

Dalam kondisi inilah peran sekolah dan keluarga sangat penting untuk bekerja sama. Karena dengan adanya kerjasama maka mereka akan mudah terpantau oleh orang tua baik di rumah maupun di sekolah.

Tiga tahun berkecimpung dengan anak remaja, aku mengikuti seleksi PPPK di daerah Brebes. SK penempatanku tidak bisa sesuai dengan mapel yang diampu. Qadarullah, aku ditempatkan di SD yang tidak jauh dari rumah juga. Bedanya di tempat yang baru harus pakai akomodasi kendaraan bermotor. Cukup lima menit dari rumah sudah sampai sekolah.

Suasana baru aku rasakan. Tadinya memegang mata pelajaran bahasa Inggris, sekarang berpindah menjadi guru kelas. Kelas tiga yang harus aku ampu. Adaptasi yang aku lakukan tidak cukup singkat. Butuh waktu lama. Tidak hanya waktu tetapi juga tentang kondisi anak - anaknya. Yang biasanya menghadapi anak yang sudah bisa dikondisikan tapi kali ini berhadapan dengan anak - anak berumur enam tahun sampai 13 tahun. 

Pengkondisian peserta didik yang awalnya sangat susah, sudah mulai tertata. Intinya materi tersampaikan tapi pembentukan karatker yang lebih diutamakan. Pendekatan siswa yang membutuhkan waktu cukup lama ini, aku lakukan dengan cukup mudab. Tidak ada tantangan yang sulit untuk menaklukan mereka.

Alu diamanahi menjadi guru kelas 3. Tetapi aku juga tidak lantas melepaskan basic teaching yang sudah membesarkan namaku. Di kelas 5, dan 6 aku memegang mapel bahasa Inggris. 

Suasana yang sangat hangat ketika aku masuk di dua kelas itu. Seolah - olah nyawaku hadir kembali. Mengajar bahasa Inggris di kelas atas membuatku menjadikannya penyemangat dan efek healing setelah bersikeras mengajar di kelas 3. Rasanya ruhku kembali seperti sedia kala. Basic mapelku kembali.

Aku sangat menikmati fase ini. Harapanku bisa menjadikan lingkungan kerjaku saat ini untuk penyemangat dalam hidupku.

Selasa, 24 Februari 2026

Perlunya Kewarasan

 

Masih terasa hangat rasanya kasus yang terjadi dua hari yang lalu antara hubungan orang tua dan anak yang tidak harmonis. Terutama ketika sang anak mendapatkan ibu tiri. 

Mengapa ibu tiri identik dengan galak? iri? atau bahkan gak mau tahu tentang anak bawaan suaminya? Apa sebenarnya yang ada di benak mereka.

Kasus yang sangat menyayat hati. Apa salah anaknya? 

Jika memang dia nakal, sejauh mana kenakalannya?

Jika memang dia bandel, standar bandel apa yang digunakan dan tingkah laku seperti apa yang membuatnya melewati batas.

Aku merasa hal ini tidak wajar. Karena kasusnya Lisnawati dan Nizam sungguh di luar nalar. Mengapa? Hati nurani wanita seperti apa yang dia gunakan?

Apakah seperti itu hati wanita yang diberikan oleh Allah? Katanya perasaan itu lembut. Hati itu penuh dengan perasaan. Lalu bagaimana dengan kasus mereka?

Begitu banyak pertanyaan yang tak habis pikir di benakku. Terlebih ketika melihat langsung ilustrasi vidio di berbagai media sosial. Nizam yang terkenal anak sholeh libur dari pesantren ingin berpuasa di rumah bersama ayahnya. Tapi sayang hanya sehari ia merasakan hal itu. Kehangatan, kerinduan dan kebersamaan bersama ayahnya yang dia nantikan selama hidup di pesantren. Ternyata hanya bisa dia rasakan dalam waktu cepat.

Sehari setelah ayahnya pergi merantau, Nizam tinggal bersama ibu tirinya. Nizam yang dikenal sebagai anak yang nurut, mulai diperlakukan tidak adil oleh ibu tiri dan kakak tirinya. Mulai dari makan yang tidak sesuai porsinya, perlakuan yang tidak adil, dan bahkan ketika diberikan uang jajan pun lebih kecil dari kakaknya.

Suatu ketika kakak tirinya marah kepada Nizam. Entah dengan alasan apa dia memarahi Nizam tanpa sebab. Nizam yang tidak tahu menahu, hanya bisa diam dan menerima perlakuan kakaknya. Suara amarah kakaknya membuat ibu tirinya menghampiri mereka. Dengan tanpa ragu ibu tiri membela anak kandungnya tanpa melihat siapa yang salah sebenarnya.

Karena masalah tersebut, Nizam terpaksa dikurung di kamar. Berulang kali Nizam berteriak, "Bu, Nizam mau buka puasa bu."

Namun, ibu tirinya tidak memberikan respon.

"Bu, Nizam haus bu..." Badan Nizam mulai lemas. Seharian di kamar tanpa air dan makanan sebagai pembatal puasa dan pengisi perutnya setelah seharian berpuasa.

"Ceklek..." Suara pintu kamar Nizam terbuka.

Nizam sangat senang dan bahagia karena dia akan minum dan membatalkan puasanya. Matanya berbinar. Tak henti - hentinya dia mengucap syukur kepada Allah.

"Alhamdulillah, Terimakasih ya Allah". Seru Nizam dalam suara lemahnya.

Tapi, apa yang dia dapatkan? Ibu tirinya memaksanya untuk meminum air putih yang mendidih ke dalam mulutnya. Nizam menolaknya. Tetapi ibu tirinya bersikeras agar Nizam meminumnya. Nizam pun meminumnya demi menghormati ibu tirinya.

Tidak cukup sampai disitu. Ibu tirinya tidak memberikan sebutir nasipun kepada Nizam hingga berhari - hari. Ini mengakibatkan badan Nizam lemah tanpa tenaga. Bahkan untuk membuka mata pun tak kuasa. Tenaga Nizam habis. Dia hanya bisa tergeletak di atas lantai kamarnya. Dia hanya bisa memanggil ayahnya.

"Ayah.... aku rindu." Lirih Nizam.

Suatu hari ayahnya pulang. Beliau mendapati Nizam sudah terkapar di dalam kamar. Beliau dengan segera membawa Nizam ke rumah sakit. Namun, naas hanya berselang beberapa hari Nizam tidak terselamatkan.

Ironis sekali ilustrasi cerita di atas dari hasil vidio yang aku lihat. Kasus ini sudah diusung ke polisi dan mengakibatkan Lisnawati harus hidup di dalam jeruji besi seumur hidup.

Minggu, 22 Februari 2026

Kalau dengar lagu ini ko berasa pengin banget peluk diri sendiri. Ada rasa lelah yang tak terasa, ada rasa syukur yang tak mampu diucap, dan ada rasa bangga tersendiri.

Aku yang saat ini diamanahi untuk merawat uyut berasa kaya balas budi atas apa yang dulu uyut perbuat untukku. Mulai dari kalau liburan sekolah pergi ke rumah beliau saat masih kecil. Nginep di sana sampai berhari - hari. Lagaknya kaya orang yang berani tanpa orang tua, dan mau ditinggal ketika ibu dan bapak dinas. Nyatanya, setelah baru dua hari saja tidur bareng uyut minta pulang dijemput ibu. Gaya banget kan aku. 😆

Belum lagi kalau pagi, uyut menyediakan sarapan sebelum beliau pergi ke pasar. Pernah suatu ketika aku bangun subuh, beliau sudah gak ada di sampingku. Aku tahu beliau sudah sibuk dengan dagangannya di pasar. Semua sudah disiapkan di meja. Makanan, camilan, bahkan ada jajan basah yang sangat aku suka. Namanya kueku. Kue merah yang terbuat dari tepung ketan berisi kacang hijau di dalamnya. Pokoke pulen banget. Sampai sekarang masih berasa rasa khas dari kue itu.

Selain itu, kalau aku bosan di rumah uyut, aku minta ikut ke pasar pagi-pagi menemani uyut berdagang. Berangkat pukul 05.30 wib dan pulang pukul 12.30 wib. Di lapaknya terdapat berbagai macam dagangan. Tetapi uyut hanya fokus ke pakaian. Sandang untuk keperluan sehari-hari. Ada gamis, batik, baju anak-anak dan baju lainnya.

Untuk mengatasi rasa bosanku, aku bermain layaknya pedagang dan pembeli. Properti yang aku gunakan yaitu bahan dagangan uyut yang masih tersimpan rapi di lemari. Tak jarang uyut pun memarahiku. Tapi marahnya beliau adalah wujud rasa sayang nenek ke cucunya.

Biasanya kalau sudah sampai pasar aku dibelikan sarapan. Sesekali aku mencarinya di sekeliling. Tak lama beliau muncul membawa sarapan dan aneka jajan pasar. Ada getuk, serabi, dan kue lapis. Teman-teman uyut juga paham kalau liburan, aku pasti ikut uyut ke pasar.

Mengingat cerita waktu kecil bersama beliau, kini saatnya aku membalas budi baiknya. Beliau yang tinggal bersamaku sudah tidak sekuat dan setangguh dulu. Badannya yang lemah butuh untuk ditopang. Kehadiran keluarganya menjadi semangat hidupnya saat ini. Aku hanya bisa membantu apa yang aku mampu. Aku harap kesibukan dan kelelahanku merawatnya bisa membantu meringankan bebannya. Aku tahu ini tidak seberapa dengan yang beliau lakukan. Paling nggak aku hadir untuknya.

Terimakasih uyut jasamu akan aku kenang selalu. Sehat selalu. 😊

 

Sabtu, 21 Februari 2026

Hari ini aku kembali dengan rutinitasku sebagai istri, ibu dan wanita. Oh iya ada satu lagi profesi yang sedang aku jalani kurang lebih sembilan tahun belakangan ini. Yaitu sebagai cucu yang berbakti kepada nenek.

Nenekku tinggal bersamaku di rumah lugu. Sedangkan anak - anaknya tinggal di rumah masing - masing yang jarak tempuhnya tidak jauh dari rumah kami. Cukup jalan kaki saja.

Pagi ini selepas sahur aku membereskan dapur dan tempat tidur. Setelah itu, aku ajak Arsyel untuk bermurojaah hapalan surat Al-Mulk. Meski sebentar paling tidak dia bersedia tanpa paksaan saja sudah membuatku sangat senang.

Tidak lama setelah itu, aku lanjutkan  untk membaca mushaf kecilku yang sedari tadi aku pakai untuk menyimak hapalan Arsyel. Namun, dari kejauhan terdengar suara air mengalir di dalam kamar mandi. Langkah nenek atau kami sering memanggilnya uyut karena mempunyai dua buyut yang sekarang tinggal bersama. Sebenarnya tiga tapi tingggal jauh di Depok. "Dup, dup, dup." langkah tongkat dan kakinya terdengar jelas. Beliau menuju ke kamar mandi setelah sholat subuh.

Karena penasaran, aku ikutilah beliau di belakangnya. Seperti yang aku duga, beliau sedang mencuci selendang yang sudah dikenakan semalam. Padahal kondisinya masih belum pulih, bahkan batuk yang sedang ia derita belum juga sembuh. Akhirnya tanpa pikir panjang aku ambil alih semua pekerjaan uyut. Daripada sakit lagi, banyak orang yang nanti akan direpotkan. Belum lagi kondisi saat ini sedang dingin - dinginnya. Jika dibiarkan beliau akan drop lagi seperti kemarin.

Tidak memakan waktu lama aku pun selesai mengerjakan cucian selendang uyut. Tadi ku dengar beliau berkata, "gak terkena apa - apa ko." Mungkin maksud beliau, aku merasa jijik jika tahu kalau selendangnya terkena air kencing. Padahal aku sudah menduga itu terlebih dahulu. Tahu gak guys, tadi sebelum aku ambil ember yang bersisi selendang dan sabun, uyut merendamnya dengan sabun cuci piring yang cukup banyak. "Waduh!" kataku sambil memindahkannya ke dalam mesin cuci. Saking banyaknya sabun, busa yang keluarpun makin banyak. Butuh usaha ekstra supaya buih yang keluar bisa dihilangkan dengan bersih.

Waktu menunjukkan pukul 07.00 WIB. Uyut memintaku untuk mengambilkan telor ayam kampung yang direndam di dalam air panas. Tujuannya supaya tidak terlalu amis mungkin ya. Okelah aku turuti saja apa mau beliau. 

Datanglah anak laki - laki kesayangannya setelah uyut meminta aku memanggilnya. Aku biarkan mereka berdua mengobrol. Apa yang uyut minta beliau curahkan kepadanya. Beliau lebih leluasa berkeluh kesah dengan anak kandungnya dibanding dengan cucunya yang setiap hari bersamanya. Tapi aku bersyukur, bisa membantu semampunya.

Dari sini aku belajar bahwa orang tua tidaklah meminta banyak disaat usianya sudah renta. Kehadiran akanyalah yang membuatnya kuat sampai saat ini. Hanya melihat wajahnya dan ditemani di sampingnya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri.
 

 Ramadan tahun ini terasa berbeda bagi saya sebagai seorang ibu. Anak saya yang baru berusia 9 tahun begitu bersemangat menyambut puasa pertamanya yang ia jalani dengan penuh kesadaran. Malam sebelum hari pertama, ia bahkan menyiapkan sendiri alarm sahur dan berkata dengan yakin, “Aku mau puasa penuh, Bu.” Hati saya hangat mendengarnya.

Namun, ternyata ujian datang lebih cepat dari yang saya bayangkan. Di hari pertama puasa, menjelang siang, tubuhnya mulai lemas. Wajahnya pucat, dan tak lama kemudian ia mengeluh pusing serta mual. Sebagai ibu, hati saya rasanya diremas. Antara bangga dan khawatir bercampur jadi satu. Saya tahu ia ingin kuat, tapi kondisi tubuhnya berkata lain. Dengan lembut saya membujuknya untuk berbuka lebih awal. Ia sempat menitikkan air mata, merasa gagal karena tidak bisa menuntaskan puasanya.

Malam itu ia tertidur lebih cepat setelah minum obat dan makan secukupnya. Saya menemaninya, memandangi wajah kecilnya yang masih terlihat kelelahan. Dalam doa, saya meminta agar Allah memberi kesehatan dan kekuatan untuknya.

Keesokan harinya, setelah kondisinya membaik, ia kembali berkata ingin mencoba lagi. Saya sempat ragu, takut kejadian kemarin terulang. Tapi saya juga tak ingin mematahkan semangatnya. Dengan pengawasan ekstra, asupan sahur yang lebih bergizi, dan doa yang tak putus, saya mengizinkannya.

Alhamdulillah, hari itu ia mampu bertahan hingga waktu berbuka. Saat adzan maghrib berkumandang, senyumnya merekah bangga. Saya memeluknya erat. Bagi saya, bukan soal penuh atau tidaknya puasa, tapi tentang proses belajar, tentang tekad kecil yang sedang tumbuh.

Menjadi ibu mengajarkan saya bahwa mendampingi anak beribadah bukan hanya soal aturan, tapi tentang empati, kesabaran, dan keyakinan bahwa setiap langkah kecilnya adalah bagian dari perjalanan yang indah.

Jumat, 20 Februari 2026


 Boleh gak sih nulis tentang kehidupan sendiri di sini?

Ajang mengikuti tantangan ini adalah salah satu alat yang aku pilih sebagai pemulihan diri. Pulih dari rasa trauma di masa lalu. Pulih dari innerchild maupun pulih dari trauma pengasuhan. 

Sementara tempat ini aku jadikan lahan curhatku, yang aku tumpahkan di sini. Entah ini baik atau tidak yang jelas aku merasa terbantu. Dengan menulis setidaknya aku tahu perasaanku hari ini. Apakah aku bahagia, sedih, atau kecewa.

Mungkin saat ini tulisanku gak ada tujuan yang berarti. Tapi aku yakin suatu saat tulisanku bisa kubukukan. Sebagai bukti bahwa aku berhasil merilis perasaanku tanpa harus memendamnya. 

Sebagai pemula, aku hanya bisa menulis apa yang aku rasakan tanpa timeline yang jelas. Dengan kata lain, ini adalah diary onlineku. Tanpa tempat ini aku gak tahu harus aku tulis dan disimpan dimana. Sedangkan kadang-kadang aku membutuhkannya untuk dibaca ulang. Jadi, supaya tidak hilang aku manfaatkan blog ku untuk kepentingan pribadiku.

Semoga dengan latihan konsisten ini, aku juga bisa berkembang. Dari yang tadinya tanpa arah asal menulis dan mencurahkan menjadi ahli dalam memilih dan memilah kosakata.

Aku tidak pandai berbicara. Apalagi soal agama. Terkadang merasa insecure sendiri ketika ada yang mengajakku membahas yang mengarah ke unsur lebih sensitif. Tapi aku gak lantas menyerah untuk gak belajar. Aku sadar ilmu dan bacaanku masih terlalu rendah.

Masih banyak yang harus aku pelajari. Masih banyak buku yang harus aku baca, dan masih banyak pula vidio konten yang inspiratif yang harus aku tonton.

So, kalau nanti tulisanku isinya curhat tentang keluarga besar, harap maklum ya. Lagi recovery dulu belajar mencurahkan isi hati. Meskipun kesannya ghibahin keluarga sendiri. 😁

Kaya hari ini aja aku merasa masih belum adil ngeliat suami lebih homy di keluarga sendiri. Ya pasti sih. Apa aku aja yang baper ya. Ketika dia bisa ngobrol cas cis cus di keluarganya tanpa hp di tangan, kenapa pas pulang ke rumah, makan pun hp gak ketinggalan. Ah tapi aku harus bisa menerima itu. Jika itu sudah jadi karakternya.

Mungkin di mata dia aku bukanlah teman yang bisa diajak diskusi tanpa rasa marah atau baper. Beda sama ibu, bapak, adik²nya mereka bisa aja ngobrol sampai tengah malam. Membahas yang menurut mereka penting.

Sedangkan sama aku? Kaya lagi buang-buang waktu aja. 😄

Makanya aku cari kesibukan supaya gak selalu dikelilingi pikiran negatif tentang dia. Lagian dia sama keluarganya. Bukan keluarga orang.

Mungkin dalam benaknya pula, ngimbangi aku itu sesusah ngimbangi orang lain. Lalu aku ikut nimbrung cerita mereka ga?

Ouw otomatis gak dong, susah masuknya. Kadang bahasaku ke mereka beda jauh.


Kamis, 19 Februari 2026

Ketika Ada Perubahan Sikap Dia

Sore ini menjelang buka puasa Aku merasa ada yang berbeda dari sikap suamiku. Entah itu perasaanku saja atau memang dia sedang memikirkan sesuatu. Yang jelas seharian ini dia tidur selepas salat subuh hingga adzan zuhur berkumandang. Dikarenakan kemarin dia melakukan perjalanan yang cukup melelahkan. Pagi pulang dari Brebes, dan siangnya dia ke Purwokerto hingga malam tiba dia lembur memperbaiki mesin penetas telur yang rusak.

Kebetulan Setelah dia bangun dari tidurnya, Aku pun merasa lelah dan ingin merebahkan badan ini. Selepas sahur aku menyibukkan diri dengan berbagai macam kegiatan seperti menyapu, mengepel, tadarus, dan mencuci baju hingga membereskan rumah yang belum terlihat rapi. Akhirnya tepat pukul 14.00 aku merebahkan diri di kamar.

Dengan tidak sengaja aku melihat suamiku mengetik membalas pesan dari temannya. Begitu panjang pesan yang dia kirim. Aku merasa mereka sedang berdiskusi tentang hal yang penting. Entah itu permasalahan pekerjaan atau permasalahan yang lainnya. Yang jelas dari cara dia mengetik, dari cara dia fokus dengan hp-nya, membuatku berpikir bahwa ada tema yang sedang dibahas begitu penting.

Hal ini terlihat dari dia meresponku ketika aku ajak untuk ngabuburit. Perbedaan sikapnya itu membuatku berpikir bahwa dia sedang tidak ada bersamaku. Alrtinya badannya ada di depanku tapi pikirannya Entah di mana. Berbeda halnya dengan kemarin ketika dia bersamaku. Full jiwa raga bersama aku dan anakku tanpa campur tangan yang lainnya. Tapi kali ini perubahan sikapnya membuat diriku lebih baik diam daripada harus mencampuri atau bertanya sesuatu kepadanya. Aku lebih memilih dia yang membuka sendiri daripada aku yang harus bertanya.

Kebetulan malam ini kami berencana untuk kembali ke Brebes menjemput anakku yang sedang berada di rumah Mbahnya. Niat kami selepas salat Isya ataupun selepas tarawih akan menuju ke sana. Tapi pembahasan ini tidak begitu matang karena aku pikir selepas magrib kita akan segera melakukan perjalanan malam. Namun ketika aku membereskan belanjaan dari pasar. Tiba-tiba dia menghilang dan aku memanggilnya. Lalu, perlahan aku melangkahkan kaki menuju tempat peraduannya. 

Dari kejauhan aroma asap yang tidak aku sukai bisa tercium sangat jelas. Oh, dia sedang Me Time. Artinya, aku tidak boleh mengganggunya. Jika aku mengganggunya, itu berarti mala petaka untuk diriku sendiri. Mengapa? karena ketika dia terperangkap atau ketahuan dengan mata kepalaku sendiri, maka aktivitas yang sedang dia lakukan akan otomatis berhenti. Aktivitas itu adalah di mana keluarga besarnya juga tidak menyukainya. Apalagi aku yang setiap hari harus bertemu dengan dia.

Namun perlahan aku akan menerima keadaan itu. Bagaimanapun baik buruknya dia adalah suamiku. Semoga dengan adanya aku memperbaiki diri dan mendoakannya setiap hari ada hidayah yang turun untuknya agar berhenti dengan aktivitas yang dia kerjakan sekarang.

Rasanya aku wanita terkuat di dunia ini. Ya, aku sering menahan sakit ketika melihat orang terkasih sedang menikmatiku. Aku lebih mementingk...